Adios, Gabo!

*) Kolom Ruang Putih, Jawa Pos, Minggu, 20 April 2014

Pintu kayu yang kokoh dan tebal itu akhirnya terbuka saat mobil pengantar karangan bunga datang. Gabriel Garcia Marquez, tua dan oleng dan tampak bingung, muncul dari dalam rumahnya, di Mexico City, dituntun oleh seorang perempuan muda. Ia mengenakan kemeja warna biru laut dan jas hitam dan di dada kiri jasnya tersemat mawar kuning, bunga keberuntungan menurut kepercayaan keluarganya turun-temurun, yang juga ia kenakan saat mengunjungi Swedia untuk menerima penghargaan Nobel Sastra tahun 1982.

Para wartawan yang berkerumun di depan pintu rumah menyambutnya dengan menyanyi bersama-sama sambil bertepuk tangan. Hari itu, 6 Maret 2014, sang maestro tepat berusia 87 tahun.  Ia lalu menyalami salah seorang wartawan dan masuk lagi ke dalam rumahnya.

Itu hari ulang tahun terakhirnya. Tanggal 27 bulan berlikutnya ia meninggal. Pemerintah Kolombia, yang suatu saat pernah memusuhinya dan menyebabkan penulis itu meninggalkan negeri kelahiran untuk menyelamatkan diri dari penangkapan, menyerukan berkabung 3 hari untuk kematiannya.

Garcia Marquez adalah penulis yang dicintai banyak orang, dari semua kalangan. Ia dekat dengan rakyat jelata, ia berteman dengan kepala-kepala negara, dan ia tetap merdeka mempertahankan pendirian politiknya. Dengan novel Seratus Tahun Kesunyian, yang dianggap sebagai karya puncaknya, ia seperti menetapkan standar kesastraan Amerika Latin.  Ruben Pelayo, salah satu penulis biografi Gabriel Garcia Marquez, menyebutnya sebagai penulis terbaik dalam bahasa Spanyol hari ini. “Kata-katanya presisi secara leksikal dan kecakapannya bertutur sulit dicari bandingannya,” katanya.

Tentang hal ini, Ruben berspekulasi bahwa mungkin itu karena sejak kecil Gabo sudah mengenal kamus. Kakeknya memberinya kamus ketika ia berusia lima tahun. “Buku ini tidak hanya tahu semua hal, tetapi ia satu-satunya yang tak pernah keliru,” kata si Kakek. Hari sebelumnya, mereka berdua menonton sirkus dan di sana si Kakek berdebat dengan seorang pengunjung tentang perbedaan camel dan dromedary. Di sirkus itu Gabo menyaksikan seekor hewan berpunuk dan menanyakan kepada kakeknya apa nama binatang itu. Si Kakek menjawab itu camel. Seorang pengunjung yang berada di samping mereka meralat, “Itu dromedary.”

Si Kakek bertahan bahwa itu camel, dan mereka ribut tentang perbedaan kedua binatang itu dan si Kakek keliru. Binatang yang dilihat oleh Gabo hari itu adalah unta berpunuk satu atau dromedary. Begitulah, ia kemudian memberikan kamus kepada cucunya.

Ketika SMA ia tertarik pada puisi dan banyak menulis puisi. Namun pada umur dua puluh, saat ia mulai kuliah di fakultas hukum, Marquez membaca sebuah buku yang dipinjamnya dari seorang teman dan kemudian minatnya bergeser ke prosa. Buku yang menggeser minatnya itu berjudul Metamorphosis, karya Franz Kafka, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol oleh Jorge Luis Borges. Ia terpukau pada kalimat pertama novel tersebut: “Suatu pagi, saat Gregor Samsa terbangun dari mimpi buruknya, ia mendapati dirinya di ranjang telah berubah menjadi serangga mengerikan.”

Kalimat itu, menurut Marquez, mengingatkannya kepada cara neneknya bercerita.

Maka, dengan cara semacam itu pula, cara neneknya bercerita, Marquez memutuskan bagaimana ia harus menulis cerita. Hasilnya adalah cara bertutur yang jernih dan otoritatif. “Seorang penulis hanya perlu menulis sesuatu dan menjadikannya fakta, dengan kekuatan bakat dan ketegasan suaranya,” katanya. 

Novelnya Seratus Tahun Kesunyian, yang ia tulis tahun 1965 di Mexico City, dalam kesengsaraan memendam diri 18 bulan tanpa keluar rumah sama sekali, meledak secara literer dan secara komersial saat diterbitkan tahun 1967. Itu karya yang menyelamatkannya dari situasi nyaris putus asa setelah kegagalan karya-karya sebelumnya, baik dalam segi komersial maupun dalam pencapaian kualitas sastra. Seratus Tahun Kesunyian dibaca oleh siapa saja, dari pemuda pengangguran, petani, sekretaris, sampai orang-orang kantoran. Carlos Fuentes, penulis Meksiko, menceritakan bahwa tukang masaknya juga membaca novel tersebut.

Ada satu pengalaman menarik yang dituturkan oleh Marquez saat ia berkunjung ke desa-desa di Kuba awal 1970-an. Di sana ia bercakap-cakap dengan sekelompok petani, dan salah seorang dari mereka menanyakan apa pekerjaannya, dan ia menjawab, “Saya menulis.” Dijawab demikian, si petani melanjutkan bertanya, “Menulis apa?” Marquez menjawab, “Seratus Tahun Kesunyian.” Si petani seketika berseru, “Macondo!”

Hal lain yang bisa menggambarkan betapa luas pengaruh Marquez di Amerika Latin adalah sebuah laporan jurnalistik yang ditulis oleh wartawan Amerika Serikat Ron Arias:  “Saya pernah naik bus yang penuh sesak suatu hari di Caracas, dan dua perempuan yang berpenampilan sekretaris sedang tertawa-tawa membicarakan bagian-bagian yang pernah mereka baca di buku Seratus Tahun Kesunyian. Saya melibatkan diri dalam pembicaraan mereka, begitu juga separuh penumpang bus lainnya. Ini terjadi tahun 1969, ketika buku itu sedang meledak di pasaran. Setiap orang yang membacanya memiliki tokoh favorit masing-masing dari buku tersebut, dan kami ketawa-ketawa bersama. Buku itu secara keseluruhan menghentak kita, sebab secara historis kita semua berasal dari Macondo....”

Ya, semua karakter yang kita kenali dalam kehidupan sehari-hari ada di dalam novel itu: ada paman tua yang duduk saja di ambang pintu, ada orang-orang revolusioner yang terus berkampanye, ada lelaki hidung belang yang tak henti mencari korban, ada sosok ibu yang tergambar dalam figur Ursula Iguaran, sosok yang tabah dan tak lelah-lelah bekerja.

Garcia Marquez menampilkan semuanya dalam bahasa yang jernih dan humor yang luar biasa segar. Sejak awal hingga akhir, Seratus Tahun Kesunyian berisi olok-olok Marquez terhadap segala yang resmi—dan dengan cara itulah ia melakukan pembelaannya terhadap rakyat jelata.

Buku itu benar-benar memukau. Sebuah penulisan ulang sejarah yang brilian versi Marquez, dengan latar belakang sebuah kota yang dihuni oleh 300 orang dan terasing sama sekali dari dunia luar. Hanya rombongan sirkus gipsi yang datang ke Macondo pada setiap bulan Maret, memainkan berbagai atraksi dan membawa ilmu pengetahuan ke penduduk setempat. Yang kemudian berhasil membuka jalan adalah Ursula (dalam buku ini, kita akan menjumpai setiap perempuan adalah karakter yang luar biasa). Perempuan itu, yang usianya sangat panjang, melakukan pengembaraan untuk mencari Jose Arcadio, anaknya yang pergi bersama rombongan gipsi, dan pulang lagi dengan kegagalan. Ia tidak menemukan anaknya tetapi ia menemukan rute ke kota lain, yang menghubungkan Macondo dengan dunia luar. Setelah itu, orang-orang luar mulai berdatangan ke Macondo, dan segalanya berubah dan perang saudara mencabik-cabik segalanya.

Kalimat pembuka novel ini, menurut saya, adalah yang terbaik dibandingkan kalimat pembuka dari novel-novel lain yang pernah saya baca: “Bertahun-tahun nanti, saat ia menghadapi regu tembak, Kolonel Aureliano Buendia akan teringat senja yang samar ketika ayahnya membawanya menemukan es.”

Itu pembukaan yang mengejutkan dalam teknik penulisan karena berbeda dari cara yang lazim digunakan oleh penulis-penulis lain. Berkenaan dengan waktu penceritaan, kita biasa mendapati kalimat pembuka “Bertahun-tahun lalu...” atau “Pada suatu hari...” atau “Menjelang keruntuhannya beberapa waktu lalu...” Garcia Marquez tidak menggunakan waktu penceritaan semacam itu. Ia melakukan yang sebaliknya dengan “Bertahun-tahun nanti....”

Bertemu dengan pembukaan semacam itu, hasrat untuk membaca novel itu langsung meluap-luap dan saya semakin terpukau dan pada akhirnya menjadi putus asa setelah melahap beberapa puluh halaman awal yang padat dengan adegan-adegan ajaib dan humor yang sialan bagusnya. Kepada orang-orang yang belajar menulis, yang sering bertanya bagaimana cara menulis bagus, saya biasa bertanya: “Bagus yang seperti apa? Atau bagus dibandingkan siapa?”

Saya ingin siapa pun yang belajar menulis memilih satu nama yang paling dikagumi atau yang dijadikan favorit karena karya-karyanya bagus. Dan kepada mereka saya bilang, “Jadi menulislah dengan keyakinan kau bisa menulis sebagus dia atau lebih bagus dari dia.”

Saya menjadikan Gabo sebagai salah satu penulis terbaik yang saya kagumi dan saya putus asa karena ia terlalu bagus. Jika hal yang sama diterapkan untuk saya sendiri, yakni menulis sebagus dia atau lebih bagus dari dia, mungkin saya harus mengurung diri selama seratus tahun di dalam kesunyian.

Adios, Amigo. [*]

Baca: Putri Tidur dan Pesawat Terbang, cerpen Garcia Marquez

Laporan 1 Program Mentoring Penulisan Novel: Tentang “Suara” dan Masa Lalu Para Tokoh

Saya mendapatkan dua murid yang menyenangkan dalam program mentoring yang diselenggarakan oleh Penerbit Moka Media, ialah Diego Christian (Jakarta) dan Dewi Kharisma Michellia (Yogyakarta). Keduanya sudah menerbitkan novel mereka sebelum ini. Dewi Kharisma adalah salah satu pemenang unggulan sayembara penulisan novel DKJ tahun 2012. Novel tersebut terbit tahun berikutnya dengan judul Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya. Diego Christian telah menerbitkan dua novel, Percaya dan Travel in Love.

Mereka menyenangkan karena banyak bertanya. Saya selalu meyakini bahwa jika ingin menemukan cerita, kita harus selalu mempunyai pertanyaan. Seorang penulis, jika ia berhenti bertanya, maka ia berhenti bercerita. Tanpa pertanyaan, tak akan ada cerita. Semata-mata karena setiap jenis pertanyaan, seperti apa pun itu, akan merangsang orang untuk menanggapinya.

Pada pertemuan pertama mentoring kami memulai dari hal yang sangat mendasar, yakni bahwa upaya setiap penulis adalah menciptakan tokoh-tokoh yang setiap tindakannya bisa dipercaya. Cerita boleh saja absurd, tetapi rangkaian sebab-akibat di dalam cerita itu dan perilaku tokoh-tokohnya harus logis.

Untuk itu pada tahap awal kami membicarakan masa lalu masing-masing tokoh. Dengan mengenal masa lalu mereka, mengetahui pengalaman-pengalaman (atau mungkin trauma) yang membentuk kepribadian seseorang pada waktu sekarang, penulis tidak akan keliru dalam menceritakan segala perilaku dan respons para tokoh terhadap situasi apa pun yang mereka hadapi.

Dengan Dewi Kharisma Michellia, di bangku tepi kolam renang Hotel Santika Petamburan, Jakarta, kami banyak membicarakan tentang bagaimana merancang adegan-adegan besar dan tentang “suara” narator yang akan ditampilkan dalam novelnya. Dengan Diego Christian, di kantor redaksi Moka Media, kami bicara alur, penokohan, dan bentuk penceritaan.***


Baca Laporan Diego Christian: #MentoringMoka: Keping 1
Ibaratkan satu buku adalah satu tahun. Saya baru mengeluarkan dua buku. Umur saya di dunia penulisan ini baru dua tahun. Jalan saya masih tertatih. Saya masih butuh dituntun sebelum akhirnya nanti saya berjalan, berlari, bahkan berenang ke negeri lain.... <lanjutkan baca>
Baca Laporan Dewi Kharisma Michellia: Mokamentor dengan A.S. Laksana (1)
Pertemuan terjadi di Hotel Santika dan kami mengobrol di kursi sebelah kolam renang hingga dini hari. Bayangkan betapa bahagianya saya bertemu duo sahabat penulis ini dalam satu kesempatan: AS Laksana dan Yusi Avianto Pareanom.... <lanjutkan baca>

Tip berbelanja buku baru gratis tiap bulan

Ini kabar baik bagi pembaca yang tekun: ada cara berbelanja buku gratis tiap bulan. Cara ini dulu lazim dilakukan oleh para penggemar buku untuk mendapatkan buku-buku baru dari penerbit. Mereka menulis resensi buku dan mengirimkan kopi resensinya yang telah dimuat di media kepada penerbit. Sebagai balasan biasanya penerbit dengan senang hati mengirimkan buku terbaru mereka kepada si penulis resensi.

Namun menerbitkan resensi buku di media massa biasanya mengandung persaingan ketat. Kita berebut tempat dengan para peresensi lain yang banyak jumlahnya. Sekarang, cara untuk berbelanja buku gratis jauh lebih mudah. Begini langkahnya:
  1. Buatlah blog, jika anda belum punya. Cara membikin blog amatlah gampang.
  2. Buatlah review singkat, bisa 2 atau 3 paragraf saja, tentang buku-buku terbaru Moka Media yang sudah beredar di toko buku. Kalau belum punya, silakan ke toko buku. Beli. Anggap saja itu modal awal untuk belanja gratis di waktu-waktu selanjutnya.
  3. Tampilkan review singkat anda di blog.
  4. Kirim email pemberitahuan ke “review.moka@gmail.com”; subjek: “review - [judul buku]”. Contoh subjek: “Review – Galuh Hati” . Sertakan link review yang ada di blog dalam email yang anda kirimkan ke Moka Media.
  5. Untuk tiap satu review singkat yang dimuat ulang di website Moka Media, anda berhak mendapatkan kiriman satu buku baru. Jika anda menulis dua review, anda berhak mendapatkan dua buku baru.
  6. Buat lagi review atas buku yang anda terima, ulangi langkah 2-4, dan seterusnya.
Begitulah, dengan cara semudah itu anda bisa berbelanja buku-buku terbaru gratis dari Penerbit Moka Media. Yang saya sampaikan ini khusus tentang kebijakan Moka Media, karena saya mengelola penerbitan tersebut. Jika penerbit-penerbit lain memiliki kebijakan serupa, anda bisa berbelanja buku baru gratis setiap bulan dari banyak penerbit.

Untuk melihat-lihat buku terbitan Moka Media, klik di sini.

Menulislah Ringkas. Sampaikan Sekali Saja, dengan Tepat

Bapakku masih membaca kamus setiap hari. Ia bilang bahwa hidup kita tergantung pada kepiawaian kita menggunakan kata.

Arthur Scargill,
pemimpin buruh Inggris.

Kita menulis karena kita mencintai kata-kata: bagaimana ia terdengar, bagaimana ia menggetarkan pita suara kita, bagaimana ia membentuk kalimat dan memberikan makna terhadap keberadaan kita. Kata-kata adalah bayi yang kita lahirkan. Kita mestinya memperlakukan mereka sebaik-baiknya—tidak dengan cara teledor.

Pemborosan adalah sebuah bentuk keteledoran bagi seorang penulis, orang tua dari setiap kata-kata. Pengulangan-pengulangan yang tidak perlu menunjukkan bahwa kita tidak percaya pada kata-kata. Dengan demikian, kita juga menyangsikan kesanggupan pembaca kita untuk mencerna makna pada kesempatan pertama. Karena itu kita merasa perlu mengulang-ulang. Celakanya, setiap jenis pemborosan sering tidak menjadikan cerita bertambah baik, ia justru akan melemahkannya.

Mari kita lihat sebuah tulisan yang boros:
Rina duduk bersilang kaki di sofa besar. Ia merasa segalanya akan berubah. Ia membuka amplop dan mengintip isinya. Surat di dalam amplop itu terlipat rapi. Ia menarik keluar surat dalam amplop tersebut dan membukanya. Ia cemas akan isi surat tersebut. Ia khawatir bahwa Doni memutuskan hubungan mereka melalui surat tersebut. Tangannya gemetar membuka lipatan surat. Dengan perasaan tidak pasti ia membaca kalimat-kalimat yang akan mengubah hidupnya selama-lamanya. Segalanya tidak lagi seperti semula.
Pemborosan menyiksa kita. Apakah penulis menganggap bahwa pembacanya tidak mempunyai urusan lain sehingga ia tega menyuguhkan kepada pembaca kalimat yang diulang-ulang?

Dengan alasan apa pun, kita sebagai penulis tidak boleh menyiksa pembaca. Beri mereka kesenangan dan bukan sesuatu yang membosankan. Pilih kata yang paling tepat untuk menyampaikan apa yang anda inginkan. Dan sampaikan itu sekali saja. Tak perlu anda mengulang-ulang.

Kita harus meyakini bahwa setiap kata yang kita pilih akan menjalankan tugas sebaik-baiknya. Mari kita lihat lagi surat yang diterima oleh Rina dan apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki paragraf tersebut.
Rina duduk bersilang kaki di sofa besar dan mengintip isi amplop di tangannya. Ditariknya surat dari dalam amplop tersebut, lalu ia buka lipatannya. Jari-jarinya gemetar saat ia membaca kalimat demi kalimat yang akan membuat hidupnya berubah selamanya.
Paragraf itu rasanya lebih baik, namun anda mungkin merasakan bahwa geraknya terlalu cepat. Untuk lebih memperlambatnya, mungkin kita perlu menambahkan kalimat seperti ini:
• Ia mengusapkan telapak tangannya ke bajunya—baju pemberian Doni.
Atau kalimat yang melukiskan perasaan Rina:
• Ia merasa tak akan sanggup hidup tanpa Doni.
Atau kalimat lain lagi:
• Surat itu meruapkan aroma masa lalu. Rina menarik nafas panjang dan membayangkan Doni duduk di sebelahnya, memegang tangannya, mengusap tempurung lututnya, mengangkat jemari tangannya lalu menciumnya dengan lembut.
Di samping pemborosan dalam penuturan, yang menyebabkan cerita anda seperti berputar-putar, kemubaziran juga bisa terjadi dalam sebuah kalimat, misalnya:
• Hanya iblis semata yang tidak mau bersujud di hadapan manusia.
Yang benar: Hanya iblis yang tidak mau bersujud di hadapan manusia.
Atau: Iblis semata yang tidak mau bersujud di hadapan manusia.
• Sejak pagi ia tidak makan apa pun juga.
Yang benar: Sejak pagi ia tidak makan apa pun.
• Jumlah total orang di ruangan itu ada sepuluh orang.
Yang benar: Jumlah orang di ruangan itu ada sepuluh.
• Ia mendapatkan hadiah cuma-cuma sebuah arloji dari pemilik toko.
Yang benar: Ia mendapatkan hadiah sebuah arloji dari pemilik toko.
Untuk anda ingat: tulisan yang baik tidak menyediakan ruang untuk pemborosan.

(Sumber: “Creative Writing”, A.S. Laksana, diterbitkan oleh GagasMedia, 2013)

Tentang Nama Indonesia dan Kesengsaraan Hidup

*) Kolom Ruang Putih, Jawa Pos, Minggu, 23 Februari 2014
Kami membuat janji untuk bertemu Kamis pukul sepuluh siang di hotel Le Meridien tempatnya menginap. Pukul setengah sembilan di hari yang ditetapkan saya berangkat dari rumah, tersendat-sendat dua setengah jam di jalanan, dan pukul sebelas mengirimkan pesan singkat kepadanya: “Saya menunggu di tempat kita ngobrol kemarin malam.”

Arkand Bodhana Zeshaprajna, orang yang saya temui hari itu, memiliki pemikiran besar—atau sebuah tugas penting dari sudut pandangnya—untuk mengubah nama negara Republik Indonesia menjadi Nusantara. Itu sebuah keharusan, katanya, jika kita ingin menyelamatkan negeri dari keterpurukan terus-menerus, dan kehancuran.

Saya berniat mendengar lebih jauh dan lebih rinci darinya. Kebetulan hari Selasa lalu ia diundang ke kantor redaksi Tempo dan pada Rabu siangnya saya membaca berita di Tempo.co berjudul Timnas U-19 Gunakan Perhitungan Gaib. Judul itu membuat Arkand, sumber berita utama, kurang senang. “Dengan judul seperti itu saya dikesankan sebagai dukun,” katanya ketika kami bicara lewat telepon.  Beberapa waktu kemudian judul berita diganti menjadi Di Balik Kemenangan Tim U-19, Ada Hitung-Hitungan Metafisika.

Saya menunggunya di tempat teduh di tepi kolam renang hotel, di bawah atap bening yang dilapisi tanaman rambat yang sulur-sulurnya menjuntai ke bawah, menjadi dinding penahan sengatan matahari. Di depan saya duduk seorang lelaki yang tampak khusyuk dengan Ipad-nya. Wajahnya mengingatkan saya pada seorang kenalan dari Weleri, sebuah kota kecil 40-an kilometer sebelah barat Semarang. Saya ingin mendekatinya dan memperkenalkan diri, “Saya dari Semarang. Apakah Anda dari Weleri?” Namun ia kelihatan tak bisa diganggu. Telunjuk tangan kanannya sibuk menekan-nekan layar sentuh dengan hentakan penuh semangat. Saya yakin ia sedang bermain game. Sesekali saya mengarahkan mata kepadanya, sesekali memandangi situasi sekeliling, sesekali menoleh ke belakang. Suara pancuran air di kolam renang dan lagu-lagu dari speaker di atas kepala membikin saya mengantuk.

Kemudian muncul dua orang gadis kecil mendekati lelaki Weleri itu dan mereka bercakap-cakap dalam bahasa Malaysia. Ternyata si Weleri itu datang dari Malaysia. Ia memerintahkan kedua gadis kecilnya masuk lagi ke kamar.

Arkand datang menemui saya kira-kira pukul dua belas. Jadi, kami masing-masing terlambat satu jam. Saya terlambat satu jam dari pukul sepuluh. Ia muncul satu jam kemudian setelah menerima pesan singkat bahwa saya sudah tiba.

Dalam dua pekan terakhir, saya sudah tiga kali bertemu dengannya. Ini yang keempat. Mula-mula kami bertemu karena memenuhi undangan Butet Kartaredjasa yang menggelar forum kecil untuk memperkenalkan Arkand, lelaki Karo yang menetap di Yogya, kepada sejumlah orang. Ada Eros Djarot, Slamet Rahardjo Djarot, Goenawan Mohamad, Arswendo Atmowiloto, Sujiwo Tejo,  Agus Noor, dan lain-lain. Saya datang bersama kawan saya Hamid Basyaib.

Arkand mendalami metafisika, sudah dua puluh tahun lebih hingga sekarang menurut pengakuannya, dan ia mengkhususkan diri untuk mengkaji struktur nama dan tanggal lahir dan pengaruhnya pada jalan hidup si penyandang nama itu. Yang ia lakukan, katanya, adalah memetakan kode-kode pikiran yang melekat pada sebuah nama dan dari sana bisa dipahami bagaimana pikiran bekerja dan merespons situasi.

Saya nyaris tidak tahu apa-apa tentang metafisika dan hari itu hanya berniat mendengarkan penjelasannya dan memilih bersikap terbuka saja terhadap pemikiran-pemikiran yang saya terima.

Ia memberikan contoh metafisika dalam kedokteran modern. Ilmu kedokteran modern menyadari bahwa pada bulan purnama sebaiknya tidak pernah ada operasi besar, sebab pada waktu itu darah sulit mengering oleh pengaruh medan magnet yang terlampau besar karena posisi bulan sangat dekat dengan bumi.

“Di negara-negara maju patroli ditingkatkan pada malam bulan purnama, karena ada ketidakseimbangan emosional yang bisa menjadi pemicu tindak kejahatan,” katanya. Saya ingat kosakata lunatic, sinting, yang memiliki akar kata lunar, bulan. Purnama mungkin memang memicu kegilaan.

Dalam pertemuan sebelumnya, saya sepotong-sepotong mendengar tentang keterlibatannya dengan Tim U-19 yang menjuarai Piala AFF usia 19 tahun. Kepada pelatih, ia memberi saran untuk tidak mencantumkan nama Indonesia pada tim yang ditanganinya, karena struktur nama “Indonesia”  menurutnya buruk dan akan membawa risiko buruk jika dipakai. Sebagai gantinya ia membuatkan nama Garuda Jaya, yang dipakai sebagai nama tim U-19 hingga sekarang.

Tentang keterlibatannya dalam tim U-19 Garuda Jaya, Arkand menjelaskan bahwa itu dimulai dari kedatangan Indra Sjafri menemuinya. Saat itu Indra berkonsultasi tentang posisinya sebagai pelatih tim yang tidak aman karena belum ada kontrak resmi dengan PSSI. Setelah itu Indra memintanya sebagai penasihat yang ikut menentukan pemain mana yang harus dipasang dalam pertandingan Indonesia vs. Saudi Arabia, September 2012. Pertandingan itu dimenangi oleh Garuda Jaya dan selanjutnya Arkand terus terlibat dalam tim.

Indra Sjafri blusukan hingga ke pelosok-pelosok mencari calon pemain, melakukan penyaringan awal, dan pada seleksi terakhir Arkand ikut menentukan pemain-pemain mana saja yang bisa masuk tim inti berdasarkan struktur nama mereka. Dengan pengetahuan yang didalaminya tentang struktur nama, Arkand menargetkan Tim U-19 akan berkibar di Piala AFF 2013, AFC 2014, dan Piala Dunia U-20 di Selandia Baru, 2015.

Beberapa waktu sebelum bertemu Arkand, saya membaca buku The Luck Factor, yang ditulis oleh Richard Wiseman berdasarkan eksperimen-eksperimennya untuk mengamati dan memahami perilaku, kebiasaan, dan cara berpikir sejumlah orang yang ia pilah dalam dua kategori: mereka yang mujur dan mereka yang sial. Itu buku menarik yang memberi tahu kita kenapa orang-orang yang mujur cenderung bernasib baik dan kenapa orang-orang yang sial hampir selalu bernasib buruk. Wiseman merancang situasi dan menguji respons-respons alami setiap orang yang ia libatkan dalam penelitiannya dan dari sana ia merumuskan sejumlah faktor pembawa keberuntungan dan juga kesialan.

Saat Arkand memperkenalkan bahwa struktur nama menentukan perjalanan hidup seseorang, respons otomatis saya adalah mengumpulkan nama-nama sejumlah teman yang cukup saya kenali kehidupan mereka. Saya mencatat nama teman-teman yang cenderung bernasib baik dan teman-teman yang bernasib buruk dan menanyakan tanggal lahir mereka.

Dan, begitulah, orang-orang yang bernasib baik, struktur namanya selalu menunjukkan parmeter-parameter positif, atau tanpa kode merah pada hasil yang ditampilkan oleh peranti lunak yang dibikin sendiri oleh Arkand. Sementara orang-orang yang cenderung sial, struktur namanya selalu menghasilkan pembacaan yang buruk, dengan poin-poin negatif di sana-sini. Pembacaan terhadap nama orang yang saya kenal betul, yakni istri saya, menurut saya akurat.

Tentang nama, sejauh ini referensi saya hanya Shakespeare. Dalam cara yang sastrawi melalui drama Romeo and Juliet ia mengajukan pernyataan: “Apa arti sebuah nama? Mawar, disebut dengan nama apa pun, akan tetap mengeluarkan harum yang seperti itu juga.” Bagi Arkand, itu tidak benar. Nama adalah sesuatu yang sangat penting dan jika kehidupan Anda sengsara, bisa dipastikan struktur nama Anda buruk.

Begitu pula yang terjadi dengan nama Republik Indonesia. Dalam situsnya, Arkand menganalisis Republik Indonesia berdasarkan struktur namanya: “Synchronicity 0.5 telah menunjukkan bagaimana negara tidak mampu melihat dan memanfaatkan kesempatan dengan baik meski memiliki sumberdaya alam yang luar biasa. Coherence 0.2 juga telah menunjukkan bagaimana negara tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Adalah hal yang mengenaskan bahwa negara dengan garis pantai terpanjang nomor dua di dunia namun negara ini mengimpor garam (dan masih banyak sekali daftar ketidakmampuan sebagai negara).”

Nama yang baik bagi negeri ini menurutnya adalah Nusantara. Struktur nama ini tidak memiliki “angka merah” dan, dengan pengetahuan yang ia dalami, Arkand memastikan bahwa nama Nusantara akan membawa kehidupan yang lebih berkualitas bagi warga negaranya. Dengan nama ini secara alami kelak nama-nama warga negara akan menyelaraskan diri dengan struktur bagus nama negara yang menaungi mereka. Untuk saat ini, dengan nama Republik Indonesia, ia yakin bahwa kebanyakan nama warga negara berstruktur buruk.

Saya menutup pembicaraan dengan menanyakan apakah ia bersedia jika diminta kembali menjadi penasihat untuk Tim Garuda Jaya, sebab belakangan ia merasa dikecewakan dan memutuskan untuk tidak mau terlibat lagi dengan tim tersebut. “Saya senang kita saling membantu dan saya telah melakukan pekerjaan saya untuk tim ini tanpa minta dibayar,” katanya. “Tapi rupanya mereka menganggap saya tidak pernah ada di sana. Sekarang, kalaupun saya diminta terlibat lagi dengan tim, saya akan ringan hati melakukan sesuatu untuk negeri ini, namun saya perlu menyampaikan bahwa saya suka bekerja sama dengan orang-orang yang bisa menepati komitmen.”

Sore hari saya mengantarnya ke bandara. Ia pulang ke Yogya hari itu. Di dalam perjalanan, Mohamad Sobary meneleponnya, membicarakan soal nama juga. Adapun nama saya sudah ia bereskan lebih dulu karena mengandung sejumlah angka merah. Maka, Anda tahu, kini nama saya sudah berstruktur sangat bagus: Satya Laksana. Atau mungkin Satya Jiwa Laksana.***

33 Tokoh Sastra, Sebuah Kejahatan Kultural

*) Kolom Ruang Putih, Jawa Pos Minggu, 19 Januari 2014 

Ada satu adegan dalam novel Il Postino, karya penulis Cile Antonio Skarmeta, yang selalu saya ingat. Suatu hari Komite Sentral Partai Komunis mengirimkan telegram menunjuk penyair Pablo Neruda sebagai kandidat presiden untuk pemilu tahun 1970. Itu penunjukan yang membikin Neruda cemas. Mario Jimenez, tukang pos yang mengantarkan telegram, memperhatikan perubahan paras muka si penyair.

“Tentu menakjubkan untuk ditunjuk,” kata Neruda, “tapi apa jadinya kalau aku menang?”

“Tentu saja anda pasti terpilih, Don Pablo. Semua orang kenal anda. Di rumah, ayah saya cuma punya satu buku dan itu karangan anda.”

“Lalu kenapa?”

“Apa maksud anda dengan ‘Lalu kenapa’? Ayah saya buta huruf dan ia menyimpan salah satu buku anda. Artinya, kita pasti menang.”

Pada tahun 1970, anda tahu, Partai Komunis Cile akhirnya menunjuk Salvador Allende sebagai kandidat presiden dan ia memenangi pemilihan yang demokratis. Namun kekuasaannya tak bertahan lama.  Amerika dan CIA menggulingkannya. Pablo Neruda terpilih sebagai pemenang Nobel Sastra tahun berikutnya dan dalam novel itu digambarkan bagaimana rakyat Cile berpesta, bahkan di warung-warung kecil, untuk menyambut kemenangan penyair kebanggaan mereka.

Saya setia menyimpan gambaran seperti itu dalam benak, yakni bahwa suatu hari semua orang Indonesia akan berpesta merayakan kemenangan penulis Indonesia. Saya membayangkan situasi yang riuh rendah menyambut prestasi yang memang membanggakan.

Sampai saat ini belum ada situasi semacam itu dan saya tetap menyimpan gambar tersebut di dalam benak saya. Memang ada keriuhan di awal tahun ini, tetapi itu keriuhan yang memalukan dalam sastra, yakni terbitnya buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Sejumlah teman melancarkan petisi dan pernyataan sikap menolak buku itu dan membacakannya hari Jumat lalu di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, tempat di mana buku tersebut diluncurkan. Mereka menyebut buku itu berpotensi menyesatkan publik, mencederai integritas dan moral ahli sastra dan sastrawan serta masyarakat Indonesia, dan dapat menjadi preseden buruk.

Olok-olok di media sosial juga ramai. Seseorang menulis di twitter: “33 tokoh sastra = 32 + Denny JA. Yang 32 bisa siapa saja.” Saya sepakat.

Jadi, untuk memilih 32 nama, para penyusun buku itu bisa berdebat tiga hari tujuh malam dan bila perlu berendam sampai pagi pada malam terakhir di sebuah sendang di kaki gunung. Yang sudah pasti adalah satu nama: Denny JA.

Dan satu nama inilah yang pada akhirnya menjadi biang keriuhan. Denny adalah seorang warga negara yang memiliki hasrat besar untuk diakui sebagai pelopor di bidang apa saja yang ia geluti. Ia konsultan politik yang urusan utamanya membuat publik melihat bahwa elektabilitas kliennya makin meningkat. Anda bisa juga menyebut bahwa usahanya adalah melakukan rekayasa untuk membentuk persepsi orang tentang kliennya. Dengan kata lain, ia serupa orang yang berdagang ular dan membuat publik yakin bahwa ularnya paling ganas.

Pertanyaannya, kenapa nama Denny JA bisa ada di dalam daftar tokoh sastra paling berpengaruh? Oh, tentu saja karena Denny menghendaki hal itu dan ia memiliki uang untuk mewujudkan keinginannya. Dan untuk itu ia hanya memerlukan orang-orang yang sudi bekerja mewujudkan keinginannya. Dan orang-orang itu adalah yang kemudian disebut Tim 8. Mereka terdiri atas Jamal D. Rahman, Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Berthold Damshauser, Nenden Lilis Aisyah, Joni Ariadinata, Ahmad Gaus, dan Maman S. Mahayana.

Saya yakin ini adalah proyek yang sudah ada dalam rancangan Denny sejak awal, sejak terpikir olehnya untuk menerbitkan buku kumpulan puisi, yang ia sebut puisi-esai. Ketika menerbitkan buku itu, 2012, Denny meminta beberapa nama besar dalam sastra Indonesia—Sapardi Djoko Damono, Ignas Kleden, dan Sutardji Calzoum Bachri—untuk membuat tulisan mengiringi buku kumpulan puisinya. Kurang lebih seperti seorang penganten imut minta diiringi oleh para raksasa. Saya tahu satu orang lagi yang juga dia minta menulis ulasan tentang puisi-puisinya dan orang ini menyampaikan kritik keras. Tulisan itu tidak dipakai, tetapi si penulis tetap dibayar.

Setelah terbitnya buku tersebut, pelbagai kegiatan diadakan, di antaranya lomba menulis resensi, lomba penulisan puisi esai, pembacaan puisi, dan sebagainya. Berbagai artikel kampanye puisi esai terbit di Jurnal Sajak dan majalah sastra Horison. Setelah itu muncul juga buku-buku kumpulan puisi esai yang kebanyakan diterbitkan oleh Jurnal Sajak. Ini semacam pekerjaan propaganda untuk menggemparkan dan mempengaruhi kesadaran publik tentang kelahiran puisi-esai, sebuah “genre baru sastra Indonesia” (itu klaim yang disebutkan di sampul bukunya), dengan Denny JA sebagai pelopornya.

Kampanye terus berlanjut. Kelima puisi Denny yang ada dalam kumpulan itu difilmkan. Dalam situsweb tentang puisi esai, yang saya yakin didanai oleh Denny JA, kita akan menjumpai keterangan: “puisi-puisi esai karya Denny JA ini juga ditransformasikan ke dalam film di mana penulisnya, Denny JA, menggaet sineas kenamaan Hanung Bramantyo sebagai co-produser.” Selain difilmkan, diproduksi juga video klip pembacaan puisi oleh Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, Niniek L Karim, Sudjiwo Tedjo, dan Fatin Hamama.

Jadi, penerbitan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh tidak lain adalah kelanjutan belaka dari propaganda-propaganda yang sudah dilakukan sebelumnya, yang sekarang kita tahu tujuannya: ialah mengukuhkan nama Denny JA sebagai seorang pelopor dalam kesastraan Indonesia. Karena itulah, mau tidak mau, nama Denny harus masuk, sebab itu missi utama proyek penerbitan buku ini. Jika namanya tidak dimasukkan ke dalam daftar, saya kira Denny tidak akan membatalkan proyek tersebut. Atau bisa saja mencari operator-operator lain, jika ia tetap menghendaki dirinya disebut sebagai tokoh sastra paling berpengaruh. Mungkin ia bisa mengalihkan proyeknya kepada Masyarakat Sastra Kulon Kali atau Penggiat Sastra Kolong Jembatan atau Jemaat Sastra Kantong Semar, untuk membuat pengkajian tentang tokoh-tokoh sastra paling berpengaruh dan menerbitkan buku sembari menunjukkan kerendahan hati dalam pengantar dengan mencantumkan frase: “tidak dimaksudkan sebagai karya ilmiah.

Apakah Denny melakukan kejahatan dalam hal ini? Saya tidak ingin mengatakan sejauh itu. Ia saya kira hanya ingin menunjukkan bahwa jalan untuk menjadi tokoh sastra bisa dibangun dengan cara mudah, semudah ia meningkatkan elektabilitas para politisi yang menjadi kliennya—asal uangnya ada. Menurut saya kejahatan yang cukup berat dalam proyek "33 Tokoh Sastra" ini adalah Jamal D. Rahman melakukan manipulasi dan mencatut nama Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dan menjadikannya alat legitimasi untuk pekerjaan nista yang ia lakukan bersama teman-temannya di TIM 8. Itu jika pengakuan Maman S. Mahayana, salah satu anggota tim, bisa dipercaya.

Dalam pernyataannya kepada situsweb Teras Lampung, Maman menyampaikan: "Disebutkan dalam e-mail, 'Kegiatan ini secara formal dilaksanakan oleh PDS HB Jassin. PDS HB Jassin telah memberikan mandat kepada Jamal D. Rahman untuk mengoordinasi kegiatan dimaksud.'”

Itu klaim yang ditolak oleh Ariany Isnamurti, Kepala Pelaksana Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Secara tegas ia menyampaikan bahwa dirinya ataupun PDS HB Jassin tidak pernah memberikan penghargaan sedemikian besar kepada ke-33 orang tersebut. “Kegiatan ini sama seperti kegiatan peluncuran buku pada umumnya. Kami hanya fasilitator tempat kegiatan dan buku-buku yang dibutuhkan oleh tim 8 sebagai bahan riset/penelitian,” tuturnya.

Dengan semua yang saya sampaikan dalam tulisan ini, saya hanya ingin menghargai protes teman-teman yang meminta buku itu ditarik peredarannya. Beberapa teman mengatakan apakah tidak lebih baik buku itu dianggap sebagai sebuah proyek lucu-lucuan saja, atau sebagai sebuah guyon kere dari seseorang yang memiliki banyak uang. Saya pikir tidak bisa begitu. Ini sebuah proyek ambisius. Sesuatu yang didesain secara sungguh-sungguh dan untuk itulah Denny JA mengeluarkan dana. Mungkin saja buku itu nanti akan didiskusikan di 20 atau 30 atau 50 kampus di seluruh Indonesia—Denny punya uang untuk membiayai panitia-panitianya. Mungkin juga ia diupayakan untuk dibawa ke Frankfurt Book Fair 2015, di mana Indonesia menjadi tamu kehormatan.

Semua kemungkinan itu sangat bisa dilakukan, sebab terbukti Denny mampu membiayai pelbagai ikhtiar propagandanya. Saya bahkan mendengar bahwa tidak lama lagi akan diterbitkan buku baru yang memuat perdebatan tentang tokoh berpengaruh ini. Sekiranya buku semacam itu benar-benar diterbitkan dan tulisan ini akan disertakan karena membahas buku tersebut, saya menyatakan menolak.

Saya tidak ingin punya sangkut paut, dalam bentuk apa pun, di dalam ikhtiar-ikhtiar propaganda dan pemberian legitimasi dan upaya memanipulasi kesadaran publik. Menurut saya yang telah mereka lakukan adalah salah satu bentuk kejahatan kultural. ***

Catatan Sekilas tentang Sastra Indonesia Mutakhir

Catatan ini adalah bagian dari tulisan lebih panjang, yang sudah saya selesaikan beberapa waktu lalu. Saya akan senang jika tulisan ini dimaknai sebagai sumbangan seorang pembaca yang menaruh harapan untuk kebaikan sastra Indonesia. Bagian utuhnya, yang lebih detail, akan saya tampilkan juga nanti di blog ini sebagai catatan akhir tahun. Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari tulisan ini. Salam. A.S. Laksana

---

SEBAGAI pembaca, saya orang yang setia menunggu dan terus menaruh harapan, waktu demi waktu, akan lahirnya karya sastra Indonesia yang layak disetarakan dengan karya-karya para penulis terbaik luar negeri. Demi gampangnya, katakanlah, setara dengan karya-karya para pemenang Nobel Sastra. Karena itu saya bahagia sekali ketika Amba terbit dan mendapatkan pujian setinggi langit. Demikian juga ketika Pulang terbit. Itu dua novel mutakhir yang banyak dibicarakan orang.

Beberapa kali terlibat dalam urusan penjurian karya-karya fiksi, baik untuk buku yang sudah diterbitkan maupun naskah-naskah yang belum diterbitkan, yang segera tampak mencolok adalah kenyataan ini: kebanyakan penulis kita tidak memiliki kecakapan yang memadai untuk menyampaikan gagasan mereka ke dalam karya fiksi yang mereka tulis. Saya membayangkan hal itu serupa kita maju ke medan perang dengan persenjataan dan amunisi seadanya, atau bahkan dengan tangan kosong. Kurang lebih seperti gambaran yang ditanamkan di dalam benak kita melalui pelajaran sejarah bahwa para pahlawan kita mengusir penjajah dengan bersenjatakan bambu runcing.

Kebanyakan penulis kita juga adalah orang-orang yang berperang dengan menggenggam bambu runcing. Ada hasrat besar untuk menyampaikan masalah-masalah semesta, dan itu adalah hasrat yang tidak didukung oleh teknik yang memadai, dengan kecakapan yang pas-pasan saja. Hasilnya adalah karya yang seadanya.

Di luar mereka, di pihak pembaca, masih saja saya dengar pernyataan apriori bahwa karya sastra adalah karya yang ruwet dan susah dicerna. Pernyataan itu menyampaikan pesan implisit bahwa sastra adalah sesuatu yang tinggi sekali dan tidak terjangkau oleh orang kebanyakan. Dalam pengalaman saya, sesuatu menjadi sangat ruwet ketika saya tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk memahaminya. Misalnya, persamaan-persamaan matematika bagi saya adalah sesuatu yang ruwet sekali karena saya tidak mendalami bidang itu.

"Dalam pengalaman saya, sesuatu menjadi sangat ruwet ketika saya tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk memahaminya. Misalnya, persamaan-persamaan matematika bagi saya adalah sesuatu yang ruwet sekali karena saya tidak mendalami bidang itu."

Jadi ada dua masalah penting yang layak dikaji jika kita membicarakan sastra Indonesia, yakni masalah di pihak pembaca dan masalah di pihak penulis. Apa yang membuat para penulis kita sedemikian tidak terampil bercerita dan apa yang terus-menerus menghidupkan pandangan bahwa karya sastra adalah sesuatu yang ruwet?

Secara umum, baik penulis maupun pembaca adalah orang-orang yang dibesarkan dalam situasi pendidikan yang kurang lebih serupa. Pelajaran sastra, pada masa saya sekolah, memberi tahu bahwa susastra adalah seni berbahasa indah dan bahasa sastra adalah bahasa yang berbeda dari bahasa keseharian. Maka diberikanlah contoh-contoh syair para penulis zaman dulu, juga sinopsis Sitti Nurbaya dan kawan-kawan seangkatannya dan sejumlah hal yang mesti dihapal tentang pengarang dan karyanya dan angkatan-angkatan yang ada dalam sejarah sastra Indonesia. Dan saya membuat kesimpulan: seperti itulah karya sastra. Kalau saya berniat menulis sastra, kurang lebih saya harus membuat karya yang seperti itu.

Buku pelajaran sastra sekarang tampaknya agak berbeda. Ia punya banyak kemauan dan cerewetnya minta ampun. Saya berani mengatakan bahwa buku pelajaran sastra Indonesia saat ini adalah buku paling cerewet yang pernah saya baca. Dengan buku semacam itu, anda bisa bilang bahwa sastra diajarkan di sekolah-sekolah dalam cara yang tidak sastrawi sama sekali dan dengan penuturan yang tidak mengenal metafora dan implikasi. Metode pengajaran sastra di sekolah-sekolah itu mengingatkan saya akan kondisi masyarakat negeri Bonga, sebuah negeri fiktif, dalam kolom Umberto Eco. Di negeri Bonga, kata Eco, segala benda atau tindakan harus dijelaskan. Di setiap rumah ada tulisan “Ini rumah” dan setiap orang yang berniat tertawa saat melihat acara lelucon akan memberi tahu lebih dulu: “Karena ini acara lelucon, maka saya tertawa.”

Seperti itulah situasi yang saya temui di dalam buku pelajaran sastra Indonesia untuk kelas VII (SMP). Semua yang ingin dicapai melalui pelajaran sastra disampaikan oleh para penulis buku pelajaran tesebut. Mereka seperti takut jangan-jangan para siswa tidak tahu tujuan mempelajari kesastraan. Maka segala hal diterangkan dalam cara yang lugu dan dalam rumusan yang membuat siswa tidak menjadi lebih paham tentang apa yang dirumuskan. Misalnya, "dongeng adalah cerita yang penuh keajaiban dan mengandung pesan moral yang baik. Dongeng harus disampaikan dalam urutan yang baik." Dan seperti apa urutan yang baik? “Urutan yang baik, berkaitan dengan alur cerita. Alur cerita harus berjalan dengan baik sehingga ceritanya menjadi jelas ketika didengar.”

Kemudian ketika mereka menjelaskan buku anak, mereka menyampaikannya seperti ini: “Buku cerita anak adalah bacaan sastra yang diperuntukkan bagi anak. Tokoh, alur, tema, latar, dan amanat disesuaikan dengan perkembangan mental dan emosi anak.”

Dalam penjelasan tentang alur cerita yang baik, anda tidak pernah tahu seperti apa “alur cerita yang berjalan dengan baik” atau urutan yang baik itu dimulai dari mana dan diakhiri di mana. Dalam penjelasan tentang bacaan anak, anda tidak mendapatkan pemahaman lebih tentang cerita anak. Cara buku itu menyampaikan, sama dengan jika kita mendengar orang menjelaskan bahwa air adalah benda cair; jika dipanaskan, air bisa mendidih; jika didinginkan di dalam kulkas, air bisa membeku.”

Pesan moral dalam karya seperti ditegaskan sebagai inti pelajaran sastra. Setiap tulisan yang dijadikan contoh, disebutkan pesan moralnya, seolah para penyusun buku itu cemas bahwa murid-murid akan keliru memahami pesan moral cerita-cerita yang mereka jadikan contoh. Mereka tidak pernah memahami bahwa menuliskan pesan moral dalam cerita adalah tindakan membatasi kemampuan berpikir atau berimajinasi anak-anak. Setiap orang akan menemukan pemahaman sendiri berdasarkan pengalaman masing-masing, yang berbeda satu sama lain. Kebebasan menafsir semacam itu tak pernah mendapatkan ruang dalam buku pelajaran yang ceriwis.

Maka, pembaca sastra kita adalah orang-orang yang sejak kecil sudah dicekoki dengan keyakinan bahwa karya sastra adalah sebuah karya yang mengandung pesan moral. Bertahun-tahun kemudian, jika mereka tidak segera menemukan pesan moral dalam cerita-cerita yang mereka baca, mereka akan langsung mengatakan bahwa sastra adalah karya yang ruwet.

"...pembaca sastra kita adalah orang-orang yang sejak kecil sudah dicekoki dengan keyakinan bahwa karya sastra adalah sebuah karya yang mengandung pesan moral. Bertahun-tahun kemudian, jika mereka tidak segera menemukan pesan moral dalam cerita-cerita yang mereka baca, mereka akan langsung mengatakan bahwa sastra adalah karya yang ruwet."
Murid-murid sekolah, yang disuntik dengan keyakinan semacam itu, bertahun-tahun kemudian ada juga yang menjadi penulis, ada yang menjadi pembaca, namun sebagian besar tidak pernah menjadi pembaca maupun penulis. Mereka yang menulis, sebagian mengamalkan ajaran dari buku-buku pelajaran yang mereka terima ketika sekolah, menjadi para pendakwah pesan moral, sebagian memberontak. Dan keduanya melakukan itu semua dengan kecakapan yang tidak memadai, sebagaimana yang saya sampaikan di awal tulisan ini.

Bahkan pada karya-karya terkini yang dipuji begitu melambung oleh beberapa orang, misalnya Amba karya Laksmi Pamuntjak dan Pulang karya Leila S. Chudori, tampak juga sejumlah kelemahan penggarapan. Saya tidak ingin mengagung-agungkan urusan teknik penulisan. Bagaimanapun, itu hanya urusan teknik dan orang dengan mudah bisa menyepelekan bahwa teknik adalah hal yang membelenggu imajinasi. Bagi para medioker mungkin teknik memang membelenggu. Namun di tangan para maestro, yang sangat menguasai teknik, biasanya teknik justru menghilang dan yang muncul adalah keindahan. Jika apa-apa yang bersifat teknis masih menonjol, maka anda tahu bahwa penulisnya adalah anak sekolahan atau ia baru mulai belajar menulis.

Amba, yang dipuji keindahan bahasanya (Bambang Sugiharto dalam tulisannya di Kompas menyebutnya sebagai karya dengan mutu “world class”), bisa dengan gampang kita ketahui bahwa ia dituturkan dalam teknik Goenawan Mohamad bertutur. Hal ini kita bisa temui di halaman pertama dan di halaman mana pun dari novel tersebut.

“Di Pulau Buru, laut seperti seorang ibu: dalam dan menunggu. Embun menyebar seperti kaca yang buyar, dan siang menerangi ladang yang diam. Kemudian malam akan mengungkap apa yang hilang oleh silau.” (Laksmi Pamuntjak)

“Bintang pagi: seperti sebuah sinyal untuk berhenti. Di udara keras kata-kata berjalan, sejak malam, dalam tidur: somnambulis pelan, di sayap mega, telanjang, ke arah tanjung yang kadang menghilang.” (GM)

Keterpengaruhan adalah hal yang jamak dalam penulisan, sebagaimana juga dalam bidang-bidang kreatif lain seperti musik, seni lukis, drama, dan sebagainya. Dalam menulis Amba, entah disadari entah tidak, Laksmi tampaknya memilih mengadopsi semua teknik bertutur GM. Tentang kenapa ia memilih gaya penuturan GM, dan bukan Gerson Poyk atau Hamsad Rangkuti, untuk menyampaikan Amba, itu hak Laksmi sepenuhnya. Ia memiliki pertimbangan tersendiri apakah lebih baik bertutur menirukan orang lain atau memunculkan suaranya sendiri.

Masalahnya ia berupaya terlalu keras merias bahasa dan abai terhadap sejumlah elemen lain dalam penceritaan. Amba menjadi gagal dalam penokohan karena pengarangnya terasa mendesakkan kehadiran, dan terus-menerus menitipkan suaranya, di dalam novel itu. Jika anda membaca teliti, anda akan dengan mudah mendapati bahwa karakter Amba tidak berbeda, atau sudah menjadi seperti itu, baik baik ia berumur delapan, dua belas, maupun enam puluh dua tahun. Mungkin semenjak lahir sudah begitu, karena sering dalam beberapa penuturan saya jumpai juga pernyataan “Amba tahu semenjak lahir….

Catatan lain, ia tersandung-sandung di sejumlah urusan detail. Kekeliruan dalam detail ini merupakan kecelakaan fatal ketika ia dimaksudkan, atau dikesankan, sebagai novel “realistik”, yang berhasrat mengungkap “kebenaran sejarah”.

Gangguan serius saya rasakan juga saat membaca Pulang. Mengandalkan kekuatan presentasi pada plot, Pulang menjadikan karakter-karakter di dalamnya tampil seperti wayang belaka dan di dalamnya banyak adegan percintaan yang berlangsung gampangan dan bisa terjadi di sembarang tempat--dengan beberapa kali terjadi adegan tokoh lelaki "mengangkat dagu" dan melumat tokoh perempuan--serupa film Hollywood. Seperti ingin menempatkan diri di seberang Amba, Leila menegaskan bahwa ia antipuisi. Namun, persoalan pada Pulang bukan apakah ia anti atau pro-puisi. Dalam membaca novel itu saya beberapa kali tersandung oleh pemerian-pemerian yang tidak pas dan pameran referensi yang memberikan kesan snob. Simak kutipan berikut:

“Seperti jala hitam yang mengepung kota; seperti segalon tinta yang ditumpahkan seekor cumi raksasa ke seluruh permukaan Jakarta.” (Saya kaget pada pemerian tentang malam yang sudah turun ini. Cukupkah hanya segalon tinta untuk menghitamkan seluruh permukaan Jakarta?) Jika tidak hati-hati, anda tahu, hasrat untuk memegahkan bahasa sering membuat penulisnya tersandung sendiri. Lebih serius dari itu, pemerian saya kira juga harus mempertimbangkan nalar.

“Aku masih mendengar siulan gerobak putu yang kini seperti memainkan ‘Miroirs’ dari Ravel. Mengapa bukan ‘Bolero’, aku tak paham.” (Terus terang, saya juga tak paham kenapa bunyi monoton siulan putu itu memilih memainkan Ravel dan bukan Koes Plus atau Orkes Keroncong Gaya Baru Malam. Dan sampai cerita itu berakhir, saya tetap tidak mendapatkan penjelasan kenapa suling putu itu seperti memainkan ‘Miroirs’ dari Ravel. Dan apa guna ia memainkan komposisi itu dalam cerita ini?)

Harapan saya mulai kendor tentang Amba dan Pulang. Tetapi saya terus menamatkannya, saya bahkan membaca Amba berkali-kali, dan mendapati bahwa kedua novel tersebut tampaknya berangkat dari prasangka bahwa segala yang berbau negara, atau siapa pun yang ada hubungannya dengan negara, adalah buruk dalam segala hal, baik pikiran, tindakan, maupun penampilan fisik. Maksud saya, kedua novel itu membuat generalisasi tentang negara dan setiap figur yang menjadi bagian dari “negara” itu. Generalisasi adalah gangguan serius dalam penulisan fiksi dan ini sering menghinggapi para penulis yang dipenuhi keprihatinan besar akan kondisi masyarakat dan sikap kritis terhadap negara, namun tidak memiliki cara berbeda untuk menyampaikannya.

Dengan perlawanan keras terhadap negara, yang  dianggap keliru memperlakukan orang-orang yang bukan komunis atau “belum komunis”, tanpa disadari tiba-tiba mereka menjadi pendukung asumsi kuno Cesare Lombroso tentang manusia penjahat. Dalam bukunya yang terbit tahun 1876 berjudul L'uomo delinquente (Manusia Penjahat), Lombroso menyebutkan ciri-ciri manusia penjahat sebagai berikut: memiliki rahang yang luar biasa besarnya, memiliki tulang pipi yang tinggi, ada tonjolan melengkung pada alis, ada garis-garis yang tegas pada telapak tangan, rongga matanya sangat besar, tidak memiliki kepekaan terhadap rasa nyeri, penglihatannya sangat tajam, memiliki kegemaran menato tubuh, kemalasannya sungguh berlebihan, memiliki kesukaan terhadap pesta gila-gilaan, dan keinginannya untuk menumpahkan darah sungguh tak tertahankan. Masih ada satu ciri lagi, telinganya berbentuk gagang wajan. Konon telinga gagang wajan ini lazim terdapat pada para penjahat, orang primitif, dan kera. Pendeknya, para penjahat biasanya memiliki anggota-anggota tubuh yang ukurannya melenceng dari ukuran manusia normal.

Kebanyakan film kacangan Hollywood adalah pendukung gagasan Lombroso dalam menggambarkan karakter orang jahat, juga fiksi-fiksi lain yang dipengaruhi oleh film-film Hollywood. Tapi tidak semua begitu; film-film Hollywood yang baik tidak menggunakan stereotipe itu untuk menampilkan manusia penjahat. Don Vito Corleone, misalnya, adalah sosok yang tampan dan kharismatik dan selalu menampakkan perangai lembut. Dan ia orang jahat yang mengerikan. Stereotipe orang jahat dalam novel Amba dan Pulang, dalam hal ini orang-orang di pihak negara, memang tidak digambarkan dalam detail yang pengukurannya oleh Lombroso melibatkan peralatan meteran dan jangka, tetapi mereka nyaris selalu digambarkan buruk lahir dan batin.

Kedua novel yang kita bicarakan itu mengolah peristiwa 1965, sumber utama cerita-cerita politik kita. Saya sesungguhnya agak bosan dengan tema itu dan berharap bahwa situasi-situasi politik mutakhir kita juga bisa menjadi bahan cerita yang menarik di tangan para penulis. Kenapa peristiwa-peristiwa hari ini tidak mampu melahirkan karya-karya yang menarik? Saya curiga bahwa kecakapan teknik untuk itu tidak memadai. Ketidakcakapan mengolah bahan yang dipungut dari situasi hari ini hanya akan melahirkan karya-karya yang seperti laporan jurnalistik, tetapi tidak bisa dipercaya fakta-faktanya.

Okky Madasari adalah salah satu yang rajin mengolah situasi masyarakat kita hari ini dan memfiksikannya—dan tahun lalu ia mendapatkan penghargaan Khatulistiwa Literary Award untuk kerajinannya melalui novel Maryam. Okky tampaknya menulis dengan hasrat besar untuk membuat pembacanya terharu. Termasuk dalam Maryam. Ia cenderung mengolah fakta, bahan tulisannya, menjadi melodrama. Dan melodrama pada umumnya adalah drama yang memang dimaksudkan untuk menguras air mata.

Dengan catatan semacam ini terhadap novel-novel yang dipuji beberapa orang sebagai karya bagus, dan tanpa niat untuk membuat generalisasi bahwa mereka mewakili mutu kebanyakan karya sastra Indonesia, saya tetap mencoba mempertahankan harapan saya akan lahirnya karya yang betul-betul bagus suatu saat nanti. Jika anda punya harapan sama dengan saya, tampaknya kita harus bersabar untuk itu, sampai kita tahu bagaimana cara terbaik mengajarkan sastra kepada anak-anak. Pengajaran yang baik sejak kanak-kanak akan membuat mereka tumbuh dengan pemahaman yang lebih beres tentang sastra, dan kelak mereka bisa menulis dengan wawasan yang lebih kaya, dan dengan kecakapan yang lebih memadai. [*]

Bagaimana mengirimkan proposal novel ke penerbit atau agen naskah

Kita mempunyai cerita yang menarik menurut kita dan ingin menawarkannya ke penerbit atau agen naskah. Dalam industri perbukuan yang sudah lebih maju, biasanya proposal dikirimkan ke agen naskah (literary agent), sebab penerbit biasanya tidak menerima naskah langsung dari penulis. Jika bisa, bikinlah proposal anda dengan perwajahan yang menarik.

Proposal penerbitan novel yang saya sampaikan di kelas penulisan Jakarta School adalah seperti ini:

Judul: “Seto dan Putri yang Terpenjara di Langit”
Oleh A.S. Laksana
Jalan Udang Galah 22 A, Cempaka Putih,
Kampung Utan, Ciputat
Telp. 0879.83793XXX

Pembaca yang Disasar
Siapa yang akan membeli buku ini dan mengapa mereka membeli? Spesifiklah dan beri alasan sebanyak mungkin kepada penerbit atau agen kenapa orang-orang ini akan membeli buku ini jika mereka tahu buku semacam ini ada.

Promosi
Apa yang akan kita lakukan untuk membuat buku kita sukses di pasaran? Sampaikan kepada penerbit atau agen apa rencana promosi kita. Jangan berpikir bahwa penerbit akan memperhatikan promosi buku kita dan kita menganggap tugas seorang penulis melulu menghasilkan buku bagus. Penerbit akan lebih suka jika penulis tahu bagaimana dan dengan cara apa saja ia akan Kita akan mempromosikan bukunya.

Kompetisi
Sampaikan kepada penerbit atau agen naskah buku-buku apa yang akan menjadi kompetitor buku kita. Buku apa yang sudah terbit lebih dulu dengan tema yang kurang lebih serupa dengan buku kita? Sebut secara rinci buku-buku tersebut. Ini akan meyakinkan bahwa kita sudah melakukan penelitian serius terhadap buku-buku pesaing. Kemudian sampaikan kepada penerbit atau agen naskah kenapa semua buku itu akan keok dan kenapa buku kita lebih baik ketimbang semua buku sejenis yang sudah ada di pasaran.

Biodata Penulis
Biodata bukan kisah hidup, ini hanya catatan ringkas yang membuat kita dipercaya oleh penerbit sebagai orang yang memiliki otoritas untuk menulis buku yang kita tawarkan.

Sinopsis

Bab 1
Seto, si pemalas, diminta ibunya mengerjakan hal yang sepele. Namun ini tugas sepele yang akan menyulitkan si pemalas itu. Ia diminta menjual sapi untuk mendapatkan uang. Alih-alih mendapatkan uang, ia kehilangan sapi dan pulang ke rumah hanya membawa segenggam kacang polong dan janji ajaib tentang harta karun di langit. Di puri yang ada di langit, seorang gadis sedang terpenjara oleh kebodohannya sendiri. Gadis ini ditawan oleh raksasa. Dan ada seorang anak kecil sedang memanjat dinding menuju langit.
  • Tentang keajaiban dan janji rahasia tentang kekayaan
  • Tokoh kita bertarung melawan kegelisahannya sendiri dan masa depan yang muram.
  • Setting surealis tentang puri dan teror yang menanti Seto.
  • Peran penting yang akan dimainkan oleh lelaki kecil pemanjat dinding.

Bab 2
Ibu Seto muak pada anaknya. Ia sering mengolok-olok dan melecehkan anaknya, bahkan dalam mimpi-mimpi si bocah. Setiap malam Seto selalu dihantui mimpi buruk. Namun suatu malam mimpinya berbeda. Ia mulai bermimpi tentang perempuan cantik. Dan terjadilah keajaiban, si gadis yang ada dalam mimpi Seto pada saat yang sama mendapati mimpi serupa. Di sebuah kolam kecil, seorang lelaki kecil berpakaian hijau melihat bayangan yang tak ia kenali. Ia merambat menuruni bukit karang untuk mengejar bayangan itu dan hampir terjatuh dalam proses itu.
  • Seto memiliki kemampuan yang jauh di luar anak-anak normal.
  • Gadis itu melihat kebebasan dan memahami apa maknanya.
  • Ada sesuatu yang menakutkan di kantung kecil yang dibawa oleh lelaki berbaju hijau.
  • Dan sebagainya.

Itu contoh sinopsis dua bab. Sinopsis bab-bab kita harus sangat menarik, sangat menggoda sehigga siapa pun yang membacanya akan tertarik untuk melanjutkan... atau ingin melanjutkan. Poin-poin di bawah sinopsis ringkas adalah hal yang dimaksudkan untuk membuat pembaca proposal ini penasaran tentang apa saja yang ada dalam cerita dan mendorong orang ingin tahu bagaimana selengkapnya.

Bab Contoh
Jika ada, sertakan dua bab yang sudah anda tulis. Bisa bab mana saja dan tidak harus bab 1 dan bab 2. Bisa saja bab 1 dan bab 12 jika anda mau. Tujuannya adalah membuktikan bahwa kita bisa menulis cukup baik dan mampu menyelesaikan buku tersebut.

Salam,
A.S. Laskana

Anak-anak Kita

*) Kolom di Tabloid Investigasi, 30-8-2006
BANGUN kesiangan dengan hidung mampet dan kepala sedikit memberat, saya meneruskan kemalasan saya dengan menggelosor begitu saja di lantai ruang tengah. Anak saya sedang menyaksikan film kartun di sebuah saluran televisi; ia tampak begitu khusyuk dan mengantuk. Setelah film kartun itu, muncullah Presiden SBY di layar. Di hadapannya ada seorang anak perempuan kecil berambut tebal, menggenggam sebuah mikrofon yang sedikit kebesaran, dan berlagak sebagai wartawan. Anak itu menanyakan apa rahasianya sehingga Pak Presiden bisa menjadi presiden.

“Olahraga, membaca, dan... naik gunung,” kata Pak Presiden.

Jawaban yang bagus! Mata saya menjadi lebih segar karenanya, hidung saya yang mampet segera ngocor. Dan perhatian saya betul-betul tersedot oleh acara itu.  Wawancara tersebut dilakukan di alam terbuka. Pak Presiden tampak rapi, kalem, dan makmur; ia didampingi oleh istrinya yang berparas bahagia dan marem dan tidak bicara apa-apa.

Kini saya sudah sangat sehat, seolah-olah baru menenggak seliter obat flu, dan sudah sangat siap mengikuti secara serius tanya jawab itu. Sungguh menyenangkan bisa melihat bagaimana wartawan kanak-kanak itu mengajukan pertanyaan dan bagaimana Pak Presiden menyampaikan jawaban yang kekanak-kanakan. Saya menduga ia ingin tampak imut di mata bocah yang mewawancarainya.

Wawancara itu ternyata hanya singkat; si wartawan kecil hanya mengajukan satu pertanyaan lagi setelah pertanyaannya yang pertama. Pertanyaannya yang kedua adalah apa pesan Pak Presiden kepada anak-anak seluruh Indonesia.

“Kita harus rajin berolahraga dan taat beragama. Insyaallah kita akan menjadi pemimpin,” kata Presiden.

Itu wawancara yang betul-betul membikin penasaran. Saya tidak tahu tanya-jawab singkat itu ditujukan untuk siapa. Ia disiarkan di stasiun televisi anak-anak, tetapi anak saya tidak menikmatinya. Jika itu sebuah kampanye, saya juga gagal menduga itu kampanye untuk tujuan apa. Tetapi saya yakin itu acara penting, paling tidak bagi Pak Presiden dan istrinya, sebab ada anak-anak di sana.

Anak-anak, anda tahu, memang merupakan perangkat yang lazim ditenteng-tenteng oleh para politisi. Mereka sering dijadikan barang display—atau alat untuk “berjualan”. Sesungguhnya sudah lama saya ingin menyerukan kepada lembaga apa saja yang memiliki kepedulian terhadap anak, “Tolong disetop kecenderungan untuk menjadikan anak-anak sebagai “perangkat” berjualan. Pak Harto di masa lalu senang berfoto bersama anak-anak. Mbak Tutut juga. Ibu Megawati, bekas presiden kita, pada masa kampanye pemilihan presiden juga menghambur-hamburkan poster dirinya sedang menggendong anak Papua. O, mereka terlalu mengeksploitasi anak-anak.

Dalam pikiran saya, penampilan Ibu Mega di poster itu serupa dengan penampilan seorang eksekutif muda pada sebuah iklan koper. Lelaki dalam iklan itu berparas tampan, berkulit bersih, raut mukanya cerah, dan ia menjinjing koper. Di langit ada pesawat melintas. Bandingkan dengan poster Ibu Mega dan lihatlah anak Papua yang digendongnya itu setara benar dengan koper yang dijinjing oleh si eksekutif muda. Ia dijinjing untuk menyarankan maksud tertentu.

Memang, jika anda seorang politisi dan berhasrat menjadi presiden atau demang atau apa pun, anda tentunya harus tampak baik pada anak-anak. “Publik tidak akan menyukai anda jika anda melihat anak-anak dengan cara yang skeptis,” kata Milan Kundera, novelis Cek yang kini menetap di Perancis. Dalam sebuah novelnya, The Unbearable Lightness of Being, Kundera tidak menggambarkan anak-anak sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para politisi. Ia menceritakan anak-anak yang suka menyiksa burung gagak. Di novel itu pula, seorang perempuan berkata kepada pasangannya, “Aku bersyukur bahwa kau tidak menginginkan anak.”

Berbeda dari para politisi yang ingin terlihat penyayang, dalam novel itu Kundera tampak seperti orang yang anti-anak-anak. “Tidak seperti itu sesungguhnya,” katanya dalam sebuah wawancara di New York Times, Minggu 19 Mei 1985. “Saya bukan anti-anak-anak. Tetapi pandangan yang berlebihan terhadap anak-anak membuat saya jemu.”

Penulis Cek itu terusir dari tanah kelahiran setelah terjadinya invasi kaum Stalinis Rusia ke Cekoslowakia. Di negerinya yang baru, Kundera menjumpai pelbagai klise: sebelum pemilu, semua partai politik memasang poster anak-anak. “Di mana-mana terdengar slogan tentang masa depan yang lebih baik dan di sana-sini dipajang foto anak-anak yang tersenyum, berlari-larian, dan bermain-main,” katanya.

Sayangnya, demikian Kundera, masa depan kemanusiaan bukanlah masa kanak-kanak melainkan usia dewasa. Humanisme sejati suatu masyarakat terkuak melalui sikap masyarakat tersebut terhadap usia dewasa. “Dan usia dewasa,” katanya, “satu-satunya masa depan yang kita hadapi, tidak akan pernah ditunjuk-tunjukkan dalam poster propaganda mana pun. Dari kelompok kiri maupun kanan.”

Dengan perspektif Kundera, maka anda akan melihat bahwa di negeri kita usia dewasa adalah masa depan yang kalut dan kanak-kanak adalah sampah yang bertebar di pelbagai perempatan jalan. Dan keduanya tak mungkin tertolong oleh ajakan Pak Presiden untuk lari pagi tiap hari atau mendaki gunung tiap pekan dan... jadi pemimpin.

Setelah menonton wawancara singkat Pak Presiden dengan anak-anak, saya meraih sebuah koran dan menemukan di sana berita tentang suami, seorang anggota polisi, yang menembak mati istrinya, seorang anggota TNI AD, dan kemudian menembak dirinya sendiri. Anak mereka yang masih kecil menangis.

Masa depan semacam itu, anda tahu, tidak pernah diungkapkan dalam poster-poster propaganda. Juga tak ditanyakan oleh si “wartawan” bocah kepada presiden yang ia wawancarai. [*]



Surat Terbuka untuk Presiden

Pak Presiden,

Ini surat pertama saya kepada anda dan sesungguhnya saya ingin menulis surat kepada anda setiap hari. Saya pernah membaca surat terbuka macam ini yang ditulis oleh kolumnis Art Buchwald yang jenaka ketika Richard Nixon menjadi Presiden Amerika Serikat. Waktu itu Buchwald mengatakan, “Pak Presiden, dengan surat ini saya ingin menyampaikan kepada anda bagaimana cara memimpin negara. Berbahagialah anda karena saya tidak memungut biaya sama sekali untuk nasihat yang saya berikan, sebab saya merasa bahwa sudah menjadi tugas saya sebagai warga negara untuk membantu Presiden mengatasi pelbagai masalah yang muncul hari ini.”

Itu sikap yang baik dan, terus-terang, saya ingin menirunya. Karena itu saya juga tidak akan memungut biaya atas apa yang saya sampaikan kepada anda melalui surat ini.

Yang pertama, Pak Presiden, saya pikir sudah saatnya bagi anda untuk berhenti memikirkan pencitraan diri. Sulitnya menjadi presiden yang terlalu menjaga citra adalah anda bisa menjadi tampak lamban karenanya. Hal yang sama dialami oleh seorang perempuan yang terlalu menjaga penampilan. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di salon untuk menyasak rambut atau memotong kuku atau melentikkan bulu mata, hanya demi sebuah keputusan sepele: menghadiri kondangan.

Saya kira anda perlu sedikit rileks, tetapi jangan pula terlalu guyon. Seorang presiden yang senang guyon akan menimbulkan masalah tersendiri, bagi dirinya dan bagi negeri yang dipimpinnya. Gus Dur pernah membuktikan itu. Saya kadang senang dengan guyonannya, tetapi para politisi di gedung DPR pada masa itu pastilah tidak suka dibilang sebagai sekumpulan anak TK. (Sekarang banyak orang yang membenarkan pernyataan Gus Dur itu, terutama karena sampai hari ini perilaku anggota DPR masih seperti balita.)

Namun, terlalu diam juga bisa merepotkan. Kita telah mengalami masa pemerintahan oleh presiden yang sepertinya mengamalkan petuah “pendiam adalah emas” dan anda sendiri pernah melakukan pembelotan pada presiden yang seperti itu. Peristiwa tersebut menyebabkan Ibu Mega sampai hari ini terus menampakkan ketidaksukaannya terhadap anda, bahkan sampai pada sikap dan kekeraskepalaan politik yang terasa tidak masuk akal. Tapi itu urusan Ibu Mega sendiri, bukan urusan bangsa ini.

Yang lebih perlu anda perhatikan, Pak Presiden, rakyat sudah memilih anda untuk kali kedua. Saran saya, sungguh-sungguhlah menjadi sahabat mereka. Ini saran yang serius, sebab beberapa waktu sebelum kampanye pemilihan presiden, saya membaca kisah Pak Mayar, seorang petani kecil di daerah Gunung Putri, Bogor. Dua hal dalam kisah itu sangat mengesankan saya. Pertama, pak tani itu punya nama yang bagus, “mayar” dalam bahasa Jawa berarti mudah (meskipun hidupnya sama sekali tidak mudah). Kedua, di rumah Pak Mayar ini anda pernah mengadakan pertemuan untuk menggalang dukungan semasa kampanye pemilihan presiden yang pertama dulu.

Menurut apa yang saya baca, di rumah itu anda menjanjikan 3 hal jika anda terpilih menjadi presiden: yaitu pengaspalan jalan, pembangunan sekolah, dan pengadaan saluran irigasi. Dan, anda menjadi presiden. Dua janji pertama terwujud, yang ketiga tidak. Jalanan diaspal dan sebuah SMA dibangun, tetapi tak ada pembangunan saluran irigasi.

Dengan dua janji terpenuhi, setidaknya anda bisa mengatakan bahwa Pak SBY tidak melupakan sama sekali janjinya. Namun ada yang meleset di sini. Pemenuhan dua dari tiga janji itu ternyata nyaris tak ada manfaatnya bagi Pak Mayar dan orang-orang yang selevel dengannya. Jalanan beraspal hanya berfungsi semakin memperlancar proses pencaplokan tanah warga oleh orang-orang kaya dari kota. Mereka membeli lahan para petani dan membangun perumahan di sana. Sedangkan sekolah SMA tak pernah bisa dimasuki karena terlalu mahal. Bahkan cucu Pak Mayar pun tak pernah bisa bersekolah di sana. Dan berapa uang masuk yang dianggap terlalu mahal itu? “Satu setengah juta rupiah,” kata Pak Mayar. “Saya tidak mampu menyediakan uang sebanyak itu.”

Mari kita akui bersama bahwa uang sejumlah itu memang sangat besar bagi sebagian besar rakyat di negeri ini. Sejumlah orang bahkan rela mati demi berebut uang derma Rp20 ribu. Selanjutnya, mudah-mudahan tidak ada kemelesetan semacam itu lagi dalam upaya anda memenuhi janji, dalam skala luas, bagi rakyat yang telah memilih anda.

Terakhir, saya berharap anda sigap merespons orang-orang yang saat ini menuntut anda membuktikan jargon kampanye anda “menegakkan hukum tanpa pandang bulu”. Mereka sekarang meminta anda bersikap tegas untuk mengamankan KPK, institusi yang telah memberikan kredit tersendiri pada citra positif pemerintahan anda, dari upaya-upaya untuk melemahkan fungsinya.

Tentang hal-hal yang menyangkut upaya pelemahan KPK, saya ingin mengingatkan bahwa anda harus mewaspadai omongan-omongan di belakang anda. Ketika besan anda Aulia Pohan dijadikan tersangka oleh KPK karena kasus korupsi, saya ingat pernah mendengar guyonan dari seorang teman, yang dekat dengan lingkaran anda, bahwa tak boleh ada kejadian seperti ini. Katanya, kalau besan saja dijadikan tersangka, “moral pasukan” bisa runtuh, dong. Yang dimaksudkan pasukan di sini, anda pasti tahu, adalah orang-orang yang berjejalan mendukung anda—dengan dana, tenaga, maupun manuver politik. “Harus dikasih peringatan KPK ini,” kata teman saya itu.

Sekarang, dengan KPK dibikin sempoyongan seperti ini, saya tidak heran jika ada anggapan bahwa “pasukan” yang cemas itu sudah bergerak. Dan saya harus menyampaikan bahwa sikap diam anda justru akan menguatkan anggapan itu. Apalagi kabarnya ada rekaman lain, saya baca di The Jakarta Post minggu lalu, yakni antara Susno Duadji, para jaksa, dan pejabat-pejabat lain yang menyebut-nyebut “Blue Sky”—konon itu nama sandi untuk Ibu Negara—dalam percakapan telepon mereka mengenai Bank Century.

Saya tidak melarang anda menjadi orang yang pemaaf. Tetapi jangan sering-sering memberi maaf untuk hal-hal yang tidak mendidik. Pemberian maaf kepada Ong Juliana Gunawan dan Anggodo Widjojo dalam kasus yang anda sebut sendiri sebagai “pencatutan nama” sungguh merupakan tindakan yang bisa membuat pikiran semakin gelap. Kasus lain, saya tetap tidak habis pikir bagaimana Zaenal Maarif, yang membuat anda marah dua atau tiga tahun lalu karena mengumbar omongan bahwa anda sudah menikah dan punya anak ketika menjadi taruna Akabri, pada pemilu terakhir bisa banting setir menjadi kader dan caleg Partai Demokrat.

Sungguh saya tidak paham model rekrutmen politik di negeri ini. Terlalu banyak kutu di tubuh partai-partai dan mereka bisa meloncat-loncat dari satu partai ke partai lain dengan keringanan yang tak tertahankan. Kalau para kader partai saja tidak peduli dengan konten politik partai-partai mereka, sebetulnya rakyat disuruh memilih apa dalam pemilu?

Pak SBY, saya akan mengakhiri surat ini dengan kalimat menghibur yang menunjukkan bagaimana orang Amerika memandang kualitas presiden-presiden mereka. Penuturan anonim itu berbunyi begini: “Roosevelt memberi bukti bahwa orang bisa menjadi presiden seumur hidup; Truman memberi bukti bahwa semua orang bisa menjadi presiden; dan Eisenhower memberi bukti bahwa kita tidak memerlukan presiden.”

Saya tidak ingin mengkopi frase terakhir dan mengganti nama Eisenhower dengan siapa pun nama presiden kita. Sesungguhnya yang saya inginkan adalah sebuah frase lain yang memberi bukti bahwa seorang presiden bisa benar-benar menjadi sahabat orang miskin.

Salam dari saya.
A.S. Laksana

-------

Tulisan ini dimuat pertama kali di rubrik "Ruang Putih", Jawa Pos Minggu, 15 November 2009

Chairil Anwar berguru nyolong pada Muhammad Yamin

Perihal colong-menyolong buku, kita pernah punya dua raja. Raja pertama adalah Chairil Anwar. Raja kedua Muhammad Yamin. Haus akan bacaan, Chairil tak pernah ragu mencuri buku milik siapa saja. Yang jadi langganannya adalah sebuah toko milik orang Belanda. Siasatnya sungguh jitu: ia memacari salah seorang penjaga toko tersebut sehingga pengawasan tak terlalu ketat. Kadang ia diam-diam merobek halaman-halaman buku di rak toko atau buku milik kawannya.

Muhammad Yamin punya kebiasaan serupa. Ia tak pernah melewatkan sedikit pun kesempatan untuk menilep buku milik siapa saja.

Suatu hari "Paduka Yang Mulia" Chairil Anwar mengundang "Baginda Raja" Muhammad Yamin untuk datang ke rumahnya. Ia letakkan sebuah buku di atas meja dan kemudian pura-pura tidak tahu apa yang bakal dilakukan oleh Yamin. Tentu saja Yamin tidak menyia-nyiakan sebuah buku tergeletak begitu saja di atas meja.

"Chairil bukannya tidak tahu bukunya dicolong Yamin," kata Nursjamsu, salah seorang penulis kawan dekat Chairil, sebagaimana dikutip majalah Sarinah, Mei 1986. "Ia pernah bilang sama saya bahwa ia ingin tahu bagaimana caranya Yamin nyolong buku."

Karena itu tak apalah mengorbankan sebuah buku demi menimba ilmu. [*]

(Sumber: majalah Sarinah, Mei 1986. Kliping artikel majalah ini ada di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta.)

Kenapa kebanyakan penulis sungkan mengkritik karya penulis lain?

Dalam buku Nancy McPhee The Bumper Book of Insults, yang berisi kumpulan cemooh oleh orang-orang terkenal (politisi, penulis, musisi, dan sebagainya), kita bisa menjumpai pelbagai pendapat sengit dari seseorang tentang orang lain atau karyanya. Banyak pendapat jenaka di sana, banyak perumpamaan cerdas mengenai seseorang, dan kita bisa tertawa sebagaimana kita spontan tertawa melihat orang lain tertimpa kesialan.

Sebagai contoh, perhatikan kutipan pernyataan Mark Twain ini: “Prosa Edgar Allan Poe tidak bisa dibaca—persis plek dengan prosa Jane Austen. Oh, tidak, ada satu perbedaan. Saya bersedia membaca Poe kalau dibayar, tetapi tidak untuk Jane.”

Atau pernyataan Tennesse Williams tentang Truman Capote: “Saya selalu bilang bahwa Si Imut Capote ini memiliki frekuensi suara yang terlalu tinggi sehingga hanya kelelawar yang bisa menikmatinya.”

Atau pendapat Oscar Wilde tentang George Meredith: “Gaya menulisnya semrawut, semacam kegelapan yang sesekali diterangi oleh sambaran petir. Sebagai penulis ia ampuh dalam segala urusan kecuali bahasa. Sebagai novelis ia bisa mengerjakan apa saja kecuali bercerita. Sebagai seniman ia segalanya kecuali dalam soal pengungkapan gagasan.”

Truman Capote, si Imut, tidak kalah lucunya ketika bicara tentang On the Road karya Jack Kerouac: “Itu bukan tulisan, itu ketikan saja.”

Membaca kumpulan pernyataan yang sejenis itu, saya mengira bahwa orang-orang di Barat sana selalu bisa enteng sekali dalam menyampaikan pendapat tentang orang-orang lain berkenaan dengan karya-karya mereka. Memang benar bahwa mereka lebih enteng menyampaikan pendapat ketimbang kita. Tetapi rupanya tidak enteng-enteng amat. Sekarang bahkan muncul gejala sungkan di antara sesama penulis untuk menulis kritik. Hal ini saya baca dari sebuah artikel yang judulnya, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kurang lebih seperti judul catatan ini.

Pertanyaan utama yang dilontarkan oleh penulis artikel: Kenapa mereka sungkan?

Jawaban-jawaban di bawah ini adalah ringkasan seenak udel saya sendiri atas sembilan kemungkinan yang disampaikan dalam artikel tersebut:

  • Karena takut dianggap dengki pada karya orang lain. Biasanya si penulis itu cemas kalau-kalau ada yang memberi komentar: “Sirik tanda tak mampu.”
  • Karena ia tidak tahu betul apa yang harus dikritik dari karya orang lain itu.
  • Karena takut bahwa kritiknya akan merusak pertemanan sepanjang hayat.
  • Karena lebih enak menyampaikan kritik secara lisan ketimbang secara tertulis. Misalnya, anda sedang ngobrol-ngobrol di warung kopi bersama beberapa teman, lalu ada yang bertanya: “Bagaimana menurutmu novel si C?” Lalu anda menjawab: “Oh, itu novel yang perlu dibaca oleh siapa pun yang ingin memperkuat keyakinan bahwa sesungguhnya ada 1.001 hal yang lebih bermanfaat untuk dilakukan ketimbang menulis novel semacam itu.”
  • Karena beriman pada prinsip sesama bis kota dilarang saling mendahului.
  • Karena ada perasaan tidak pantas menyerang karya sesama penulis.
  • Karena takut dimusuhi oleh orang-orang lain, terutama kelompok pemuja penulis tersebut.
  • Karena takut pada anggapan bahwa penulis yang mengkritik karya penulis lain diam-diam tengah mengunggulkan karyanya sendiri.
  • Karena orang merasa lebih nyaman memuji ketimbang mengkritik.

Artikel itu kemudian menyodorkan satu pertanyaan lain: Lantas, bagaimana cara membuat penulis-penulis yang sungkan itu menjadi lebih berani bersuara?

Dan inilah jawabannya:

  • Mereka perlu diberi tahu bahwa saling mengkritik itu bagus bagi pembaca.
  • Mereka perlu diberi tahu bahwa saling mengkritik itu bagus bagi peningkatan mutu karya masing-masing—kalau yang dikritik mau meningkatkan diri. Penulis yang matang tahu itu, penulis yang tidak matang akan menganggap kritik adalah serangan terhadap pribadi.
  • Mereka perlu tahu bahwa pujian dari pengamat, atau komentar di sampul belakang buku, seringkali berkebalikan dengan komentar pembaca.
  • Mereka perlu diberi tahu, bagaimanapun, bahwa khalayak perlu juga membaca pendapat--tentang sebuah novel misalnya--dari perspektif orang lain yang menekuni wilayah penulisan yang sama.
  • Terakhir, orang-orang yang gemar merasa sungkan itu perlu diberi tahu bahwa penulis bukanlah bis kota.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design