Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi

Pak Jokowi yang baik,

Saya berharap anda selalu sehat lahir dan batin. Penting bagi negara ini memiliki presiden yang sehat lahir dan batin. Ada orang-orang yang sehat lahirnya saja sedangkan batinnya tidak, atau, sebaliknya, hanya sehat batinnya tetapi lahirnya tidak, atau bisa kita katakan mereka hanya setengah sehat. Itu kondisi yang tidak baik bagi seorang presiden dan rakyat akan tambah bingung jika presiden negara ini hanya setengah sehat.

Surat terbuka ini ditulis sebagai hal yang wajar saja. Setiap warga negara yang baik, yang berharap negara ini menjadi semakin baik, boleh menyampaikan saran kepada presidennya. Apalagi warga negara yang baik, sedangkan warga negara yang kurang baik pun boleh menulis surat terbuka untuk anda. Jadi, saya berharap anda merasa bahagia dengan surat ini. Saya menulisnya dilandasi niat baik seorang warga negara.

Saya salah satu pendukung anda dan sekarang mulai kurang senang terhadap cara anda memimpin pemerintahan negara ini. Orang-orang yang dulu memilih kandidat lain, beberapa dari mereka mengembangkan diri menjadi pembenci, sekarang rajin mencemooh dengan dua kalimat yang begitu populer, yaitu “Salam gigit jari” dan “Sakitnya tuh di sini.” Saya katakan kepada mereka bahwa Jokowi adalah presiden negara Indonesia. Setiap orang perlu mengingat itu. Jika Jokowi tidak bisa menjadi presiden yang baik, oleh berbagai sebab, dan terutama oleh rongrongan kepentingan para politisi, sakitnya bukan hanya di sini, melainkan di mana-mana. Dan yang gigit jari bukan hanya yang memilih anda, tetapi juga yang tidak memilih anda. Kecuali mereka itu warga negara Gabon atau Somalia atau Uganda.

Namun saya akui, Pak Jokowi, jawaban saya itu sedikit keliru. Kita tahu bahwa orang menjadi lemah atau menjadi kuat bukan disebabkan oleh orang lain atau sesuatu di luar dirinya. Orang itu sendirilah yang bertanggung jawab untuk menjadikan dirinya kuat atau lemah. Dirongrong seperti apa pun, seorang pemimpin yang kuat akan mampu menunjukkan kekuatannya. Sebaliknya, seorang pemimpin yang lemah akan selalu mempunyai cara untuk menunjukkan kelemahannya, bahkan dalam situasi yang sebetulnya sangat baik dan ia mendapatkan dukungan dari orang banyak.

Beberapa bulan lalu di masa kampanye, ketika anda memperkenalkan diri dengan tiga kata—jujur bersih sederhana—saya berpikir anda tahu cara menjadikan diri anda jujur, bersih, dan sederhana. Saya berpikir anda mampu menjadi pemimpin yang setia pada komitmen anda untuk membangun pemerintahan yang bersih. Banyak urusan di negara ini menjadi terasa rumit dan berbelit-belit disebabkan oleh perilaku politik yang tidak patut.

Maka, dari ketiga kosakata yang anda gunakan untuk menjelaskan siapa diri anda, saya tertarik pada kosakata ketiga, yakni “sederhana”. Dalam kepemimpinan negara, kosakata sederhana tentu saja bukan hanya berarti Pak Presiden ke mana-mana harus naik angkutan kelas ekonomi. Juga bukan berarti bahwa rapat-rapat para pegawai negeri hanya boleh diselenggarakan dengan sajian singkong, meskipun tidak ada masalah kalau mau begitu. Singkong makanan yang bagus juga bagi kesehatan. Saya telah membuktikannya sendiri bahwa ia mampu menyembuhkan penyakit maag saya yang terbilang parah. Itu cerita beberapa tahun lalu.

Suatu hari saya bertemu dengan seseorang untuk sebuah urusan dan saat itu maag saya kambuh, sudah beberapa hari dan kali ini lebih parah dari sebelumnya. “Makan singkong, Pak,” kata orang yang saya temui, ia bukan dokter. “Kakak saya pernah menderita penyakit maag yang lebih parah dari ini dan ia sembuh dengan makan singkong setiap hari, kadang singkong goreng, kadang singkong rebus, kadang singkong bakar, atau singkong yang diolah menjadi makanan apa saja. Pokoknya singkong.”

Dalam kondisi seperti itu, saya hanya bisa mengikuti nasihatnya. Tidak ada salahnya membuka diri terhadap saran orang. Maka, setiap pagi saya menyediakan singkong dan tidak sampai seminggu gangguan maag di lambung sudah beres dan sampai sekarang tetap beres.

Kembali ke kosakata sederhana, saya semula berpikir bahwa itu berkaitan dengan cara berpikir yang simpel dan tidak memperumit masalah. Saya bayangkan seperti ini: negara ini harus dibersihkan dari korupsi, pemerintahan harus dijalankan oleh orang-orang yang memiliki rekam jejak yang baik, dan orang-orang di dalam pemerintahan anda memiliki sikap mental yang berpihak pada kepentingan negara di atas kepentingan politik segelintir orang. Itu yang saya bayangkan tentng sederhana.

Saya pribadi mengembangkan prasangka sederhana bahwa anda adalah orang baik yang mampu melepaskan diri dari jeratan manuver politik yang memperumit situasi. Saya menyangka anda bisa cukup kuat untuk menghadapi tekanan para patron politik. Saya menyangka anda memiliki kepercayaan diri untuk menjalankan program-program pemerintahan yang anda pimpin, sebab rakyat yang memilih anda adalah orang-orang yang setia mendukung anda. Apakah semua dugaan saya itu keliru, Pak Presiden?

Anda tampak tidak mampu menunjukkan kekuatan pribadi anda sebagai pemimpin. Padahal saya ingin melihat anda benar-benar menjadi presiden Indonesia, yang memiliki niat baik untuk menjadikan negara ini hebat, bukan petugas partai atau malahan alat untuk memuluskan kepentingan para patron.

Pak Jokowi, saya dan orang-orang yang dulu memilih anda hanya ingin melihat bahwa anda cukup berharga untuk dipilih. Kami sudah menyadari sejak awal bahwa kelebihan anda bukan pada kelicinan dalam bermain politik. Majalah The Economist pernah menurunkan ulasan menarik menjelang pemilihan presiden tahun lalu: “Masalah terbesar Jokowi mungkin ada pada kurangnya wawasan dalam percaturan politik tingkat tinggi. Ia tidak memiliki pengalaman yang memadai di level itu.“ Namun, dengan beberapa alasan yang disampaikannya tentang dua kandidat, majalah itu membuat kesimpulan bahwa Jokowi lebih dibutuhkan oleh Indonesia ketimbang kandidat lainnya. Majalah Inggris itu biasa melakukan hal tersebut; ia juga melakukan analisis terhadap pemilihan presiden di Amerika Serikat dan menjatuhkan pilihan kepada Obama.

Kelebihan anda justru pada sosok anda yang terlihat sederhana dan apa adanya. Anda tampak identik dengan kami. Anda tidak tampak sebagai politisi kawakan yang licin dan sanggup melakukan pelbagai manuver dan tahu cara mengamankan diri sendiri. Kami tidak menginginkan orang seperti. Dalam pengalaman kita, anda tahu, para politisi yang seperti itu adalah masalah bagi negara ini. Mereka bukan solusi, mereka masalah. Saya sedih karena anda sekarang terlibat di dalam permainan politik dan menjadikan diri anda pudar dalam waktu singkat.

Pak Presiden yang baik,

Pada akhir tahun lalu, Transparansi Internasional mengeluarkan daftar Indeks Persepsi Korupsi dan Indonesia berada di peringkat 107, lebih baik dari tahun sebelumnya di mana kita berada di posisi 114. Lembaga itu buru-buru memberikan pernyataan positif terhadap anda dan mempercayai komitmen anda dalam pemberantasan korupsi dan membangun pemerintahan yang bersih. “Saat menyusun kabinet, ia melibatkan KPK untuk memastikan bahwa orang-orang yang ditunjuknya tidak terlibat kasus korupsi. Beberapa orang ditolak oleh KPK dan Joko Widodo kemudian memilih orang-orang baru,” puji Transparansi Internasional.

Maka sungguh ironis bahwa saat ini kita menyaksikan KPK, satu-satunya institusi yang masih mendapatkan simpati dari rakyat, sedang diacak-acak begitu rupa dan itu semua bermula dari keputusan anda. Mari kita lihat faktanya saja. Pertama, anda Presiden Republik Indonesia. Kedua, anda mencitrakan diri sebagai pemimpin yang jujur bersih sederhana. Ketiga, anda menunjuk Budi Gunawan sebagai calon Kapolri menggantikan Kapolri Sutarman sebelum masa jabatannya rampung. Artinya, ada alasan mendesak untuk mencopot Kapolri yang sekarang.

Anda punya pertimbangan sendiri tentang kenapa harus memberhentikan Kapolri dan menggantinya dengan orang baru. Namun, ketika anda menunjuk Budi Gunawan, saya yakin ada sesuatu yang keliru di dalam prosesnya.

Burung yang sama hinggap di ranting yang sama, Pak Presiden. Sangat mustahil seorang presiden yang jujur bersih sederhana menunjuk seseorang yang rekam jejaknya meragukan, yang dicurigai oleh publik sebagai penerima suap dan gratifikasi dan sekarang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh  KPK, menjadi calon tunggal Kapolri. Ini berlawanan sama sekali dengan nalar yang paling sederhana: Itik berkumpul dengan itik, kambing dengan kambing, dan seekor singa tidak mungkin berkomplot dengan dubuk.

Terakhir, Pak Presiden, jika anda melemah saat ini, ingatlah apa yang sudah dilakukan oleh para pendukung anda. Itu akan memberi anda kekuatan. Bersama Linda Christanty, Seno Gumira, Hilmar Farid, dan Mardiyah Chamim, saya diminta menjadi juri lomba menuliskan pengalaman menjadi relawan Jokowi. Sebagai juri, kami harus memutuskan para pemenang, tetapi sesungguhnya semua naskah, semua pengalaman itu, layak menjadi pemenang.

Mereka telah melakukan apa yang mereka bisa lakukan demi membela anda, dan hampir semuanya membiayai sendiri dukungan mereka terhadap anda. Ada orang yang sendirian mendayung perahu di daerah-daerah terluar untuk menyebarkan program kemaritiman anda. Ada istri yang harus berseberangan dengan suaminya sendiri karena mendukung anda. Ada tukang sablon yang memberikan layanan sablon gratis untuk kaus kampanye para pendukung anda.

Yah, ada banyak cara yang mereka lakukan untuk mendukung anda. Ada banyak pengalaman mengharukan. Dan mereka dengan senang hati mengerjakan semua itu demi anda. Maka, jika anda memerlukan kekuatan, saya menyarankan: ingatlah mereka. Salam. A.S. Laksana.

*) Kolom Ruang Putih, Jawa Pos, Minggu, 1 Februari 2015

Para Pencinta Buku

Buku-buku Karta Pustaka diobral
Buku-buku Karta Pustaka dijual obral.
KAMI BARU BERTEMU LAGI beberapa tahun kemudian setelah pertemuan terakhir di klub kami yang bubar begitu saja. Rizadini, teman saya dalam klub diskusi buku bertahun-tahun lalu dan penerjemah buku Gabriel Garcia Marquez Klandestin di Cile, memanggil saya melalui media sosial twitter dan mengajak bertemu. Dengan senang hati saya menyambut ajakannya dan kami bertemu suatu siang di sebuah tempat makan. Hari itu ia menyampaikan gagasannya:

“Mari kita cari orang kaya yang mau mendanai perpustakaan untuk menyimpan buku-buku koleksi para tokoh negeri ini. Di sana nanti orang bisa menemukan buku-buku koleksi Pramudya Ananta Toer, Rendra, Usmar Ismail, Chairil Anwar, Mochtar Lubis, dan lain-lain.”

Ia menyukai buku dan sering mempunyai gagasan menarik tentang buku karena ia sangat menyukainya. Saya menanggapi, “Ayo!” dan sampai sekarang masih berpikir apakah akan ada orang kaya yang mau membiayai perpustakaan semacam itu. Pada waktu ia menyampaikan gagasannya, saya segera teringat kabar yang beberapa waktu sebelumnya, sudah agak lama, saya terima dari kawan baik saya yang lain, seorang penjual buku loak di sekitar Lebak Bulus, bahwa sekian kontainer buku dari perpustakaan pribadi Adam Malik dijual kiloan. “Sudah tidak ada yang merawatnya lagi, Bang,” katanya. “Saya ingin beli semuanya tapi tidak ada modal.”

Saya agak melodramatik soal perpustakaan. Desember tahun lalu, ketika membaca berita bahwa Perpustakaan Karta Pustaka ditutup dengan alasan “visi-misinya menciptakan kerja sama di bidang pendidikan dan kebudayaan dengan Belanda telah tercapai”, saya merasa sedih dan marah sekaligus dan ingin berteriak kuat-kuat: “Jangan tutup perpustakaan itu!”. Jumlah perpustakaan umum kita sedikit sekali dan Karta Pustaka, yang didirikan tahun 1968, sekarang sudah tidak ada lagi. Kalaupun benar visi-misinya sudah tercapai, saya pikir ia tetap perlu ada, dengan “visi-misi” yang lain, misalnya menjadi tempat rekreasi bagi orang-orang yang senang berekreasi di antara buku-buku.

Kita sangat kekurangan perpustakaan sebagai tempat rekreasi. Sebagai orang yang seumur hidup tinggal di negeri ini, yang sejak lahir memang jarang bertemu dengan gedung perpustakaan, saya tentu saja telah beradaptasi sepanjang hidup dan berdamai dengan keadaan. Ada perpustakaan saya senang, tidak ada tidak apa-apa.

Namun tidak demikian dengan Yusuf Arifin. Kami dulu sekantor dan ia menyeberang ke Inggris setelah pembredelan 1994, bekerja sebagai wartawan BBC, dan tinggal di pinggiran London nyaris dua puluh tahun. Rumahnya dikepung perpustakaan. Di desanya ada gedung perpustakaan, di desa sebelah ada gedung perpustakaan, di dekat perempatan sana ada gedung perpustakaan, di belakang rumah temannya ada gedung perpustakaan. Ringkasnya, di balik gerumbul semak-semak atau di belakang lemari pakaian ia bisa menjumpai perpustakaan. Tahun lalu ia balik ke Jakarta dan menjadi pemimpin redaksi CNN Indonesia dan tak ada perpustakaan yang bisa ia kunjungi sewaktu-waktu. Di toko buku ia kesulitan menemukan buku-buku yang ia minati. Kepadanya saya bilang, “Selamat menikmati!”

Sekarang saya tidak perlu iri mendengar ceritanya tentang perpustakaan. Ia menikmati situasi yang sama dengan saya. Sudah bertahun-tahun saya tidak memasuki gedung perpustakaan dan tidak tahu di mana saja ada perpustakaan umum di Jakarta. Saya hanya tahu satu dua dan sudah tidak pernah lagi mengunjunginya sejak lama karena jalanan macet dan waktu yang terasa sempit.

Di samping itu, dengan jaringan internet yang sudah lebih baik dibandingkan sepuluh tahun lalu, saya merasa kebutuhan terhadap buku tercukupi. Selalu ada orang-orang yang memberontak terhadap tatanan. Mereka tidak memedulikan undang-undang hak cipta dan memanjakan kita dengan menyediakan ratusan ribu, bahkan jutaan, buku yang bisa kita dapatkan secara gratis—dalam format ebook. Kita bisa mengunduh buku semau kita di situs-situs web mereka.

Pada awal-awal mengenal situs tersebut, setiap malam hingga dinihari saya “berbelanja” ratusan judul buku dan dalam waktu beberapa minggu saja saya sudah mengoleksi ribuan buku. Sampai sekarang saya masih sering “berbelanja” di situs-situs itu, meskipun sudah ada lebih dari 9.000 judul buku di folder komputer saya, dan baru sedikit yang saya baca.

Saya pernah iseng-iseng menghitung berapa buku yang bisa saya baca sampai hidup saya berakhir nanti. Misalkan saya masih punya sisa umur 100 tahun lagi dan sebagai pemalas saya hanya bisa membaca satu judul sepekan, maka dalam seratus tahun itu, setelah dikurangi masa-masa tak berdaya karena flu berat atau tidak enak badan, saya hanya akan bisa menyelesaikan paling banter 5.000 judul buku. Itu pun kalau sisa umur saya 100 tahun dan saya membaca ajek. Padahal gairah membaca saya sama belaka kondisinya dengan iman seseorang—kadang naik kadang turun. Tidak apa-apa, yang penting mengunduh.

Dengan perpustakaan umum yang sedikit jumlahnya dan tak terlalu diperhatikan di negara ini, dengan akses terhadap buku yang semula sangat terbatas, dan dengan maaf sebesar-besarnya terhadap unsur pelanggaran di dalam kegiatan unduh-mengunduh itu, saya bersyukur bahwa internet telah memungkinkan saya mengoleksi karya para penulis yang saya sukai, nyaris lengkap, dan buku-buku dengan berbagai topik yang saya ingin baca.

Saya juga bersyukur internet memberi banyak teman, melalui media sosial. Dalam waktu cepat saya bisa mengumpulkan ribuan teman melalui Facebook. Itu hal yang tak mungkin saya lakukan dalam kenyataan sehari-hari. Sekarang saya mempunyai orang-orang yang berstatus “teman” di hampir semua provinsi negeri ini.

Beberapa orang mengeluhkan bahwa pergaulan di media sosial telah menginterupsi, dan juga menyabot, pergaulan sehari-hari dengan orang-orang terdekat, dengan teman-teman, dengan kerabat, juga dengan penumpang yang duduk di sebelah kita. Berada di mana pun dan kapan pun, orang sibuk dengan smartphone di tangannya. Dunia menjadi sunyi senyap, karena orang membeku di depan layar, tetapi sekaligus riuh. Anda tahu, pergaulan di media sosial sangat riuh. Setiap hari ada pembicaraan menarik. Setiap hari ada topik yang bisa digunjingkan. Setiap hari ada yang bisa dicaci maki.

Seorang suami menjadi jarang bicara dengan istrinya. Seorang ayah menjadi kekurangan waktu untuk anak-anaknya, dan sebaliknya, anak-anak kekurangan waktu untuk orang tua mereka karena sebab yang sama. Dan seorang penulis kekurangan waktu khusyuk untuk menulis karena dorongan untuk ubyang-ubyung di internet melalui media sosial begitu tinggi.

Dalam urusan itu, saya merasa baik-baik saja. Hanya ada satu hal yang sangat terasa bagi saya: internet telah menjauhkan saya dari seseorang yang sudah menjadi teman baik sejak 1998, yakni penjual buku loak yang saya sebut di awal tulisan ini, pemuda Batak yang ramah dan selalu menawari kopi setiap kali saya mampir ke kiosnya. Bertahun-tahun saya setia mengunjungi kios dan rumahnya dan ia selalu menyimpankan untuk saya buku-buku yang ia pikir pasti saya sukai—agar tidak dibeli orang lain.

Dari kiosnya saya pernah membawa pulang buku satu rak, masih bagus-bagus, dengan harga yang sangat murah. “Dapat dari pembantu di Pondok Indah, Bang,” katanya. “Majikannya pulang ke negaranya, tidak balik lagi. Ia meninggalkan koleksi bukunya kepada si pembantu. Pembantu itu menjualnya ke saya.”

Ia tahu bagaimana mencari buku untuk mengisi kiosnya dan ia sering pula mendapatkan buku-buku lelang dari Jakarta International School, jika sekolahan itu hendak memperbarui koleksi buku di perpustakaannya dan harus menyingkirkan buku-buku yang sudah lama. Beberapa buku di rak saya adalah lungsuran dari perpustakaan sekolah ini.

Saya masih lewat di depan kiosnya setiap hari, tetapi nyaris tidak pernah mampir lagi. Beberapa hari terakhir, saya lihat kiosnya selalu tutup. Menurut kabar, lahan tempat ia menyewa kios harus dikosongkan karena di sana hendak dibangun apartemen. Ia berpindah ke tempat lain, masih di daerah sekitar tempat tinggal saya, tetapi saya belum pernah ke tempat barunya.

Internet benar-benar telah mencukupi kebutuhan saya akan buku bacaan yang saya inginkan—yang semula hanya tersedia dalam harga murah di kios buku loak itu. Saya masih tetap ke toko buku secara berkala, untuk mendapatkan buku-buku yang hanya ada di toko buku dan sebagai tempat rekreasi bagi anak-anak.

Bagaimanapun, saya pikir anak-anak perlu menikmati pemandangan buku-buku terpajang di rak dan mereka bisa memilih buku yang mereka sukai. Dan jika ada perpustakaan di dekat rumah, atau perpustakaan tempat menyimpan koleksi buku-buku para tokoh negeri ini, sebagaimana yang diangankan oleh Rizadini, saya akan senang sekali mengajak anak-anak berekreasi ke sana. Sampai sekarang saya masih memikirkan siapa kira-kira orang kaya yang bersedia mewujudkan gagasan tersebut. [*]

*) Kolom Ruang Putih, Jawa Pos Minggu, 11 Januari 2015

Medan Perang

1

AKU pamit kepada mereka dan menyatakan keinginanku menyusul Alit ke Jakarta dan tidak ada satu pun dari mereka yang menangisi kepergianku. Ayah dan ibuku tidak terharu oleh perpisahan, para pelacur di seberang kuburan tidak terbiasa dengan sedu sedan. “Mudah-mudahan kau tidak mampus di Jakarta,” kata pelacur yang kutemui malam itu. Dalam tiga tahun terakhir ia yang paling dekat denganku dan aku selalu membayangkan sedang bermain sepakbola saat bergumul dengannya.

“Doakan aku,” kataku.

“Kudoakan kau terlunta-lunta di Jakarta,” katanya.

“Berdoalah yang baik.”

“Sama saja. Tuhan tidak akan mengabulkan doa seorang lonte.”

Malam itu, dipenuhi pikiran murung seolah-olah kami adalah sepasang kekasih yang tak kuasa menolak perpisahan dan baru akan dipertemukan lagi nanti pada hari kebangkitan (jika Tuhan menghendaki), aku memaksa diriku memainkan tiga pertandingan yang semuanya berlangsung mengecewakan; aku merasa seperti bermain sepakbola di lumpur-lumpur sawah. Tenagaku terkuras dan permainanku kocar-kacir dan sepertinya aku hanya bisa menyarangkan gol bunuh diri.

“Kau bermain buruk,” katanya.

Bibirnya menggiurkan, seperti sosis yang menyala merah di kamar yang remang-remang. Setelah remuk di tiga pertandingan, aku tiba-tiba menjadi gelandangan yang kelaparan dan ingin melumat bibir itu sampai habis. Namun ia selalu melengos saat aku mencoba memagut bibirnya. Gincunya menggores pipi, kening, dan kelopak mataku. Kuuber terus bibir yang selalu menghindar itu. Muka dan leherku penuh goresan merah gincu.

Kini aku menjadi anjing pemburu yang kedodoran dan kehabisan napas karena selalu menerkam tempat-tempat kosong. Pada satu kesempatan, saat napasku makin memburu, ia menepis mukaku dengan tangan kanannya dan tepisan itu membuat mukaku tepat berhadapan dengan poster artis film yang kubenci, seorang lelaki yang suka menendang orang lain dalam sinetron apa pun yang ia bintangi dan kakinya menyemburkan debu saat ia menendang. Pelacurku menyukai orang itu dan tetap memajang poster artis itu di kamarnya meski pernah kubilang bahwa aku membencinya. “Tidak ada ciuman,” katanya sambil terus menepiskan mukaku.

Tapi aku makhluk yang kelaparan malam itu dan mencoba menyodorkan kepadanya paras muka yang menyedihkan: kubayangkan seperti  pengemis yang akan mati lima menit lagi jika tidak mendapatkan bibir sosisnya.

“Ini malam terakhirku denganmu,” kataku.

“Apa bedanya dengan malam-malam yang lain?” tanyanya.

“Berikan bibirmu. Aku ingin mencium bibirmu.”

“Kau tidak membayar untuk bibirku.”

“Akan kubayar.”

“Aku tidak menjualnya.”

Setelah tiga pertandingan di lumpur sawah dan perburuan yang hasilnya nihil, aku merasa lelah dan getir. Ia merapikan rambut dan pakaiannya dan aku ingin tinggal lebih lama di kamarnya.

“Kau akan melacur sampai tua?” tanyaku.

“Siapa yang mau pakai kalau aku sudah kempot?” balasnya.

“Lalu?”

“Jadi germo, kalau punya modal.”

Kulihat arlojiku. Kulihat cecak yang merambat di dinding kamar. Kulihat sarang laba-laba. Kusapukan mataku ke apa saja yang ada di kamarnya. Kuperas otakku untuk membuat sebanyak mungkin pertanyaan. Aku tidak ingin segera keluar dari kamarnya.

“Kenapa kau tak mau kucium?” hanya pertanyaan itulah yang akhirnya keluar dari mulutku.


AKU meninggalkannya dengan perasaan kalah, dengan langkah yang gelisah, menyusuri deretan warung dan lagu-lagu dangdut dan lelaki setengah mabuk dan perempuan yang menunggu. Di kepalaku berkubang segala yang tidak jelas. Malam yang sayu. Tempat inilah yang merawat pertumbuhanku, memelukku, dan mengajariku kefasihan yang dikutuk orang-orang saleh.

Setelah Alit, hanya para pelacur di seberang kuburan itu yang paling dekat denganku. Mereka selalu hangat dan menggiurkan dan bagiku mereka adalah penerang jalan. Kautahu, aku tak akan pernah sesat jika berada di antara mereka. Sebab, pada malam segelap apa pun, muka mereka menyala seperti kerlip bintang-bintang.

Aku datang pertama kali kepada mereka sebagai pelajar dungu dan mereka membentangkan tubuh mereka di hadapanku dan aku belajar membaca peta pada tubuh mereka yang terbuka, menjelajahi setiap ceruk dan pebukitan yang mereka bentangkan. Dan, seperti orok yang merengek tiap setengah jam, kuhisap puting-puting susu mereka kuat-kuat; aku menjadi sehat dan berpengalaman oleh puting-puting susu mereka. Tulang-tulangku mengeras oleh dekapan mereka.

Sekarang aku harus meninggalkan mereka. Umurku 24 ketika aku lulus SMA, tujuh tahun lebih tua dibandingkan teman sekelasku yang paling muda, dan langit berwarna gelap pada hari aku lulus sekolah. Alit sudah lulus dua tahun lebih dulu. Ia selalu naik kelas dan aku harus menjalani setiap kelas masing-masing dua tahun. Tanpa pekerjaan dan tidak melanjutkan ke mana-mana, aku merasa umurku cepat sekali menjadi 25 dan di mataku langit terlihat kian gelap dan rendah. Maka kuputuskan untuk meninggalkan kota yang makin menekan, meninggalkan ayah dan ibuku yang jarang ada di rumah, meninggalkan para pelacur yang selalu ramah.

Cuaca bagus dan lampu-lampu jalanan mulai menyala saat aku berangkat, tetapi di dalam bis yang kutumpangi udara seperti neraka. Bis ini bobrok sekali dan memberi siksaan mematikan dengan aroma karat pada bangku-bangkunya dan bau apek segerombol ayam yang dibawa oleh penumpang di bangku paling belakang. Dan satu yang paling pedih: bibir sosis itu terus melekat di pelupuk mataku. Tak bisa kuusir benda yang malam itu telah mengubah diriku dari pemain bola yang payah menjadi anjing yang kedodoran.

Aku naik ketika penumpang masih sedikit. Ada perempuan, rambutnya bagus, duduk sendirian di bangku agak depan. Aku memilih duduk di bangku untuk dua penumpang yang masih kosong, di tepi jendela; sebenarnya aku ingin duduk di samping perempuan itu. Lalu seorang lelaki tua tersenyum dan duduk di sebelahku dan membuat inisiatif untuk membuka percakapan ketika bis mulai bergerak, “Turun di mana?” dan aku menjawab, “Jakarta,” dan ia lantas memberi tahu, “Saya di Cirebon.” Hanya itu percakapan kami. Ia mengatur duduknya dan kemudian memejamkan mata. Aku lebih banyak melamun, mengarahkan pandangan ke luar jendela, memandangi benda-benda yang berlari ke belakang. Lelaki di sebelahku selalu sedang memejamkan mata setiap kali aku menoleh ke arahnya.

Percakapan dua orang di bangku depanku berlangsung lebih lancar dan tampaknya akan abadi sepanjang jalan, dan mungkin baru berakhir nanti setelah bis yang kami tumpangi tiba di tempat tujuan. Situasi percakapan mereka seperti ini: Yang satu serba tahu segala hal dan penuh hasrat untuk menurunkan apa saja yang ia ketahui, yang satunya berbicara singkat-singkat atau sekadar mengeluarkan bunyi-bunyian yang terdengar bodoh, seolah-olah ia baru dilahirkan di dunia ini satu jam yang lalu dan belum mengenal apa pun kecuali bahwa semuanya adalah kehendak Tuhan.

Bis melaju meninggalkan tembok-tembok kota, pagar-pagar rumah, dan batang-batang pohon yang berjajar di sepanjang trotoar dan si lelaki yang serba tahu mulai memperdengarkan suaranya yang nyaring, tanpa rasa sungkan sedikit pun bahwa isi percakapannya akan didengar oleh semua orang di dalam bis:

“Dulu semuanya pernah berwarna kuning—tembok-tembok, pagar rumah, dan batang-batang pohon itu. Sebab gubernur menghendaki begitu. Ia bilang kuning adalah warna kejayaan. ‘Warna emas!’ katanya.  Lalu apa saja dicat warna kuning, tapi ia sendiri membiarkan tembok dan pagar rumahnya tetap berwarna putih. Tak berapa lama kemudian, tembok pagar rumah gubernur dipenuhi gambar meriam.”

“Maksudmu....”

“Kemaluan. Seperti meriam kuno, dengan dua roda.”

“Berani sekali.”

“Orang gila yang melakukannya. Tapi gubernur juga gila. Seorang kenalanku, wartawan koran pagi, mengatakan bahwa setiap hari gubernur sarapan pagi dengan lauk ikan arwana. Itu dia lakukan atas saran dukun, untuk meningkatkan wibawa. Gila orang itu. Ia menyuruh semua orang hidup sederhana dan ia sendiri tiap pagi menelan ikan hias yang harganya mahal sekali.

“Sebagai wartawan, kenalanku pernah menanyakan apakah benar gubernur selalu makan pagi dengan lauk ikan arwana. Saat itu gubernur sedang makan malam bersama tamu-tamu undangannya, kebanyakan pengusaha. Ia terganggu oleh pertanyaan itu. ‘Jadi bagaimana pantasnya menurutmu?’ ia balik bertanya. ‘Apakah seorang gubernur sebaiknya makan pagi dengan lauk belut listrik?’

“Para tamu tertawa. Besoknya kenalanku menulis berita tentang gubernur dan lauk kesukaannya. Gubernur tidak senang dengan berita itu.”

“Ia marah?”

“Kenalanku mati kecelakaan tiga minggu kemudian.”

“Kasihan. Tapi umur manusia memang tidak ada yang bisa memastikan.”

“Orang-orang meyakini itu pembunuhan. Gubernur pelakunya.”

“Kalau Tuhan tidak menghendaki, ia tidak akan mati meskipun gubernur berusaha membunuhnya.”

Taik! Jadi gubernur membunuhnya dan itu sesuai kehendak Tuhan?”

“Bukan begitu maksudku.”

“Apa pun maksudmu, Tuhan tidak ikut campur dalam pembunuhan itu.”

“Tuhan menentukan hidup dan mati.”

“Tapi tidak memerlukan bantuan seorang pembunuh untuk mencabut nyawa orang.”

“Ya.”

“Nah, setelah peristiwa itu beberapa orang mahasiswa, tidak terlalu banyak, berkumpul di depan gubernuran dan menanyakan kenapa sebuah kota harus dijadikan gumpalan warna kuning. Aku sedang lewat di sana dan berhenti untuk melihat rombongan itu. Muka mereka merah sebab mereka marah dan mataharinya panas sekali. Suara mereka melengking tinggi. Gubernur menjawab, dengan suara rendah, bahwa kuning adalah warna kebanggaan kota. ‘Seperti warna kepodang,’ katanya. ‘Dan kepodang adalah burung yang cantik. Dan burung yang cantik itu adalah ruh kota kita.’

“Para mahasiswa mendesak, ‘Kenapa ruh sebuah kota harus berwarna kuning?’

“Kata gubernur, ‘Ruh bisa berwarna apa saja, tapi kepodang selalu berwarna kuning. Dan kepodang adalah ruh kota kita, juga ruh propinsi kita.’

“Orang-orang tidak puas dengan jawaban itu. Tiba-tiba ada teriakan dari tengah kerumunan: ‘Tahi juga berwarna kuning, seperti kepodang, tapi tidak cantik.’

“Kau tahu sendiri, gubernur adalah orang yang sangat berkuasa dan ia tidak menyukai orang-orang yang gemar berteriak. Tapi ia tetap bersuara kalem, ‘Jangan berpolitik!’

“’Kamu yang berpolitik!’ teriak mereka, semakin sengit. ‘Dan tidak usah berbelit-belit. Kami tahu kuning itu warna partai dan kamu memaksa kota ini jadi kuning,’

“’Bicaralah sopan,’ kata gubernur. Setelah itu ia masuk ke kantornya dan tidak mau lagi menanggapi mereka. Para mahasiswa terus berteriak-teriak di sana hingga sore.

“Pada malam harinya, mereka melihat bulan purnama dikelilingi lingkaran. Katanya itu pertanda akan ada orang hilang. Dan, memang begitulah kenyataannya. Dua orang di antara mereka hilang dan mereka sama sekali tidak terkejut, sebab bulan sudah menurunkan isyarat pada malam sebelumnya. Tidak ada satu orang pun melihat siapa yang telah membuat kedua orang itu hilang, namun mereka yakin siapa yang telah melakukannya. Lalu mereka membuat selebaran, mengumumkan hilangnya dua kawan mereka, dan menuntut gubernur agar mengembalikan keduanya. Gubernur mengumpulkan para wartawan, tapi kenalanku tentu tidak ada lagi sebab ia sudah mati. Di hadapan para wartawan ia menyampaikan pesan untuk para mahasiswa: ‘Jangan suka menuduh.’”

“Dulu aku pernah melihat bulan purnama dikelilingi lingkaran dan malam itu juga anak tetanggaku hilang di pasar malam. Ibu anak itu menangis semalaman tetapi tidak menuduh siapa pun.”

Aku kehilangan beberapa bagian dari percakapan mereka selanjutnya karena sibuk mengumpulkan ingatan tentang kepodang, ruh, dan warna kuning yang dibicarakan oleh lelaki di bangku depanku. Bertahun-tahun lalu para cendekiawan kampus pernah membicarakannya dalam sebuah seminar menjelang pemilihan umum. Seorang paranormal dihadirkan juga dalam seminar itu sebagai salah satu pembicara. Ia dukun kepercayaan gubernur dan apa pun yang disampaikan oleh gubernur mengenai warna kuning dan ruh dan kepodang tidak lain adalah pendapat dukun tersebut. Perdebatan tentang ketiga hal itu kemudian menjadi panjang, dan melibatkan berbagai kalangan yang lebih luas, melalui berita yang muncul terus-menerus dan sejumlah artikel yang dimuat koran-koran di Semarang waktu itu.


BIS BOBROK memutari bundaran kecil di tepi kota dan terus ke barat mengikuti jalanan yang naik turun menjelang perbatasan dan pembicaraan mereka terus berlangsung mengikuti kelok jalanan..

“Cepat sekali sampai di sini. Dulu aku merasa tempat ini jauh sekali.”

“Ya, ketika kita kecil memang semua tempat terasa jauh.”

“Kau yakin siap bekerja di Jakarta? Aku tidak mau nanti tiba-tiba kau minta pulang.”

“Yakin.”

“Besok kukenalkan pada mandor proyek. Baik orangnya, dari Klaten, dulunya tukang juga. Mungkin lusa kau sudah bisa bekerja.”

“Ya.”

“Kau bisa melihat bukit di sana itu?”

“Tidak.”

“Kalau siang hari ia tampak jelas. Itu daerah perbatasan Majapahit dan Sunda.”

“Dari dulu aku suka Majapahit. Jadi di sini perbatasannya?”

“Tiga tahun lalu aku bekerja di sana, mengeduk tanah di bukit itu untuk membangun perumahan di dekat muara. Linggisku menghantam bongkahan batu. Rupanya prasasti. Lalu penggalian diteruskan dan kami menemukan candi.”

“Besar candi itu?”

“Sebesar WC umum.”

“Kecil.”

“Hanya candi perbatasan.”

“Siapa yang mendirikan?”

“Itu urusan guru sejarah. Urusanku mengeduk tanah.”

“Pasti Gajah Mada.”

“Bisa juga Gajah yang lain.”

“Kurasa pasti Gajah Mada. Hebat sekali dia.”

Setelah menyeberangi perbatasan Majapahit-Sunda, bis berderak meluncur di jalanan yang agak menurun, lalu menikung ke kiri, lalu menikung satu kali lagi ke kanan, dan kemudian lurus.

“Aku selalu merasa tidak enak setiap melewati tikungan itu. Itu tadi tikungan paling berbahaya. Ada kuburan di samping kiri dan kanan jalan.”

“Angker?”

“Hampir tiap minggu ada mobil terguling di sana. Kau tidak tahu?”

“Pernah dengar.”

“Ada perempuan yang suka muncul tiba-tiba di tempat itu dan menyeberang jalan, menggendong bayinya yang terus menangis, lalu mobil-mobil yang sedang melintas jadi oleng karena sopirnya terkejut, lalu akan ada yang terguling. Perempuan itu kemudian hilang begitu saja.”

“Siapa sebenarnya perempuan itu?”

“Makhluk halus.”

“Aku tahu. Tapi siapa dia?”

“Orang yang mati tertabrak bertahun-tahun lalu bersama bayinya. Sampai sekarang, tiap malam Jumat ia selalu menyeberang jalan.”

“Sekarang malam Kamis.”

“Kadang-kadang ia menyeberang juga pada malam Kamis. Tadi aku merasa agak merinding saat melewati tikungan itu.”

“Kau melihatnya?”

“Tidak, tapi tadi aku seperti mendengar sayup-sayup suara bayinya menangis. Kau tidak mendengarnya?”

“Tidak.”

“Kau beruntung. Aku tersiksa karena sejak kecil bisa melihat atau merasakan kehadian mereka, makhluk-makhluk halus dan arwah-arwah gentayangan. Itu kemampuan turun-temurun dalam keluargaku. Nenekku mendapatkan ilmu itu dari kakeknya, lalu ia mewariskannya kepadaku sebelum meninggal. Ia bilang aku yang paling berbakat di antara semua cucunya. Maka sampai sekarang aku bisa berhubungan dengan makhluk halus. Banyak dari mereka yang tersiksa dan meratap-ratap minta tolong dan keadaan mereka sangat buruk. Sedih sekali melihat mereka.”

“Apakah perempuan itu menumpang di bis ini?”


MEREKA rupanya bisa berhenti juga dan aku masih tetap melamun saat suara percakapan mereka hilang menjelang Cirebon. Aku sendiri sudah lunglai, tetapi bibir yang tak terjamah itu masih menghantuiku dan mengganjal pelupuk mataku pada saat kebanyakan penumpang lain sudah tidur. Pagi-pagi bis memasuki Bekasi dan satu jam setelah itu aku turun di terminal yang gaduh, mengambang sebagai plankton yang memasrahkan diri ke dalam mulut ikan besar dan membiarkan saja binatang itu menelanku seumur hidup di dalam perutnya.

Aku tidak yakin Tuhan akan menolongku. Dulu, ketika dunia masih muda dan Tuhan masih mau bercakap-cakap dengan manusia, memang pernah ada lelaki yang ditelan ikan besar dan Tuhan menolong orang itu, mengeluarkannya lagi dari perut ikan. Sekarang pun Dia masih bisa menolong orang susah kalau Dia mau dan aku percaya kepadaNya, tetapi kurasa Tuhan tidak pernah ada bersamaku. Dia bahkan tidak peduli saat aku kesulitan mengikuti semua mata pelajaran dan selama bertahun-tahun menjadi siswa paling bodoh di tiap sekolah yang pernah menerimaku sebagai muridnya.

Jadi, tidak apa-apa kalaupun Dia tidak menolongku. Aku berangkat ke Jakarta bukan karena Tuhan. Aku datang mencari Alit. Sampai enam tahun kemudian, ketika Syekh membakar diri bersama para pengikutnya, aku masih tetap di kota ini, pedih dan tersiksa dan menyimpan keyakinan bahwa pemimpin tarekat itu adalah Alit—orang yang lebih dekat kepadaku dibandingkan urat leherku sendiri—dan ia tidak mengakuiku sebagai kawannya. [*]

Istirahat, Lan Fang, di Tengah Bunga-Bungamu

PADA hari ketika teman-teman mengucapkan selamat ulang tahun buat saya, 25 Desember (2011) lalu, pada hari yang sama Lan Fang berpulang. Ia kawan baik saya, penulis produktif, ibu tiga anak kembar, dan orang yang selalu ingin membaktikan diri kepada orang banyak. Sebenarnya ia kawan baik siapa saja yang kenal dengannya. Dan ia kawan yang cerewet. Mungkin karena itu kami menjadi dekat. Karena cerewet, ia rajin menyapa teman-temannya.

Hampir tiap pekan akan nongol pesan singkatnya di ponsel saya, biasanya hari Minggu pagi seusai ia membaca tulisan saya di harian ini. Kadang-kadang kami akan berbalas pesan singkat sampai siang—itu jenis percakapan yang membikin jempol saya pegal-pegal. Sekarang, saya harus rela kehilangan SMS Minggu pagi darinya, harus terima bahwa untuk seterusnya ia tidak akan mengirimi saya SMS, pada hari apa pun.

Pada akhir November 2011 kami bertemu terakhir kali. Mas Leak Kustia, Pemred Jawa Pos, memberi tahu ketika saya mampir ke kantornya bahwa Lan Fang sakit. “Cukup serius,” katanya. Ia sudah membezuk satu hari sebelumnya dan memberi tahu saya di ruang mana Lan Fang dirawat, juga arah yang harus ditempuh untuk sampai ke sana dari pintu depan. Saya baru sadar saat itu bahwa dalam tiga pekan terakhir tidak ada pesan singkat yang saya terima dari Lan Fang.

Keluar dari kantor Jawa Pos, saya langsung menuju rumah sakit. Karena gagal mengingat nama ruangannya, saya menemui bagian informasi dan mengatakan bahwa saya hendak membezuk Lan Fang. Petugas menanyakan nama lengkapnya. Saya bilang itu sudah paling lengkap menurut ingatan saya. Ia mengetikkan nama yang saya sebutkan di komputernya.

“Go Lan Fang?” tanyanya.

“Ya,” jawab saya.

“Tionghoa, ya?” tanyanya lagi.

“Jawa,” kata saya. “Namanya memang begitu.”

Lan Fang ngakak ketika saya sampaikan kepadanya tanya jawab singkat ini.

“Terus dia bagaimana?” tanyanya.

“Tidak ada terusannya,” kata saya. “Dia mungkin tidak percaya, tetapi urusanku kemari adalah menemukan ruanganmu. Jadi tidak usah kupikirkan kepercayaan atau ketidakpercayaan petugas itu.”

“Dasar.”

“Dan sebetulnya aku keliru juga. Kau bukan Jawa, tapi NU.”

Ia tertawa lagi, dan setuju.

Selain mengenalnya sebagai penulis, saya tidak tahu persis urusan sehari-harinya. Ia ada di mana-mana dan terlibat dalam berbagai kegiatan untuk mengungkapkan solidaritasnya terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Yang menakjubkan, ia tetap produktif melahirkan buku-bukunya. Sepertinya ia tidak ingin membiarkan tubuhnya beristirahat.

Ketika kami, dan sejumlah penulis lain, diundang oleh LSM Demos dan Voice of Human Rights untuk membahas penerbitan kumpulan cerita pendek bertema demokratisasi (2009), Lan Fang menjadi peserta diskusi yang sangat bergairah. Ia bisa menceritakan sampai hal-hal terkecil, misalnya, bagaimana para politisi tega memanfaatkan upacara pemakaman untuk berkampanye.

Belakangan saya tahu ia dekat dengan K.H. Shalahuddin Wahid dan mengajar di pesantren. Ia juga datang bersama Koko, salah satu dari ketiga anak kembarnya, ke Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibien Rembang ketika Gus Yahya Cholil Staquf mengadakan pertemuan Terong Gosong. Dalam perjalanan pulang dari acara itu, ia mengirim pesan singkat ke saya, “Mas, saya pulang dari Rembang, dititipkan oleh Gus Yahya ke temanmu. Namanya Pak Rustam.”

Itu kali kesekian ia mengabari saya bahwa ia sedang bersama orang yang “ternyata” teman saya.

Di ruangan rumah sakit, kami hanya berdua Senin sore itu. Ia agak kurus dan pucat. Saya menanyakan kemarahan seperti apa dan pada apa yang ia simpan selama ini. Ia membenarkan bahwa ia memang sering marah, dan terakhir bahkan ia marah sampai rasanya mau meledak. Ia marah ketika berurusan dengan birokrasi yang kebangetan, pada para politisi yang tidak memikirkan rakyat, dan pada apa saja yang tidak beres menurut pendapatnya.

“Oleh Gus Mus aku diminta istirahat, tidak usah mikir negara,” katanya.

“Aku setuju pada Gus Mus,” kata saya. “Istirahatlah dan berhenti mikir negara. Semarah apa pun kau, suaramu tetap dihitung satu dalam setiap pemilu, sama dengan orang yang plonga-plongo tidak mikir apa pun.”

“Aku tolol, ya,” gumamnya. “Tapi kamu juga, hampir setiap minggu kamu marah-marah.”

Rasanya sedih melihat ia bergumam lemah. Saya bilang bahwa semula saya jengkel padanya. “Kau cerewet sekali,” kata saya. Tahun 2006 kami ketemu; ia memberi saya lima bukunya yang sudah terbit. Tiga buku terbit tahun itu, yakni Laki-laki yang Salah, Perempuan Kembang Jepun, dan Yang Liu. Dua buku lainnya adalah Pai Yin (2003) dan Kembang Gunung Purei (2004). Kelak, sampai buku terakhirnya terbit, Ciuman di Bawah Hujan (2010), ia masih mengirimi saya.

Waktu itu ia ke Jakarta dan kami ketemu untuk membicarakan penerbitan kumpulan cerpennya Kota tanpa Kelamin (2007). Saya menyunting naskah kumpulan cerpen tersebut dan kewalahan menerima teleponnya beberapa kali sehari. Di tengah saya menyelesaikan pekerjaan tersebut, tiba-tiba ia menyodorkan satu gagasan lain. “Bagaimana kalau kumpulan cerpen itu ditambahi puisi-puisi untuk membuka setiap cerita?” tanyanya.

“Tidak usah,” jawab saya. “Kalau puisimu jelek, kumpulan cerpen itu nanti malah terasa kampungan.”

“Tapi sudah saya bikin,” katanya.

Sialan. Ia bekerja cepat. Dan ia tetap mengirimkan puisi-puisinya. Saya tetap pada pendapat saya, tidak memasukkan puisi-puisi tersebut ke dalam kumpulan cerpennya. Beberapa waktu kemudian, ketika kumpulan cerpen itu sudah terbit, ia menelepon dan menyampaikan bahwa ia sedang menghadiri sebuah acara. “Saya bersama Bu Wilis,” katanya menyebut nama istri wakil walikota Surabaya waktu itu. “Ternyata ia temanmu, tho?”

Ya ampun, ia kenal siapa saja. Ia kenal banyak orang yang saya kenal. Ia kenal lebih banyak lagi yang saya tidak kenal. Dengan pembawaannya yang selalu bersemangat, ia pribadi menyenangkan.

“Kau bisa memejamkan mata dan melihat sesuatu yang menyenangkanmu?” tanya saya.

Ia memejamkan mata dan mengatakan bahwa ia melihat bunga. Saya menanyakan bunga seperti apa. “Seperti yang dikirim Bu Nani Wijaya itu,” katanya. Tangannya menunjuk karangan bunga di atas meja. “Aku melihat karangan bunga, banyak sekali. Sangat indah. Aku menyukai karangan bunga.”

Saya pamit ketika malam dan ia sudah kelelahan ketawa. “Beristirahatlah, kau perlu memberi kesempatan istirahat bagi tubuhmu,” kata saya.

Sejak sekarang, jika saya mengenang hari kelahiran saya, tahun demi tahun, saya juga pasti mengenang hari kepulangannya. [*]


*) Kolom Ruang Putih, Jawa Pos, Minggu, 1 Januari 2012

Alit dan Nita dan Kencan yang Mematikan

SYEKH membakar diri bersama para pengikutnya di ladang jagung dan aku sangat berharap orang itu bukan Alit. Namun, bagaimanapun, ada perasaan cengeng yang susah diingkari, yang muncul begitu saja saat aku berjumpa dengannya dan melihat pelupuk matanya beberapa bulan lalu. Itu pelupuk mata Alit. Ia terlalu dekat denganku, lebih dekat ketimbang urat leherku sendiri, dan sekarang aku membenci Nita, penyanyi panggung yang menurutku telah menyebabkan jalan hidup Alit berkelok-kelok dan berakhir dengan membakar diri.

Dan ini tafsirku tentang perempuan yang kubenci itu: Nita datang dari Pacitan.

Memang ini bukan tafsir finalku tentang Nita, namun aku cenderung meyakini kebenarannya. Setidaknya aku sudah menggunakan lebih dari satu metode untuk menafsir asal muasal gadis itu. Pertama, dengan intuisi atau katakanlah sebuah getar dalam hati, sesuatu yang kaupercaya akan menuntunmu pada kebenaran sekalipun kau tidak tahu bagaimana ia bekerja. Cara menggunakannya sederhana, jika intuisimu mengatakan bahwa Nita berasal dari Pacitan, maka seperti itulah kenyataannya.

Kedua, dengan imajinasi kreatif, sebuah metode yang diperkenalkan oleh Goran Vekaric, pertapa abad kedua puluh dari Semenanjung Balkan. Para pengikutnya atau mereka yang membaca bukunya mengamalkan metode Goran untuk melacak siapa mereka di kehidupan yang lalu. Aku menggunakannya untuk melacak masa lalu Nita. Berulang kali aku duduk bersila di dalam kamar membayangkan Nita, mengingat-ingat ratapnya di panggung, suara dangdutnya, bentuk wajahnya, lekuk pinggulnya, jenis kulitnya, kukunya, dan logat bicaranya. Dengan semua yang melekat padanya saat ini, kau bisa menarik gambaran diri gadis itu mundur satu tahun, dua tahun, tiga tahun, lima tahun, sepuluh tahun, hingga dua puluh tahun dan kau akan menjumpai kanak-kanak khas Pacitan. Kau bisa menjumpai banyak kanak-kanak semacam itu sedang bermain dan berteriak di jalan-jalan pada sore hari sekiranya kau melintasi daerah tersebut dari arah Wonogiri menuju Ponorogo atau sebaliknya.

Ketiga, aku mengumpulkan semua kisah, baik dari koran, majalah, maupun kabar burung, tentang penyanyi kafe. Ini kuperlukan untuk mendapatkan gambaran paling persis mengenai Nita. Sejarah berulang, kata orang, dan Nita mungkin sedang mengulang potongan-potongan sejarah dari para pendahulunya, penyanyi-penyanyi kafe lain yang sudah meratap sebelum Nita.

Sekarang, aku akan memulai dari nama, sebab sejarah selalu bermula dari nama-nama, dan izinkan aku meralat lebih dulu dugaanku yang keliru tentang nama Nita. Lima tahun lalu, di tempat minum itu, aku menduga bahwa nama Nita mungkin bukan nama sebenarnya, sementara nama Siska, teman bicaranya, mungkin nama sebenarnya.

Di situlah aku meleset. Nita mengakui bahwa itulah nama asli yang diberikan oleh orang tuanya.

“Aku tak pernah berpikir untuk mengubah-ubah nama,” katanya. “Kurasa aku tidak melakukan pekerjaan yang memalukan ketika menyanyi di panggung dan nama pemberian orang tuaku bukan nama yang memalukan. Banyak yang mengganti nama mereka dengan nama baru. Fenty, misalnya, sebenarnya bernama Suwarti. Begitu juga beberapa temanku yang lain.

“Aku tahu bahwa panggung sering memaksa kita membuat nama baru. Sebab ada sorot lampu dan sorot mata yang menimpa kita. Ada kehidupan lain yang tidak sama dengan kehidupan di rumah kita. Ada tabiat-tabiat lain yang berbeda dari tabiat kita sehari-hari. Mungkin demikian alasan orang berganti nama. Tapi aku tak merasa bahwa panggung adalah dunia yang lain.

“Panggung bagiku sekadar ruang sebelah dari sebuah rumah, itu jika kita mengibaratkan ruang hidup kita adalah sebuah rumah. Ia bukan bagian yang terpisah. Karena itu aku tidak memerlukan banyak nama untuk satu kehidupan yang kujalani.”

Kutipan di atas kuambil dari sebuah wawancara dengan penyanyi kafe tahun 1970-an, bernama Nita juga, yang kini menjadi pengusaha panti pijat di daerah Parung. Ada beberapa wawancara dengan penyanyi kafe bernama Nita, dan menurutku wawancara tersebut yang terbaik. Sebenarnya aku curiga itu bukan kalimat asli Nita. Mungkin si wartawan menuliskan isi pikirannya sendiri, dengan kalimat-kalimatnya sendiri, namun aku tidak melacaknya lebih jauh. Jadi, kita percayai saja bahwa kutipan di atas adalah salinan omongan Nita.

Nita 1970-an ini lahir pada bulan Juni dan kupikir Nita muda, penyanyi panggung yang sedang kita lacak sejarahnya, juga lahir di bulan yang sama. Maka tak ada soal jika aku mengutip ucapan Nita tua untuk memahami Nita muda. Mereka sama-sama Gemini. Cara berpikir mereka niscaya sama dan jalan hidup yang mereka tempuh tentu tak akan jauh berbeda—demikian pula penjelasan mereka soal nama.

Dengan penjelasan tersebut, kuharap pemahaman kita soal nama Nita menjadi lebih baik. Selanjutnya, kita memasuki sebuah trauma.


KOTA Pacitan berwarna coklat tanah dan memiliki banyak gua dan hanya sekali dalam hidupnya Nita masuk ke dalam gua, ialah ketika sedang menjalin cinta monyet dengan teman SMP-nya. Mereka tidak berciuman di sana atau saling menyentuh. Mereka hanya memarkir sepeda masing-masing di mulut gua, kemudian masuk, dan si pacar-monyet dengan sigap mencengkeram tangan Nita saat gadis itu terpeleset. Umur Nita tiga belas dan anak lelaki itu tiga belas dan keduanya baru kelas satu SMP. Jantung mereka berdebar. Mulut anak lelaki itu bergerak-gerak, sulit sekali mengeluarkan bunyi, namun akhirnya bisa juga ia bicara.

“Kau sudah mengerjakan tugas matematika?” tanyanya.

“Belum. Kita pulang saja, yuk!” ajak Nita.

“Pemandangan di sini bagus.”

“Tapi aku belum mengerjakan tugas.”

Titik-titik air jatuh dari taring-taring batu di atap gua. Si anak lelaki, yang sebenarnya hanya ingin menunjukkan perhatian kepada gadisnya, menjadi gelisah oleh pertemuan yang cepat berakhir.

Seorang pencari kayu, anak lelaki sebaya mereka, memergoki keduanya saat mereka baru keluar dari mulut gua. Nita gugup melihat anak itu dan sekali lagi ia terpeleset karena gugup. Pacar-monyetnya kembali menyambar dan Nita cepat-cepat mengibaskan tangannya dan membebaskan tangan itu dari genggaman pacar-monyetnya. Pencari kayu bakar sempat melihat mereka saling berpegang tangan dan ia melihat bagaimana Nita menarik tangannya dengan muka gugup.

Lalu orang-orang mendengar dan menyiarkan ulang kabar tentang dua orang yang berpacaran di dalam gua; mereka bergandeng tangan dan saling melepas kancing baju dan saling menyentuh dan mungkin lebih dari itu, dan muka si perempuan menjadi gugup ketika perbuatan mereka ketahuan orang. Seminggu Nita tidak masuk sekolah karena demam dan malu dan kemudian menganggap pacar-monyetnya tak pernah ada. Si lelaki, demi membuktikan dirinya ada, menjadi suka berkelahi, baik di kelas maupun di jalanan, dan Nita semakin menjauhinya.

Kelak mereka akan bertemu satu kali lagi, di sebuah toko milik juragan Cina tempat lelaki itu bekerja sejak ia dikeluarkan dari sekolah karena kian berandalan. Itu kepulangan pertama Nita setelah bertahun-tahun ia meninggalkan Pacitan menuju Jakarta. Oh, sebenarnya itu kepulangan kedua; yang pertama adalah ketika Nita menikah dan si lelaki tidak menghadiri resepsi pernikahan. Pada hari mereka bertemu, lelaki itu menanyakan apakah Nita sudah punya anak dan Nita menjawab belum. Nita menanyakan apakah ia sudah punya anak dan lelaki itu menjawab tiga. Lalu pemilik toko memanggilnya dari dalam dan lelaki itu masuk menemui juragannya dan keluar lagi sambil menuntun sepeda.

“Berapa lama kau pulang, Nita?” tanyanya.

“Tiga hari,” jawab Nita.

“Kita dolan ke gua lagi?”

Nita tertawa. Lelaki itu tidak tertawa. Ia mengayuh sepedanya ke arah timur cepat sekali dan otaknya yang runyam mengarang cerita wagu: istrinya tiba-tiba mati, suami Nita tiba-tiba mati, dan ia melamar Nita untuk menjadi ibu bagi ketiga anaknya.

Di tengah jalan air matanya bercucuran.


NITA 1970-an menyatakan bahwa di waktu kecil ia memiliki banyak keinginan. “Tergantung suasana hati,” katanya. “Ketika jatuh cinta aku ingin menjadi semut sehingga bisa masuk ke kamar orang yang kucintai tanpa takut ketahuan orang lain. Lalu aku akan merayapi tubuh lelaki itu dan sesekali menggigit kupingnya.

“Aku juga ingin sekali menjadi penjaga pintu masuk gedung bioskop, setiap hari bisa menonton film gratis. Itu pekerjaan yang kupikir sangat menyenangkan.”

Nita muda ingin menjadi burung. Burung apa saja. Bahkan burung hantu. Mungkin sekarang keinginannya tercapai: ia menjadi burung hantu, yang keluar dan menyanyi hanya pada malam hari. Ia menikah pada umur 24 tahun dengan lelaki 46 tahun. Pada malam pertama, seusai mereka bercinta, Nita menangis lama sekali di dada suaminya dan berbisik, “Aku akan terbang jauh sekali jika kau menyakitiku.”

Aku tak mendapatkan alasan kenapa Nita berkata seperti itu. Aku juga tidak berhasil menggali peristiwa apa yang mempertemukan dan membawa mereka ke pernikahan. Dan karena jodoh adalah rahasia Tuhan, maka biarlah hanya Tuhan yang tahu di mana mereka pertama kali bertemu dan bagaimana cara mereka saling jatuh cinta dan atas dasar apa Nita mau menikahi lelaki yang 4 tahun lebih muda dibandingkan ayahnya dan 2 bulan lebih tua dibandingkan ibunya.

Mungkin Nita mencintai suaminya sebagaimana ia mencintai ayahnya. Lelaki itu seorang guru SD seperti ayah Nita. Dari pagi hingga siang ia mengajar, sore hari ia menjadi tukang ojek, dan pada pukul satu dinihari ia menjemput istrinya. Mereka akan sampai di rumah pada pukul dua dinihari dan lelaki itu sudah mengajar di kelas pada pukul tujuh pagi, kadang sambil menguap berkali-kali seolah ia sudah bosan mengajar. Tapi ia sudah lama menjadi guru dan sudah hapal semua pelajaran, sehingga sekalipun mengantuk ia tetap bisa menyebutkan dengan benar di mana pabrik karung goni terbesar, siapa penemu akuarium, dan siapa presiden pertama negara Filipina.

Sampai sekarang, lelaki itu tetap guru, tukang ojek, dan suami yang baik. Nita tidak pernah berpikir untuk menyakitinya atau membuat resah kepalanya. Namun seekor burung hantu, kautahu, pada dasarnya adalah makhluk yang tak suka disangkarkan. Hari itu Nita berpesan kepada suaminya agar tidak usah datang menjemput. “Aku menyanyi di Bogor malam ini,” katanya.

Ia berangkat dari rumah lebih sore ketimbang biasanya, mengenakan gaun hijau bermotif daun-daun, dan tidak ke Bogor. Ia tidak menyanyi hari itu. Ia menjumpai Alit yang menunggunya di gedung kesenian.

“Aku suka gaunmu,” tulis Alit tiga bulan sebelumnya pada kertas permintaan lagu. “Kau mengingatkan aku pada sesuatu yang terus kurindukan hingga hari ini.”

Oleh pelayan kafe, kertas itu diserahkan kepada Nita yang sedang berdiri di panggung mengenakan gaun hijau bermotif daun-daun. Ia tidak tahu siapa yang menuliskannya; orang itu hanya menulis pesan dan tidak mencantumkan namanya. Tiga hari kemudian Nita mengenakan gaun bermotif daun-daun lagi dan berharap orang yang menulis pesan itu ada di antara para pengunjung kafe.

“Aku sering datang kemari. Tapi rupanya kau tidak pernah mengenakan gaun bermotif daun-daun lagi,” tulis Alit, di kertas permintaan lagu, sebulan setelah pesannya yang pertama.

Nita mengenakan gaun merah muda saat menerima pesan itu. Ia menjadi sedih tiba-tiba dan meratap maksimum di panggung.

Sejak kejadian itu, dua atau tiga kali seminggu Nita mengenakan gaun bermotif daun-daun—gaun yang itu-itu juga. Kalau gaun itu belum kering betul di tali jemuran, ia akan menyuruh pembantunya mengeringkannya dengan setrika.

“Nanti baunya tidak enak, Bu,” kata pembantunya.

“Aku hanya menyuruhmu menyetrika. Lakukan saja,” kata Nita.

Pembantu itu benar. Ketika dikenakan, gaun yang dikeringkan paksa itu menguapkan bau aneh seperti kandang burung puyuh. Namun itu tetap lebih baik bagi Nita daripada ia harus mengenakan gaun lain.

“Kau sering mengenakan gaun ini sekarang,” kata Siska, seminggu sebelum pertemuan Nita dan Alit.

“Ya,” kata Nita.

“Sedang jatuh cinta?”

“Aku sering mimpi buruk akhir-akhir ini.”

“Itu berarti sedang jatuh cinta.”

“Entahlah. Ia hanya memuji gaun yang kukenakan, tetapi aku merasa seperti dilemparkan ke dalam gua, sebuah tempat yang memungkinkan segala hal terjadi, tetapi sampai bertahun-tahun kemudian tak pernah terjadi apa-apa.”

“Siapa lagi yang menyatakan cintanya kepadamu?”

Nita menggeleng.

“Ia tak pernah menyebutkan namanya,” katanya.


ALIT duduk di tangga pintu masuk gedung kesenian dan matanya terus memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di pintu pagar dan ia lekas mengalihkan pandangannya ke arah lampu-lampu di seberang jalan ketika matanya sudah melihat Nita, dengan gaun hijau bermotif daun-daun, berjalan di antara orang-orang lain yang menuju gedung kesenian. Dan Alit tetap melihat ke arah lampu-lampu saat Nita sudah berada di dekatnya, berlagak tidak menyadari kehadiran gadis itu, seolah-olah ia duduk di tangga itu hanya untuk menikmati suasana dan tidak sedang menunggu siapa pun.

“Sudah lama?” tanya Nita.

Alit menoleh ke arah datangnya suara. Ia menjadi kaku beberapa saat, memandangi perempuan yang berdiri di depannya, merasakan turunnya mukjizat.

“Hai,” kata Alit. “Ibuku mengenakan gaun sepertimu ketika bertemu bapakku.”

“Kau sangat mencintai ibumu?” tanya Nita.

“Aku mencintaimu.”

“Ibumu pasti orang baik. Hidup akan menyenangkan jika kita memiliki ibu yang baik.”

“Ia meninggalkanku saat aku kecil.”

Nita diam, jari-jarinya mempermainkan kancing tas kecilnya.

“Aku juga akan meninggalkanmu,” katanya.

“Lakukanlah. Setiap orang yang kucintai selalu meninggalkanku.”

“Apa maksudmu mengajakku kemari?”

“Aku mencintaimu.”

“Jujur saja, apa maksudmu mengajakku kemari?”

“Aku mencintaimu.”

“Kau tahu aku sudah bersuami?”

“Kau tidak mencintai suamimu. Aku tahu suamimu.”

“Ia orang baik. Aku mencintainya.”

“Kau mencintaiku.”

“Apa maksudmu?”

“Kau datang kemari, mengenakan gaun ini, karena kau mencintaiku.”

Nita kembali diam, agak lama. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongannya, yang sulit ditelan maupun dimuntahkan.

“Berterus teranglah, kau tidak sungguh-sungguh,” kata Nita.

“Aku sungguh-sungguh....”

“Semula kupikir begitu, kau memuji gaunku, kau mencintaiku, dan aku ingin mengenakan gaun ini setiap hari untukmu. Aku ingin kau selalu melihatku mengenakan gaun ini. Tapi orang itu datang menemuiku dan mengatakan semuanya kepadaku. Kautahu, aku hampir menangis saat itu. Aku mempercayaimu, aku berusaha mengenakan gaun ini sesering mungkin untukmu, dan kalian rupanya hanya bertaruh. Kau dan lelaki gendut yang hampir tiap malam datang ke tempat minum.”

“Nita....”

Perempuan itu menggeleng. Alit seperti dipatuk malaria.

“Dua hari lalu ia datang kepadaku,” lanjut Nita. “Ia memintaku agar menolak ajakanmu dan berjanji akan membagi dua denganku uang kemenangannya jika aku menolakmu. Aku tidak mau bersekongkol dengannya, maka aku datang kemari memenuhi ajakanmu. Kau menang. Kita nonton dan setelah itu jangan pernah lagi menemui aku.”


KENDATI tak pernah bertemu lagi dengan Nita sejak menyaksikan penampilannya lima tahun lalu, aku sempat bercakap-cakap dengannya belum lama ini. Dari buku telepon aku mencatat nomor telepon kafe tempat ia biasa bernyanyi. Kuhubungi nomor itu dan seorang perempuan mengangkat gagang telepon di sebelah sana dan kukatakan bahwa aku ingin bicara dengan Nita. Perempuan itu menjawab bahwa Nita hari itu menyanyi di Bogor. Aku meminta nomor telepon kafe di Bogor itu dan perempuan di seberang menjawab tidak tahu.

“Nomor telepon rumahnya?” tanyaku.

“Tidak ada,” katanya.

Telepon ditutup. Kurasa perempuan di seberang itu berbohong, namun aku tidak sakit hati karena perempuan itu berbohong. Yang penting aku sudah memiliki nomor telepon kafe itu dan bisa menghubunginya setiap waktu untuk mendapatkan penjelasan dari Nita.

Ketika akhirnya aku bisa berbicara langsung dengannya, beberapa bulan setelah Syekh membakar diri, kubilang kepada gadis itu bahwa seharusnya ia tidak berlaku terlalu kejam kepada Alit. “Aku tahu betul anak itu,” kataku. “Kami berteman baik dan ia memiliki perasaan yang sangat lembut dan kau telah menyakitinya. “

“Apa pedulimu dengan yang kulakukan?” teriaknya.

“Kalau pertemuan kalian tidak berakhir dengan cara seperti itu, aku yakin Alit tidak akan menempuh jalan yang membawanya pada api,” kataku. Lalu kuceritakan kepadanya perihal Syekh yang membakar diri bersama para pengikutnya.

“Kau sama menjengkelkannya dengan anak ingusan itu,” katanya. “Aku tak punya hubungan sama sekali dengan siapa pun yang membakar diri. Aku bahkan tidak kenal dengan kawanmu yang bernama Alit.”

Setelah itu tak ada apa-apa lagi yang bisa kudapat darinya. Ia memutus pembicaraan dan aku benci sekali kepadanya. Tiba-tiba aku merasa memiliki sejumlah alasan untuk mengutuknya. Dialah yang telah menyebabkan temanku membakar diri. Aku merasa bahwa masa lalu gadis itu mungkin jauh lebih buruk ketimbang apa yang baru saja kusampaikan. Karena itulah ia suka menyakiti orang lain.

Aku merasa kasihan sekali pada Alit dan kupikir aku perlu membongkar kemungkinan lain, yang jauh lebih akurat, tentang masa lalu Nita. []

*) Dimuat di Koran Tempo, 21 Desember 2014

Ekses

INFORMASI menarik tentang film Close-Up, karya sutradara Iran Abbas Kiarostami, saya dapatkan mula-mula dari artikel David Ehlich, redaktur senior situs film.com, berjudul The 50 Best Criterion Collection Releases. Criterion Collection, atau biasa disingkat Criterion saja, adalah sebuah perusahaan distribusi video yang menawarkan film-film klasik dan kontemporer kepada para pecinta, kritikus, dan pemikir perfilman. Secara berkala ia mengeluarkan daftar film-film terbaik versinya. Artikel dengan judul di atas dikeluarkan tahun 2013 dan daftar 50 film tersebut dianggap oleh sejumlah kritikus sebagai daftar terbaik yang pernah dikeluarkan oleh Criterion.


Di dalam daftar itu kita bisa menemukan nama-nama Akira Kurosawa, Yasujiro Ozu, Satyajit Ray, Ingmar Bergman, Jean-Luc Godard, Terrence Malick, Pier Paolo Pasolini, Wong Kar-Wai, Wim Wenders, dan lain-lain sampai yang namanya sulit dilafalkan oleh lidah kita: Krzysztof Kieslowski. Lihatlah, nama depan sutradara ini tersusun dari delapan huruf mati dan hanya ada satu huruf hidup. Ia menyutradarai trilogi Colors, tiga film yang menyenangkan dengan judul-judul Red, Blue, dan White.

Untuk semua film yang ada di sana, anda bisa menemukan penjelasan singkat dan alasan Criterion memilihnya, kecuali film Close-Up. Film Kiarostami itu ditempatkan pada urutan pertama dan Criterion hanya menampilkan keterangan dengan satu kalimat sangat singkat: “The best film ever made.”

Saya menggemari film-film Abbas Kiarostami, nyaris fanatik, dan saya gembira sekali membaca kalimat singkat tersebut, seolah-olah saya keponakan tercinta sutradara Iran itu. Film terbaik yang pernah dibuat orang, saya membatin, memang tidak memerlukan penjelasan panjang lebar, atau tidak memerlukan penjelasan sama sekali. Begitu saja sudah cukup.

Dibuat berdasarkan kisah nyata, Close-Up menceritakan pengadilan terhadap Hossein Sabzian yang mengakui dirinya adalah Mohsen Makhmalbaf, seorang sutradara terkenal Iran. Ia sedang naik bis suatu siang dan duduk bersebelahan dengan seorang ibu yang memperhatikannya membaca The Cyclist, buku skenario karangan Makhmalbaf. Si Ibu menanyakan alamat toko buku tempat Sabzian mendapatkan buku itu. “Untuk anda saja kalau anda mau. Saya yang menulis buku ini,” katanya.

“Anda Mohsen Makhmalbaf?” tanya si Ibu.

“Ya.”

“Anda baik sekali. Senang bertemu dengan anda.”

Si Ibu mengatakan bahwa anaknya sudah lulus kuliah, mendapatkan gelar insinyur, tetapi menyukai seni dan film dan belum mendapatkan pekerjaan sejak enam bulan lulus kuliah. Kemudian lelaki itu sering datang ke rumah si Ibu, merancang proyek perfilman dengan si insinyur baru, dan melihat-lihat setiap ruangan di dalam rumah seolah-olah ia hendak melakukan pengambilan gambar untuk film barunya di rumah itu. Di rumah itu Sabzian dihormati sebagai Makhmalbaf, sampai kemudian mereka tahu bahwa ia Makhmalbaf palsu.

Kiarostami merekonstruksi kejadian tersebut, termasuk bagaimana ia tertarik pada berita tentang penangkapan Sabzian, menemuinya di tahanan, dan upayanya mendapatkan izin merekam secara utuh proses pengadilan. Semuanya menjadi bagian dari film itu. Sebenarnya ini hanya sebuah kasus penipuan kecil dan Sabzian sudah mengatakan, sewaktu Kiarostami menjenguknya di tahanan, bahwa ia akan mengakui. Tetapi segalanya menjadi lebih kompleks ketimbang apa yang tampak di permukaan dan tidak mudah bagi orang-orang untuk memahaminya.

“Saya tertarik pada film dan sudah menonton banyak film sejak kecil, tetapi saya tidak punya uang untuk mewujudkan cita-cita saya,” kata Sabzian kepada hakim pengadilan. “Saya mengagumi Mohsen Makhmalbaf dan semua penderitaan yang ia tampilkan di dalam film-filmnya. Ia seperti bicara pada saya dan menggambarkan penderitaan saya. Saya tahu di mata hukum saya bersalah. Saya tidak ingin melakukan penipuan tetapi hanya ketika memperkenalkan diri sebagai Makhmalbaf, maka mereka menaruh hormat dan menuruti apa yang saya katakan. Sebelumnya tidak pernah ada orang yang mematuhi saya, karena saya hanya orang miskin. Sejujurnya menjadi Makhmalbaf adalah hal yang sangat berat bagi saya. Setiap kali saya meninggalkan rumah itu, saya akan kembali menjadi diri saya, orang miskin yang tidak sanggup mencukupi kebutuhan saya sendiri. Saya tidak ingin melakukannya, tetapi setiap bangun tidur saya terdorong untuk menjadi Makhmalbaf lagi, karena itu membuat mereka menghormati saya.”

Seluruh pemain film tersebut adalah orang-orang yang berperan sebagai diri sendiri, termasuk Sabzian, seluruh anggota keluarga yang menjadi korbannya, juga Kiarostami dan Mohsen Makhmalbaf. Ia dibuka dengan adegan percakapan ke sana kemari antara wartawan Hassan Farazmand dengan sopir taksi yang mengantarnya ke rumah keluarga korban penipuan Sabzian. Di bangku belakang duduk dua petugas kepolisian yang siap melakukan penangkapan, dan mereka tidak bicara sama sekali sepanjang perjalanan.

Si Wartawan tampak sangat bergairah dengan kasus ini dan merasa telah menemukan “Oriana Story”, sebutan yang mengacu pada nama wartawan terkenal Italia Oriana Fallaci. Farazmand tampaknya merindukan reportase besar, tetapi dalam film itu terlihat teledor, tidak membawa uang untuk membayar taksi, tidak membawa tape recorder, dan semuanya harus ia pinjam dari tuan rumah.

Saya menonton film ini tidak lancar. Ada ingatan-ingatan yang tiba-tiba menerobos dan mengganggu. Sebagaimana Farazmand, saya juga membayangkan Oriana Fallaci ketika menginginkan profesi wartawan bertahun-tahun lampau. Buku Oriana Wawancara dengan Sejarah saya baca ketika saya SMA dan saya bawa ke Yogyakarta, ke Jakarta, dan kemudian dipinjam teman dan tidak pernah menjadi milik saya lagi hingga sekarang. Oriana telah mewawancarai para pemimpin dari banyak negara pada tahun-tahun 1960-an hingga 1980-an. Ia telah mewawancarai Indira Gandhi, Pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Yasser Arafat, Menlu AS Henry Kissinger, Perdana Menteri Pakistan Zulfikar Ali Bhutto, Perdana Menteri Israel Golda Meir, Syah Iran Mohammad Reza Pahlevi, Pemimpin Libya Muammar Gaddafi, Ayatollah Khomeini, dan banyak lagi. Saat wawancara dengan Khomeini ia diharuskan mengenakan cadar dan ia mengenakannya dan kemudian melepas cadar tersebut di tengah berlangsungnya wawancara sembari mengkritik keharusan bagi perempuan untuk mengenakannya.

Awal tahun 1993, saya mulai menjadi wartawan, di Jawa Pos, bertugas sebagai koresponden wilayah Magelang dan sekitarnya. Setiap hari saya keluar masuk pedesaan di sekitar Magelang, mencari informasi di pengadilan, meliput sengketa kandang ayam, dan saat itu saya merasa sulit sekali menjadi Oriana Fallaci. Liputan pertama saya adalah pernikahan massal di desa Wonolelo, lereng gunung Merapi. Hari itu saya menyaksikan puluhan pasangan dinikahkan di balaidesa, termasuk mereka yang sudah berumah tangga berpuluh tahun, sudah kakek-nenek dan sudah mempunyai cucu dan mungkin cucu mereka juga sudah beranak.

Mereka, anda tahu, adalah orang-orang yang di zaman orde baru dicap tidak bersih lingkungan dan disia-siakan oleh pemerintah. Orang-orang di luar desa menyebut mereka pasangan kumpul kebo, dengan pandangan negatif yang dilekatkan pada istilah “kumpul kebo” itu, tetapi sesungguhnya mereka hanyalah orang-orang lereng gunung yang jera berurusan dengan pemerintah. Mereka berumah tangga dengan sesama warga desa, dan ikatan mereka hanya diresmikan menurut kebiasaan di desa itu, hanya diumumkan ke tetangga-tetangga bahwa pasangan A dan B sudah menjadi suami istri. Meski ikatan mereka tidak disahkan secara agama maupun hukum negara, rumah tangga mereka pada umumnya berlangsung langgeng. Kecil sekali, atau nyaris tidak pernah ada, kasus perceraian, kecuali karena ditinggal mati pasangan.

Itu ingatan paling kuat tentang reportase “besar” yang pernah saya lakukan, yang dipicu kemunculannya oleh sosok Farazmand si wartawan teledor, ingatan yang menginterupsi keasyikan menonton Close-Up. Namun akhirnya saya selesai juga menontonnya dan melamun agak lama setelah film selesai. Saya pikir urusan di dunia ini cuma begitu-begitu saja. Pemain sepakbola yang baik tak pernah keliru menggiring, mengoper, atau menendang bola. Aktor yang baik bisa bertingkah apa saja dan selalu tampak pantas. Montir yang baik tidak pernah mengecewakan dalam pekerjaannya. Demikian pula sutradara yang baik; ia kelihatannya juga selalu benar dalam menangani urusannya.

Mohsen Makhmalbaf muncul di bagian akhir. Ia menjemput dan memeluk orang yang telah mengaku-aku dirinya. “Kau ingin menjadi Makhmalbaf atau Sabzian?” tanya Makhmalbaf. “Aku sendiri bahkan capek menjadi Makh.” Sabzian menunduk di hadapan orang yang dikaguminya dan ia tak mampu menatap wajah Makhmalbaf dan air matanya tak bisa ia tahan. Makhmalbaf menggoncengkan Sabzian dengan motornya menuju ke rumah keluarga Ahankhah, yang akhirnya mencabut tuntutan dan menyatakan bahwa Sabzian tidak melakukan penipuan dengan niat jahat dan itu hanya ekses dari kemelaratan dan kondisi sosial yang menekan kehidupan orang-orang kecil. []

*) Kolom Ruang Putih, Jawa Pos, Minggu, 21 Desember 2014

Dijual: Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya

IA MENYUKAI LAGU ITU, yang sering ia dengar dari radio semasa kecil dan ia nyanyikan di dahan pohon mangga depan rumah, dan ia tetap menyukainya hingga bertahun-tahun kemudian. Di telinganya, penyanyi di radio itu seperti berteriak apuseeee... dan ia menyanyikannya begitu. Ia pikir ada juga lagu Barat yang berjudul Apuse, sama dengan judul sebuah lagu daerah. Baru nanti, setelah semuanya terjadi, ia tahu judul lagu itu House for Sale.

Itu lagu yang abadi di dalam benaknya. Kapan pun ia menyanyikannya sekarang, ingatannya akan selalu surut ke suatu sore di masa lalu saat ia duduk di balkon depan kamarnya memandangi gumpal-gumpal awan. Semuanya jernih seperti belum lama terjadi. Ia menikmati rokoknya di balkon itu, satu kakinya dinaikkan ke kursi. Istrinya, dengan gerak kalem dan paras sedih, datang mendekat dan duduk di kursi sampingnya. Ia menoleh ke arah perempuan itu, memandangi beberapa saat paras sedihnya. Istrinya tampak lebih cantik ketika sedih.

Pada pagi harinya, saat ia baru membuka mata dan dunia masih samar-samar, ia dengar sayup-sayup suara istrinya: “Kepala saya sakit sekali, Pak. Mohon izin tidak masuk hari ini. Surat-surat yang harus Bapak tanda tangani ada di lemari berkas, saya taruh di tumpukan paling atas. Ya, ada tiga. Kunci lemari ada di laci paling atas meja saya.”

Korden jendela kamar sudah tampak terang ketika ia tersadar sepenuhnya. Istrinya sudah selesai bicara dan kembali menarik selimut dan tidur lagi meringkuk dengan punggung menghadap ke arahnya. Perempuan itu jarang sekali tidur telentang dan hari itu seharian dia meringkuk saja di ranjang dan hanya dua kali keluar kamar, ialah pada siang hari ketika meminta pengasuh bayi membelikan obat sakit kepala dan pada sore hari ketika mandi.

Ia melihat istrinya menuruni tangga ke lantai satu dan masuk ke kamar mandi. Saat itu ia baru keluar dari ruang kerjanya, meninggalkan komputer yang tetap menyala, dan berjalan menuju balkon. Perempuan itu menyusulnya duduk di balkon setelah selesai mandi.

“Bisa bicara sebentar, Mas?” tanya perempuan itu.

“Silakan,” sahutnya.

“Sudah beberapa waktu aku memikirkan ini. Aku tahu cepat atau lambat aku pasti menyampaikannya kepadamu.”

“Sampaikanlah. Aku suamimu. Kalau kau ada masalah, aku orang pertama yang mendengarkanmu.”

“Mestinya begitu....”

“Maksudmu?”

“Ya, mestinya begitu. Hanya selama ini aku sering merasa sia-sia menyampaikan apa pun kepadamu. Rasanya....”

“Kupikir kita akan menikmati sore hari dengan percakapan yang menyenangkan. Rupanya kau berniat menghakimiku?”

“Tidak, tidak. Tapi tak apa jika kau merasa begitu. Setidaknya sekarang kautahu seperti apa rasanya.”

“Itu yang ingin kausampaikan?”

“Bukan. Itu yang selama ini kurasakan, Mas. Setiap kali aku mencoba berbagi masalah denganmu, aku merasa kau selalu menyudutkanku--atau menghakimi menurut istilahmu. Rasa-rasanya tak pernah satu kali pun kau mau merasakan apa yang kurasakan, tak pernah satu kali pun kau berpihak kepadaku jika sesekali aku punya masalah dengan orang lain.”

“Aku tak ingin kau punya masalah dengan orang lain.”

“Aku juga tak ingin. Tapi setiap orang hidup pasti punya masalah dan aku tidak mau menjadi orang yang lari dari masalah. Sudah kuceritakan banyak hal kepadamu sebelum kita menikah tentang bagaimana masalah demi masalah datang kepadaku dan bagaimana aku sendirian menghadapi semuanya. Kemudian kita menikah dan aku tetap merasa sendirian menghadapi masalah-masalahku.”

Ia menyimak semua kalimat istrinya, tetapi sulit menduga ke mana arah pembicaraan. Di bawah mereka ada tiga anak kecil dan seorang perempuan yang menyuapi bayinya dan penjual balon gas yang sedang melayani pembeli kanak-kanaknya. Ia ingat pernah membeli tujuh balon gas lima tahun lalu, pada hari-hari bulan madu pernikahan mereka, tiga berwarna merah empat berwarna kuning. “Tuhan menyukai hitungan ganjil,” katanya. Lalu ia menulis doa yang sama di tujuh lembar kertas—Tuhan, lancarkanlah rezeki kami dan jagalah keutuhan rumah tangga kami—dan masing-masing kertas ia ikatkan dengan benang pada balon-balon tersebut.

Pada malam hari, ia dan istrinya melepaskan balon-balon itu ke langit dan Tuhan, pengabul doa-doa yang diucapkan maupun kecemasan yang disembunyikan, menyambut baik ketujuh balon mereka. Pada tahun kedua pernikahan, istrinya melahirkan dan, pada tahun ketiga, mereka sanggup membeli rumah kecil dua lantai yang sekarang mereka tempati. Lantai bawah ia biarkan lapang saja untuk ruang tamu dan dapur dan kamar mandi. Semua kamar tidur ada di lantai atas: satu kamar ia gunakan sebagai ruang kerja, satu kamar untuk anak mereka dan pengasuhnya, dan satu lagi yang paling besar adalah kamar tidur untuk ia dan istrinya. Di balkon depan kamar itulah mereka duduk bersebelahan, dua hari sebelum ia memasang tanda rumah dijual.

“Sasi tidur?” tanyanya.

“Jalan-jalan,” kata istrinya. “Kuminta Ririn membawanya keluar jalan-jalan.”

“Ia pengasuh yang baik. Sasi beruntung mendapatkan pengasuh yang baik.”

“Sekarang ia mulai pacaran dan pacarnya hampir tiap hari datang kemari.”

“Kau ke kantor tiap hari....”

“Mbak tukang cuci yang memberitahuku.”

“Sebetulnya wajar saja. Ia sudah cukup umur untuk punya pacar.”

“Aku tidak mau anakku ditelantarkan. Pengasuh yang mulai pacaran biasanya menjadi teledor.”

Kalimat kedua itu dalil. Sejak pernikahan, istrinya kerap mengeluarkan dalil. Ia hanya mengangkat bahu dan menunjukkan isyarat tangan yang bisa saja diartikan “sesukamulah” atau “entahlah” atau terserah istrinya mau menafsirkan apa. Lalu ia susuli isyarat itu dengan kalimat:

“Ia sudah mengasuh Sasi sejak bayi dan pekerjaannya bagus. Jika kau memberhentikannya, pengasuh baru belum tentu sebaik anak itu.”

“Belum tentu lebih buruk juga. Mungkin lebih baik.”

“Jadi, sebenarnya apa yang hendak kausampaikan?”


PEREMPUAN ITU MENGAMBIL ROKOK yang terselip di jari-jari suaminya dan menyelipkan ke bibirnya sendiri dan mengisapnya kuat-kuat. Suaminya melolos lagi sebatang rokok dan menyalakannya. Kini mereka masing-masing memegang sebatang rokok. Perempuan itu baru bicara lagi setelah isapan keempat.

“Kurasa lebih baik kita berpisah saja, Mas” katanya. Matanya menatap lantai ketika ia bicara.

“Seringan itu kau menyampaikannya?” kata suaminya.

Sungguh, lelaki itu tak pernah bisa memahami perasaannya. Sama sekali tidak ringan baginya untuk mengucapkan hal itu. Ia sudah menyiapkan diri cukup lama dan berusaha sangat keras untuk tetap tenang saat menyampaikannya.  Selama berbulan-bulan sebelum akhirnya ia bisa bicara, sesungguhnya sudah berkali-kali ia menetapkan hati untuk menyampaikannya, namun berkali-kali pula ia mengurungkan kembali niatnya. Sepertinya tak pernah ada waktu yang tepat untuk sebuah kalimat yang singkat saja: kita bubar.

“Aku tak bisa mencintaimu lagi,” katanya.

“Lalu?” tanya suaminya.

“Kupikir lebih baik kita bercerai.”

“Kau membuatku sedih.”

“Mestinya kau merasa senang.”

“Oya? Kau mengatakan lebih baik kita bercerai dan menurutmu seharusnya aku merasa senang. Apa maksudmu?”

“Entahlah. Kupikir begitu.”

“Kau selalu berpikir begitu....”

“Hubungan kita semakin menyedihkan, Mas. Mari kita mengakui itu. Kalau boleh jujur, aku tak pernah merasa bahagia selama ini.”

“Oh, aku tahu itu tanpa kaubilang. Kulihat kau memang langsung sengsara sejak hari pertama kita menikah. Jadi, tidak satu kali pun kau pernah bahagia?”

Ia menggeleng pelan.

“Ya, ya, aku bisa paham,” kata suaminya. “Kau menginginkan perceraian, maka yang kaulihat dalam hubungan kita hanya kegelapan. Aku yakin kau lupa betapa bahagianya dirimu saat memberitahuku bahwa kau hamil. ‘Mas, aku hamil, Mas! Aku akan menjadi ibu untuk anak yang lahir dari rahimku sendiri!’ Atau itu tidak termasuk kebahagiaan menurutmu?”

“Ya, Mas, aku sangat bahagia bisa hamil, bahagia sekali. Tapi aku tidak yakin kau juga bahagia. Kau tidak ingin punya anak dari aku. Kautahu, aku sedih sekali malam itu ketika kaubilang, ‘Nanti kita mengadopsi anak saja.’ Sejak itu aku bertekad untuk hamil, tak peduli kau menghendaki anak dariku atau tidak.”

“Ya, Tuhan. Alangkah ajaibnya. Kau istriku dan kita tidur di ranjang yang sama tiap malam dan aku tak pernah menyadari kau menyimpan pikiran sejahat itu tentangku. Tapi itu salahku. Aku hanya mampu mengingat hal yang mungkin tak penting sama sekali bagimu, yaitu saat kau menangis dan menciumku dan bertanya malam itu: ‘Jadi kau tidak kecewa kalau aku tak bisa punya anak, Mas?’

“Lalu aku menggeleng dan berkata secara jujur kepadamu, ‘Kita pasti punya anak jika kita sudah siap menjadi orang tua. Ia bisa lahir dari rahimmu, bisa juga anak orang lain yang kita rawat sepenuh hati sebagai anak kita sendiri. Dan memang ia anak kita, yang berbeda hanya cara ia hadir dalam kehidupan kita. Selanjutnya sama saja.’

“’Terima kasih, Mas,’ katamu. ‘Aku takut sekali kalau nantinya aku tidak bisa punya anak, aku takut itu mengecewakanmu. Sungguh kau tidak akan kecewa? Kau akan tetap mencintai aku?’

“‘Tetap mencintaimu,’ kataku.

“Lalu kau mendesakku agar mengucapkannya sekali lagi. ‘Aku ingin mendengarnya sekali lagi,’ katamu. Dan dan aku mengucapkannya lagi, ’Tetap mencintaimu.’

“’Selamanya?’

“’Selamanya.’

“Kupikir kau bahagia malam itu. Rupanya aku keliru.”


TIDAK ADA YANG KELIRU MALAM ITU; ia memang bahagia. Gerimis turun agak lebat dan ia turun tiba-tiba pada sore hari musim kemarau dan matahari masih memancar terang saat gerimis turun tiba-tiba. Mereka menepi bersama beberapa pejalan kaki yang lain di sebuah halte depan toko barang-barang kerajinan. Suaminya menggandengnya masuk ke toko itu dan mereka melihat-lihat apa saja yang dijual di sana dan ia berpindah ke toko sebelah yang menjual perlengkapan bayi saat lelaki itu berdiri lama di depan segerombol kucing kayu. “Yang hijau itu bagus, Mas,” katanya. “Eh, aku ke sebelah dulu, ya. Fatima melahirkan bulan lalu dan aku belum sempat menengoknya.”

“Nanti kususul,” kata suaminya.

Di dalam taksi yang membawa mereka pulang, ia duduk merapat di pintu, seperti ingin melipat diri sekecil mungkin. Pakaian bayi yang baru ia beli, yang akan ia bawa nanti saat menjenguk Fatima, ada di pangkuan. Suaminya menanyakan apakah ia sakit. Ia bilang tidak apa-apa, hanya sedikit pening karena tertimpa gerimis, tapi itu tak akan lama. “Kalau hujannya lebat sekalian malah tidak apa-apa,” katanya.

Dua jam kemudian, saat mereka sampai di rumah setelah perjalanan yang merambat, ia barulah menyampaikan rasa takutnya soal kemungkinan tidak punya anak. Jawaban suaminya malam itu membuatnya lega dan ia mencium lelaki itu dengan pipi yang basah oleh rasa bahagia.

Itu percakapan yang tak pernah ia lupakan. Itu percakapan yang memberinya perasaan tenteram. Namun itu bukan satu-satunya percakapan. Ada banyak percakapan lain di antara mereka yang diam-diam menyusupkan ke dalam pikirannya perasaan cemas yang tak terhapuskan.

“Aku harus kontrol ke dokter malam ini, Mas. Sudah janjian nanti pukul delapan. Kau bisa menjemputku di kantor?”

“Aduh, aku telanjur ada janji dengan orang.”

“Ya, sudah. Kau janjian di mana?”

“Kuningan.”

"Pulangnya larut?”

“Aku usahakan tidak terlalu larut.”

“Nanti pulang lewat Buncit, kan? Ada toko asinan di kanan jalan.... Halo..., halo...! Pulangnya....”

Percakapan terputus. Ia menelepon lagi, gagal, menelepon lagi, gagal, menelepon lagi, gagal. Mereka baru terhubung lagi saat ia hampir habis kesabaran.

“Selalu begini kalau telepon denganmu. Sudah kubilang, kau harus ganti pesawat.”

“Sinyalnya buruk di sini.”

“Kurasa teleponmu yang sudah butut.”

“Eh, sampai di mana tadi?"

“Kalau nanti lewat Buncit, tolong belikan asinan. Ada toko asinan di kanan jalan setelah Mampang, dekat lampu merah. Setahuku ia buka sampai pukul sebelas. Tapi kalau sudah tutup, belikan martabak saja.”

“Manis atau telor?”

“Telor.”

“Baiklah.”

“Oya, kalau aku sudah tidur waktu kau pulang, bangunkan saja,”

Janin di dalam perutnya memasuki usia empat bulan saat itu. Suaminya pulang tanpa asinan dan lupa membeli martabak dan lelaki itu entah pulang pukul berapa. Mereka ribut kecil pada pagi hari sebelum ia berangkat ke kantor.

Sejumlah percakapan yang nyaris sama akan terulang lagi di saat-saat berikutnya. Ia merasa suaminya selalu begitu. Ia merasa, pada akhirnya, bahwa suaminya mungkin tidak menghendaki punya anak dari dirinya. Itu sebabnya lelaki itu dengan enteng menanggapi ketakutannya kalau-kalau ia tidak bisa punya anak.


IA MENARIK DAN MENGHEMBUSKAN NAPASNYA panjang sekali. Matanya memandang sesuatu di kejauhan. Di langit ada segumpal awan besar yang membentuk mulut raksasa menganga. Di sampingnya, istrinya tampak sangat tenang, seperti sudah benar-benar yakin dengan keputusannya. Perempuan itu menikmati isapan terakhir rokoknya dan kemudian mematikan baranya di asbak.

“Aku capek, Mas. Kita terlalu sering ribut,” kata perempuan itu.

“Bukan aku yang menginginkannya,“ katanya.

“Jadi selalu aku yang memulainya?”

“Aku tak mengatakan seperti itu. Aku sedih kita sering ribut. Kadang itu membuatku sangat putus asa. Kadang terpikir olehku untuk melompat dari jendela kamar dan mati seketika. Mungkin lebih baik bagimu jika aku tak ada.”

“Sama, Mas. Aku juga sering berpikir seperti itu.”

Mereka lima tahun menikah. Istrinya semakin fasih mengembalikan apa pun yang ia sampaikan dan ia pikir setiap percakapan di antara mereka tak pernah menghasilkan jalan keluar.

“Apa yang kaubicarakan dengan Tante Sita minggu lalu?” ia membelokkan pembicaraan.

“Aku tak mengerti maksudmu,” kata istrinya.

“Kau melakukan konsultasi hukum?”

“Aku tidak bertemu dengannya.”

“Kemarin ada teman meneleponku. Ia bilang, ‘Aku bertemu istrimu di rumah Om Bram minggu lalu. Ia bicara dengan Tante Sita dan kelihatannya mereka membicarakan urusan yang sangat serius.’”

“Hanya ngobrol-ngobrol biasa.”

“Oke, jadi kau ke rumahnya.”

“Aku memerlukan teman bicara.”

“Aku tak bisa menjadi teman bicaramu?”

“Apakah kau bisa?”

“Jika kau menganggapku ada.”

“Aku merasa sebaliknya, Mas, aku yang tak pernah ada bagimu. Kau hanya peduli pada teman-temanmu dan pada urusanmu sendiri dan pada apa saja yang tidak ada hubungannya denganku. Semula kupikir kau benar-benar mencintaiku....”

“Sampai sekarang aku mencintaimu.”

“Terima kasih. Dan maafkan aku tak bisa lagi mencintaimu. Karena itu kusampaikan apa yang terbaik bagi kita.”

“Hanya bagimu. Aku akan kehilangan dua orang yang kucintai, kau dan Sasi, dan kau hanya kehilangan satu orang yang kau tidak bisa lagi mencintainya.”


SI SUAMI MENGATAKAN MALAM ITU, sebelum mengakhiri percakapan, bahwa rumah yang mereka tempati sebaiknya dijual saja sebab semuanya sudah berakhir. “Sekalian dengan perabot-perabotnya,” kata lelaki itu. “Kalau bisa, sekalian dengan seluruh kenangan di dalamnya. Kau tidak membutuhkannya lagi, aku juga tidak membutuhkannya.” Dan lelaki itu segera menjalankan apa yang dikatakannya. Dua hari setelah percakapan, pada pagi yang basah oleh hujan saat si istri keluar rumah hendak ke kantor, ia membaca tanda pada pagar: Rumah Dijual. Ia tidak tahu kapan suaminya memasang plakat itu.

Perempuan itu berdiri mematung di depan pagar, memandangi plakat, dan di dalam benaknya muncul sebuah percakapan yang berlangsung saat usia perkawinan mereka masih muda. Pada malam yang bahagia, ia dan suaminya pernah saling mencocokkan kesukaan masing-masing di masa kecil. Ia menyukai lagu House for Sale, yang sering ia nyanyikan di kamar mandi semasa kecil, dan sebenarnya ia suka menyanyikan apa saja di kamar mandi. Ia merasa suaranya terdengar lebih merdu di kamar mandi.

“Tuhan memberi kita pasangan yang memiliki kesukaan yang sama,” kata suaminya.

Lebay,” katanya.

Butir-butir air sisa hujan membasahi rambut dan wajahnya. Perempuan itu masuk lagi ke dalam rumah, naik ke kamar, menjumpai suaminya masih lelap di ranjang. Diambilnya telepon genggam dari dalam tasnya: “Sakit kepala saya kambuh lagi, Pak. Mohon izin tidak masuk hari ini.” []

*) Jawa Pos, Minggu, 11 Mei 2014

Plagiarisme dari Semak-Semak Afrika


Linda Christanty, nama penting dalam sastra Indonesia hari ini dan kawan yang menyenangkan untuk membahas buku-buku dan berbagai topik lain, termasuk tentang sinshe di kampung halamannya yang mempunyai diagnosa-diagnosa mengejutkan dan nama-nama makanan yang terdengar lebih cocok sebagai nama hewan, menelepon saya suatu siang dan saya tidak menanggapi panggilan tersebut karena situasi saya tidak memungkinkan untuk menerima telepon. Ia menelepon satu kali lagi dan saya tetap tidak mengangkatnya. Pada malam hari, saya periksa telepon seluler saya. Ada beberapa panggilan masuk, dari nomor-nomor yang saya kenal maupun tidak saya kenal, dan dua panggilan tak terjawab dari Linda. Ia menelepon ketika saya sedang berada di jalan tol dan telepon saya tertinggal di rumah.

Besok harinya saya menelepon Linda dan ia menerima panggilan telepon saya dan kami tidak membicarakan ikan hiu yang hidup abadi atau manusia yang berubah menjadi pohon kamboja dalam cerita-cerita yang kurang meyakinkan; Linda menyampaikan bahwa ia sudah mendapatkan tiga novel Patrick Modiano, pengarang Perancis pemenang Nobel sastra 2014, yang hendak dibicarakan dalam klub diskusi bulanan yang kami adakan sekadar untuk bersenang-senang.

“Kupikir kau hendak menceritakan mimpi bahwa kita benar-benar berubah menjadi jenglot,” kata saya.

Kami pernah membicarakan kemungkinan tentang umur panjang seperti manusia di zaman Nabi Nuh dan kami akan hidup sampai umur 250 tahun. Pada saat itu tubuh kami tentu mengecil dan kulit kami menjadi keriput sekali sehingga orang-orang akan menyangka kami sebagai jenglot, makhluk gaib produksi dalam negeri yang wujudnya menyerupai jahe atau ginseng.

Sebentar membicarakan Modiano, saya tiba-tiba ingat satu hal yang saya ingin tanyakan kepadanya, ialah tentang isu plagiarisme di kalangan perancang busana yang sekarang sedang ramai dibicarakan. Linda bekerja di majalah Dewi dan saya membaca berita bahwa Priyo Oktaviano, salah satu dari lima perancang yang dipilih oleh majalah tersebut sebagai Ksatria Mode (Fashion Knight) 2014, dituding telah menjiplak rancangan Prabal Gurung, perancang Amerika Serikat berdarah Nepal.

Ia tak terlalu bersemangat menanggapi pertanyaan saya dan saya sendiri sebenarnya tidak tahu apa-apa soal mode. Namun ia mencoba menjelaskan juga soal mode dan itu adalah urusan yang sangat sulit untuk saya cerna. Pengetahuan maksimum yang saya miliki tentang adibusana hanyalah sebatas kain sarung. Menurut saya sarung adalah rancangan busana terbaik yang pernah diciptakan orang. Dengan sarung, anda bisa tampak anggun dan khusyuk saat menghadap Tuhan. Selain itu, ia bisa memiliki fungsi lain yang nyaris tak terbatas. Para pedagang buku keliling menggunakannya untuk mengangkut barang dagagan mereka. Saya menggunakannya sebagai mantel di masa kanak-kanak jika saya ingin menjadi Zorro, ksatria pembela rakyat miskin dari negeri Latin, dan juga sebagai properti untuk bermain hantu-hantuan. Jika Anda mau, Anda bisa menggunakan kain sarung untuk mengubah diri menjadi Batman, Superman, Godam, atau Kapten Mar.

Tentang plagiarisme yang saya tanyakan, Linda mengatakan: “Plagiarisme sama buruknya dengan korupsi. Ia adalah perkara mentalitas. Dalam kasus semacam ini, jika pelakunya sudah punya nama, kita harus melacak ke belakang.”

Kami lalu membicarakan kasus plagiarisme Fareed Zakaria yang sangat menghebohkan di tahun 2012. Fareed, warga Amerika Serikat keturunan India, adalah jurnalis, kolumnis, dan figur yang cemerlang di era multimedia. Ia cemerlang sejak kuliah di Yale University dan mengawali karier cemerlangnya dengan menjadi pemimpin redaksi Yale Political Monthly. Pada tahun 1993, di usia 28 tahun, ia meraih gelar doktor dari Harvard, memimpin proyek riset tentang politik luar negeri AS di universitas tersebut, menjadi redaktur pelaksana jurnal Foreign Affairs, dan menjadi profesor tamu di Columbia University.

Di tahun 2000, ia menjadi editor pada Newsweek Internasional dan menulis kolom tetap untuk Newsweek, sebelum pindah sepuluh tahun kemudian ke Time dan menjadi penulis kolom tetap di majalah tersebut dan Washington Post, CNN, dan menulis untuk banyak media dan jurnal di AS. Ia juga menulis tiga buku dan menjadi pembawa acara mingguan Fareed Zakaria GPS (Global Public Square) di stasiun televisi CNN. Pada tahun 2003, New York Magazine menurunkan sebuah artikel feature tentang Fareed, berjudul  Man of The World, yang antara lain mengutip komentar Henry Kissinger, bekas menteri luar negeri Amerika Serikat, tentang Fareed Zakaria sebagai  “otak kelas satu dan orang yang gemar menantang suara-suara konvensional.”

Kasus plagiarisme di tahun 2012, yang ia akui sebagai “kekeliruan yang mengerikan”, meredupkan kecemerlangannya. Setelah meledaknya kasus itu, ada tulisan yang menyebutkan bahwa plagiarisme juga ditemukan dalam artikelnya tahun 2009. Dan tahun ini muncul lagi tuduhan-tuduhan tentang plagiarisme di beberapa artikelnya yang lain.

Kami menyinggung sedikit tentang kenapa orang melakukan penjiplakan terhadap karya orang lain. Saya menyampaikan pendapat yang saat itu terpikir bahwa para pelaku plagiarisme tampaknya bersandar pada satu harapan, yakni semoga tidak ada satu orang pun yang akan tahu bahwa ia menjiplak. Ia berharap pencipta karya aslinya tidak tahu, redaktur (dalam hal tulisan) tidak tahu, atau juri (jika karya tersebut diikutkan lomba) tidak tahu. Dalam beberapa saat mungkin harapan itu terwujud: pencipta, juri, redaktur, dan orang-orang yang dianggap otoritatif di bidang itu tidak tahu. Seluas apa pun pengetahuan seorang juri atau redaktur, Anda tahu, ia tetap bukan orang yang mahatahu. Pengetahuan yang mereka miliki tidak mungkin mencakup semua informasi.

Namun, yang sering dilupakan oleh para penjiplak, publik mahatahu dan selalu bisa diandalkan untuk mendeteksi terjadinya plagiarisme. Pengetahuan yang dimiliki oleh publik adalah kumpulan pengetahuan yang dimiliki oleh individu-individu yang menyusun sebuah himpunan raksasa yang kita sebut “publik”. Kasus-kasus plagiarisme biasanya terbongkar karena publik mengetahuinya.

Dan sekarang, dalam era media sosial, informasi tentang plagiarisme bisa disampaikan lebih cepat karena setiap orang punya media yang bisa ia gunakan untuk menyiarkan temuannya kepada siapa saja dan orang-orang lain akan segera menyebarluaskannya dan menjadikannya pembicaraan umum.

Karena itulah kita sekarang ini cepat tahu ada penjiplakan dalam musik, dalam karang-mengarang, dalam dunia mode, dan lain-lain. Dalam musik, jika ada kesamaan delapan bar saja antara satu komposisi dengan komposisi lain yang sudah lebih dulu diciptakan orang, pencipta yang belakangan disebut melakukan tindakan plagiarisme. Itu hal yang saya dengar pertama kali dari obrolan ringan bertahun-tahun lalu dengan mendiang Franky Sahilatua. Saya pikir musik memang lebih matematis ketimbang misalnya karangan. Dalam karangan mungkin kita tidak bisa menetapkan standar eksak semacam itu. Saya kira begitu juga dalam dunia mode.

Dalam perbukuan, ada juga kreativitas yang memalukan. Seorang pembeli buku pernah mengeluhkan bahwa ia membeli dua buku yang sama persis, dari penerbit yang sama, dengan desain sampul dan nama pengarang yang berbeda. “Saya mengira itu dua buku yang membahas topik yang sama, jadi saya beli dua-duanya,” katanya. Jadi, ia membeli buku tersebut karena ia sedang mendalami topik yang dibahas oleh buku tersebut. Beberapa bulan kemudian muncul buku lain yang membahas topik itu, dan ia membeli buku tersebut, dan ternyata kedua buku tersebut sama persis.

Ini bukan kasus plagiarisme, melainkan kelicikan pengusaha penerbitan.

Pada malam harinya, karena masih penasaran dengan kasus plagiarisme di dunia mode, saya mengakses internet dan membuka akun instragram yang mengungkap kasus tersebut. Akun bernama Nyinyirfashion itu, yang tampaknya memang membaktikan diri untuk mencereweti dunia adibusana, dengan sengaja menyandingkan foto-foto rancangan desainer dalam negeri dan luar negeri yang ia anggap serupa. Sekali lagi, saya tidak paham tentang mode busana. Beberapa yang ia sandingkan memang tampak sama. Beberapa yang lain tidak tampak kesamaannya di mata saya dan untuk hal ini ada pengikut-pengikut akun tersebut memberi komentar: “Beda keleeeeuss!” atau “Maksaaaa....

Mengenai Priyo Oktaviano, perancang yang kemudian menyatakan mengundurkan diri dari acara Jakarta Fashion Week yang digelar pekan lalu oleh Majalah Dewi, yang foto-foto rancangannya disandingkan dengan rancangan Prabal Gurung, saya melihat bahwa keduanya memang nyaris identik. Memang ada bedanya, yakni pada aksesori di hidung si peragawati. Dalam rancangan Priyo Oktaviano, yang menampilkan koleksi rancangan berjudul African Blu, saya melihat ada panah kecil yang menembus hidung peragawatinya, seolah-olah ia baru keluar dari semak-semak setelah lepas dari kejaran para pemburu Afrika.

Pagi-pagi saya kembali menelepon Linda untuk mengatakan: “Apa boleh buat, kedua rancangan itu nyaris identik.” []

*) Kolom "Ruang Putih", Jawa Pos, Minggu, 16 November 2014

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design