Minggu lalu saya dan Linda Christanty bersepakat melakukan kolaborasi dalam waktu antara enam bulan sampai satu tahun untuk penulisan novel. Linda yang menulis novel dan ia akan melibatkan saya untuk membicarakan rancangan novelnya, membaca draft tiap-tiap bab yang ia rampungkan, dan menjadi editor untuk keseluruhan naskahnya. Dan kami berencana membuat catatan berkala tentang perkembangan kolaborasi ini.
Sesungguhnya kerjasama macam ini adalah hal yang lazim dalam tulis-menulis. Ada penulis, ada editor. Mereka bisa berdiskusi untuk menemukan kemungkinan terbaik bagi karya yang sedang dikerjakan. Mereka bahkan bisa saling debat: tentang plot, tentang karakter, atau bahwa bagian ini perlu dibuang dan bagian itu perlu digarap lebih baik lagi, dan sebagainya. Yang jelas, penyuntingan oleh editor adalah ikhtiar penting untuk membuat sebuah karya menjadi lebih bagus. Seorang penulis yang sudah matang tahu akan hal ini, ia tidak menganggap tulisannya adalah ayat-ayat suci yang terlarang diutak-atik. Seorang editor juga tahu bahwa urusannya adalah bekerja sama dengan penulis untuk menghadirkan sebuah karya dalam kemungkinan terbaiknya.
Kerjasama kami akan sedikit melampaui urusan penulis-editor, sebab, sebagaimana sudah dinyatakan di atas, saya dan Linda sudah akan duduk bersama sejak tahap perancangan, dan seterusnya, sampai editing akhir dan novel siap diterbitkan.
Hari Sabtu, 18 Mei 2013, kami memulai program kami dengan mengidentifikasi, semampu kami, aspek-aspek apa saja yang membuat karya para penulis seperti Kafka, James Joyce, Hemingway, Faulkner, Garcia Marquez, Tolstoy, Albert Camus, dll. menjadi karya-karya yang abadi dalam pembicaraan di kalangan para kritikus dan pembaca sastra. Kami membicarakan antara lain konteks sosial-politik saat karya-karya itu diterbitkan, juga situasi umum kesusastraan pada waktu-waktu mereka berkarya, kemudian apa yang membuat karya mereka mencuat. Kira-kira seperti yang dilakukan sebuah klub sepakbola untuk mengintip kekuatan klub lain sebelum mereka bertanding. Dan, sebagaimana kesepakatan kami sejak awal, urusan intip-mengintip ini lebih banyak akan menjadi urusan saya. Urusan Linda adalah menulis novelnya.
Dalam pertemuan pertama, pembicaraan kami fokuskan pada novel One Hundred Years of Solitude karya Gabriel Garcia Marquez. Novel itu mencengangkan pembaca AS ketika pertama kali diterbitkan oleh penerbit Argentina tahun 1967, juga menakutkan karena situasi perang dingin dan Marquez berada di sayap komunis. Setelah kejayaan Hemingway, Faulkner, Dos Passos, selanjutnya pembaca hanya disuguhi karya-karya yang, menurut pengamatan sejumlah kritikus, lembam dan tak bertenaga. Situasi itu membuat kritikus sastra Leslie Fiedler menyatakan, “Novel sudah mati.”
Di tengah situasi lembam ini, Garcia Marquez membuat hentakan spektakuler dengan novel Solitude, sebuah dongeng panjang dan berliku-liku tentang keluarga Buendia di Macondo. “Ini karya besar dan kompleks yang mencakup setiap aspek kehidupan manusia, dan dituturkan dalam struktur dan kecakapan yang setara dengan Herman Melville, James Joyce, Marcel Proust, William Faulkner, atau Vladimir Nabokov di puncak kehebatan mereka,” kata penulis Gene H. Bell-Villada.
Solitude, matahari terang yang menyingkirkan musim dingin di dunia sastra pada waktu itu, dituturkan dalam prosa yang jernih dan mudah dipahami, dengan ketakjuban murni pada segala keajaiban, dan dengan selera humor yang cerdas untuk menyampaikan kegagalan sebuah bangsa di masa lalu. Ia memukau pengamat dan memberi kegembiraan kepada para pembaca jelata. Ia seperti sejarah Amerika Latin versi Garcia Marquez.
Begitulah, kemarin kami memulai urusan kami dengan membuat pengamatan lebih dulu.
Kami membicarakan Solitude, sebuah novel besar yang menggarap tema politik, terutama karena daya tarik craftmanship-nya. Ia menuturkan perang saudara, pemogokan buruh, represi militer, dan pelbagai gejolak lainnya, dan Garcia Marquez menyampaikannya dalam kepiawaian seorang pendongeng ulung, seorang penulis dengan kemahiran teknik dan kejernihan bertutur, dan seorang jenius dalam berhumor. Sebagai penulis, Garcia Marquez sangat memahami watak kekuasaan di Amerika Latin, mengenali ceruk terdalamnya, dan karena itu ia begitu fasih bermain-main dengan bahan yang digarapnya. Ia bisa dengan enak menceritakan infiltrasi kaum konservatif di Macondo, kediktatoran revolusioner Arcadio yang gegap gempita, manuver licik dan retorika populis seorang tiran buta huruf, sampai cinta palsu seorang pelacur keji yang kemudian menjadi nenek. Ia mengaduk segala kemungkinan dan ketidakmungkinan, kekacauan sosial-politik, tragedi, dan menyajikan pelbagai perangai komikal dalam kesungguhan yang inosens—ia mengubah obsesi-obsesi naif menjadi sesuatu yang nyata dalam keseharian orang-orang Macondo.
Dalam novel ini Garcia Marquez menunjukkan penguasaan teknik menulis yang begitu lengkap dan ia menerapkannya dengan keluwesan seorang maestro. Jadi, ia patut kami pelajari secara sungguh-sungguh. Apa yang kami lakukan ini tidak lain adalah untuk menegaskan sebuah pengakuan: Kita belajar dari para maestro sebelum kita—melalui karya-karya mereka. Pada kesempatan selanjutnya, sambil membuat langkah maju untuk program kami, kami akan mempelajari karya para penulis lain.
Salam.
A.S. Laksana
NB: Kami terbuka terhadap masukan dari teman-teman. Karena itu merasalah ringan untuk menyampaikan pendapat atau usulan kepada kami berkenaan program kolaborasi ini.
Sesungguhnya kerjasama macam ini adalah hal yang lazim dalam tulis-menulis. Ada penulis, ada editor. Mereka bisa berdiskusi untuk menemukan kemungkinan terbaik bagi karya yang sedang dikerjakan. Mereka bahkan bisa saling debat: tentang plot, tentang karakter, atau bahwa bagian ini perlu dibuang dan bagian itu perlu digarap lebih baik lagi, dan sebagainya. Yang jelas, penyuntingan oleh editor adalah ikhtiar penting untuk membuat sebuah karya menjadi lebih bagus. Seorang penulis yang sudah matang tahu akan hal ini, ia tidak menganggap tulisannya adalah ayat-ayat suci yang terlarang diutak-atik. Seorang editor juga tahu bahwa urusannya adalah bekerja sama dengan penulis untuk menghadirkan sebuah karya dalam kemungkinan terbaiknya.
Kerjasama kami akan sedikit melampaui urusan penulis-editor, sebab, sebagaimana sudah dinyatakan di atas, saya dan Linda sudah akan duduk bersama sejak tahap perancangan, dan seterusnya, sampai editing akhir dan novel siap diterbitkan.
Hari Sabtu, 18 Mei 2013, kami memulai program kami dengan mengidentifikasi, semampu kami, aspek-aspek apa saja yang membuat karya para penulis seperti Kafka, James Joyce, Hemingway, Faulkner, Garcia Marquez, Tolstoy, Albert Camus, dll. menjadi karya-karya yang abadi dalam pembicaraan di kalangan para kritikus dan pembaca sastra. Kami membicarakan antara lain konteks sosial-politik saat karya-karya itu diterbitkan, juga situasi umum kesusastraan pada waktu-waktu mereka berkarya, kemudian apa yang membuat karya mereka mencuat. Kira-kira seperti yang dilakukan sebuah klub sepakbola untuk mengintip kekuatan klub lain sebelum mereka bertanding. Dan, sebagaimana kesepakatan kami sejak awal, urusan intip-mengintip ini lebih banyak akan menjadi urusan saya. Urusan Linda adalah menulis novelnya.
Dalam pertemuan pertama, pembicaraan kami fokuskan pada novel One Hundred Years of Solitude karya Gabriel Garcia Marquez. Novel itu mencengangkan pembaca AS ketika pertama kali diterbitkan oleh penerbit Argentina tahun 1967, juga menakutkan karena situasi perang dingin dan Marquez berada di sayap komunis. Setelah kejayaan Hemingway, Faulkner, Dos Passos, selanjutnya pembaca hanya disuguhi karya-karya yang, menurut pengamatan sejumlah kritikus, lembam dan tak bertenaga. Situasi itu membuat kritikus sastra Leslie Fiedler menyatakan, “Novel sudah mati.”
Di tengah situasi lembam ini, Garcia Marquez membuat hentakan spektakuler dengan novel Solitude, sebuah dongeng panjang dan berliku-liku tentang keluarga Buendia di Macondo. “Ini karya besar dan kompleks yang mencakup setiap aspek kehidupan manusia, dan dituturkan dalam struktur dan kecakapan yang setara dengan Herman Melville, James Joyce, Marcel Proust, William Faulkner, atau Vladimir Nabokov di puncak kehebatan mereka,” kata penulis Gene H. Bell-Villada.
Solitude, matahari terang yang menyingkirkan musim dingin di dunia sastra pada waktu itu, dituturkan dalam prosa yang jernih dan mudah dipahami, dengan ketakjuban murni pada segala keajaiban, dan dengan selera humor yang cerdas untuk menyampaikan kegagalan sebuah bangsa di masa lalu. Ia memukau pengamat dan memberi kegembiraan kepada para pembaca jelata. Ia seperti sejarah Amerika Latin versi Garcia Marquez.
Begitulah, kemarin kami memulai urusan kami dengan membuat pengamatan lebih dulu.
Kami membicarakan Solitude, sebuah novel besar yang menggarap tema politik, terutama karena daya tarik craftmanship-nya. Ia menuturkan perang saudara, pemogokan buruh, represi militer, dan pelbagai gejolak lainnya, dan Garcia Marquez menyampaikannya dalam kepiawaian seorang pendongeng ulung, seorang penulis dengan kemahiran teknik dan kejernihan bertutur, dan seorang jenius dalam berhumor. Sebagai penulis, Garcia Marquez sangat memahami watak kekuasaan di Amerika Latin, mengenali ceruk terdalamnya, dan karena itu ia begitu fasih bermain-main dengan bahan yang digarapnya. Ia bisa dengan enak menceritakan infiltrasi kaum konservatif di Macondo, kediktatoran revolusioner Arcadio yang gegap gempita, manuver licik dan retorika populis seorang tiran buta huruf, sampai cinta palsu seorang pelacur keji yang kemudian menjadi nenek. Ia mengaduk segala kemungkinan dan ketidakmungkinan, kekacauan sosial-politik, tragedi, dan menyajikan pelbagai perangai komikal dalam kesungguhan yang inosens—ia mengubah obsesi-obsesi naif menjadi sesuatu yang nyata dalam keseharian orang-orang Macondo.
Dalam novel ini Garcia Marquez menunjukkan penguasaan teknik menulis yang begitu lengkap dan ia menerapkannya dengan keluwesan seorang maestro. Jadi, ia patut kami pelajari secara sungguh-sungguh. Apa yang kami lakukan ini tidak lain adalah untuk menegaskan sebuah pengakuan: Kita belajar dari para maestro sebelum kita—melalui karya-karya mereka. Pada kesempatan selanjutnya, sambil membuat langkah maju untuk program kami, kami akan mempelajari karya para penulis lain.
Salam.
A.S. Laksana
NB: Kami terbuka terhadap masukan dari teman-teman. Karena itu merasalah ringan untuk menyampaikan pendapat atau usulan kepada kami berkenaan program kolaborasi ini.


Bidadari yang Mengembara, KataKita 2004 (Buku sastra terbaik 2004 oleh Majalah Tempo) | Creative Writing, Mediakita 2005 | Podium DeTIK, Kumpulan kolom Podium di tabloid DeTIK | Medan Perang, cerita bersambung di Koran Tempo | Ular di Tapak Tangan, cerita bersambung di Suara Merdeka | Festival sastra Winternachten 2006, Den Haag, Belanda | 







