Tentang situs KitaPKS dan Edisinews dan Ikhtiar Mempertahankan Dusta


Tabulasi “real count” versi PKS memberi kita pelajaran berharga, yakni bahwa anda akan repot sekali memberi alasan pembenar pada dusta. Jika anda berupaya keras melakukannya, maka yang anda lakukan tidak lebih adalah ikhtiar yang akan mempermalukan dan mencincang diri sendiri.

Ketika PKS mengumumkan kemenangan Prabowo-Hatta Rajasa, pada malam hari tanggal 9 Juli 2014,  dan menyodorkan tabulasi yang mereka sebut sebagai hasil “real count” partai tersebut, keesokan harinya saya melakukan pencarian dengan Google dan menemukan tabulasi tersebut di kaskus.co.id. Ada daftar 33 propinsi di sana beserta perbandingan perolehan suara antara Prabowo-Hatta Rajasa dan Jokowi-JK. Dalam tabulasi itu, Prabowo-Hatta Rajasa menang dengan meraih 52% suara. PKS menyatakan bahwa itu adalah data yang mereka kumpulkan dari para relawan mereka di seluruh TPS di Indonesia.

Mencermati angka-angka dalam tabel itu, samar-samar saya ingat bahwa sepertinya saya sudah pernah mendapati tabel yang sama beberapa hari sebelum pemilu. Pelacakan melalui Google mempertemukan saya dengan situs Edisinews.com yang memuat berita berjudul Prabowo-Hatta Menang Pilpres Versi Pendukungnya. Tertera tanggal 5 Juli 2014 di bawah judul berita, yang dalam kelaziman jurnalistik berarti berita itu diunggah pada tanggal tersebut, atau empat hari sebelum hari pencoblosan. Berita itu menyertakan tabel dengan urutan dan perbandingan perolehan suara yang sama persis dengan yang ada di tabel “real count” versi PKS tanggal 9 Juli 2014.

Fakta seperti ini membuat saya berkesimpulan bahwa PKS telah mendustai publik. Di mata saya, PKS adalah partai politik yang makin lama makin mengecewakan. PKS mengesankan diri sebagai partai yang jujur dan bersih, tetapi perangai para elite partai tersebut dan kasus korupsi yang melibatkan mereka adalah fakta yang membikin kita muak. Dengan perangai seperti itu PKS hanya akan membuat orang berpikir bahwa partai Islam pun, yang mengaku diri jujur dan bersih, tak lebih dari kendaraan politik yang dijalankan dengan akhlak buruk. Partai ini selalu menunjukkan hasrat berlebihan untuk selalu nebeng di gerbong kekuasaan dan tak sungkan berdusta dan mereka tetap mengesankan diri sebagai representasi Islam.

Demi mengabarkan yang sebenarnya tentang dusta "real count" PKS, saya menulis di Facebook, tanggal 11 Juli, seperti berikut:
Saya ingin mengulangi pernyataan saya: Sesungguhnya saya tidak suka pada semua partai politik, tetapi pada PKS saya benar-benar benci. Kenapa PKS selalu tampak menyebalkan, manipulatif, dan suka membikin masalah?
Untuk mendukung klaim kemenangan Prabowo-Uban, PKS mengeluarkan apa yang ia sebut "real count" berupa tabulasi yang memenangkan pasangan No 1 itu dengan perolehan 52%. Hasil "real count" ini diumumkan tanggal 9 Juli, untuk menangkis hasil quick count yang memenangkan Jokowi-JK. 
Tabulasi yang sama, dengan rincian angka yang sama persis, sebenarnya sudah pernah dimunculkan tanggal 5 Juli, atau empat hari sebelum hari pencoblosan, dan dinyatakan oleh PKS sebagai prediksi. Dalam gambar ini sengaja saya jajarkan tabel prediksi dan tabel "real count". Memang tak bisa menampilkan daftarnya secara utuh, tetapi kau bisa menemukannya sendiri melalui google. Tanggal sengaja saya beri lingkaran merah.
Jadi, PKS, maumu ini sebenarnya apa? Yang terang saja, tho.
Gambar di bawah ini saya sertakan dalam status tersebut.


Pada hari yang sama, siang pukul 14.35, harian Republika menurunkan berita berdasarkan status tersebut di situs online-nya. Judul beritanya: Real Count PKS Dipertanyakan.

Urusan manipulasi “real count” oleh PKS ini menjadi makin ramai dibicarakan di media sosial Facebook dan Twitter. Rupanya pengelola situs Edisinews.com ingin menghilangkan jejak dengan cara menghapuskan berita tanggal 5 Juli dari situsnya. “Buka saja cache-nya,” kata saya ketika seseorang menyampaikan bahwa ia tidak bisa lagi menemukan berita tersebut.

Satu hal lain yang dilupakan oleh pengelola Edisinews: mereka lupa pernah membuat kicauan di twitter, tanggal 5 Juli 2914, seperti ini:


Reaksi Kalap PKS

Tahap berikutnya, orang-orang PKS mulai melancarkan serangan. Beberapa teman memberi tahu saya bahwa situs kitapks.com (Kita PKS) menurunkan tulisan berjudul Ini Dia Orang yang Memfitnah PKS Buat Real Count Rekayasa. (Jika tulisan itu dihapus juga, ingatlah bahwa Google menyediakan cache yang bisa diakses.) Tulisan tersebut diakhiri dengan paragraf yang tampaknya berhasrat memutar balikkan fakta dan melemparkan tuduhan (mungkin ini strategi yang dipelajari PKS jika mereka dalam situasi tak bisa apa-apa lagi). Saya kutipkan paragraf itu apa adanya: “Sepertinya, As Laksana tahu siapa yang memposting data tersebut pada edisinews dan mengapa tanggal publish edisinews berubah dari tanggal 10 juli ke 5 juli, termasuk mengapa screenshots tersebut ada di kaskus.co.id. Karena As laksana yang pertama kali membedah hal tersebut dan mempostingnya di laman maya.”

Paragraf itu ngawur, screenshot berita Edisinews tanggal 5 Juli itu saya buat sendiri setelah selesai membaca berita tersebut dan ia tidak pernah dimuat di Kaskus.co.id. Sebagaimana saya sebutkan di atas, berita tersebut sudah dihapus dari situs yang memuatnya, namun kita tetap bisa mengaksesnya dengan mengklik Google’s cache.

Saat saya membuka cache tersebut, untuk kepentingan tulisan ini, di bagian atas halaman kita bisa membaca keterangan: “This is Google's cache of http://edisinews.com/m/berita-prabowohatta-menang-pilpres-versi-pendukungnya.html. It is a snapshot of the page as it appeared on 6 Jul 2014 01:08:09 GMT. The current page could have changed in the meantime.” (Ini adalah google’s cache dari http://edisinews.com/m/berita-prabowohatta-menang-pilpres-versi-pendukungnya.html. Ia merupakan snapshot dari halaman tersebut pada tanggal 6 Juli 2014 pukul 01:08:09 GMT. Halaman itu bisa jadi sekarang telah diubah.)

Sebenarnya saya tidak tahu siapa pengelola Edisinews.com, namun berkat paragraf penutup yang ngawur itu saya justru terdorong ingin tahu siapa sebenarnya rpemilik situs tersebut. Maka saya cari di situs “whois” dan ketemulah nama pemilik domain Edisinews.com itu, yakni Mahmud F. Rakasima. Saya kenal orang ini. Ia teman saya di Tabloid DeTIK dan sudah lama sekali kami tidak saling bertemu dan sekarang ia menjadi wakil sekjen Gerindra. Sebelum di Gerindra Mahmud pernah di Litbang PPP. Di samping melompat-lompat dari partai satu ke partai lain, Mahmud Rakasima juga bekerja di BNP2TKI sebagai Kepala Bidang Media dan Komunikasi Publik. Ia punya akun di Kompasiana dengan status “account suspended”

Bersama Syahganda ia pernah menerbitkan tabloid Daulat Rakyat.

Syahganda adalah salah satu pendiri akun @triomacan2000, yang namanya sering berganti-ganti. Nama-nama lain di belakang akun twitter itu adalah Raden Nuh dan Abdullah Rasyid.

Dalam kampanye pilpres saat ini, Mahmud, Syahganda, Raden Nuh, Abdullah Rasyid bekerja untuk Prabowo dan rajin menggencarkan kampanye hitam untuk menyerang Jokowi. Satu nama lainnya adalah Muchlis Hasyim Jahja, mantan wartawan Media Indonesia, yang disebut-sebut mendanai tabloid Obor Rakyat dan menjalankan bisnis media yang didanai oleh Muhammad Riza Chalid. Tentang Muchlis Hasyim, Obor Rakyat, dan Riza Chalid, harian Media Indonesia pernah membuat laporan menarik berjudul Pengusaha Minyak di Balik Obor Rakyat.

Itulah sedikit catatan tentang “real count” manipulatif yang diumumkan oleh PKS dan ikhtiar kalap mereka dalam membenarkan dusta yang mereka lakukan. Dan demi mempertahankan dusta itu orang-orang partai yang mencitrakan dirinya Islami itu tanpa sungkan menuding orang lain sebagai penyebar fitnah, meskipun mereka tahu betul seperti apa yang sebenarnya. Sejujurnya, saya benci PKS karena partai ini menyebabkan orang berpikir bahwa politisi Islam adalah orang-orang yang suka berdusta, suka nebeng kekuasaan, dan tak bisa dipercaya.

Catatan tambahan: Jika PKS Pyongyang mau menggunakan tulisan ini sebagai bahan berita, saya mempersilakannya dengan senang hati. [*]

'Quick Qount' dan Hal-Hal Jenaka Lainnya

Kolom Ruang Putih, Jawa Pos, Minggu 13 Juli 2014

Saya merasa tenang sejenak setelah pencoblosan usai dan bersantai-santai memantau hasil hitung cepat di website RRI dan media-media besar yang menayangkannya. Saya tidak menonton televisi. Saya memilih RRI karena lembaga ini disebut-sebut sebagai yang paling akurat hasil hitung cepatnya dalam pemilu legislatif April lalu. Namun karena tidak ingin hanya menyandarkan diri dari satu sumber, saya mengikuti juga hasil-hasil hitung cepat yang ditayangkan oleh media-media lain.

Di situs-situs yang saya lihat, semua hasil hitung cepat menampilkan kemenangan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla, dengan persentase yang kurang lebih sama, yang jika dipakai angka bulat adalah 52% berbanding 48%. Di Jakarta, para pendukung Jokowi yang merasa lega segera turun ke jalan, meluapkan kegembiraan mereka di bundaran HI. Saya melihat foto-foto mereka di jejaring sosial.

Namun yang memenangi pemilihan versi hitung cepat rupanya tidak hanya pasangan Jokowi-JK, kubu Prabowo-Hatta Rajasa pun merayakan kemenangan. Seorang teman menelepon saya dan menceritakan bahwa di TV One Pak Prabowo melakukan sujud syukur. Lembaga-lembaga survei yang bekerja sama dengan TV One, ada empat jumlahnya, semua menampilkan hasil hitung cepat yang memenangkan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa.

Selanjutnya mulai muncul hal-hal yang jenaka. Para penonton yang kritis dan jeli menemukan bahwa persentase salah satu lembaga yang ditampilkan oleh TV One melebihi seratus persen. Ada yang berkelakar, “Yang satu persen itu adalah para pemilih dari Planet Mars.”

Mungkin saking terburu-burunya ingin segera mengabarkan perkembangan situasi, situs inilah.com menulis berita berjudul Kubu Jokowi Pantau Quick Qount di NasDem dan PDIP. Sampai saya menyelesaikan tulisan ini, judul di situs tersebut masih tetap menggunakan “Quick Qount” dan bukan “Quick Count”.

Politisi PKS Fahri Hamzah menyambut kemenangan Prabowo-Hatta Rajasa itu dengan menampilkan foto hasil hitung cepat dari lembaga IRC dalam kicauannya di twitter. Di foto itu kita bisa melihat perolehan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa adalah 52,30% dan Jokowi-JK 46,80%. Jika dijumlahkan, kita hanya mendapatkan 99,10%, atau kurang 0,90% dari yang seharusnya 100%.

Itu keteledoran yang memalukan oleh lembaga-lembaga survei, yang semestinya sangat akrab dengan angka-angka dan persentase, dan semua orang tahu bahwa tidak mungkin ada jumlah total yang melebihi seratus persen atau kurang dari seratus persen. Saya tidak akan mempercayai lembaga yang teledor semacam itu. Namun Pak Prabowo tampaknya mempercayai hasil Quick Count lembaga-lembaga yang teledor itu dan menjadikannya alasan untuk bersujud syukur dan menyatakan kemenangan.

Demi memantapkan klaim kemenangan tersebut, pada malam harinya PKS mengeluarkan hitung-hitungan yang ia sebut “real count”, lengkap dengan tabulasi rinci yang konon sudah mencakup perhitungan suara di seluruh TPS di Indonesia. Saya salut pada PKS yang sanggup bekerja cepat. Menurut saya, jika pemilihan presiden diserahkan penyelenggaraannya kepada partai ini, tentu kita tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mengetahui hasil sesungguhnya. Pada hari yang sama setelah pencoblosan, kita sudah akan tahu siapa presiden kita.

Oh, tunggu dulu! Bukan pada hari yang sama dengan hari pencoblosan. Bahkan empat hari sebelum hari pencoblosan kita sudah akan tahu siapa presiden kita yang akan menggantikan Pak SBY. Tabulasi nasional yang dinyatakan oleh PKS sebagai “real count”, yang dikeluarkan pada malam hari tanggal 9 Juli, rupa-rupanya sama persis angka-angkanya dengan tabulasi nasional yang mereka keluarkan pada tanggal 5 Juli. Saat mereka mengeluarkannya pada tanggal 5 Juli, mereka menyebutnya prediksi. Saat mereka mengeluarkannya lagi pada tanggal 9 Juli, mereka menyebutnya sebagai “real count”.

Tabulasi prediksi itu sekarang sudah dihilangkan dari halaman situs tempat saya menemukannya pertama kali, tetapi saya sudah menyimpannya dan menjadikannya gambar. Mesin pencari Google juga tetap menyimpan file tabulasi tersebut dan anda masih bisa membukanya melalui cache (tembolok) mesin pencari tersebut. Kita patut bersyukur bahwa Google memiliki tembolok yang baik untuk menyimpan setiap file yang pernah diunggah di internet, sehingga orang-orang yang teledor tidak bisa seenaknya bertindak ngawur dan kemudian menghapusnya esok hari ketika diprotes orang.

Hari berikutnya lagi, seorang bekas direktur eksekutif INES, salah satu lembaga survei yang mendukung Prabowo, menyatakan bahwa ia tidak yakin lembaga di mana ia pernah bekerja itu benar-benar melakukan survei.

Saya berpikir bahwa biang keladi keruwetan quick count (atau quick qount menurut inilah.com) adalah TV One. Televisi nasional ini sengaja bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang kredibilitasnya rendah dan menyiarkan informasi hitung cepat yang meracuni publik. Para pengelola televisi ini perlu tahu bahwa mereka telah keliru menggandeng rekan kerja sama, dan akibatnya mereka menyampaikan informasi yang bisa mengganggu ketenteraman hidup bertetangga.

Saya tidak akan terlalu peduli sekiranya TV One hanya keliru menginformasikan bahwa jambul nusantara Syahrini sekarang berwarna hijau, padahal sebetulnya mungkin berwarna ungu. Saya tidak akan berharap televisi ini meminta maaf ketika mereka menyiarkan berita dan mencantumkan bahwa tempat kejadiannya di “London, Jerman”. Di internet kita bisa menjumpai anak-anak muda menjadikan kekeliruan semacam itu sebagai bahan olok-olok dan lucu-lucuan.

Namun informasi beracun tentang hasil Quick Count oleh lembaga-lembaga teledor itu, bagaimanapun, tidaklah seremeh kekeliruan mengabarkan apa warna jambul seorang artis. Informasi yang keliru dari lembaga-lembaga tidak kredibel inilah yang menjadi dasar bagi Pak Prabowo untuk menyatakan kemenangan dirinya dan ia segera menyambutnya dengan sujud syukur. Kekeliruan oleh TV One ini juga mendorong PKS melakukan manipulasi “real count”.

Karena kekeliruannya berpotensi membahayakan dan mendorong pihak-pihak lain melakukan manipulasi, saya berpendapat bahwa TV One semestinya berani meminta maaf kepada publik dan mengakui kekeliruannya telah bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang tidak kredibel.

Apa alasan TV One memilih bekerja sama dengan lembaga-lembaga itu dan menayangkan hasil Quick Count mereka tanpa memedulikan validitas metodologi mereka? Bahkan TV One mungkin tidak peduli apakah mereka benar-benar melakukan survei atau tidak. Sebagai warga negara, saya kecewa. Sebagai konsumen, saya menggunakan hak pribadi saya untuk menuntut TV One meminta maaf secara terbuka kepada publik karena telah menyiarkan hasil-hasil Quick Count dari lembaga-lembaga yang serampangan dalam bekerja. [*]

Stok Kampanye Hitam tak Ada Habisnya


Saya menemukan iklan ini di status facebook Killerpreneur. Itu nama akun Mahar Prastowo (ia juga menyebut diri sebagai Mahar Writerpreneur). Kalau belum muak dengan fitnah dan provokasi, sila anda tengok wall facebook orang ini. Di statusnya yang sangat menghasut, yang saya jadikan gambar ini, ia menyebut iklan tersebut sebagai "Iklan Resmi yang dirilis Tim Pemenangan Nomer 2."

Saya mengutuk keras jika iklan itu memang dibikin oleh pendukung Jokowi-JK. Dan saya juga mengutuk keras jika iklan itu sengaja dimunculkan sendiri oleh pihak pendukung Prabowo-Hatta Rajasa--demi memberi kesan buruk terhadap tim Jokowi.

Status facebook Killerpreneur itu lengkapnya seperti ini:
Iklan Resmi yang dirilis Tim Pemenangan Nomer 2 . Mengherankan bahwa KOMPAS Group dan GOOGLE INDONESIA menerima IKLAN seperti ini. Saya khawatir kalau kemudian ada persangkaaan bahwa gambar sadis insinuasi ini justru dianggap sudah cukup untuk menunjukkan pilpres ini persaingan kelompok nasionalis religius dengan (seperti) kelompok yang tahun 1960an teriak: GANYANG SANTRI! GANYANG MASYUMI! GANYANG BANSER! dan tahun ini teriak: GANYANG TVONE! tapi nggak jadi, soalnya kalau TVOne (adiknya ANTV) diganyang nggak bisa nonton Piala Dunia Hahaha... dan kemudian orang bilang bahwa BAHAYA LATEN sudah TIDAK ADA, karena sekarang SUDAH JELAS dan TERANG2AN ... 
Pertanyaan tentang iklan itu:

1. Bagaimana Mahar Prastowo bisa tahu itu iklan resmi Tim Pemenangan No 2?
2. Tim pemenangan yang beralamat di mana? Ada banyak sekali tim pemenangan Jokowi.
3. Apa bukti valid bahwa iklan ini dibuat oleh tim Jokowi?

Kita bisa saja menduga bahwa iklan ini dibikin sendiri dan dimuatkan ke iklan-iklan online oleh Mahar Prastowo dan timnya. Sekarang, mudah sekali bagi kita untuk memasang iklan di Google atau media-media online. Tapi abaikan saja kampanye hitam tersebut. Ia masih sama tujuannya dengan segala kampanye hitam sebelumnya. Dan topik yang diangkat pun masih seputar agama, sama dengan topik-topik kampanye hitam sebelumnya.

Yah, anda tahu, kekuatan utama Jokowi-JK adalah dukungan dari para relawannya, maka saya yakin barisan pendukung inilah yang sekarang sedang dihajar dengan kampanye hitam. [*]

Ziarah kepada Gus Dur

- Kolom Ruang Putih, Jawa Pos, 6 Juli 2014  

Gus Dur yang saya kagumi dan selalu saya cintai,

Maafkan saya jika mengganggu ketenteraman Anda, Gus. Saya kangen kepada Anda dan menulis surat ini seolah-olah Anda masih bisa membaca koran, masih bisa menerima e-mail, atau di tempat Anda di surga sana ada kotak pos.

Tiga hari lagi kami, rakyat yang Anda cintai dan mencintai Anda, akan memilih presiden baru untuk memimpin pemerintahan negara ini lima tahun ke depan. Situasinya sangat riuh. Di media-media sosial, kami seperti dua anak kampung saling meledek atau, lebih parah lagi, saling memaki. Tapi itu hanya terjadi di media sosial dan di media-media massa; secara umum situasi sehari-hari kami baik-baik saja. Memang ada beberapa kerusuhan kecil yang tidak menyenangkan, dalam keadaan panas orang bisa mudah terpancing, tetapi secara umum situasinya relatif damai.

Kabar baik lainnya, banyak orang mengerahkan kemampuan kreatif mereka untuk mengungkapkan dukungan kepada kandidat yang mereka percayai. Ada yang jelek, ada yang bagus, namun saya yakin semuanya muncul dari hati yang terpanggil dan rasa tanggung jawab terhadap masa depan negeri ini.

Gus Dur, pada situasi seperti ini, saya ingin sekali mendengarkan suara Anda. Kami ingin mendengarkan suara yang selalu bisa menenteramkan kami. Anda selalu tahu apa yang harus disampaikan dalam situasi riuh seperti ini dan bagaimana cara menyampaikannya.

Anda sudah membuktikan hal itu berkali-kali, baik saat memimpin NU maupun saat mengawal gerakan perlawanan menumbangkan Orde Baru. Sebagai anak muda yang mengagumi pemikiran dan sepak terjang Anda, saya malahan yang sebentar-sebentar merasa khawatir terhadap situasi sulit yang seringkali harus Anda hadapi.

Saya pernah merasa sangat cemas saat mengikuti Muktamar NU di Krapyak, 1989, saya masih kuliah waktu itu, dan muktamar diselenggarakan dalam situasi Anda sedang digempur kritik oleh para Kiai sepuh. Ketika perwakilan NU dari berbagai cabang menyampaikan kritik kepada Anda di arena muktamar, saya gemetar. Saya khawatir anda tidak bakalan terpilih lagi. Tetapi saat itu saya menyaksikan sendiri bahwa anda selalu tahu bagaimana cara menempatkan diri di dalam situasi yang sangat menekan sekalipun. Anda menanggapi semua kritik dengan tenang dan begitu meyakinkan. Akhirnya muktamar di Krapyak secara aklamasi memilih Anda untuk kembali memimpin PBNU. Saya senang sekali.

Situasi yang sangat genting juga terjadi dalam muktamar NU lima tahun kemudian di Cipasung, Tasikmalaya, tahun 1994. Saat itu Pak Harto sedang berbulan madu dengan kelompok politisi dan militer Islam, dan Anda di posisi yang berseberangan. Abu Hasan digunakan untuk mendongkel anda dari kepemimpinan NU. Saya juga ikut ke Cipasung, dihantui oleh kabar bahwa tentara mengirimkan sniper untuk menghabisi anda. Dan jawaban anda waktu itu membuat saya tenteram: “Tolong tanyakan kepadanya, apa agamanya. Kalau dia menjawab Islam, tolong tanyakan, nyawa ini milik siapa?”

Gus Dur, saya selalu mencintai Anda karena, di mata saya, anda adalah orang yang di masa Pak Harto selalu berjuang, hampir sendirian, untuk meredam gejala-gejala ekstrem dan sangat gigih menjaga kerukunan hidup antar-umat beragama. Saya senang ketika anda menjadi presiden. Saya juga ingin menyampaikan kepada Anda: bapak saya juga pengagum Anda. Ketika anda diturunkan dari kursi kepresidenan, bapak saya menelepon saya dan mengatakan akan berangkat ke Jakarta bersama rombongan demonstran dari Semarang untuk membela Anda. Saya bilang, "Tidak usah, Pak. Gus Dur baik-baik saja, kok, dan beliau meminta kita tetap tenang saja.”

Gus Dur, saya berziarah kepada anda hari ini karena sekarang orang-orang memanfaatkan anda untuk mendukung Prabowo dalam pemilihan presiden. Ada petikan ucapan singkat, yang Anda sampaikan tahun 2009, yang saat ini dijadikan alat kampanye seolah-olah Anda mendukung Prabowo. “Kalau pemimpin yang paling ikhlas itu Prabowo,” kata Anda.

Semoga Anda bersungguh-sungguh dengan ucapan itu, semoga Anda tidak sedang mengajak kami guyon ketika menyampaikannya menjelang pemilu lima tahun lalu. Namun, tidak apa-apa juga kalaupun Anda berniat guyon; saya selalu senang dengan guyon-guyon Anda. Saya senang dengan cara anda menempatkan diri dan menyampaikan pendapat tentang apa saja. Saya belajar banyak dari cara anda melihat persoalan. Sepertinya tak ada yang terlalu rumit.

Saya juga ingin seperti itu: menganggap bahwa situasi hari ini biasa-biasa saja dan bahkan lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Saya rasa itu cara berpikir yang lebih sehat.

Setelah Anda digunakan sebagai alat kampanye, beberapa hari lalu muncul jurnalis dari Amerika Serikat, Allan Nairn, membuka cerita pertemuan dirinya dengan Prabowo dan menceritakan wawancaranya dengan mantan Panglima Kostrad itu di tahun 2001. Di dalam tulisannya, Allan mengutip omongan Prabowo yang menyampaikan komentar sengit tentang Anda: “Bahkan militer pun tunduk kepada presiden buta. Bayangkan! Coba lihat dia, bikin malu saja.”

Allan berterus-terang bahwa ia melanggar prinsip jurnalisme untuk merahasiakan pernyataan-pernyataan off the record. Dan ia melakukan itu karena ada kepentingan lebih besar bahwa kami, rakyat Indonesia, perlu tahu informasi yang ia miliki. Maka ia menuliskan pertemuannya dengan Prabowo. Ia jurnalis dengan reputasi baik, Gus, dan ia berani mempertanggungjawabkan apa yang sudah disampaikannya.

Di luar semua keriuhan itu, Gus, saya pribadi sejak awal menolak pencalonan Prabowo. Saya bukan politisi, dan bukan orang yang memiliki kepentingan politik ketika menyuarakan pendirian saya. Sampai hari ini Prabowo tetap menyandang status sebagai pelaku penculikan. Dinyatakan atau tidak, saya yakin alasan pemecatannya adalah karena kasus penculikan ini. Ia sendiri dalam wawancara dengan media pada waktu itu mengakuinya. Pak Soemitro Djojohadikusumo mengakui bahwa anaknya melakukan hal itu karena perintah atasan. Selama tidak ada kemajuan secara hukum untuk kasus tersebut, apa boleh buat, ia tetap pelaku penculikan. Dan saya menolak pelaku penculikan menjadi calon presiden. Itu hak saya sebagai warga negara untuk memberinya sanksi sosial atas apa yang telah ia lakukan di masa lalu.

Posisi menolak itu membuat saya selalu mengikuti perkembangan dari hari ke hari menuju hari pemilihan. Memang pemilihan presiden kali ini diwarnai dengan gencarnya kampanye hitam, informasi yang dipelintir, dan pelbagai fitnah. Rasanya agak mual bahwa kampanye hitam menjadi strategi yang sangat efektif untuk menjatuhkan kandidat lain. Yang jauh lebih menyedihkan, bahkan tabloid penyebar fitnah bernama Obor Rakyat diproduksi oleh orang-orang yang bekerja di istana kepresidenan.

Kami sempat bingung dan kewalahan dijejali dengan pelbagai bentuk kampanye hitam. Saya tahu bawa tujuan fitnah disebar-sebarkan, selain untuk memisahkan publik dari kandidat yang dipilihnya, juga untuk membuat publik kewalahan atau overload. Kondisi overload ini membuat pikiran kami kelelahan dan kebingungan. Saya juga sempat seperti itu, Gus. Saya marah suatu hari, menangis pada tengah malam bulan Ramadhan. Sedih sekali membayangkan kenapa bisa terjadi seperti ini. Pada saat menangis itulah saya teringat Anda. Karena itu saya tulis surat ini. Saya pikir hanya Anda yang selalu bisa dengan enteng menanggapi situasi macam ini.

Berhari-hari saya memikirkan apa yang akan saya sampaikan sekiranya saya bisa bercakap-cakap dengan Anda. Sekarang saya sudah merasa jauh lebih tenteram. Saya ingin merasa rileks saja dengan semua ini, ingin menghadapi apa yang tengah berlangsung dengan perasaan girang, dengan sikap enteng: ini hanya fase yang harus kami lalui untuk menjadi lebih dewasa dalam berpolitik. Dan begitulah yang terjadi. Saya senang sekali jika Anda bisa menyaksikan bagaimana pemilihan presiden ini membuat banyak orang merasa ikut bertanggung jawab untuk memerangi kampanye hitam. Mereka melakukan tindakan-tindakan kreatif untuk menangkalnya.

Gus Dur yang saya cintai, tiga hari lagi kami memilih. Enam belas tahun lalu, Anda mengawal rakyat menumbangkan kekuasaan Pak Harto melalui gerakan people's power. Kami ingin mempertahankan kemenangan itu dan kami mohon Anda merestui apa yang kami lakukan. Salam dari orang yang selalu mencintaimu, A.S. Laksana [*]

Pak Kivlan Zen, Sutiyogo, dan Ramalan Joyoboyo

Pada pemilu 2009, Pak Kivlan Zen pernah mengumumkan diri sebagai calon presiden. Persiapan penting yang ia lakukan untuk itu adalah tirakat dan melihat lintang kemukus dan mengganti namanya menjadi Sutiyogo. Penggantian nama ini demi mencocokkan diri dengan ramalan Joyoboyo tentang “Notonagoro” Majalah Tempo edisi 21 Julis 2008 pernah menurunkan berita tentang Pak Sutiyogo ini dalam rubrik Laporan Utama. Berikut tulisan lengkapnya:

LAPORAN UTAMA
SENIN, 21 JULI 2008

Kivlan, eh, Sutiyogo

Zaap…, Kivlan Zen melihat bola biru melesat ke angkasa. Tengah malam sudah lewat, mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat itu sedang tirakat di emperan musala di kompleks pemakaman Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, awal Juni tahun lalu.

Kivlan, 63 tahun, telah selesai menjalani ritual nyekar di pusara sang Proklamator. ”Semoga Paduka yang Mulia diberi kelapangan di alam kubur,” kata pensiunan mayor jenderal itu menceritakan kembali pengalamannya. Bersama menantunya, ia melakukan salat malam dan kemudian tirakat.

Menurut Kivlan, ada lima peziarah lain yang menyaksikan bola biru melesat malam itu. Mereka menyebutnya lintang kemukus — dalam tradisi Jawa diyakini menjadi pertanda bakal munculnya Satrio Piningit. ”Sebulan kemudian, jam satu malam, saya bertemu dengan lintang kemukus lagi ketika naik mobil di Bintaro, Jakarta Selatan,” ujarnya.

Setahun setelah munculnya lintang kemukus itu, Kivlan mendeklarasikan diri sebagai calon presiden di Gedung Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta. Ia mengusung slogan: ”Pembaruan dan Tegas”. Jualannya pembangunan pertanian dan energi bersumber alam. Ia mengklaim punya sumber energi baru yang dinamai ”fuel cell”.

Kivlan yakin dukungan politik dan dana untuknya akan datang. Ia pun siap memperluas kewenangan otonomi daerah, termasuk hak mengelola anggaran oleh pemerintah daerah. ”Para gubernur pasti mendukung saya,” ujarnya.

Bagi Anda yang sudah lupa dengan Kivlan Zen, mari sama-sama membuka catatan lama. Kivlan dulu pernah mengaku diperintah Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Wiranto membentuk Pam Swakarsa —milisi sipil yang dipersenjatai bambu runcing untuk melawan demonstrasi mahasiswa menjelang Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat 1998. Wiranto membantah tudingan Kivlan itu dan jadilah keduanya berpolemik di media massa. Keduanya juga saling serang dengan cara menerbitkan buku.

Kini Kivlan bangkit lagi. Untuk meraih mimpinya, menurut orang dekatnya, ia mengejar dukungan hingga alam gaib. Sang calon presiden kabarnya memiliki guru spiritual bernama Ahmad Zakaria, pria 100 tahun yang mengklaim masih merupakan kerabat Keraton Yogyakarta. Kepada Kivlan, kata sumber itu, Zakaria memberikan pertanda: ”Presiden tahun depan bukan orang Jawa.” Ia pun meminta Kivlan cepat-cepat mengumumkan diri sebagai calon presiden.

Agar lebih sedap, ramalan lawas juga dibuka. Menurut teori Joyoboyo yang masyhur, urut-urutan pemimpin Indonesia menuju kemakmuran adalah ”notonogoro” — urut-urutan suku kata terakhir nama mereka. ”No” untuk Soekarno, ”to” untuk Soeharto, dan ”no” kedua buat Susilo Bambang Yudhoyono. Adapun B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri dianggap sebagai tokoh peralihan.

Nah, kini giliran yang punya nama ”go” untuk memimpin. Kivlan Zen jelas tak memenuhi syarat ini. Tapi itu tak jadi masalah. Ia sudah punya nama lain: Sutiyogo. Prosesi mengubah nama itu kabarnya telah dilakukan sebulan lalu.

Saat dimintai konfirmasi soal itu, Kivlan tak membantahnya. Ia berujar, ”Saya memang suka ngelmu, sejak berlatih silat ketika kelas II SMA di Medan.” Di mana pun bertugas ketika masih aktif di militer, ia mengaku selalu berguru kepada ulama. ”Saya pengikut tarekat Naqsabandiah.”

Satu lagi senjata pamungkas Kivlan: keris tujuh lekuk setengah meter dari besi kuning. Keris itu diberi nama Satrio P. Saat ditanyai apakah P itu merupakan singkatan dari ”Piningit”, Kivlan tangkas menjawab, ”Biar saja orang lain yang menafsirkan, nanti geger Indonesia.”

Nah, siapa berani melawan Sutiyogo, eh, Kivlan Zen? [Tempo/Budi Riza]

Surat Terbuka untuk Pak Amien Rais

Kolom Ruang Putih, Jawa Pos, 22 Juni 2014

Pak Amien yang baik, ini kali kedua saya menggunakan kolom ini untuk menulis surat terbuka. Sebelumnya, hampir lima tahun lalu, saya menulis surat terbuka untuk Presiden SBY. Ketika itu Pak SBY baru memulai periode kedua pemerintahannya. Saya pikir memberi saran adalah kewajiban warga negara yang baik, sebab performa presiden kurang menggembirakan dan ia mulai menjadi bahan ledekan.

Hal yang sama sedang terjadi pada anda saat ini: menjadi bahan ledekan. Mula-mula saya mendengar ada satu orang di dalam kerumunan anak-anak muda mengajukan tebakan kepada teman-temannya dan ia menjawab sendiri tebakan itu, “Apa beda Amien Rais dan tahun kabisat? Tahun kabisat muncul empat tahun sekali, Amien Rais setahun lebih lambat, ia muncul lima tahun sekali.” Di media sosial maupun dalam perbincangan sehari-hari, saya sering membaca atau mendengar orang-orang menyebut anda sebagai Sengkuni. Itu seburuk-buruknya watak yang saya kenali dalam dunia pewayangan: ia penghasut, ia licik, ia menumbuh-suburkan watak angkara. Sebagian dari mereka yang meledek anda adalah para pemuda belia yang usianya mungkin belum genap 20 tahun. Saya sedih sekali.

Saya benci mendengar ledekan itu. Kalau menggunakan kata-kata Pak SBY, saya prihatin. Anda adalah orang yang saya hormati—sebagai guru, sebagai orang yang berdiri di baris terdepan reformasi, juga sebagai orang yang pernah memimpin Muhammadiyah, sebuah organisasi yang dibentuk oleh pendirinya dengan tujuan mulia dalam kacamata umat Islam. Di luar semua alasan itu, saya pernah kuliah di Fisipol UGM dan anda adalah dosen di sana. Meskipun anda tidak pernah mengajar saya secara langsung di kelas, saya tetap menghormati anda sebagai guru saya.

Ketika anda terjun aktif di dunia politik, dan ikut mendesak Pak Harto turun, saya bangga. Pak Harto sudah terlalu lama menjadi presiden dan ia sendiri tidak tahu kapan harus turun. Ketika anda menjadi kandidat presiden, 2004, saya memilih anda dan berharap anda menang. Saya benar-benar ingin melihat Indonesia yang berbeda ketika negeri ini dipimpin oleh intelektual, seseorang yang bertahun-tahun bergelut di kampus dan memilih dunia pendidikan sebagai jalan hidup.

Dua tahun sebelum pemilihan, saya bahkan menawarkan sebuah konsep kampanye untuk anda—saya yakin anda tidak ingat, banyak sekali orang yang menemui anda saat itu. Kita bicara di rumah dinas anda sebagai ketua MPR dan pada pertemuan kedua Anda langsung setuju. Mudah sekali berbicara dengan anda, saya pulang dari rumah anda dengan perasaan sangat senang. Namun konsep itu tidak pernah bisa dieksekusi. Saya dan anggota tim sukses yang anda tunjuk untuk menangani program kampanye tersebut tidak pernah mencapai kata sepakat. Sebelum pertemuan berakhir, saya sampaikan kepadanya, “Pak Amien guru saya, konsep ini saya tawarkan karena rasa hormat saya dan dukungan terhadap pencalonannya. Tapi anda memperlakukan saya sebagai pedagang Malioboro.”

Seorang teman menyarankan agar saya menawarkan konsep itu kepada kandidat lain. Saya menolak sarannya.

Pak Amien, hanya sekali itu saya merasa terdorong untuk ikut berkampanye. Pada pemilu berikutnya, saya ingat sejumlah kawan menggalang kampanye aktif agar pasangan Mega-Prabowo jangan sampai menang. Saya merasa biasa-biasa saja saat itu dan yakin bahwa Mega-Prabowo tidak akan menang. Di hari pemilihan, saya datang ke bilik suara agak sore dan memilih kandidat yang saya merasa lebih sreg dibandingkan dua kandidat presiden lainnya. Saya tidak pernah tertarik pada pemilu legislatif. Sejak Gus Dur menyebut DPR sebagai kumpulan anak TK, menurut saya mereka tidak pernah naik kelas hingga sekarang.

Tahun ini kita akan menggelar pemilihan presiden lagi dan saya dicekam perasaan cemas dan marah oleh gencarnya fitnah dan kampanye hitam yang dilancarkan sebagai strategi meraih kemenangan. Mereka bahkan tega menggunakan mulut anak-anak, yang suatu sore berjalan beriringan di depan rumah saya, untuk menyanyikan lagu yang liriknya betul-betul menjijikkan.

Pak Amien, anda jauh lebih tahu dari saya bahwa Islam mengutuk fitnah dan nabi Muhammad mengibaratkan fitnah sebagai malam yang gelap gulita. Itu perumpamaan yang sangat bagus. Dalam kepungan fitnah, kita tak bisa melihat cahaya dan sulit menemukan sesuatu yang bisa dipegang. Saya heran bahwa anda tidak terdorong untuk menghentikan semburan fitnah dan membantu menjadikan situasi lebih terang. Anda justru menambahi kobaran fitnah ini dengan seruan Perang Badar.

Saya Islam sejak kecil karena kedua orang tua saya Islam. Ada sejumlah kasus di dunia fana ini tentang orang-orang yang meninggalkan agama orang tua mereka dan memilih agama baru saat mereka tumbuh dewasa, dengan alasan masing-masing. Namun saya yakin kebanyakan orang lain di negeri ini seperti saya, dalam pengertian bahwa kita tidak bisa memilih siapa ibu yang melahirkan kita, apa suku bangsanya, dan apa agamanya.

Fitnah-fitnah hari ini, yang menggelembungkan isu agama dan ras dan apa saja yang bisa digunakan sebagai alat untuk meraih kekuasaan, saya rasakan tidak saja terlalu keji dan mengerikan, tetapi juga meneror dan memecah belah. Entah seperti apa kadar keislaman saya hari ini, saya tetap berharap bahwa orang-orang, dari latar belakang agama atau etnis atau kelompok apa pun, bisa mempercayai dan ikut merasakan bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta. Saya tidak sanggup menyaksikan perangai yang menyebabkan orang berpikir bahwa orang Islam adalah mereka yang menghalalkan cara apa pun untuk berkuasa.

Yang sedang kita hadapi saat ini hanyalah pemilihan presiden, bukan pemilihan panglima perang-perangan atau kapten pertandingan gobak sodor. Ini hanya ikhtiar duniawi untuk mendapatkan orang yang lebih baik dalam memimpin sebuah pemerintahan.

Untuk itu, yang kita perlukan bukanlah mental perang-perangan atau petak umpet sambil melempar sampah, melainkan ajakan untuk meneliti rekam jejak setiap kandidat. Cukup sering saya menyampaikan kepada teman-teman: “Pilihlah orang yang catatan masa lalunya baik, lebih utama adalah orang yang di masa lalu telah melakukan tindakan-tindakan yang berguna bagi kepentingan orang banyak.” Pada seseorang dengan rekam jejak yang baik, anda tahu, kita bisa berharap akan adanya pemerintahan yang mampu memberi kebaikan bagi seluruh warga negara.

Kita semua tahu bahwa, jauh sebelumnya, nama Jokowi terlalu kuat sebagai kandidat dibandingkan nama-nama lain dari partai apa pun. Harus diakui faktanya seperti itu. Cukup sering saya membaca pernyataan-pernyataan negatif anda tentangnya. Namun popularitas dan tingkat elektabilitas gubernur DKI Jakarta ini tetap tak tertandingi. Maka anda pun akhirnya berupaya menjodoh-jodohkan Jokowi dengan Hatta Rajasa. Para pentolan dari partai-partai lain—Golkar, PPP, dan PKS—juga berbuat serupa. Mereka mendekati Jokowi pada awalnya. Saya membaca berita tentang ini semua di media massa.

Kalau akhirnya anda dan kawan-kawan bergandeng tangan dengan Gerindra yang mengusung Prabowo, dan kemudian anda mengatakan Bung Bowo dan Bung Hatta serupa benar dengan Bung Karno dan Bung Hatta, itu hanya langkah politik yang sangat pragmatis. Orang tahu bahwa itu melulu urusan tawar-menawar—gagal dengan satu pihak, lalu terakomodasi oleh pihak yang lain.

Maka, saya tercengang dengan adanya fitnah-fitnah SARA dan pengondisian yang menyesatkan seolah-olah yang sedang berlangsung saat ini adalah perjuangan suci untuk mengibarkan panji-panji agama. Lalu orang-orang dari dua kubu berseteru dalam kegelapan. Saya yakin tidak ada yang ideologis dalam urusan ini. Para politisi kita bukan kumpulan orang-orang yang ideologis. Mereka hanya kawanan yang tergiur oleh kekuasaan, atau setidaknya bisa ikut serta dalam gerbong kekuasaan. Anda sendiri juga pernah mengatakan, demi membuka peluang untuk mendekati kandidat yang semula paling dijagokan, bahwa Jokowi dan Hatta Rajasa seperti Bung Karno dan Bung Hatta.

Sekarang situasi kian panas dan gelap. Beberapa orang berpikir bahwa seusai pemilu pasti terjadi kerusuhan. Saya menolak pikiran seperti itu. Kami punya nalar dan saya yakin seusai pemilu semuanya baik-baik saja—kecuali ada provokasi, kecuali ada yang sengaja mengudak-udak air kolam yang tenang. Rakyat bisa terpancing, anda tahu, tetapi mereka biasanya bukan pihak yang memulai. Jadi kalau sampai kerusuhan itu terjadi, para elite politik, termasuk anda, adalah orang-orang pertama yang patut dipersalahkan.

Saya sudahi surat saya, Pak Amien. Kalaupun anda tidak membaca surat ini, atau membaca namun tidak merasa perlu menganggap penting apa yang saya sampaikan, saya akan baik-baik saja. Memang saya marah pada fitnah-fitnah yang berseliweran, tetapi saya tetap menulis dan menyampaikan pemikiran saya dengan perasaan gembira.

Semoga anda dan keluarga selalu sehat. Salam dari saya, A.S. Laksana. [*]

Harapan Minimum terhadap Pendidikan

Wakil Presiden Boediono menulis artikel bagus berjudul Pendidikan Kunci Pembangunan yang dimuat di harian Kompas, 27 Agustus 2012. Ia membuka tulisannya dengan pendapat bahwa kita belum punya konsep pendidikan yang jelas. Karena itu yang muncul adalah kecenderungan untuk memasukkan apa saja yang dianggap penting ke dalam kurikulum, memberi beban berlebihan kepada anak didik, dan tidak pernah menyadari bahwa “ada satu hal penting yang ‘hilang’, yaitu tentang ‘apa’ yang seyogianya diajarkan untuk menyiapkan manusia-manusia Indonesia yang mampu berkontribusi maksimal bagi kemajuan bangsanya.”

Tulisan tersebut membicarakan aspek-aspek penting yang menopang kemajuan bangsa, menyarikan hasil riset mutakhir yang menyebutkan bahwa kualitas institusi adalah penentu kemajuan, dan apa saja yang perlu dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Respons setelah kemunculan tulisan itu lebih menarik lagi. Wakil Mendikbud bidang Pendidikan Musliar Kasim segera mengeluarkan penilaian bahwa pendidikan Indonesia sudah sangat membosankan. Penilaian itu agak ganjil karena disampaikan oleh wakil menteri pendidikan, pihak yang paling bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pendidikan yang berhasil. Anda bisa bilang, ia sedang menunjuk hidungnya sendiri.

“Indikatornya sederhana,” kata Musliar, “anak-anak gembira jika gurunya tidak datang. Itu karena pola pendidikan kita masih memberatkan anak.” Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam jumpa pers hari Kamis (27/9/2012) untuk acara yang judulnya seperti bentangan spanduk: “Internalisasi Nilai dalam Rangka Gerakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Melalui Kebudayaan”.

Jika Anda sabar untuk membedah kalimat abstrak tersebut, Anda bisa mengajukan beberapa pertanyaan sebagai berikut. Nilai apa sesungguhnya yang akan diinternalisasikan dalam gerakan nasional itu? Seperti apa tepatnya wujud gerakan nasional pembangunan karakter bangsa? Dan apa langkah praktis yang bisa dijalankan untuk menyukseskan gerakan itu melalui kebudayaan?

Pemikiran abstrak semacam itu, yang selalu terdengar sebagai slogan, di waktu-waktu sebelumnya selalu akan diturunkan ke level praktis dalam bentuk proyek-proyek klise. Misalnya, pergelaran tari-tarian adat, pameran benda-benda kerajinan, atau menyanyikan lagu-lagu daerah oleh murid-murid sekolah.

Respons lain adalah munculnya kabar penghapusan mata pelajaran IPA dan IPS di sekolah dasar. Pasti itu didasari niat baik untuk meringankan beban murid-murid. Dan, jika tujuan utamanya itu, saya kira pelajaran matematikalah yang paling perlu dihapuskan. Tidak hanya murid-murid yang akan merasa lega, orang tua juga tidak akan kelimpungan ketika anaknya kesulitan mengerjakan PR matematika.

Saya pribadi berharap bahwa penghapusan itu, kalaupun dilakukan, akan mampu membuat murid-murid SD menjadi anak-anak yang hebat di dunia wal akhirat. Itu doa orang tua untuk anak-anaknya. Saya bukan ahli pendidikan. Saya hanya seorang ayah yang mempercayakan pendidikan untuk anak-anak saya di sekolah umum. Mengenai kurikulum seperti apa yang paling ampuh, saya tidak tahu. Saya hanya menyekolahkan anak dengan harapan tertentu di benak saya. Sebagian orang tua tentunya juga menyimpan harapan unik mereka sendiri terhadap pendidikan anak-anak mereka. Sebagian orang tua yang lain menyekolahkan anak-anak karena mengikuti kelaziman saja.

Sebagaimana berjuta-juta orang tua lainnya, saya tidak meributkan kurikulum ketika memasukkan anak-anak saya ke sekolah. Urusan konvensional saya sebagai orang tua adalah dipamiti anak ketika mereka hendak berangkat, memberikan uang saku, dan berharap sekolah mereka lancar dan tidak satu kalipun mereka akan terlibat tawuran kelak ketika SMA. Di luar itu, saya berharap bahwa pendidikan akan menjadikan anak saya seperti berikut ini:

1. Memiliki sensitivitas, imajinasi, dan kreativitas.
2. Memiliki kemampuan untuk hidup secara baik bersama orang-orang lain
3. Memiliki kemampuan untuk memahami dirinya sendiri dan lingkungan.
4. Tahu bagaimana cara mengembangkan diri sendiri kelak.
5. Memiliki kemampuan mengkomunikasikan isi pikirannya.

Semoga itu harapan yang wajar terhadap sekolah, karena sekolah adalah institusi resmi yang bertanggung jawab memberikan pendidikan. Tanpa pendidikan yang baik, tidak mungkin anak-anak saya akan memiliki hal-hal di atas. Tanpa pendidikan yang baik, tidak mungkin harapan saya sebagai orang tua akan terpenuhi.

Jika sekolah hanya mampu memenuhi sebagian harapan saya, tidak ada masalah. Itu berarti saya perlu menggunakan peran saya sebagai orang tua untuk melengkapinya. Jadi, saya dan sekolah saling berbagi. Kalau kualitas pendidikan di sekolah amat pas-pasan dan hanya mampu memenuhi satu saja harapan saya, maka saya akan berharap bahwa sekolah mampu menjadikan anak saya menguasa kecakapan berbahasa.

Tujuan pendidikan dasar, Anda tahu, adalah membekali siswa dengan kecakapan yang dibutukan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Tujuan itu hanya mungkin berhasil ketika anak memiliki kecakapan menggunakan bahasa. Bahasa adalah perangkat kunci untuk mengembangkan pemikiran dan mengutarakan pendapat. Ilmu pengetahuan tersebar dan berkembang melalui bahasa. Saling pemahaman juga tercapai dengan bahasa. Karena itu, menurut saya, sudah sepatutnya kecakapan berbahasa menjadi tujuan utama pendidikan dasar. Ia melandasi keberhasilan pembelajaran. Jadi, membuat murid cakap menggunakan bahasa seharusnya menjadi tujuan utama pembelajaran di sekolah dasar.

Itu keinginan saya yang sangat minimum. Namun saya yakin bahwa pemerintah pasti memiliki niat raksasa dengan pendidikan, yang sering dirumuskan secara sloganistik dengan frase “menyelenggarakan pendidikan manusia seutuhnya” atau “melahirkan generasi penerus yang cerdas, beriman, dan bertakwa.”

Memang salah satu urusan negara adalah membuat slogan. Namun, apa pun slogannya, dan seperti apa kurikulum itu nantinya, saya membayangkan bahwa untuk mendapatkan kecakapan-kecakapan yang saya harapkan di atas, murid-murid sekolah dasar hanya perlu belajar Seni Berbahasa, Matematika, Sejarah, Ilmu Sosial, Sains, Kesenian (Musik dan Visual), dan Olahraga.

Masalahnya, seperti apa materi pembelajarannya dan bagaimana cara penyampaiannya? Saya iri membaca seorang guru ilmu sosial di Amerika mengajarkan masalah perbudakan kepada murid-murid SD-nya dengan cara seolah-olah ia sedang menggelar pertunjukan drama. Ketika murid-murid datang, mereka menjumpai di pintu kelas sebuah kertas pengumuman berbunyi: “Pertunjukan hari ini adalah kisah pelarian para budak di terowongan kereta api.” Dan guru tersebut menghias ruangan kelas dengan gambar-gambar tempo dulu, ia mengenakan atribut-atribut masa itu, dan memutar lagu-lagu yang populer di zaman perbudakan itu dari gramofon. Murid-murid langsung dibawa surut ke situasi waktu itu.

Saya membayangkan bahwa sekolah akan menyenangkan jika pembelajaran disampaikan dalam cara yang imajinatif seperti itu. Tentu itu sulit. Saya juga berharap bahwa, melalui pendidikan di sekolah, anak-anak saya bisa tumbuh menjadi individu yang tahu bagaimana mengembangkan diri dalam keunikannya masing-masing. Itu lebih sulit lagi. Sekolah hanya bertanggung jawab mengajarkan hal-hal standar, yang dimaksudkan untuk menjangkau orang banyak dan bukan memberi perhatian khusus kepada keunikan individu. Jadi, untuk sekarang, saya sudah akan sangat lega jika sekolah bisa membuat anak saya cakap berbahasa. [*]

*) Tulisan ini pernah dimuat di "Ruang Putih", Jawa Pos, 30 Agustus 2012

7 Saran Roald Dahl untuk Para Pemula

Agar sampean bisa menjadi penulis bagus dan selalu menyadari bahwa tulisan yang berguna di dunia fana ini adalah tulisan yang bagus, maka tujuh saran dari Roald Dahl di bawah ini patut dibaca. Ia penulis yang amat mahir dan produktif dan jenaka. Dan saya kira ia orang yang besar sekali jasanya bagi anak-anak karena tahu bagaimana cara membuat cerita yang memikat dan ia pintar membuat mereka tertawa. Berikut adalah 7 sarannya:

  1. Imajinasi sampean harus bagus. Ini jelas. Kalau imajinasi sampean menyedihkan tapi sampean senang mengetik, lebih baik bekerja sebagai tukang ketik di kantor kelurahan.
  2. Tulisan sampean harus bagus. Maksud saya, sampean harus sanggup membuat adegan yang hidup di benak pembaca. Tidak setiap orang punya kemampuan ini. Suka atau tidak, inilah yang disebut bakat.
  3. Sampean harus punya stamina. Dengan kata lain, sampean harus bisa khusyuk bekerja dan pantang menyerah, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan demi bulan.
  4. Sampean harus punya hasrat yang menyala-nyala untuk menulis bagus. Maksud saya, jangan cepat puas dengan draft yang sudah selesai sampean tulis. Sampean harus mau menulis ulang satu kali lagi, satu kali lagi, satu kali lagi sampai naskah itu sangat bagus menurut sampean.
  5. Jadilah orang yang sangat disiplin. Sampean bekerja sendiri, tidak di bawah perintah siapa pun, tidak ada yang menghukum sampean kalau sampean tidak menyelesaikan pekerjaan, tidak ada yang akan mengomel jika sampean bermalas-malasan.
  6. Baik sekali jika sampean punya selera humor. Kakek-kakek mungkin tidak memerlukannya, tetapi anak-anak dan kebanyakan orang menyukai humor.
  7. Sampean harus punya kerendahan hati. Penulis yang merasa karyanya hebat, ia akan tampak seperti orang kekenyangan dan perlu diperiksakan ke Puskesmas.

Kalau sampean sudah menuruti saran itu, kirimkan naskah sampean ke penerbit Moka Media. Saya bekerja di sana. Alamat emailnya: "redaksi@mokamedia.net". Kami senang menerbitkan yang terbaik. Sesekali mungkin kami menerbitkan yang kurang baik, tapi itu membuat kami kurang senang.

Tentang Para Singa

*) Kolom Majalah Detik, edisi 7-13 April 2014

Salah satu film yang paling mengesankan bagi saya adalah Lion of the Desert (1981), garapan sutradara Moustapha Akkad (semoga tenteram di kuburnya; Moustapha tewas bersama anaknya, Rima Akkad, saat terjadi serangan bom bunuh diri di Amman, Yordania, tahun 2005). Film itu berkisah tentang Omar Mukhtar, seorang guru yang memimpin perlawanan warga Libya menghadapi tentara fasis Italia. Di tahun 1929, perlawanan itu sudah berlangsung selama 20 tahunan. Diktator Benito Mussolini, yang ingin mengembalikan kejayaan Kekaisaran Romawi di Afrika, menunjuk Jenderal Graziani sebagai gubernur di negeri jajahan tersebut.

Melalui film itu, kita dibawa menyaksikan bagaimana Pak Guru Omar Mukhtar menunjukkan keberanian dan keteguhan hati seorang pemimpin. Bahkan dalam perang yang ganas menghadapi tentara dengan persenjataan mutakhir, ia tetap berpegang pada nurani. Omar mengampuni perwira muda Italia yang menjadi tawanan perang dan membebaskannya pergi dengan membawa bendera negaranya. Anthony Quinn memerankan sosok Omar Mukhtar begitu mengagumkan. Saya tidak merasa sedang melihat seorang bintang film memerankan tokoh sejarah, tetapi seolah-olah yang saya saksikan di layar itu adalah Omar Mukhtar sendiri. Mungkin karena saya terlalu terpukau pada sosok di layar bioskop itu.

Pemerintah Italia melarang Lion of the Desert diputar di negerinya pada tahun 1982 dengan alasan “meruntuhkan martabat tentara.” Baru pada tahun 2009 film ini diizinkan diputar di televisi, bersamaan dengan kunjungan Muammar Qaddafi ke negeri tersebut. Bertahun-tahun kemudian, saya membaca bahwa Omar Mukhtar sampai hari ini tetap menjadi teladan bagi orang Libya. Muammar Qaddafi mengaguminya, juga para penentang sang diktator.

Kita memiliki sosok pemimpin gerilya yang semula juga seorang guru seperti Omar Mukhtar, ialah orang yang namanya kita sebut penuh hormat sebagai Panglima Besar Jenderal Soedirman. Ketika keadaan membutuhkannya, pemuda Soedirman meninggalkan HIS Muhammadiyah tempatnya mengajar dan ia kemudian masuk PETA, menjadi komandan pasukan, dan menjadi jenderal dalam usia muda. Gambaran tentang keteguhannya melekat di benak kita dalam sosok seorang panglima yang memimpin gerilya dengan dibopong tandu.

Figur pemimpin besar lain yang dikenal luas dalam sejarah bangsa kita adalah seorang perempuan perkasa bernama Cut Nyak Dhien. Suami pertamanya meninggal dalam pertempuran melawan Belanda. Suami keduanya, Teuku Umar, juga seorang pemimpin perlawanan dan gugur dalam pertempuran melawan musuh yang sama. Selanjutnya Cut Nyak Dhien sendiri yang memimpin perlawanan, sampai usianya tua, sampai ia tertangkap atas laporan panglima pasukannya sendiri yang membocorkan kepada Belanda di mana ia berada. Cut Nyak tertangkap dan diasingkan ke Sumedang dan meninggal di sana.

Saya segera teringat pada ketiga figur di atas setelah Prabowo Subianto membuat pernyataan bahwa kalangan militer sangat tepat memimpin Indonesia saat ini. Ia mengatakannya dalam sebuah pidato di depan para pendukungnya dan bukan dalam forum ilmiah yang memerlukan analisis dan studi yang cermat untuk mendukung pernyataannya. Demi memperkuat pernyataannya, Prabowo membuat perumpamaan tentang singa dan kambing dan mengatakan: “Masak singa dipimpin oleh kambing, nanti singanya bersuara kambing.”

Dari berita kecil yang saya baca, mudah ditafsirkan bahwa yang dimaksud singa oleh Prabowo adalah kaum militer, sementara yang dimaksud kambing adalah warga sipil. Dan saya yakin Anda pasti menebak kambing itu adalah Jokowi.

Kalau logika Prabowo diikuti, bahwa militer adalah singa dan sipil adalah kambing, maka sampai kapan pun yang tepat memimpin negeri ini adalah militer. Alasannya, singa tidak boleh dipimpin oleh kambing, demi menjaga agar singa-singa itu tidak mengembik.

Melakukan identifikasi diri dengan binatang apa pun, mencoba meyakinkan publik bahwa dirinya berkarakter singa, tentu saja tidak dilarang. Tetapi menyebut pihak lawan sebagai kambing atau beruang madu atau cacing pita bisa jadi akan menimbulkan masalah. Saya kira itu adalah propaganda politik yang bisa membangkitkan kebencian.

Di samping itu, pernyataan bahwa “kalangan militer sangat tepat memimpin Indonesia saat ini” terasa menyiratkan situasi genting. Seolah-olah ada situasi gawat darurat yang hanya bisa diatasi oleh “singa” atau seseorang dari kalangan militer. Pertanyaannya, apa yang menyebabkan saat ini kita membutuhkan pemimpin dari kalangan militer? Dalam dua periode terakhir presiden kita berlatar belakang militer, atau seekor singa jika kita mengikuti perumpamaan Prabowo, dan para demonstran malah turun ke jalan sambil menuntun kerbau.

Jadi, kenapa kita memerlukan singa lagi saat ini? Jika singa yang sekarang ini dianggap mengecewakan, apakah singa berikutnya tidak akan mengecewakan juga?

Saya pikir negeri ini tidak membutuhkan singa atau kambing atau ikan sepat--apalagi tikus got. Negeri ini membutuhkan orang-orang yang mampu memberi inspirasi dan memimpin orang banyak untuk meningkatkan kualitas hidup warganya. Medan pertempuran hari ini tentu saja sudah berbeda dibandingkan medan pertempuran di masa lalu, tetapi kita tetap membutuhkan pribadi-pribadi yang mampu menjadikan negeri ini lebih bermartabat dan bisa menjadi ruang hidup bersama yang menenteramkan.

Kalaupun benar kita membutuhkan singa, maka yakinlah singa bukan melulu dari kalangan militer dan mereka yang dari luar kalangan itu bukan berarti burung onta atau cacing pita. Dalam sejarah kita, para “singa” itu justru muncul dari pihak warga sipil yang terpanggil untuk melakukan perlawanan. Singa itu adalah Cut Nyak Dhien, dan bukan para marsose yang sejak awal berlatih ketentaraan. Di masa perang kemerdekaan, yang layak kita sebut singa bukanlah orang-orang dari tangsi KNIL, melainkan seorang guru sekolah bernama Soedirman.

Adapun judul film Lion of the Desert—atau Singa Gurun--adalah sebuah metafora yang dipersembahkan untuk menghormati Pak Guru Omar Mukhtar. Ia disebut singa bukan karena ia dari kalangan militer, melainkan karena keberanian dan keteguhan hatinya untuk mempertahankan kedaulatan dan martabat negeri. ***

Sumber: http://majalah.detik.com/cb/67b43bd333489ff156e5e0df00dc5895/2014/20140407_MajalahDetik_123.pdf

Adios, Gabo!

*) Kolom Ruang Putih, Jawa Pos, Minggu, 20 April 2014

Pintu kayu yang kokoh dan tebal itu akhirnya terbuka saat mobil pengantar karangan bunga datang. Gabriel Garcia Marquez, tua dan oleng dan tampak bingung, muncul dari dalam rumahnya, di Mexico City, dituntun oleh seorang perempuan muda. Ia mengenakan kemeja warna biru laut dan jas hitam dan di dada kiri jasnya tersemat mawar kuning, bunga keberuntungan menurut kepercayaan keluarganya turun-temurun, yang juga ia kenakan saat mengunjungi Swedia untuk menerima penghargaan Nobel Sastra tahun 1982.

Para wartawan yang berkerumun di depan pintu rumah menyambutnya dengan menyanyi bersama-sama sambil bertepuk tangan. Hari itu, 6 Maret 2014, sang maestro tepat berusia 87 tahun.  Ia lalu menyalami salah seorang wartawan dan masuk lagi ke dalam rumahnya.

Itu hari ulang tahun terakhirnya. Tanggal 27 bulan berlikutnya ia meninggal. Pemerintah Kolombia, yang suatu saat pernah memusuhinya dan menyebabkan penulis itu meninggalkan negeri kelahiran untuk menyelamatkan diri dari penangkapan, menyerukan berkabung 3 hari untuk kematiannya.

Garcia Marquez adalah penulis yang dicintai banyak orang, dari semua kalangan. Ia dekat dengan rakyat jelata, ia berteman dengan kepala-kepala negara, dan ia tetap merdeka mempertahankan pendirian politiknya. Dengan novel Seratus Tahun Kesunyian, yang dianggap sebagai karya puncaknya, ia seperti menetapkan standar kesastraan Amerika Latin.  Ruben Pelayo, salah satu penulis biografi Gabriel Garcia Marquez, menyebutnya sebagai penulis terbaik dalam bahasa Spanyol hari ini. “Kata-katanya presisi secara leksikal dan kecakapannya bertutur sulit dicari bandingannya,” katanya.

Tentang hal ini, Ruben berspekulasi bahwa mungkin itu karena sejak kecil Gabo sudah mengenal kamus. Kakeknya memberinya kamus ketika ia berusia lima tahun. “Buku ini tidak hanya tahu semua hal, tetapi ia satu-satunya yang tak pernah keliru,” kata si Kakek. Hari sebelumnya, mereka berdua menonton sirkus dan di sana si Kakek berdebat dengan seorang pengunjung tentang perbedaan camel dan dromedary. Di sirkus itu Gabo menyaksikan seekor hewan berpunuk dan menanyakan kepada kakeknya apa nama binatang itu. Si Kakek menjawab itu camel. Seorang pengunjung yang berada di samping mereka meralat, “Itu dromedary.”

Si Kakek bertahan bahwa itu camel, dan mereka ribut tentang perbedaan kedua binatang itu dan si Kakek keliru. Binatang yang dilihat oleh Gabo hari itu adalah unta berpunuk satu atau dromedary. Begitulah, ia kemudian memberikan kamus kepada cucunya.

Ketika SMA ia tertarik pada puisi dan banyak menulis puisi. Namun pada umur dua puluh, saat ia mulai kuliah di fakultas hukum, Marquez membaca sebuah buku yang dipinjamnya dari seorang teman dan kemudian minatnya bergeser ke prosa. Buku yang menggeser minatnya itu berjudul Metamorphosis, karya Franz Kafka, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol oleh Jorge Luis Borges. Ia terpukau pada kalimat pertama novel tersebut: “Suatu pagi, saat Gregor Samsa terbangun dari mimpi buruknya, ia mendapati dirinya di ranjang telah berubah menjadi serangga mengerikan.”

Kalimat itu, menurut Marquez, mengingatkannya kepada cara neneknya bercerita.

Maka, dengan cara semacam itu pula, cara neneknya bercerita, Marquez memutuskan bagaimana ia harus menulis cerita. Hasilnya adalah cara bertutur yang jernih dan otoritatif. “Seorang penulis hanya perlu menulis sesuatu dan menjadikannya fakta, dengan kekuatan bakat dan ketegasan suaranya,” katanya. 

Novelnya Seratus Tahun Kesunyian, yang ia tulis tahun 1965 di Mexico City, dalam kesengsaraan memendam diri 18 bulan tanpa keluar rumah sama sekali, meledak secara literer dan secara komersial saat diterbitkan tahun 1967. Itu karya yang menyelamatkannya dari situasi nyaris putus asa setelah kegagalan karya-karya sebelumnya, baik dalam segi komersial maupun dalam pencapaian kualitas sastra. Seratus Tahun Kesunyian dibaca oleh siapa saja, dari pemuda pengangguran, petani, sekretaris, sampai orang-orang kantoran. Carlos Fuentes, penulis Meksiko, menceritakan bahwa tukang masaknya juga membaca novel tersebut.

Ada satu pengalaman menarik yang dituturkan oleh Marquez saat ia berkunjung ke desa-desa di Kuba awal 1970-an. Di sana ia bercakap-cakap dengan sekelompok petani, dan salah seorang dari mereka menanyakan apa pekerjaannya, dan ia menjawab, “Saya menulis.” Dijawab demikian, si petani melanjutkan bertanya, “Menulis apa?” Marquez menjawab, “Seratus Tahun Kesunyian.” Si petani seketika berseru, “Macondo!”

Hal lain yang bisa menggambarkan betapa luas pengaruh Marquez di Amerika Latin adalah sebuah laporan jurnalistik yang ditulis oleh wartawan Amerika Serikat Ron Arias:  “Saya pernah naik bus yang penuh sesak suatu hari di Caracas, dan dua perempuan yang berpenampilan sekretaris sedang tertawa-tawa membicarakan bagian-bagian yang pernah mereka baca di buku Seratus Tahun Kesunyian. Saya melibatkan diri dalam pembicaraan mereka, begitu juga separuh penumpang bus lainnya. Ini terjadi tahun 1969, ketika buku itu sedang meledak di pasaran. Setiap orang yang membacanya memiliki tokoh favorit masing-masing dari buku tersebut, dan kami ketawa-ketawa bersama. Buku itu secara keseluruhan menghentak kita, sebab secara historis kita semua berasal dari Macondo....”

Ya, semua karakter yang kita kenali dalam kehidupan sehari-hari ada di dalam novel itu: ada paman tua yang duduk saja di ambang pintu, ada orang-orang revolusioner yang terus berkampanye, ada lelaki hidung belang yang tak henti mencari korban, ada sosok ibu yang tergambar dalam figur Ursula Iguaran, sosok yang tabah dan tak lelah-lelah bekerja.

Garcia Marquez menampilkan semuanya dalam bahasa yang jernih dan humor yang luar biasa segar. Sejak awal hingga akhir, Seratus Tahun Kesunyian berisi olok-olok Marquez terhadap segala yang resmi—dan dengan cara itulah ia melakukan pembelaannya terhadap rakyat jelata.

Buku itu benar-benar memukau. Sebuah penulisan ulang sejarah yang brilian versi Marquez, dengan latar belakang sebuah kota yang dihuni oleh 300 orang dan terasing sama sekali dari dunia luar. Hanya rombongan sirkus gipsi yang datang ke Macondo pada setiap bulan Maret, memainkan berbagai atraksi dan membawa ilmu pengetahuan ke penduduk setempat. Yang kemudian berhasil membuka jalan adalah Ursula (dalam buku ini, kita akan menjumpai setiap perempuan adalah karakter yang luar biasa). Perempuan itu, yang usianya sangat panjang, melakukan pengembaraan untuk mencari Jose Arcadio, anaknya yang pergi bersama rombongan gipsi, dan pulang lagi dengan kegagalan. Ia tidak menemukan anaknya tetapi ia menemukan rute ke kota lain, yang menghubungkan Macondo dengan dunia luar. Setelah itu, orang-orang luar mulai berdatangan ke Macondo, dan segalanya berubah dan perang saudara mencabik-cabik segalanya.

Kalimat pembuka novel ini, menurut saya, adalah yang terbaik dibandingkan kalimat pembuka dari novel-novel lain yang pernah saya baca: “Bertahun-tahun nanti, saat ia menghadapi regu tembak, Kolonel Aureliano Buendia akan teringat senja yang samar ketika ayahnya membawanya menemukan es.”

Itu pembukaan yang mengejutkan dalam teknik penulisan karena berbeda dari cara yang lazim digunakan oleh penulis-penulis lain. Berkenaan dengan waktu penceritaan, kita biasa mendapati kalimat pembuka “Bertahun-tahun lalu...” atau “Pada suatu hari...” atau “Menjelang keruntuhannya beberapa waktu lalu...” Garcia Marquez tidak menggunakan waktu penceritaan semacam itu. Ia melakukan yang sebaliknya dengan “Bertahun-tahun nanti....”

Bertemu dengan pembukaan semacam itu, hasrat untuk membaca novel itu langsung meluap-luap dan saya semakin terpukau dan pada akhirnya menjadi putus asa setelah melahap beberapa puluh halaman awal yang padat dengan adegan-adegan ajaib dan humor yang sialan bagusnya. Kepada orang-orang yang belajar menulis, yang sering bertanya bagaimana cara menulis bagus, saya biasa bertanya: “Bagus yang seperti apa? Atau bagus dibandingkan siapa?”

Saya ingin siapa pun yang belajar menulis memilih satu nama yang paling dikagumi atau yang dijadikan favorit karena karya-karyanya bagus. Dan kepada mereka saya bilang, “Jadi menulislah dengan keyakinan kau bisa menulis sebagus dia atau lebih bagus dari dia.”

Saya menjadikan Gabo sebagai salah satu penulis terbaik yang saya kagumi dan saya putus asa karena ia terlalu bagus. Jika hal yang sama diterapkan untuk saya sendiri, yakni menulis sebagus dia atau lebih bagus dari dia, mungkin saya harus mengurung diri selama seratus tahun di dalam kesunyian.

Adios, Amigo. [*]

Baca: Putri Tidur dan Pesawat Terbang, cerpen Garcia Marquez

Laporan 1 Program Mentoring Penulisan Novel: Tentang “Suara” dan Masa Lalu Para Tokoh

Saya mendapatkan dua murid yang menyenangkan dalam program mentoring yang diselenggarakan oleh Penerbit Moka Media, ialah Diego Christian (Jakarta) dan Dewi Kharisma Michellia (Yogyakarta). Keduanya sudah menerbitkan novel mereka sebelum ini. Dewi Kharisma adalah salah satu pemenang unggulan sayembara penulisan novel DKJ tahun 2012. Novel tersebut terbit tahun berikutnya dengan judul Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya. Diego Christian telah menerbitkan dua novel, Percaya dan Travel in Love.

Mereka menyenangkan karena banyak bertanya. Saya selalu meyakini bahwa jika ingin menemukan cerita, kita harus selalu mempunyai pertanyaan. Seorang penulis, jika ia berhenti bertanya, maka ia berhenti bercerita. Tanpa pertanyaan, tak akan ada cerita. Semata-mata karena setiap jenis pertanyaan, seperti apa pun itu, akan merangsang orang untuk menanggapinya.

Pada pertemuan pertama mentoring kami memulai dari hal yang sangat mendasar, yakni bahwa upaya setiap penulis adalah menciptakan tokoh-tokoh yang setiap tindakannya bisa dipercaya. Cerita boleh saja absurd, tetapi rangkaian sebab-akibat di dalam cerita itu dan perilaku tokoh-tokohnya harus logis.

Untuk itu pada tahap awal kami membicarakan masa lalu masing-masing tokoh. Dengan mengenal masa lalu mereka, mengetahui pengalaman-pengalaman (atau mungkin trauma) yang membentuk kepribadian seseorang pada waktu sekarang, penulis tidak akan keliru dalam menceritakan segala perilaku dan respons para tokoh terhadap situasi apa pun yang mereka hadapi.

Dengan Dewi Kharisma Michellia, di bangku tepi kolam renang Hotel Santika Petamburan, Jakarta, kami banyak membicarakan tentang bagaimana merancang adegan-adegan besar dan tentang “suara” narator yang akan ditampilkan dalam novelnya. Dengan Diego Christian, di kantor redaksi Moka Media, kami bicara alur, penokohan, dan bentuk penceritaan.***


Baca Laporan Diego Christian: #MentoringMoka: Keping 1
Ibaratkan satu buku adalah satu tahun. Saya baru mengeluarkan dua buku. Umur saya di dunia penulisan ini baru dua tahun. Jalan saya masih tertatih. Saya masih butuh dituntun sebelum akhirnya nanti saya berjalan, berlari, bahkan berenang ke negeri lain.... <lanjutkan baca>
Baca Laporan Dewi Kharisma Michellia: Mokamentor dengan A.S. Laksana (1)
Pertemuan terjadi di Hotel Santika dan kami mengobrol di kursi sebelah kolam renang hingga dini hari. Bayangkan betapa bahagianya saya bertemu duo sahabat penulis ini dalam satu kesempatan: AS Laksana dan Yusi Avianto Pareanom.... <lanjutkan baca>

Tip berbelanja buku baru gratis tiap bulan

Ini kabar baik bagi pembaca yang tekun: ada cara berbelanja buku gratis tiap bulan. Cara ini dulu lazim dilakukan oleh para penggemar buku untuk mendapatkan buku-buku baru dari penerbit. Mereka menulis resensi buku dan mengirimkan kopi resensinya yang telah dimuat di media kepada penerbit. Sebagai balasan biasanya penerbit dengan senang hati mengirimkan buku terbaru mereka kepada si penulis resensi.

Namun menerbitkan resensi buku di media massa biasanya mengandung persaingan ketat. Kita berebut tempat dengan para peresensi lain yang banyak jumlahnya. Sekarang, cara untuk berbelanja buku gratis jauh lebih mudah. Begini langkahnya:
  1. Buatlah blog, jika anda belum punya. Cara membikin blog amatlah gampang.
  2. Buatlah review singkat, bisa 2 atau 3 paragraf saja, tentang buku-buku terbaru Moka Media yang sudah beredar di toko buku. Kalau belum punya, silakan ke toko buku. Beli. Anggap saja itu modal awal untuk belanja gratis di waktu-waktu selanjutnya.
  3. Tampilkan review singkat anda di blog.
  4. Kirim email pemberitahuan ke “review.moka@gmail.com”; subjek: “review - [judul buku]”. Contoh subjek: “Review – Galuh Hati” . Sertakan link review yang ada di blog dalam email yang anda kirimkan ke Moka Media.
  5. Untuk tiap satu review singkat yang dimuat ulang di website Moka Media, anda berhak mendapatkan kiriman satu buku baru. Jika anda menulis dua review, anda berhak mendapatkan dua buku baru.
  6. Buat lagi review atas buku yang anda terima, ulangi langkah 2-4, dan seterusnya.
Begitulah, dengan cara semudah itu anda bisa berbelanja buku-buku terbaru gratis dari Penerbit Moka Media. Yang saya sampaikan ini khusus tentang kebijakan Moka Media, karena saya mengelola penerbitan tersebut. Jika penerbit-penerbit lain memiliki kebijakan serupa, anda bisa berbelanja buku baru gratis setiap bulan dari banyak penerbit.

Untuk melihat-lihat buku terbitan Moka Media, klik di sini.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design