19 January 2007

Flu Burung dan Mereka yang Tak Sanggup Bugar

Sebelum kita musuhi beramai-ramai seperti sekarang ini, burung pernah menempati posisi istimewa dalam sejarah umat manusia. Burung merpati menjadi simbol perdamaian dalam berbagai acara kolosal. Jika anda mengadakan perayaan apa pun dan membuka perayaan itu dengan melepaskan sekian ratus burung merpati ke langit, orang-orang akan tahu bahwa anda menggendong semangat perdamaian di rongga dada anda.

Selain sebagai simbol perdamaian, merpati juga sudah sejak lama kita pekerjakan sebagai tukang pos, jauh sebelum Pak Pos mengayuh sepedanya mampir ke rumah-rumah mengantarkan surat-surat yang anda tulis. Pada zaman kenabian, Nabi Sulaiman mengandalkan seekor burung untuk tugas penting mengudak dan menyorongkan informasi, kira-kira seperti tugas yang dijalankan oleh Badan Intelijen Negara (BIN) sekarang ini.
Jika Sang Nabi memerlukan informasi tentang kerajaan lain, ia akan memerintahkan seekor hud-hud untuk mencari tahu sedetil-detilnya. Sampai sekarang saya tidak mengerti hud-hud itu burung macam apa. Yang jelas, ia tentu memiliki kemampuan menggali informasi, mungkin juga menganalisis, yang setara dengan kemampuan seorang kepala BIN.

Di luar kemampuannya menjadi kepala BIN, burung juga menjadi makhluk kesenangan. Jika anda pensiun, anda mungkin perlu mempertimbangkan untuk memelihara perkutut yang bisa anda siuli tiap pagi. Tempatkan ia di sangkar yang bagus. Sangkar burung yang bagus sama indahnya dengan lampion merah yang dipajang di rumah-rumah orang Cina.

Sangkar yang bagus, dengan burung bagus di dalamnya, sama bergengsinya dengan gigi emas yang anda pasang di gusi atas bawah. Bahkan, menurut saya, perkutut yang bagus bisa menjadi jalan alternatif untuk pamer kekayaan sekiranya anda sudah tidak mungkin lagi memasang emas di leher, tangan, kaki, atau gusi anda.

Sekarang, kita ramai-ramai memusuhi burung-burung dan segala macam unggas. Februari Jakarta Bebas Unggas, tulis sebuah koran. (Yang lebih ingin saya baca sebetulnya Februari Jakarta Bebas Koruptor, tapi koruptor mungkin tidaklah semengerikan unggas atau becak.) Tak ada masalah dengan kebijakan itu, sejauh burung suami atau kekasih anda tidak ikut-ikutan disasar. Silakan memberantas segala jenis unggas. Monggo. Kita toh tidak lagi memerlukan burung untuk mengantarkan surat. Apalagi burung, bahkan Pak Posnya pun hampir-hampir tidak kita perlukan—sudah ada email dan sms.

Bagaimana dengan posisinya simbol perdamaian? O, kita bisa saja menggantinya dengan binatang lain yang tidak membawa virus berbahaya—mungkin keledai atau munyuk bisa kita coba. Barangkali menarik juga jika kita melakukan eksperimen dengan menempatkan munyuk sebagai simbol perdamaian. Jadi, pada setiap perayaan besar, kita akan melepaskan sekian ratus munyuk sebagai pengganti merpati. Saya pikir tidak ada salahnya. Asal jangan babi, sebab babi kabarnya juga mudah kejangkitan virus flu burung.

Pendeknya, burung-burung dan keluarga unggas harus ditendang sejauh mungkin. Untuk pelbagai keperluan, tak usah lagi melibatkan makhluk-makhluk bersayap, kecuali malaikat. Itu pun jika kita percaya bahwa malaikat adalah makhluk bersayap.

Saya menulis ini, meracau segala macam, sebetulnya dengan rasa sedih terhadap nasib buruk yang menimpa unggas-unggas yang dulu pernah menduduki tempat istimewa. Saya pertama kali mendengar istilah flu burung dari berita-berita kecil di media massa, bukan kasus Indonesia, dan menggunakannya sebagai bahan guyonan. Saat itu, di tahun 2001, saya membuat kencan makan siang dengan beberapa orang kawan dan salah seorang tidak bisa datang. “Sedang tidak enak badan katanya,” kata salah satu kawan saya.

“Mungkin kena flu burung dia,” kata kawan yang lain.

“Kalau begitu harus cepat-cepat dibawa ke On Clinic,” kata saya, “agar tidak keburu impoten.”

Jujur saja, saya tidak berani berkelakar seperti itu lagi. Penyakit flu burung terasa begitu menyeramkan dan tidak sepantasnya dijadikan bahan kelakar. Jika nenek saya masih hidup, saya yakin ia akan mendamprat saya. Rasa-rasanya ia bahkan tidak akan mengizinkan saya menyebut mentah-mentah nama virus mematikan itu. Nenek saya, anda tahu, tidak pernah menyebut harimau dengan sebutan harimau. Ia selalu menggantinya dengan sebutan “simbah”—sebagai tanda ketakzimannya pada makhluk ganas itu. Terhadap flu burung, saya yakin bahwa ia juga akan takzim sekali dan menyebutnya dengan sebutan yang ia pakai untuk harimau: “simbah” atau setidaknya “flu simbah”. Begitulah, apa-apa yang mematikan, menurut nenek saya, tidak layak diucapkan apa adanya, ia hanya pantas disebut “simbah”.

Sampai saat ini, ketika sudah ada lima puluh orang lebih meninggal karena keganasan simbah, saya tetap tidak tahu cara membedakan mana yang flu biasa dan mana yang flu simbah. Karena itu, asal ada anak kecil yang berpenampilan cacingan dan ingusnya sentlap-sentlup keluar masuk di lubang hidung, segera anak itu saya usir dari teras rumah saya. Saya tidak bisa memastikan apakah ingus kering yang melintang jadi kumis di pipinya itu mengandung virus flu biasa atau virus simbah. Seandainya anak itu ngeyel, saya tidak akan sungkan-sungkan menyeretnya keluar dari pekarangan rumah saya.

Paranoid? Ya. Kita tidak bisa mempertaruhkan nasib kita pada sulur-sulur ingus bocah cacingan. Persoalannya, bagaimana dengan ingus yang suatu saat menjulur-julur di rongga hidung kita sendiri?

Sebelum ramai pemberitaan tentang flu simbah ini, jika hidung kita tersumbat, tenggorokan panas, dan beberapa waktu kemudian ingus mulai mengganggu, kita akan tahu bahwa kita perlu beristirahat. Teman-teman saya sering memberi nasihat, “Istirahatlah, tidur yang panjang,” jika saya mulai terserang flu. Flu, katanya, hanya menyerang orang-orang yang tidak bugar. Kembalikan kebugaran anda dan serangan flu akan kandas.

Ada pengalaman baik saya dengan flu ketika saya masih SMA. Pada waktu itu saya tidak masuk sekolah karena menderita flu berat. Dua hari saya tidak masuk sekolah dan pada saat itu saya mendapatkan inspirasi untuk sebuah cerita pendek. Maka, segera saya olah gagasan yang berkelebat di tempurung kepala. Tak lama setelah itu jadilah sebuah cerita yang sungguh memalukan tingkat kenorakannya.

Cerpen saya itu berkisah tentang anak SMA yang terserang flu. Tarikan ingusnya terdengar berisik sekali di kelas pada waktu ulangan. Pada saat yang sangat menyiksa itu turunlah mukjizat: seorang cewek cantik teman sekelas memberinya saputangan. Dia menolak saputangan itu karena meyakini takhyul bahwa saputangan adalah firasat perpisahan bagi dua orang yang saling mencintai. Ia tidak ingin menerima kebaikan berwujud saputangan, sebab ia tidak ingin dipisahkan dengan gadis cantik itu.

Itu cerita yang hebat menurut saya pada waktu itu. Namun, cerita yang hebat tak selalu bernasib baik; ia ditolak oleh semua koran dan majalah dan saya pun berpura-pura tidak pernah menulis cerita semacam itu. Anda tahu, seringkali para redaktur, sekawak apa pun mereka, gagal memahami kehebatan sebuah cerita.

O, saya melantur. Kembali kepada flu, saya ingin bilang berterima kasihlah pada flu. Ia menjadi alarm yang efektif bagi kita; ia memberi tahu bahwa kita sudah terlalu biadab memperlakukan tubuh kita sendiri. Bahwa kita lupa memberinya istirahat yang benar. Bahwa kita lupa memberinya makanan-makanan yang baik. Bahwa kita sibuk mengejar entah apa. Atau bahwa kita jumpalitan ke sana kemari dan berusaha habis-habisan agar kelihatan sibuk.

Melalui flu, kita diminta untuk rileks dan memperlakukan diri sendiri sebaik-baiknya. Anda mungkin perlu pakansi. Pergi ke pantai atau ke gunung, tapi jangan ke kebon binatang. Jika anda tetap ingin ke bonbin, tunggulah sampai bonbin itu memberantas mampus semua unggas di sangkarnya. Dan, kalau semua unggas sudah diberantas, anda juga harus memastikan lebih dulu bahwa virus simbah yang mereka idap tidak melancong ke ular kadut atau ke pawang kuda nil atau ke penjual tiket masuk.

Jika anda tidak ingin kena flu, upayakan tubuh dan pikiran anda selalu bugar. Bagaimana menjadi bugar? Makan yang baik, cukup gizi. Minum susu. Hantam buah-buahan. Beri kenikmatan pada tubuh anda. Jangan disiksa sepanjang hari. Pikiran anda juga harus rileks. Pikiran adalah sumber kebahagiaan; ia juga sumber stres. Rileks saja. Tidurlah yang nyaman di kasur empuk.

Nasihat ini, anda tahu, tidak berlaku untuk orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan. Jumlahnya kurang lebih seratus juta orang menurut hitung-hitungan Bank Dunia; atau tiga puluh sekian juta menurut pemerintah kita.

Jika anda melarat, tidak mungkin anda bisa memenuhi kebutuhan gizi yang baik. Anda perlu keajaiban untuk tetap bugar jika gaji anda hanya cukup untuk membeli indomi.

Nah, orang-orang yang tidak sanggup bugar ini ancamannya banyak sekali: mereka bisa terserang apa saja mulai dari busung lapar hingga flu bur... eh, simbah. Pelajar yang kurang gizi juga tidak usah diharapkan akan menjadi siswa teladan. Jika ia menjadi siswa cerdas, syukurlah. Tetapi jika ia selalu mengantuk pada saat guru menerangkan di depan kelas, itu juga harus dimaklumi. Mereka hanya menelan indomi, tak usah dipaksa menjadi cerdas.

Sesungguhnya inilah yang sangat meresahkan. Tentu saja saya menyambut baik dibentuknya Komisi Nasional Flu Burung. Saya juga menyambut baik Komisi Lumpur Nasional dan segala macam Komisi lainnya. Untuk mengadakan acara kampungan saja kita perlu membentuk panitia, apalagi untuk perayaan-perayaan nasional seperti berjangkitnya busung lapar, ancaman flu simbah, semburan lumpur, dan sebagainya. Untuk perayaan-perayaan nasional itu yang harus dibentuk tentu Komisi-Komisi Nasional.

Bahkan saya kira departemen pertahanan perlu turun tangan. Setidaknya ia juga perlu berpikir serius tentang bagaimana menghadapi flu simbah ini. Sebab pada suatu masa, jumlah korban yang mati akibat penyakit flu jauh lebih besar dibandingkan jumlah orang mati selama perang dunia kedua. Maksud saya, departemen pertahanan perlu membuat stategi untuk memperkuat ketahanan sosial masyarakat, ketahanan ekonomi mereka, dan sebagainya. Dengan ketahanan sosial yang mantap, orang tidak akan mudah terprovokasi lalu membakar orang lain; dengan ketahanan ekonomi yang baik, orang tidak mudah kejangkitan busung lapar (penyakit kuno yang sudah jarang terdengar sebetulnya) atau penyakit-penyakit memalukan lainnya.

Nah... silakan tepuk tangan untuk saya.

(O, yang terakhir itu bukan gagasan orisinil saya. Saya hanya meniru gaya Presiden SBY dalam beberapa kali pidatonya akhir-akhir ini. Menurut berita yang saya baca, Pak Presiden sekarang tampil ciamik seperti pembawa acara MTV dan selalu mempersilakan pendengarnya untuk bertepuk tangan.)