Alit dan Nita dan Kencan yang Mematikan

SYEKH membakar diri bersama para pengikutnya di ladang jagung dan aku sangat berharap orang itu bukan Alit. Namun, bagaimanapun, ada perasaan cengeng yang susah diingkari, yang muncul begitu saja saat aku berjumpa dengannya dan melihat pelupuk matanya beberapa bulan lalu. Itu pelupuk mata Alit. Ia terlalu dekat denganku, lebih dekat ketimbang urat leherku sendiri, dan sekarang aku membenci Nita, penyanyi panggung yang menurutku telah menyebabkan jalan hidup Alit berkelok-kelok dan berakhir dengan membakar diri.

Dan ini tafsirku tentang perempuan yang kubenci itu: Nita datang dari Pacitan.

Memang ini bukan tafsir finalku tentang Nita, namun aku cenderung meyakini kebenarannya. Setidaknya aku sudah menggunakan lebih dari satu metode untuk menafsir asal muasal gadis itu. Pertama, dengan intuisi atau katakanlah sebuah getar dalam hati, sesuatu yang kaupercaya akan menuntunmu pada kebenaran sekalipun kau tidak tahu bagaimana ia bekerja. Cara menggunakannya sederhana, jika intuisimu mengatakan bahwa Nita berasal dari Pacitan, maka seperti itulah kenyataannya.

Kedua, dengan imajinasi kreatif, sebuah metode yang diperkenalkan oleh Goran Vekaric, pertapa abad kedua puluh dari Semenanjung Balkan. Para pengikutnya atau mereka yang membaca bukunya mengamalkan metode Goran untuk melacak siapa mereka di kehidupan yang lalu. Aku menggunakannya untuk melacak masa lalu Nita. Berulang kali aku duduk bersila di dalam kamar membayangkan Nita, mengingat-ingat ratapnya di panggung, suara dangdutnya, bentuk wajahnya, lekuk pinggulnya, jenis kulitnya, kukunya, dan logat bicaranya. Dengan semua yang melekat padanya saat ini, kau bisa menarik gambaran diri gadis itu mundur satu tahun, dua tahun, tiga tahun, lima tahun, sepuluh tahun, hingga dua puluh tahun dan kau akan menjumpai kanak-kanak khas Pacitan. Kau bisa menjumpai banyak kanak-kanak semacam itu sedang bermain dan berteriak di jalan-jalan pada sore hari sekiranya kau melintasi daerah tersebut dari arah Wonogiri menuju Ponorogo atau sebaliknya.

Ketiga, aku mengumpulkan semua kisah, baik dari koran, majalah, maupun kabar burung, tentang penyanyi kafe. Ini kuperlukan untuk mendapatkan gambaran paling persis mengenai Nita. Sejarah berulang, kata orang, dan Nita mungkin sedang mengulang potongan-potongan sejarah dari para pendahulunya, penyanyi-penyanyi kafe lain yang sudah meratap sebelum Nita.

Sekarang, aku akan memulai dari nama, sebab sejarah selalu bermula dari nama-nama, dan izinkan aku meralat lebih dulu dugaanku yang keliru tentang nama Nita. Lima tahun lalu, di tempat minum itu, aku menduga bahwa nama Nita mungkin bukan nama sebenarnya, sementara nama Siska, teman bicaranya, mungkin nama sebenarnya.

Di situlah aku meleset. Nita mengakui bahwa itulah nama asli yang diberikan oleh orang tuanya.

“Aku tak pernah berpikir untuk mengubah-ubah nama,” katanya. “Kurasa aku tidak melakukan pekerjaan yang memalukan ketika menyanyi di panggung dan nama pemberian orang tuaku bukan nama yang memalukan. Banyak yang mengganti nama mereka dengan nama baru. Fenty, misalnya, sebenarnya bernama Suwarti. Begitu juga beberapa temanku yang lain.

“Aku tahu bahwa panggung sering memaksa kita membuat nama baru. Sebab ada sorot lampu dan sorot mata yang menimpa kita. Ada kehidupan lain yang tidak sama dengan kehidupan di rumah kita. Ada tabiat-tabiat lain yang berbeda dari tabiat kita sehari-hari. Mungkin demikian alasan orang berganti nama. Tapi aku tak merasa bahwa panggung adalah dunia yang lain.

“Panggung bagiku sekadar ruang sebelah dari sebuah rumah, itu jika kita mengibaratkan ruang hidup kita adalah sebuah rumah. Ia bukan bagian yang terpisah. Karena itu aku tidak memerlukan banyak nama untuk satu kehidupan yang kujalani.”

Kutipan di atas kuambil dari sebuah wawancara dengan penyanyi kafe tahun 1970-an, bernama Nita juga, yang kini menjadi pengusaha panti pijat di daerah Parung. Ada beberapa wawancara dengan penyanyi kafe bernama Nita, dan menurutku wawancara tersebut yang terbaik. Sebenarnya aku curiga itu bukan kalimat asli Nita. Mungkin si wartawan menuliskan isi pikirannya sendiri, dengan kalimat-kalimatnya sendiri, namun aku tidak melacaknya lebih jauh. Jadi, kita percayai saja bahwa kutipan di atas adalah salinan omongan Nita.

Nita 1970-an ini lahir pada bulan Juni dan kupikir Nita muda, penyanyi panggung yang sedang kita lacak sejarahnya, juga lahir di bulan yang sama. Maka tak ada soal jika aku mengutip ucapan Nita tua untuk memahami Nita muda. Mereka sama-sama Gemini. Cara berpikir mereka niscaya sama dan jalan hidup yang mereka tempuh tentu tak akan jauh berbeda—demikian pula penjelasan mereka soal nama.

Dengan penjelasan tersebut, kuharap pemahaman kita soal nama Nita menjadi lebih baik. Selanjutnya, kita memasuki sebuah trauma.


KOTA Pacitan berwarna coklat tanah dan memiliki banyak gua dan hanya sekali dalam hidupnya Nita masuk ke dalam gua, ialah ketika sedang menjalin cinta monyet dengan teman SMP-nya. Mereka tidak berciuman di sana atau saling menyentuh. Mereka hanya memarkir sepeda masing-masing di mulut gua, kemudian masuk, dan si pacar-monyet dengan sigap mencengkeram tangan Nita saat gadis itu terpeleset. Umur Nita tiga belas dan anak lelaki itu tiga belas dan keduanya baru kelas satu SMP. Jantung mereka berdebar. Mulut anak lelaki itu bergerak-gerak, sulit sekali mengeluarkan bunyi, namun akhirnya bisa juga ia bicara.

“Kau sudah mengerjakan tugas matematika?” tanyanya.

“Belum. Kita pulang saja, yuk!” ajak Nita.

“Pemandangan di sini bagus.”

“Tapi aku belum mengerjakan tugas.”

Titik-titik air jatuh dari taring-taring batu di atap gua. Si anak lelaki, yang sebenarnya hanya ingin menunjukkan perhatian kepada gadisnya, menjadi gelisah oleh pertemuan yang cepat berakhir.

Seorang pencari kayu, anak lelaki sebaya mereka, memergoki keduanya saat mereka baru keluar dari mulut gua. Nita gugup melihat anak itu dan sekali lagi ia terpeleset karena gugup. Pacar-monyetnya kembali menyambar dan Nita cepat-cepat mengibaskan tangannya dan membebaskan tangan itu dari genggaman pacar-monyetnya. Pencari kayu bakar sempat melihat mereka saling berpegang tangan dan ia melihat bagaimana Nita menarik tangannya dengan muka gugup.

Lalu orang-orang mendengar dan menyiarkan ulang kabar tentang dua orang yang berpacaran di dalam gua; mereka bergandeng tangan dan saling melepas kancing baju dan saling menyentuh dan mungkin lebih dari itu, dan muka si perempuan menjadi gugup ketika perbuatan mereka ketahuan orang. Seminggu Nita tidak masuk sekolah karena demam dan malu dan kemudian menganggap pacar-monyetnya tak pernah ada. Si lelaki, demi membuktikan dirinya ada, menjadi suka berkelahi, baik di kelas maupun di jalanan, dan Nita semakin menjauhinya.

Kelak mereka akan bertemu satu kali lagi, di sebuah toko milik juragan Cina tempat lelaki itu bekerja sejak ia dikeluarkan dari sekolah karena kian berandalan. Itu kepulangan pertama Nita setelah bertahun-tahun ia meninggalkan Pacitan menuju Jakarta. Oh, sebenarnya itu kepulangan kedua; yang pertama adalah ketika Nita menikah dan si lelaki tidak menghadiri resepsi pernikahan. Pada hari mereka bertemu, lelaki itu menanyakan apakah Nita sudah punya anak dan Nita menjawab belum. Nita menanyakan apakah ia sudah punya anak dan lelaki itu menjawab tiga. Lalu pemilik toko memanggilnya dari dalam dan lelaki itu masuk menemui juragannya dan keluar lagi sambil menuntun sepeda.

“Berapa lama kau pulang, Nita?” tanyanya.

“Tiga hari,” jawab Nita.

“Kita dolan ke gua lagi?”

Nita tertawa. Lelaki itu tidak tertawa. Ia mengayuh sepedanya ke arah timur cepat sekali dan otaknya yang runyam mengarang cerita wagu: istrinya tiba-tiba mati, suami Nita tiba-tiba mati, dan ia melamar Nita untuk menjadi ibu bagi ketiga anaknya.

Di tengah jalan air matanya bercucuran.


NITA 1970-an menyatakan bahwa di waktu kecil ia memiliki banyak keinginan. “Tergantung suasana hati,” katanya. “Ketika jatuh cinta aku ingin menjadi semut sehingga bisa masuk ke kamar orang yang kucintai tanpa takut ketahuan orang lain. Lalu aku akan merayapi tubuh lelaki itu dan sesekali menggigit kupingnya.

“Aku juga ingin sekali menjadi penjaga pintu masuk gedung bioskop, setiap hari bisa menonton film gratis. Itu pekerjaan yang kupikir sangat menyenangkan.”

Nita muda ingin menjadi burung. Burung apa saja. Bahkan burung hantu. Mungkin sekarang keinginannya tercapai: ia menjadi burung hantu, yang keluar dan menyanyi hanya pada malam hari. Ia menikah pada umur 24 tahun dengan lelaki 46 tahun. Pada malam pertama, seusai mereka bercinta, Nita menangis lama sekali di dada suaminya dan berbisik, “Aku akan terbang jauh sekali jika kau menyakitiku.”

Aku tak mendapatkan alasan kenapa Nita berkata seperti itu. Aku juga tidak berhasil menggali peristiwa apa yang mempertemukan dan membawa mereka ke pernikahan. Dan karena jodoh adalah rahasia Tuhan, maka biarlah hanya Tuhan yang tahu di mana mereka pertama kali bertemu dan bagaimana cara mereka saling jatuh cinta dan atas dasar apa Nita mau menikahi lelaki yang 4 tahun lebih muda dibandingkan ayahnya dan 2 bulan lebih tua dibandingkan ibunya.

Mungkin Nita mencintai suaminya sebagaimana ia mencintai ayahnya. Lelaki itu seorang guru SD seperti ayah Nita. Dari pagi hingga siang ia mengajar, sore hari ia menjadi tukang ojek, dan pada pukul satu dinihari ia menjemput istrinya. Mereka akan sampai di rumah pada pukul dua dinihari dan lelaki itu sudah mengajar di kelas pada pukul tujuh pagi, kadang sambil menguap berkali-kali seolah ia sudah bosan mengajar. Tapi ia sudah lama menjadi guru dan sudah hapal semua pelajaran, sehingga sekalipun mengantuk ia tetap bisa menyebutkan dengan benar di mana pabrik karung goni terbesar, siapa penemu akuarium, dan siapa presiden pertama negara Filipina.

Sampai sekarang, lelaki itu tetap guru, tukang ojek, dan suami yang baik. Nita tidak pernah berpikir untuk menyakitinya atau membuat resah kepalanya. Namun seekor burung hantu, kautahu, pada dasarnya adalah makhluk yang tak suka disangkarkan. Hari itu Nita berpesan kepada suaminya agar tidak usah datang menjemput. “Aku menyanyi di Bogor malam ini,” katanya.

Ia berangkat dari rumah lebih sore ketimbang biasanya, mengenakan gaun hijau bermotif daun-daun, dan tidak ke Bogor. Ia tidak menyanyi hari itu. Ia menjumpai Alit yang menunggunya di gedung kesenian.

“Aku suka gaunmu,” tulis Alit tiga bulan sebelumnya pada kertas permintaan lagu. “Kau mengingatkan aku pada sesuatu yang terus kurindukan hingga hari ini.”

Oleh pelayan kafe, kertas itu diserahkan kepada Nita yang sedang berdiri di panggung mengenakan gaun hijau bermotif daun-daun. Ia tidak tahu siapa yang menuliskannya; orang itu hanya menulis pesan dan tidak mencantumkan namanya. Tiga hari kemudian Nita mengenakan gaun bermotif daun-daun lagi dan berharap orang yang menulis pesan itu ada di antara para pengunjung kafe.

“Aku sering datang kemari. Tapi rupanya kau tidak pernah mengenakan gaun bermotif daun-daun lagi,” tulis Alit, di kertas permintaan lagu, sebulan setelah pesannya yang pertama.

Nita mengenakan gaun merah muda saat menerima pesan itu. Ia menjadi sedih tiba-tiba dan meratap maksimum di panggung.

Sejak kejadian itu, dua atau tiga kali seminggu Nita mengenakan gaun bermotif daun-daun—gaun yang itu-itu juga. Kalau gaun itu belum kering betul di tali jemuran, ia akan menyuruh pembantunya mengeringkannya dengan setrika.

“Nanti baunya tidak enak, Bu,” kata pembantunya.

“Aku hanya menyuruhmu menyetrika. Lakukan saja,” kata Nita.

Pembantu itu benar. Ketika dikenakan, gaun yang dikeringkan paksa itu menguapkan bau aneh seperti kandang burung puyuh. Namun itu tetap lebih baik bagi Nita daripada ia harus mengenakan gaun lain.

“Kau sering mengenakan gaun ini sekarang,” kata Siska, seminggu sebelum pertemuan Nita dan Alit.

“Ya,” kata Nita.

“Sedang jatuh cinta?”

“Aku sering mimpi buruk akhir-akhir ini.”

“Itu berarti sedang jatuh cinta.”

“Entahlah. Ia hanya memuji gaun yang kukenakan, tetapi aku merasa seperti dilemparkan ke dalam gua, sebuah tempat yang memungkinkan segala hal terjadi, tetapi sampai bertahun-tahun kemudian tak pernah terjadi apa-apa.”

“Siapa lagi yang menyatakan cintanya kepadamu?”

Nita menggeleng.

“Ia tak pernah menyebutkan namanya,” katanya.


ALIT duduk di tangga pintu masuk gedung kesenian dan matanya terus memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di pintu pagar dan ia lekas mengalihkan pandangannya ke arah lampu-lampu di seberang jalan ketika matanya sudah melihat Nita, dengan gaun hijau bermotif daun-daun, berjalan di antara orang-orang lain yang menuju gedung kesenian. Dan Alit tetap melihat ke arah lampu-lampu saat Nita sudah berada di dekatnya, berlagak tidak menyadari kehadiran gadis itu, seolah-olah ia duduk di tangga itu hanya untuk menikmati suasana dan tidak sedang menunggu siapa pun.

“Sudah lama?” tanya Nita.

Alit menoleh ke arah datangnya suara. Ia menjadi kaku beberapa saat, memandangi perempuan yang berdiri di depannya, merasakan turunnya mukjizat.

“Hai,” kata Alit. “Ibuku mengenakan gaun sepertimu ketika bertemu bapakku.”

“Kau sangat mencintai ibumu?” tanya Nita.

“Aku mencintaimu.”

“Ibumu pasti orang baik. Hidup akan menyenangkan jika kita memiliki ibu yang baik.”

“Ia meninggalkanku saat aku kecil.”

Nita diam, jari-jarinya mempermainkan kancing tas kecilnya.

“Aku juga akan meninggalkanmu,” katanya.

“Lakukanlah. Setiap orang yang kucintai selalu meninggalkanku.”

“Apa maksudmu mengajakku kemari?”

“Aku mencintaimu.”

“Jujur saja, apa maksudmu mengajakku kemari?”

“Aku mencintaimu.”

“Kau tahu aku sudah bersuami?”

“Kau tidak mencintai suamimu. Aku tahu suamimu.”

“Ia orang baik. Aku mencintainya.”

“Kau mencintaiku.”

“Apa maksudmu?”

“Kau datang kemari, mengenakan gaun ini, karena kau mencintaiku.”

Nita kembali diam, agak lama. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongannya, yang sulit ditelan maupun dimuntahkan.

“Berterus teranglah, kau tidak sungguh-sungguh,” kata Nita.

“Aku sungguh-sungguh....”

“Semula kupikir begitu, kau memuji gaunku, kau mencintaiku, dan aku ingin mengenakan gaun ini setiap hari untukmu. Aku ingin kau selalu melihatku mengenakan gaun ini. Tapi orang itu datang menemuiku dan mengatakan semuanya kepadaku. Kautahu, aku hampir menangis saat itu. Aku mempercayaimu, aku berusaha mengenakan gaun ini sesering mungkin untukmu, dan kalian rupanya hanya bertaruh. Kau dan lelaki gendut yang hampir tiap malam datang ke tempat minum.”

“Nita....”

Perempuan itu menggeleng. Alit seperti dipatuk malaria.

“Dua hari lalu ia datang kepadaku,” lanjut Nita. “Ia memintaku agar menolak ajakanmu dan berjanji akan membagi dua denganku uang kemenangannya jika aku menolakmu. Aku tidak mau bersekongkol dengannya, maka aku datang kemari memenuhi ajakanmu. Kau menang. Kita nonton dan setelah itu jangan pernah lagi menemui aku.”


KENDATI tak pernah bertemu lagi dengan Nita sejak menyaksikan penampilannya lima tahun lalu, aku sempat bercakap-cakap dengannya belum lama ini. Dari buku telepon aku mencatat nomor telepon kafe tempat ia biasa bernyanyi. Kuhubungi nomor itu dan seorang perempuan mengangkat gagang telepon di sebelah sana dan kukatakan bahwa aku ingin bicara dengan Nita. Perempuan itu menjawab bahwa Nita hari itu menyanyi di Bogor. Aku meminta nomor telepon kafe di Bogor itu dan perempuan di seberang menjawab tidak tahu.

“Nomor telepon rumahnya?” tanyaku.

“Tidak ada,” katanya.

Telepon ditutup. Kurasa perempuan di seberang itu berbohong, namun aku tidak sakit hati karena perempuan itu berbohong. Yang penting aku sudah memiliki nomor telepon kafe itu dan bisa menghubunginya setiap waktu untuk mendapatkan penjelasan dari Nita.

Ketika akhirnya aku bisa berbicara langsung dengannya, beberapa bulan setelah Syekh membakar diri, kubilang kepada gadis itu bahwa seharusnya ia tidak berlaku terlalu kejam kepada Alit. “Aku tahu betul anak itu,” kataku. “Kami berteman baik dan ia memiliki perasaan yang sangat lembut dan kau telah menyakitinya. “

“Apa pedulimu dengan yang kulakukan?” teriaknya.

“Kalau pertemuan kalian tidak berakhir dengan cara seperti itu, aku yakin Alit tidak akan menempuh jalan yang membawanya pada api,” kataku. Lalu kuceritakan kepadanya perihal Syekh yang membakar diri bersama para pengikutnya.

“Kau sama menjengkelkannya dengan anak ingusan itu,” katanya. “Aku tak punya hubungan sama sekali dengan siapa pun yang membakar diri. Aku bahkan tidak kenal dengan kawanmu yang bernama Alit.”

Setelah itu tak ada apa-apa lagi yang bisa kudapat darinya. Ia memutus pembicaraan dan aku benci sekali kepadanya. Tiba-tiba aku merasa memiliki sejumlah alasan untuk mengutuknya. Dialah yang telah menyebabkan temanku membakar diri. Aku merasa bahwa masa lalu gadis itu mungkin jauh lebih buruk ketimbang apa yang baru saja kusampaikan. Karena itulah ia suka menyakiti orang lain.

Aku merasa kasihan sekali pada Alit dan kupikir aku perlu membongkar kemungkinan lain, yang jauh lebih akurat, tentang masa lalu Nita. []

*) Dimuat di Koran Tempo, 21 Desember 2014

Ekses

INFORMASI menarik tentang film Close-Up, karya sutradara Iran Abbas Kiarostami, saya dapatkan mula-mula dari artikel David Ehlich, redaktur senior situs film.com, berjudul The 50 Best Criterion Collection Releases. Criterion Collection, atau biasa disingkat Criterion saja, adalah sebuah perusahaan distribusi video yang menawarkan film-film klasik dan kontemporer kepada para pecinta, kritikus, dan pemikir perfilman. Secara berkala ia mengeluarkan daftar film-film terbaik versinya. Artikel dengan judul di atas dikeluarkan tahun 2013 dan daftar 50 film tersebut dianggap oleh sejumlah kritikus sebagai daftar terbaik yang pernah dikeluarkan oleh Criterion.


Di dalam daftar itu kita bisa menemukan nama-nama Akira Kurosawa, Yasujiro Ozu, Satyajit Ray, Ingmar Bergman, Jean-Luc Godard, Terrence Malick, Pier Paolo Pasolini, Wong Kar-Wai, Wim Wenders, dan lain-lain sampai yang namanya sulit dilafalkan oleh lidah kita: Krzysztof Kieslowski. Lihatlah, nama depan sutradara ini tersusun dari delapan huruf mati dan hanya ada satu huruf hidup. Ia menyutradarai trilogi Colors, tiga film yang menyenangkan dengan judul-judul Red, Blue, dan White.

Untuk semua film yang ada di sana, anda bisa menemukan penjelasan singkat dan alasan Criterion memilihnya, kecuali film Close-Up. Film Kiarostami itu ditempatkan pada urutan pertama dan Criterion hanya menampilkan keterangan dengan satu kalimat sangat singkat: “The best film ever made.”

Saya menggemari film-film Abbas Kiarostami, nyaris fanatik, dan saya gembira sekali membaca kalimat singkat tersebut, seolah-olah saya keponakan tercinta sutradara Iran itu. Film terbaik yang pernah dibuat orang, saya membatin, memang tidak memerlukan penjelasan panjang lebar, atau tidak memerlukan penjelasan sama sekali. Begitu saja sudah cukup.

Dibuat berdasarkan kisah nyata, Close-Up menceritakan pengadilan terhadap Hossein Sabzian yang mengakui dirinya adalah Mohsen Makhmalbaf, seorang sutradara terkenal Iran. Ia sedang naik bis suatu siang dan duduk bersebelahan dengan seorang ibu yang memperhatikannya membaca The Cyclist, buku skenario karangan Makhmalbaf. Si Ibu menanyakan alamat toko buku tempat Sabzian mendapatkan buku itu. “Untuk anda saja kalau anda mau. Saya yang menulis buku ini,” katanya.

“Anda Mohsen Makhmalbaf?” tanya si Ibu.

“Ya.”

“Anda baik sekali. Senang bertemu dengan anda.”

Si Ibu mengatakan bahwa anaknya sudah lulus kuliah, mendapatkan gelar insinyur, tetapi menyukai seni dan film dan belum mendapatkan pekerjaan sejak enam bulan lulus kuliah. Kemudian lelaki itu sering datang ke rumah si Ibu, merancang proyek perfilman dengan si insinyur baru, dan melihat-lihat setiap ruangan di dalam rumah seolah-olah ia hendak melakukan pengambilan gambar untuk film barunya di rumah itu. Di rumah itu Sabzian dihormati sebagai Makhmalbaf, sampai kemudian mereka tahu bahwa ia Makhmalbaf palsu.

Kiarostami merekonstruksi kejadian tersebut, termasuk bagaimana ia tertarik pada berita tentang penangkapan Sabzian, menemuinya di tahanan, dan upayanya mendapatkan izin merekam secara utuh proses pengadilan. Semuanya menjadi bagian dari film itu. Sebenarnya ini hanya sebuah kasus penipuan kecil dan Sabzian sudah mengatakan, sewaktu Kiarostami menjenguknya di tahanan, bahwa ia akan mengakui. Tetapi segalanya menjadi lebih kompleks ketimbang apa yang tampak di permukaan dan tidak mudah bagi orang-orang untuk memahaminya.

“Saya tertarik pada film dan sudah menonton banyak film sejak kecil, tetapi saya tidak punya uang untuk mewujudkan cita-cita saya,” kata Sabzian kepada hakim pengadilan. “Saya mengagumi Mohsen Makhmalbaf dan semua penderitaan yang ia tampilkan di dalam film-filmnya. Ia seperti bicara pada saya dan menggambarkan penderitaan saya. Saya tahu di mata hukum saya bersalah. Saya tidak ingin melakukan penipuan tetapi hanya ketika memperkenalkan diri sebagai Makhmalbaf, maka mereka menaruh hormat dan menuruti apa yang saya katakan. Sebelumnya tidak pernah ada orang yang mematuhi saya, karena saya hanya orang miskin. Sejujurnya menjadi Makhmalbaf adalah hal yang sangat berat bagi saya. Setiap kali saya meninggalkan rumah itu, saya akan kembali menjadi diri saya, orang miskin yang tidak sanggup mencukupi kebutuhan saya sendiri. Saya tidak ingin melakukannya, tetapi setiap bangun tidur saya terdorong untuk menjadi Makhmalbaf lagi, karena itu membuat mereka menghormati saya.”

Seluruh pemain film tersebut adalah orang-orang yang berperan sebagai diri sendiri, termasuk Sabzian, seluruh anggota keluarga yang menjadi korbannya, juga Kiarostami dan Mohsen Makhmalbaf. Ia dibuka dengan adegan percakapan ke sana kemari antara wartawan Hassan Farazmand dengan sopir taksi yang mengantarnya ke rumah keluarga korban penipuan Sabzian. Di bangku belakang duduk dua petugas kepolisian yang siap melakukan penangkapan, dan mereka tidak bicara sama sekali sepanjang perjalanan.

Si Wartawan tampak sangat bergairah dengan kasus ini dan merasa telah menemukan “Oriana Story”, sebutan yang mengacu pada nama wartawan terkenal Italia Oriana Fallaci. Farazmand tampaknya merindukan reportase besar, tetapi dalam film itu terlihat teledor, tidak membawa uang untuk membayar taksi, tidak membawa tape recorder, dan semuanya harus ia pinjam dari tuan rumah.

Saya menonton film ini tidak lancar. Ada ingatan-ingatan yang tiba-tiba menerobos dan mengganggu. Sebagaimana Farazmand, saya juga membayangkan Oriana Fallaci ketika menginginkan profesi wartawan bertahun-tahun lampau. Buku Oriana Wawancara dengan Sejarah saya baca ketika saya SMA dan saya bawa ke Yogyakarta, ke Jakarta, dan kemudian dipinjam teman dan tidak pernah menjadi milik saya lagi hingga sekarang. Oriana telah mewawancarai para pemimpin dari banyak negara pada tahun-tahun 1960-an hingga 1980-an. Ia telah mewawancarai Indira Gandhi, Pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Yasser Arafat, Menlu AS Henry Kissinger, Perdana Menteri Pakistan Zulfikar Ali Bhutto, Perdana Menteri Israel Golda Meir, Syah Iran Mohammad Reza Pahlevi, Pemimpin Libya Muammar Gaddafi, Ayatollah Khomeini, dan banyak lagi. Saat wawancara dengan Khomeini ia diharuskan mengenakan cadar dan ia mengenakannya dan kemudian melepas cadar tersebut di tengah berlangsungnya wawancara sembari mengkritik keharusan bagi perempuan untuk mengenakannya.

Awal tahun 1993, saya mulai menjadi wartawan, di Jawa Pos, bertugas sebagai koresponden wilayah Magelang dan sekitarnya. Setiap hari saya keluar masuk pedesaan di sekitar Magelang, mencari informasi di pengadilan, meliput sengketa kandang ayam, dan saat itu saya merasa sulit sekali menjadi Oriana Fallaci. Liputan pertama saya adalah pernikahan massal di desa Wonolelo, lereng gunung Merapi. Hari itu saya menyaksikan puluhan pasangan dinikahkan di balaidesa, termasuk mereka yang sudah berumah tangga berpuluh tahun, sudah kakek-nenek dan sudah mempunyai cucu dan mungkin cucu mereka juga sudah beranak.

Mereka, anda tahu, adalah orang-orang yang di zaman orde baru dicap tidak bersih lingkungan dan disia-siakan oleh pemerintah. Orang-orang di luar desa menyebut mereka pasangan kumpul kebo, dengan pandangan negatif yang dilekatkan pada istilah “kumpul kebo” itu, tetapi sesungguhnya mereka hanyalah orang-orang lereng gunung yang jera berurusan dengan pemerintah. Mereka berumah tangga dengan sesama warga desa, dan ikatan mereka hanya diresmikan menurut kebiasaan di desa itu, hanya diumumkan ke tetangga-tetangga bahwa pasangan A dan B sudah menjadi suami istri. Meski ikatan mereka tidak disahkan secara agama maupun hukum negara, rumah tangga mereka pada umumnya berlangsung langgeng. Kecil sekali, atau nyaris tidak pernah ada, kasus perceraian, kecuali karena ditinggal mati pasangan.

Itu ingatan paling kuat tentang reportase “besar” yang pernah saya lakukan, yang dipicu kemunculannya oleh sosok Farazmand si wartawan teledor, ingatan yang menginterupsi keasyikan menonton Close-Up. Namun akhirnya saya selesai juga menontonnya dan melamun agak lama setelah film selesai. Saya pikir urusan di dunia ini cuma begitu-begitu saja. Pemain sepakbola yang baik tak pernah keliru menggiring, mengoper, atau menendang bola. Aktor yang baik bisa bertingkah apa saja dan selalu tampak pantas. Montir yang baik tidak pernah mengecewakan dalam pekerjaannya. Demikian pula sutradara yang baik; ia kelihatannya juga selalu benar dalam menangani urusannya.

Mohsen Makhmalbaf muncul di bagian akhir. Ia menjemput dan memeluk orang yang telah mengaku-aku dirinya. “Kau ingin menjadi Makhmalbaf atau Sabzian?” tanya Makhmalbaf. “Aku sendiri bahkan capek menjadi Makh.” Sabzian menunduk di hadapan orang yang dikaguminya dan ia tak mampu menatap wajah Makhmalbaf dan air matanya tak bisa ia tahan. Makhmalbaf menggoncengkan Sabzian dengan motornya menuju ke rumah keluarga Ahankhah, yang akhirnya mencabut tuntutan dan menyatakan bahwa Sabzian tidak melakukan penipuan dengan niat jahat dan itu hanya ekses dari kemelaratan dan kondisi sosial yang menekan kehidupan orang-orang kecil. []

*) Kolom Ruang Putih, Jawa Pos, Minggu, 21 Desember 2014

Dijual: Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya

IA MENYUKAI LAGU ITU, yang sering ia dengar dari radio semasa kecil dan ia nyanyikan di dahan pohon mangga depan rumah, dan ia tetap menyukainya hingga bertahun-tahun kemudian. Di telinganya, penyanyi di radio itu seperti berteriak apuseeee... dan ia menyanyikannya begitu. Ia pikir ada juga lagu Barat yang berjudul Apuse, sama dengan judul sebuah lagu daerah. Baru nanti, setelah semuanya terjadi, ia tahu judul lagu itu House for Sale.

Itu lagu yang abadi di dalam benaknya. Kapan pun ia menyanyikannya sekarang, ingatannya akan selalu surut ke suatu sore di masa lalu saat ia duduk di balkon depan kamarnya memandangi gumpal-gumpal awan. Semuanya jernih seperti belum lama terjadi. Ia menikmati rokoknya di balkon itu, satu kakinya dinaikkan ke kursi. Istrinya, dengan gerak kalem dan paras sedih, datang mendekat dan duduk di kursi sampingnya. Ia menoleh ke arah perempuan itu, memandangi beberapa saat paras sedihnya. Istrinya tampak lebih cantik ketika sedih.

Pada pagi harinya, saat ia baru membuka mata dan dunia masih samar-samar, ia dengar sayup-sayup suara istrinya: “Kepala saya sakit sekali, Pak. Mohon izin tidak masuk hari ini. Surat-surat yang harus Bapak tanda tangani ada di lemari berkas, saya taruh di tumpukan paling atas. Ya, ada tiga. Kunci lemari ada di laci paling atas meja saya.”

Korden jendela kamar sudah tampak terang ketika ia tersadar sepenuhnya. Istrinya sudah selesai bicara dan kembali menarik selimut dan tidur lagi meringkuk dengan punggung menghadap ke arahnya. Perempuan itu jarang sekali tidur telentang dan hari itu seharian dia meringkuk saja di ranjang dan hanya dua kali keluar kamar, ialah pada siang hari ketika meminta pengasuh bayi membelikan obat sakit kepala dan pada sore hari ketika mandi.

Ia melihat istrinya menuruni tangga ke lantai satu dan masuk ke kamar mandi. Saat itu ia baru keluar dari ruang kerjanya, meninggalkan komputer yang tetap menyala, dan berjalan menuju balkon. Perempuan itu menyusulnya duduk di balkon setelah selesai mandi.

“Bisa bicara sebentar, Mas?” tanya perempuan itu.

“Silakan,” sahutnya.

“Sudah beberapa waktu aku memikirkan ini. Aku tahu cepat atau lambat aku pasti menyampaikannya kepadamu.”

“Sampaikanlah. Aku suamimu. Kalau kau ada masalah, aku orang pertama yang mendengarkanmu.”

“Mestinya begitu....”

“Maksudmu?”

“Ya, mestinya begitu. Hanya selama ini aku sering merasa sia-sia menyampaikan apa pun kepadamu. Rasanya....”

“Kupikir kita akan menikmati sore hari dengan percakapan yang menyenangkan. Rupanya kau berniat menghakimiku?”

“Tidak, tidak. Tapi tak apa jika kau merasa begitu. Setidaknya sekarang kautahu seperti apa rasanya.”

“Itu yang ingin kausampaikan?”

“Bukan. Itu yang selama ini kurasakan, Mas. Setiap kali aku mencoba berbagi masalah denganmu, aku merasa kau selalu menyudutkanku--atau menghakimi menurut istilahmu. Rasa-rasanya tak pernah satu kali pun kau mau merasakan apa yang kurasakan, tak pernah satu kali pun kau berpihak kepadaku jika sesekali aku punya masalah dengan orang lain.”

“Aku tak ingin kau punya masalah dengan orang lain.”

“Aku juga tak ingin. Tapi setiap orang hidup pasti punya masalah dan aku tidak mau menjadi orang yang lari dari masalah. Sudah kuceritakan banyak hal kepadamu sebelum kita menikah tentang bagaimana masalah demi masalah datang kepadaku dan bagaimana aku sendirian menghadapi semuanya. Kemudian kita menikah dan aku tetap merasa sendirian menghadapi masalah-masalahku.”

Ia menyimak semua kalimat istrinya, tetapi sulit menduga ke mana arah pembicaraan. Di bawah mereka ada tiga anak kecil dan seorang perempuan yang menyuapi bayinya dan penjual balon gas yang sedang melayani pembeli kanak-kanaknya. Ia ingat pernah membeli tujuh balon gas lima tahun lalu, pada hari-hari bulan madu pernikahan mereka, tiga berwarna merah empat berwarna kuning. “Tuhan menyukai hitungan ganjil,” katanya. Lalu ia menulis doa yang sama di tujuh lembar kertas—Tuhan, lancarkanlah rezeki kami dan jagalah keutuhan rumah tangga kami—dan masing-masing kertas ia ikatkan dengan benang pada balon-balon tersebut.

Pada malam hari, ia dan istrinya melepaskan balon-balon itu ke langit dan Tuhan, pengabul doa-doa yang diucapkan maupun kecemasan yang disembunyikan, menyambut baik ketujuh balon mereka. Pada tahun kedua pernikahan, istrinya melahirkan dan, pada tahun ketiga, mereka sanggup membeli rumah kecil dua lantai yang sekarang mereka tempati. Lantai bawah ia biarkan lapang saja untuk ruang tamu dan dapur dan kamar mandi. Semua kamar tidur ada di lantai atas: satu kamar ia gunakan sebagai ruang kerja, satu kamar untuk anak mereka dan pengasuhnya, dan satu lagi yang paling besar adalah kamar tidur untuk ia dan istrinya. Di balkon depan kamar itulah mereka duduk bersebelahan, dua hari sebelum ia memasang tanda rumah dijual.

“Sasi tidur?” tanyanya.

“Jalan-jalan,” kata istrinya. “Kuminta Ririn membawanya keluar jalan-jalan.”

“Ia pengasuh yang baik. Sasi beruntung mendapatkan pengasuh yang baik.”

“Sekarang ia mulai pacaran dan pacarnya hampir tiap hari datang kemari.”

“Kau ke kantor tiap hari....”

“Mbak tukang cuci yang memberitahuku.”

“Sebetulnya wajar saja. Ia sudah cukup umur untuk punya pacar.”

“Aku tidak mau anakku ditelantarkan. Pengasuh yang mulai pacaran biasanya menjadi teledor.”

Kalimat kedua itu dalil. Sejak pernikahan, istrinya kerap mengeluarkan dalil. Ia hanya mengangkat bahu dan menunjukkan isyarat tangan yang bisa saja diartikan “sesukamulah” atau “entahlah” atau terserah istrinya mau menafsirkan apa. Lalu ia susuli isyarat itu dengan kalimat:

“Ia sudah mengasuh Sasi sejak bayi dan pekerjaannya bagus. Jika kau memberhentikannya, pengasuh baru belum tentu sebaik anak itu.”

“Belum tentu lebih buruk juga. Mungkin lebih baik.”

“Jadi, sebenarnya apa yang hendak kausampaikan?”


PEREMPUAN ITU MENGAMBIL ROKOK yang terselip di jari-jari suaminya dan menyelipkan ke bibirnya sendiri dan mengisapnya kuat-kuat. Suaminya melolos lagi sebatang rokok dan menyalakannya. Kini mereka masing-masing memegang sebatang rokok. Perempuan itu baru bicara lagi setelah isapan keempat.

“Kurasa lebih baik kita berpisah saja, Mas” katanya. Matanya menatap lantai ketika ia bicara.

“Seringan itu kau menyampaikannya?” kata suaminya.

Sungguh, lelaki itu tak pernah bisa memahami perasaannya. Sama sekali tidak ringan baginya untuk mengucapkan hal itu. Ia sudah menyiapkan diri cukup lama dan berusaha sangat keras untuk tetap tenang saat menyampaikannya.  Selama berbulan-bulan sebelum akhirnya ia bisa bicara, sesungguhnya sudah berkali-kali ia menetapkan hati untuk menyampaikannya, namun berkali-kali pula ia mengurungkan kembali niatnya. Sepertinya tak pernah ada waktu yang tepat untuk sebuah kalimat yang singkat saja: kita bubar.

“Aku tak bisa mencintaimu lagi,” katanya.

“Lalu?” tanya suaminya.

“Kupikir lebih baik kita bercerai.”

“Kau membuatku sedih.”

“Mestinya kau merasa senang.”

“Oya? Kau mengatakan lebih baik kita bercerai dan menurutmu seharusnya aku merasa senang. Apa maksudmu?”

“Entahlah. Kupikir begitu.”

“Kau selalu berpikir begitu....”

“Hubungan kita semakin menyedihkan, Mas. Mari kita mengakui itu. Kalau boleh jujur, aku tak pernah merasa bahagia selama ini.”

“Oh, aku tahu itu tanpa kaubilang. Kulihat kau memang langsung sengsara sejak hari pertama kita menikah. Jadi, tidak satu kali pun kau pernah bahagia?”

Ia menggeleng pelan.

“Ya, ya, aku bisa paham,” kata suaminya. “Kau menginginkan perceraian, maka yang kaulihat dalam hubungan kita hanya kegelapan. Aku yakin kau lupa betapa bahagianya dirimu saat memberitahuku bahwa kau hamil. ‘Mas, aku hamil, Mas! Aku akan menjadi ibu untuk anak yang lahir dari rahimku sendiri!’ Atau itu tidak termasuk kebahagiaan menurutmu?”

“Ya, Mas, aku sangat bahagia bisa hamil, bahagia sekali. Tapi aku tidak yakin kau juga bahagia. Kau tidak ingin punya anak dari aku. Kautahu, aku sedih sekali malam itu ketika kaubilang, ‘Nanti kita mengadopsi anak saja.’ Sejak itu aku bertekad untuk hamil, tak peduli kau menghendaki anak dariku atau tidak.”

“Ya, Tuhan. Alangkah ajaibnya. Kau istriku dan kita tidur di ranjang yang sama tiap malam dan aku tak pernah menyadari kau menyimpan pikiran sejahat itu tentangku. Tapi itu salahku. Aku hanya mampu mengingat hal yang mungkin tak penting sama sekali bagimu, yaitu saat kau menangis dan menciumku dan bertanya malam itu: ‘Jadi kau tidak kecewa kalau aku tak bisa punya anak, Mas?’

“Lalu aku menggeleng dan berkata secara jujur kepadamu, ‘Kita pasti punya anak jika kita sudah siap menjadi orang tua. Ia bisa lahir dari rahimmu, bisa juga anak orang lain yang kita rawat sepenuh hati sebagai anak kita sendiri. Dan memang ia anak kita, yang berbeda hanya cara ia hadir dalam kehidupan kita. Selanjutnya sama saja.’

“’Terima kasih, Mas,’ katamu. ‘Aku takut sekali kalau nantinya aku tidak bisa punya anak, aku takut itu mengecewakanmu. Sungguh kau tidak akan kecewa? Kau akan tetap mencintai aku?’

“‘Tetap mencintaimu,’ kataku.

“Lalu kau mendesakku agar mengucapkannya sekali lagi. ‘Aku ingin mendengarnya sekali lagi,’ katamu. Dan dan aku mengucapkannya lagi, ’Tetap mencintaimu.’

“’Selamanya?’

“’Selamanya.’

“Kupikir kau bahagia malam itu. Rupanya aku keliru.”


TIDAK ADA YANG KELIRU MALAM ITU; ia memang bahagia. Gerimis turun agak lebat dan ia turun tiba-tiba pada sore hari musim kemarau dan matahari masih memancar terang saat gerimis turun tiba-tiba. Mereka menepi bersama beberapa pejalan kaki yang lain di sebuah halte depan toko barang-barang kerajinan. Suaminya menggandengnya masuk ke toko itu dan mereka melihat-lihat apa saja yang dijual di sana dan ia berpindah ke toko sebelah yang menjual perlengkapan bayi saat lelaki itu berdiri lama di depan segerombol kucing kayu. “Yang hijau itu bagus, Mas,” katanya. “Eh, aku ke sebelah dulu, ya. Fatima melahirkan bulan lalu dan aku belum sempat menengoknya.”

“Nanti kususul,” kata suaminya.

Di dalam taksi yang membawa mereka pulang, ia duduk merapat di pintu, seperti ingin melipat diri sekecil mungkin. Pakaian bayi yang baru ia beli, yang akan ia bawa nanti saat menjenguk Fatima, ada di pangkuan. Suaminya menanyakan apakah ia sakit. Ia bilang tidak apa-apa, hanya sedikit pening karena tertimpa gerimis, tapi itu tak akan lama. “Kalau hujannya lebat sekalian malah tidak apa-apa,” katanya.

Dua jam kemudian, saat mereka sampai di rumah setelah perjalanan yang merambat, ia barulah menyampaikan rasa takutnya soal kemungkinan tidak punya anak. Jawaban suaminya malam itu membuatnya lega dan ia mencium lelaki itu dengan pipi yang basah oleh rasa bahagia.

Itu percakapan yang tak pernah ia lupakan. Itu percakapan yang memberinya perasaan tenteram. Namun itu bukan satu-satunya percakapan. Ada banyak percakapan lain di antara mereka yang diam-diam menyusupkan ke dalam pikirannya perasaan cemas yang tak terhapuskan.

“Aku harus kontrol ke dokter malam ini, Mas. Sudah janjian nanti pukul delapan. Kau bisa menjemputku di kantor?”

“Aduh, aku telanjur ada janji dengan orang.”

“Ya, sudah. Kau janjian di mana?”

“Kuningan.”

"Pulangnya larut?”

“Aku usahakan tidak terlalu larut.”

“Nanti pulang lewat Buncit, kan? Ada toko asinan di kanan jalan.... Halo..., halo...! Pulangnya....”

Percakapan terputus. Ia menelepon lagi, gagal, menelepon lagi, gagal, menelepon lagi, gagal. Mereka baru terhubung lagi saat ia hampir habis kesabaran.

“Selalu begini kalau telepon denganmu. Sudah kubilang, kau harus ganti pesawat.”

“Sinyalnya buruk di sini.”

“Kurasa teleponmu yang sudah butut.”

“Eh, sampai di mana tadi?"

“Kalau nanti lewat Buncit, tolong belikan asinan. Ada toko asinan di kanan jalan setelah Mampang, dekat lampu merah. Setahuku ia buka sampai pukul sebelas. Tapi kalau sudah tutup, belikan martabak saja.”

“Manis atau telor?”

“Telor.”

“Baiklah.”

“Oya, kalau aku sudah tidur waktu kau pulang, bangunkan saja,”

Janin di dalam perutnya memasuki usia empat bulan saat itu. Suaminya pulang tanpa asinan dan lupa membeli martabak dan lelaki itu entah pulang pukul berapa. Mereka ribut kecil pada pagi hari sebelum ia berangkat ke kantor.

Sejumlah percakapan yang nyaris sama akan terulang lagi di saat-saat berikutnya. Ia merasa suaminya selalu begitu. Ia merasa, pada akhirnya, bahwa suaminya mungkin tidak menghendaki punya anak dari dirinya. Itu sebabnya lelaki itu dengan enteng menanggapi ketakutannya kalau-kalau ia tidak bisa punya anak.


IA MENARIK DAN MENGHEMBUSKAN NAPASNYA panjang sekali. Matanya memandang sesuatu di kejauhan. Di langit ada segumpal awan besar yang membentuk mulut raksasa menganga. Di sampingnya, istrinya tampak sangat tenang, seperti sudah benar-benar yakin dengan keputusannya. Perempuan itu menikmati isapan terakhir rokoknya dan kemudian mematikan baranya di asbak.

“Aku capek, Mas. Kita terlalu sering ribut,” kata perempuan itu.

“Bukan aku yang menginginkannya,“ katanya.

“Jadi selalu aku yang memulainya?”

“Aku tak mengatakan seperti itu. Aku sedih kita sering ribut. Kadang itu membuatku sangat putus asa. Kadang terpikir olehku untuk melompat dari jendela kamar dan mati seketika. Mungkin lebih baik bagimu jika aku tak ada.”

“Sama, Mas. Aku juga sering berpikir seperti itu.”

Mereka lima tahun menikah. Istrinya semakin fasih mengembalikan apa pun yang ia sampaikan dan ia pikir setiap percakapan di antara mereka tak pernah menghasilkan jalan keluar.

“Apa yang kaubicarakan dengan Tante Sita minggu lalu?” ia membelokkan pembicaraan.

“Aku tak mengerti maksudmu,” kata istrinya.

“Kau melakukan konsultasi hukum?”

“Aku tidak bertemu dengannya.”

“Kemarin ada teman meneleponku. Ia bilang, ‘Aku bertemu istrimu di rumah Om Bram minggu lalu. Ia bicara dengan Tante Sita dan kelihatannya mereka membicarakan urusan yang sangat serius.’”

“Hanya ngobrol-ngobrol biasa.”

“Oke, jadi kau ke rumahnya.”

“Aku memerlukan teman bicara.”

“Aku tak bisa menjadi teman bicaramu?”

“Apakah kau bisa?”

“Jika kau menganggapku ada.”

“Aku merasa sebaliknya, Mas, aku yang tak pernah ada bagimu. Kau hanya peduli pada teman-temanmu dan pada urusanmu sendiri dan pada apa saja yang tidak ada hubungannya denganku. Semula kupikir kau benar-benar mencintaiku....”

“Sampai sekarang aku mencintaimu.”

“Terima kasih. Dan maafkan aku tak bisa lagi mencintaimu. Karena itu kusampaikan apa yang terbaik bagi kita.”

“Hanya bagimu. Aku akan kehilangan dua orang yang kucintai, kau dan Sasi, dan kau hanya kehilangan satu orang yang kau tidak bisa lagi mencintainya.”


SI SUAMI MENGATAKAN MALAM ITU, sebelum mengakhiri percakapan, bahwa rumah yang mereka tempati sebaiknya dijual saja sebab semuanya sudah berakhir. “Sekalian dengan perabot-perabotnya,” kata lelaki itu. “Kalau bisa, sekalian dengan seluruh kenangan di dalamnya. Kau tidak membutuhkannya lagi, aku juga tidak membutuhkannya.” Dan lelaki itu segera menjalankan apa yang dikatakannya. Dua hari setelah percakapan, pada pagi yang basah oleh hujan saat si istri keluar rumah hendak ke kantor, ia membaca tanda pada pagar: Rumah Dijual. Ia tidak tahu kapan suaminya memasang plakat itu.

Perempuan itu berdiri mematung di depan pagar, memandangi plakat, dan di dalam benaknya muncul sebuah percakapan yang berlangsung saat usia perkawinan mereka masih muda. Pada malam yang bahagia, ia dan suaminya pernah saling mencocokkan kesukaan masing-masing di masa kecil. Ia menyukai lagu House for Sale, yang sering ia nyanyikan di kamar mandi semasa kecil, dan sebenarnya ia suka menyanyikan apa saja di kamar mandi. Ia merasa suaranya terdengar lebih merdu di kamar mandi.

“Tuhan memberi kita pasangan yang memiliki kesukaan yang sama,” kata suaminya.

Lebay,” katanya.

Butir-butir air sisa hujan membasahi rambut dan wajahnya. Perempuan itu masuk lagi ke dalam rumah, naik ke kamar, menjumpai suaminya masih lelap di ranjang. Diambilnya telepon genggam dari dalam tasnya: “Sakit kepala saya kambuh lagi, Pak. Mohon izin tidak masuk hari ini.” []

*) Jawa Pos, Minggu, 11 Mei 2014

Plagiarisme dari Semak-Semak Afrika


Linda Christanty, nama penting dalam sastra Indonesia hari ini dan kawan yang menyenangkan untuk membahas buku-buku dan berbagai topik lain, termasuk tentang sinshe di kampung halamannya yang mempunyai diagnosa-diagnosa mengejutkan dan nama-nama makanan yang terdengar lebih cocok sebagai nama hewan, menelepon saya suatu siang dan saya tidak menanggapi panggilan tersebut karena situasi saya tidak memungkinkan untuk menerima telepon. Ia menelepon satu kali lagi dan saya tetap tidak mengangkatnya. Pada malam hari, saya periksa telepon seluler saya. Ada beberapa panggilan masuk, dari nomor-nomor yang saya kenal maupun tidak saya kenal, dan dua panggilan tak terjawab dari Linda. Ia menelepon ketika saya sedang berada di jalan tol dan telepon saya tertinggal di rumah.

Besok harinya saya menelepon Linda dan ia menerima panggilan telepon saya dan kami tidak membicarakan ikan hiu yang hidup abadi atau manusia yang berubah menjadi pohon kamboja dalam cerita-cerita yang kurang meyakinkan; Linda menyampaikan bahwa ia sudah mendapatkan tiga novel Patrick Modiano, pengarang Perancis pemenang Nobel sastra 2014, yang hendak dibicarakan dalam klub diskusi bulanan yang kami adakan sekadar untuk bersenang-senang.

“Kupikir kau hendak menceritakan mimpi bahwa kita benar-benar berubah menjadi jenglot,” kata saya.

Kami pernah membicarakan kemungkinan tentang umur panjang seperti manusia di zaman Nabi Nuh dan kami akan hidup sampai umur 250 tahun. Pada saat itu tubuh kami tentu mengecil dan kulit kami menjadi keriput sekali sehingga orang-orang akan menyangka kami sebagai jenglot, makhluk gaib produksi dalam negeri yang wujudnya menyerupai jahe atau ginseng.

Sebentar membicarakan Modiano, saya tiba-tiba ingat satu hal yang saya ingin tanyakan kepadanya, ialah tentang isu plagiarisme di kalangan perancang busana yang sekarang sedang ramai dibicarakan. Linda bekerja di majalah Dewi dan saya membaca berita bahwa Priyo Oktaviano, salah satu dari lima perancang yang dipilih oleh majalah tersebut sebagai Ksatria Mode (Fashion Knight) 2014, dituding telah menjiplak rancangan Prabal Gurung, perancang Amerika Serikat berdarah Nepal.

Ia tak terlalu bersemangat menanggapi pertanyaan saya dan saya sendiri sebenarnya tidak tahu apa-apa soal mode. Namun ia mencoba menjelaskan juga soal mode dan itu adalah urusan yang sangat sulit untuk saya cerna. Pengetahuan maksimum yang saya miliki tentang adibusana hanyalah sebatas kain sarung. Menurut saya sarung adalah rancangan busana terbaik yang pernah diciptakan orang. Dengan sarung, anda bisa tampak anggun dan khusyuk saat menghadap Tuhan. Selain itu, ia bisa memiliki fungsi lain yang nyaris tak terbatas. Para pedagang buku keliling menggunakannya untuk mengangkut barang dagagan mereka. Saya menggunakannya sebagai mantel di masa kanak-kanak jika saya ingin menjadi Zorro, ksatria pembela rakyat miskin dari negeri Latin, dan juga sebagai properti untuk bermain hantu-hantuan. Jika Anda mau, Anda bisa menggunakan kain sarung untuk mengubah diri menjadi Batman, Superman, Godam, atau Kapten Mar.

Tentang plagiarisme yang saya tanyakan, Linda mengatakan: “Plagiarisme sama buruknya dengan korupsi. Ia adalah perkara mentalitas. Dalam kasus semacam ini, jika pelakunya sudah punya nama, kita harus melacak ke belakang.”

Kami lalu membicarakan kasus plagiarisme Fareed Zakaria yang sangat menghebohkan di tahun 2012. Fareed, warga Amerika Serikat keturunan India, adalah jurnalis, kolumnis, dan figur yang cemerlang di era multimedia. Ia cemerlang sejak kuliah di Yale University dan mengawali karier cemerlangnya dengan menjadi pemimpin redaksi Yale Political Monthly. Pada tahun 1993, di usia 28 tahun, ia meraih gelar doktor dari Harvard, memimpin proyek riset tentang politik luar negeri AS di universitas tersebut, menjadi redaktur pelaksana jurnal Foreign Affairs, dan menjadi profesor tamu di Columbia University.

Di tahun 2000, ia menjadi editor pada Newsweek Internasional dan menulis kolom tetap untuk Newsweek, sebelum pindah sepuluh tahun kemudian ke Time dan menjadi penulis kolom tetap di majalah tersebut dan Washington Post, CNN, dan menulis untuk banyak media dan jurnal di AS. Ia juga menulis tiga buku dan menjadi pembawa acara mingguan Fareed Zakaria GPS (Global Public Square) di stasiun televisi CNN. Pada tahun 2003, New York Magazine menurunkan sebuah artikel feature tentang Fareed, berjudul  Man of The World, yang antara lain mengutip komentar Henry Kissinger, bekas menteri luar negeri Amerika Serikat, tentang Fareed Zakaria sebagai  “otak kelas satu dan orang yang gemar menantang suara-suara konvensional.”

Kasus plagiarisme di tahun 2012, yang ia akui sebagai “kekeliruan yang mengerikan”, meredupkan kecemerlangannya. Setelah meledaknya kasus itu, ada tulisan yang menyebutkan bahwa plagiarisme juga ditemukan dalam artikelnya tahun 2009. Dan tahun ini muncul lagi tuduhan-tuduhan tentang plagiarisme di beberapa artikelnya yang lain.

Kami menyinggung sedikit tentang kenapa orang melakukan penjiplakan terhadap karya orang lain. Saya menyampaikan pendapat yang saat itu terpikir bahwa para pelaku plagiarisme tampaknya bersandar pada satu harapan, yakni semoga tidak ada satu orang pun yang akan tahu bahwa ia menjiplak. Ia berharap pencipta karya aslinya tidak tahu, redaktur (dalam hal tulisan) tidak tahu, atau juri (jika karya tersebut diikutkan lomba) tidak tahu. Dalam beberapa saat mungkin harapan itu terwujud: pencipta, juri, redaktur, dan orang-orang yang dianggap otoritatif di bidang itu tidak tahu. Seluas apa pun pengetahuan seorang juri atau redaktur, Anda tahu, ia tetap bukan orang yang mahatahu. Pengetahuan yang mereka miliki tidak mungkin mencakup semua informasi.

Namun, yang sering dilupakan oleh para penjiplak, publik mahatahu dan selalu bisa diandalkan untuk mendeteksi terjadinya plagiarisme. Pengetahuan yang dimiliki oleh publik adalah kumpulan pengetahuan yang dimiliki oleh individu-individu yang menyusun sebuah himpunan raksasa yang kita sebut “publik”. Kasus-kasus plagiarisme biasanya terbongkar karena publik mengetahuinya.

Dan sekarang, dalam era media sosial, informasi tentang plagiarisme bisa disampaikan lebih cepat karena setiap orang punya media yang bisa ia gunakan untuk menyiarkan temuannya kepada siapa saja dan orang-orang lain akan segera menyebarluaskannya dan menjadikannya pembicaraan umum.

Karena itulah kita sekarang ini cepat tahu ada penjiplakan dalam musik, dalam karang-mengarang, dalam dunia mode, dan lain-lain. Dalam musik, jika ada kesamaan delapan bar saja antara satu komposisi dengan komposisi lain yang sudah lebih dulu diciptakan orang, pencipta yang belakangan disebut melakukan tindakan plagiarisme. Itu hal yang saya dengar pertama kali dari obrolan ringan bertahun-tahun lalu dengan mendiang Franky Sahilatua. Saya pikir musik memang lebih matematis ketimbang misalnya karangan. Dalam karangan mungkin kita tidak bisa menetapkan standar eksak semacam itu. Saya kira begitu juga dalam dunia mode.

Dalam perbukuan, ada juga kreativitas yang memalukan. Seorang pembeli buku pernah mengeluhkan bahwa ia membeli dua buku yang sama persis, dari penerbit yang sama, dengan desain sampul dan nama pengarang yang berbeda. “Saya mengira itu dua buku yang membahas topik yang sama, jadi saya beli dua-duanya,” katanya. Jadi, ia membeli buku tersebut karena ia sedang mendalami topik yang dibahas oleh buku tersebut. Beberapa bulan kemudian muncul buku lain yang membahas topik itu, dan ia membeli buku tersebut, dan ternyata kedua buku tersebut sama persis.

Ini bukan kasus plagiarisme, melainkan kelicikan pengusaha penerbitan.

Pada malam harinya, karena masih penasaran dengan kasus plagiarisme di dunia mode, saya mengakses internet dan membuka akun instragram yang mengungkap kasus tersebut. Akun bernama Nyinyirfashion itu, yang tampaknya memang membaktikan diri untuk mencereweti dunia adibusana, dengan sengaja menyandingkan foto-foto rancangan desainer dalam negeri dan luar negeri yang ia anggap serupa. Sekali lagi, saya tidak paham tentang mode busana. Beberapa yang ia sandingkan memang tampak sama. Beberapa yang lain tidak tampak kesamaannya di mata saya dan untuk hal ini ada pengikut-pengikut akun tersebut memberi komentar: “Beda keleeeeuss!” atau “Maksaaaa....

Mengenai Priyo Oktaviano, perancang yang kemudian menyatakan mengundurkan diri dari acara Jakarta Fashion Week yang digelar pekan lalu oleh Majalah Dewi, yang foto-foto rancangannya disandingkan dengan rancangan Prabal Gurung, saya melihat bahwa keduanya memang nyaris identik. Memang ada bedanya, yakni pada aksesori di hidung si peragawati. Dalam rancangan Priyo Oktaviano, yang menampilkan koleksi rancangan berjudul African Blu, saya melihat ada panah kecil yang menembus hidung peragawatinya, seolah-olah ia baru keluar dari semak-semak setelah lepas dari kejaran para pemburu Afrika.

Pagi-pagi saya kembali menelepon Linda untuk mengatakan: “Apa boleh buat, kedua rancangan itu nyaris identik.” []

*) Kolom "Ruang Putih", Jawa Pos, Minggu, 16 November 2014

Pada Sebuah Kuil

AKU anak tunggal ibuku dan kami hidup berdua saja di rumah kayu dekat empang dan ia menyayangiku sebagaimana Tuhan mengistimewakan para nabi. Ibu bekerja mencuci baju di rumah dua tetangga kaya dan menambah penghasilannya dengan menjual nasi urap dan sate keong pada sore hari sehingga kami bisa hidup pas-pasan seperti kebanyakan tetangga kami. Setiap hari aku membaca buku-buku yang sulit dicerna dan sesekali menulis karangan atau mengarang lagu-lagu dan aku juga menyayangi ibuku seperti nabi kepada umatnya.

Kadang-kadang rezeki kami berlebih karena turunnya mukjizat di rumah kami. Aku ingat dua atau tiga kali ibu mendapati ikan-ikan di dalam baskom kecil di samping perigi saat ia bangun tidur, seolah-olah mereka berloncatan dari empang dan menyediakan diri untuk digoreng atau diolah dengan bumbu apa saja. Kami tidak pernah tahu siapa yang menaruhnya di sana. Mungkin Tuhan. Ibu memang rajin berdoa dan ia suka menceritakan kepadaku dongeng-dongeng menjelang kami tidur dan seperti itulah kami menjalani hidup bersama-sama. “Kalau kau sudah tua nanti, gantian aku yang akan bercerita untukmu,” kataku. Namun ibuku tidak pernah menjadi tua. Kami berpisah saat umurku dua puluh tiga tahun dan ia empat puluh lima. Aku bangun tidur pada suatu pagi hari dan ibu tidak bangun selamanya.

Pada malam terakhir sebelum ia pergi selama-lamanya, kami ribut sedikit tentang cerita pengantar tidur yang dibawakannya.

“Kemarin kau bercerita tentang cacing, minggu lalu kura-kura, sekarang lutung,” kataku.

“Yang kemarin itu cerita tentang orang suci,” katanya.

“Tentang cacing,” kataku. “Memang ada orang sucinya, sebab cacing itu menempel di perahu orang suci, tetapi itu tetap cerita tentang cacing.”

“Jangan suka meremehkan apa pun,” katanya.

“Aku tidak meremehkan apa pun,” kataku.

“Lalu apa keberatanmu?”

“Tidak ada. Cuma sekarang aku tak membutuhkan lagi cerita hewan dan kau terus bercerita tentang hewan.”

“Astaga, Dhani! Kenapa kau menjadi bebal?”

“Aku baik-baik saja, Ibu.”

“Kau menjadi bebal. Pasti iblis telah mengencingi kepalamu.”

Ia kemudian bicara panjang, dalam nada jengkel yang jarang muncul sebab ia sangat menyayangiku. Belakangan aku kurang suka terhadap caranya menyayangiku dan ucapan panjangnya malam itu membuatku kelelahan. Kalau ia mau sebetulnya ia bisa bicara ringkas saja: hikmah tentang kehidupan bisa didapatkan dari mana pun, bisa dari seekor marmut, atau anak ayam, atau lutung. “Kau ingat bahwa lutung-lutung itu dulunya adalah manusia dan mereka dikutuk menjadi gerombolan lutung karena tetap bekerja di hari Sabtu. Semua orang tahu itu,” katanya.

Aku membuat gerakan mengangguk dengan kepalaku di atas bantal dan ibu menganggap itu sebagai persetujuan. Maka, mulailah ia menyampaikan cerita tidak menarik tentang seekor lutung yang sedang duduk-duduk di bawah pohon belimbing menikmati apa saja yang ia bisa nikmati: angin lembut yang mengusap wajahnya, dengung lalat di kuping, dan ingatan samar-samar tentang leluhurnya, orang-orang yang pergi berburu di hari Sabtu pagi dan keluar dari hutan menjelang tengah malam dan tiba di rumah sebagai kawanan lutung.

Karena diawali dengan sedikit perdebatan, dan aku betul-betul ingin mendengarkan cerita tentang manusia, aku menjadi kurang bergairah mengikuti cerita ibu tentang lutung. Namun kelak terbukti bahwa dongeng yang ia sampaikan itu benar adanya. Beberapa tahun lalu, kurang lebih lima tahun setelah ibuku meninggal, sebuah tim beranggotakan tujuh arkeolog dari beberapa negara, dipimpin oleh ilmuwan Perancis Pierre Amélineau, mengumumkan temuan mengejutkan tentang adanya spesies lutung di pedalaman Kalimantan yang berukuran setinggi manusia, jauh lebih tinggi dibandingkan ukuran lutung setempat pada umumnya yang hanya 50-60 sentimeter. Di situs tempat ditemukannya fosil lutung tersebut, mereka juga berhasil mengumpulkan bukti-bukti arkeologis yang mereka nyatakan sebagai alat-alat berburu yang digunakan oleh masyarakat yang ditimpa kutukan.

Mungkin ibu tahu aku tak bergairah mengikuti ceritanya, atau mungkin ia tak tahu, tetapi kelihatannya ia tak peduli dan terus saja bercerita tentang lutung muda di bawah belimbing yang suatu saat pernah menempuh langkah yang lazim dilakukan oleh orang-orang zaman kuna, ialah masuk ke dalam gua dan mendekam 49 hari di sana dan menjalani laku yang berbelit-belit demi mengakhiri kutukan yang telah ditimpakan kepada leluhurnya pada hari Sabtu. Seorang lelaki sangat tua, yang tampak suci dan angker seperti berhala, muncul pada hari terakhir pertapaannya dan memberi tahu apa yang harus ia lakukan. Tempurung kepalanya cerah seketika. Ia berharap itu tadi Tuhan dan ia senang bahwa Tuhan sudah mau menurunkan wahyu lagi setelah berabad-abad membisu. Si tua lenyap saat ia membuka mata. “Terima kasih,” katanya kepada si tua yang tak ada.

Lalu, dengan gerak-gerik yang lamban dan saleh, ia menarik napas panjang, bangkit dari duduknya, dan melangkah meninggalkan gua, membawa pengetahuan dan teknik-teknik baru untuk mengakhiri kutukan. Namun, kautahu, jika seseorang ditakdirkan apes, nasib sial akan datang begitu saja kepadanya, dengan atau tanpa alasan, dan apa yang didapat melalui cara berbelit-belit kadang bisa hilang dalam waktu sekejap. Begitu pula dengan pengetahuan itu. Ia lenyap begitu saja dari tempurung kepala si lutung sebelum langkah ketujuh dari mulut gua. Ingatannya bekerja kurang baik dan ia yakin itu karena iblis diam-diam mengencingi kepalanya. Itu keyakinan yang ia peroleh tidak sengaja saat gerimis turun dan ia berteduh di teritis rumah orang dan telinganya menangkap suara seorang ibu dari dalam rumah itu kepada anaknya: “Kau bebal sekali, Dhani. Pasti iblis telah mengencingi kepalamu.”

Dunia segelap semula dan kutukan tetap ada di bahu sesiapa yang harus memikulnya. Dan iblis, kautahu, selalu berada satu tingkat di atas hewan-hewan dan manusia dan siap menyiramkan air kencingnya di kepalamu, membuat kerusakan di permukaan bumi maupun di kedalaman otakmu. Lamat-lamat si lutung mendengar suara, seperti kicau burung—mungkin kicau iblis: Pergilah ke kolam dan celupkan kepalamu di sana.

Ia diam beberapa waktu dan suara itu terdengar lagi. Kali ini ia benar-benar yakin itu kicau iblis, sebab hanya iblis yang bisa bersuara tanpa menampakkan wujudnya.

“Tidak usah,” katanya. “Apa perlunya aku mengikutimu?”

Kau akan menjadi bebal selamanya.

“Tidak apa-apa. Kau sudah mengencingiku dan itu takdirku. Aku akan ikhlas saja menjalaninya agar kautahu bahwa aku bukan bagian dari mereka yang mudah kaujerumuskan untuk melawan takdir.”

Kau tidak takut neraka?

“Tidak apa-apa kalaupun aku masuk neraka.”

Dan kepada mereka yang tidak mematuhiku, maka kukatakan: “Jadilah kalian lutung selamanya dan masuklah ke dalam neraka.”


AKU tertidur sebelum ibu rampung bercerita dan sampai sekarang aku tidak tahu ujung cerita itu. Aku bangun pada pagi hari, kautahu, dan ibu tidak pernah bangun selamanya.

Para tetangga datang tergopoh-gopoh oleh teriakanku dan mereka riuh sekali saat melihat ibu terbujur kaku di tempat tidur. Seseorang mencoba mengatupkan kedua mata ibu yang membelalak.  “Jangan disentuh-sentuh dulu,” kata seseorang lainnya. “Kau bisa masuk penjara kalau sidik jarimu ada di tubuh korban.”

Ia menduga ibu dibunuh orang dan aku meraung kian kencang mendengar kata-kata orang itu.

Polisi datang siang hari, melingkarkan pita kuning di sekeliling rumah kami, dan mengamati apa saja di dalam kamar tidur, seperti ingin menemukan nyawa ibuku di sela-sela kusen atau di kolong-kolong.  Pencarian mereka sia-sia. Rumah kami tetap seperti semula dan semua benda tetap berada di tempatnya—kecuali nyawa ibu. Mereka kemudian membawaku ke kantor polisi dan menanyaiku beberapa hal dan aku menjawab sebaik mungkin semua pertanyaan mereka. Selanjutnya mereka mengirimku ke rumah sakit jiwa.

Padahal aku sudah menjawab semua pertanyaan mereka dengan sikap sabar dan rasa kasih yang kupelajari seumur hidup dari ibuku, namun mereka membuat keputusan yang tidak masuk akal. Perhatikanlah bagaimana caraku menjawab mereka dan kau akan tahu betapa tidak adilnya keputusan mereka untuk membawaku ke rumah sakit jiwa.

“Kau tahu kenapa dibawa kemari?” tanya salah seorang dari mereka.

“Ya,” kataku.

“Kenapa?”

“Bapak ingin tahu di mana nyawa ibuku berada.”

“Kau diduga melakukan pembunuhan terhadap ibumu sendiri.”

“Aku menyayangi ibuku, Pak,” kataku. “Apakah Bapak tega membunuh orang tua Bapak sendiri jika Bapak menyayanginya?”

“Menurut catatan kami, kau sering melakukan tindakan-tindakan dalam keadaan tidur. Ada tetanggamu yang pernah melihatmu menjala ikan pada tengah malam. Ia menceritakan pengalamannya kepada kami. Ia bilang, ‘Saya menegurnya waktu itu tetapi ia tidak menjawab. Lalu saya pandangi ia lekat-lekat. Rupanya ia tidur.’ Setelah itu, katanya, kau masuk ke dalam rumah dan meneruskan tidur dan tidak pernah tahu bahwa kau sudah menjala ikan di empang.”

“Memang kadang-kadang aku menjala ikan di empang, tapi aku tidur di kamar tidurku bersama ibu. Belum pernah aku tidur di empang sambil menangkap ikan, Pak. Pasti tetanggaku keliru. Sebetulnya ada satu rahasia di rumah kami. Bapak mau tahu?”

Polisi itu memandangiku.

“Baiklah kusampaikan, tapi Bapak harus berjanji tidak akan menceritakannya kepada siapa pun. Bapak bisa memegang rahasia?”

Polisi itu memandangiku. Mungkin ia ragu apakah akan kuat atau tidak memegang rahasia.

“Yang dilihat tetanggaku itu sebenarnya Tuhan, Pak. Dia sedang menyamar sebagai aku. Bapak tahu Tuhan bisa menyamar sebagai siapa saja dan malam itu Dia menangkap ikan-ikan dan menaruhnya di samping perigi. Begitulah Dia menurunkan mukjizat kepada kami beberapa kali.”

“Jadi kau tidak merasa melakukan apa-apa tadi malam?” tanyanya.

“Aku tidur di samping ibuku. Kalaupun aku melakukan sesuatu, itu pasti hanya kejadian dalam mimpi,” kataku.

“Kau bermimpi?”

“Ya, mimpi yang baik.”

“Kau tidak tahu bahwa kau telah mencekik ibumu?”

“Sebaiknya Bapak segera membasuh kepala dengan air dan jangan bekerja di hari Sabtu.”

Aku tahu mereka keliru. Malam itu aku bermimpi menyembelih kambing dan semua orang tahu bahwa menyembelih kambing adalah perbuatan baik dan setiap perbuatan baik tetaplah baik kendati hanya dilakukan dalam mimpi. Jika mimpiku menyebabkan ibuku mati, maka ia akan mati dengan sayatan di batang lehernya. Namun ia tidak begitu. Ibu meninggal dengan mata membelalak dan lehernya utuh dan aku sedih kehilangan orang yang menyayangiku.


SEBENARNYA aku kurang senang ketika polisi mengirimku ke rumah sakit jiwa namun aku tidak menyampaikan keberatanku kepada mereka. Ibu mengatakan bahwa selalu ada hikmah di balik setiap kejadian dan aku menuruti nasihat ibuku dan itu membuat kepalaku tenang. Kuanggap saja mereka memasukkanku ke kuil. Di sana aku berlaku sebagai pendeta yang selalu khusyuk dan santun dan aku berdoa semoga ibuku juga bisa mendapatkan hikmah dari kejadian yang membuatnya meninggal. Di mana pun ia sekarang berada, aku yakin ia bisa mengambil hikmah atas kejadian itu, sebab ia sering mengingatkan aku tentang hikmah. Bagiku ia selalu orang baik, meskipun malam itu kami agak ribut tentang lutung. Aku tidak sakit hati kepadanya dan kupikir polisi membuat kesalahan karena menuduh aku telah mencekiknya.

Sampai kapan pun, aku akan tetap mengatakan bahwa malam itu aku hanya bermimpi menyembelih kambing dan itu perbuatan baik. Polisi harusnya tahu bahwa jika kau menyembelih seekor kambing, meski hanya dalam mimpi, maka hewan itu akan menyelamatkanmu dari api neraka.

Kepalaku pernah dikencingi iblis, kata ibu, dan aku menjadi bebal karenanya dan orang bebal adalah yang pertama kali masuk neraka. Sejujurnya aku tidak takut masuk neraka karena pasti akan ada banyak teman di sana. Sebuah penderitaan, kautahu, selalu akan terasa ringan jika ditanggung beramai-ramai oleh banyak orang. Meski demikian, kalau boleh memilih, aku lebih suka berada di surga dan bertemu lagi dengan ibu di sana. Pada saat itu, aku akan membuatnya senang dan memintanya melanjutkan cerita tentang lutung yang belum kuketahui ujungnya.

Jadi, baiklah kukatakan bahwa aku ingin masuk surga. Karena itu aku tidak mau menyakiti ibu. Aku melakukan apa-apa yang dinasihatkan oleh ibuku dan mengerjakan saran-saran yang kubaca dari buku panduan menjadi orang baik. Dan aku bermimpi menyembelih kambing, sebuah tindakan baik, sesuai dengan buku-buku panduan yang mengatakan bahwa apa pun yang kauimpikan niscaya kelak menjadi kenyataan. Menyembelih kambing adalah impian yang penting bagi keselamatan hidupku. Kelak binatang itu menjadi tunggangan yang mengantarku ke surga.

Di kuil, aku terus berdoa dan bermimpi mengerjakan hal-hal baik dan aku tahu bahwa para dokter di sini, sama halnya dengan polisi yang tak memahamiku, hanyalah orang-orang yang berlagak baik. Pada kenyataannya mereka mencibirku di belakang punggung. Pernah kudengar mereka menyampaikan kepada beberapa tamu yang datang kemari: “Ia terobsesi menjadi nabi.” Saat itu aku sedang melakukan tindakan mulia mengingatkan orang-orang di sekelilingku betapa berbahayanya air kencing iblis.

Tidak apa-apa mereka menganggapku kurang waras, itu akan menjadi pahala bagiku, dan aku mengampuni siapa pun yang menganggapku kurang waras. Bagaimanapun mereka hanyalah segerombol orang dengan kepala basah kuyup oleh air kencing iblis, sama seperti aku sebetulnya, namun aku sanggup menemukan hikmah dari setiap kejadian dan dari cerita-cerita yang dulu dituturkan oleh ibu. Mereka tidak seperti itu.

Mereka menjalani hidup yang sia-sia dan tidak pernah mampu memetik hikmah dari segala kejadian. Sekiranya ibu tidak datang menemuiku,  niscaya sudah kutinggalkan kuil ini dan kubiarkan saja mereka menempuh jalan sesat. Ibuku orang baik, kautahu, dan sekarang ia menjadi bidadari dan punya sayap di punggungnya seperti angsa. Aku sedang mengkili-kili kupingku dengan bulu ayam ketika ia datang. Dimintanya aku tetap tinggal di kuil menjaga mereka dan kubilang, “Baiklah!”

Sebelum pergi lagi ia menyarankan agar aku lekas ke kolam membasuh kepala.

“Tunggu sebentar,” kataku.

“Kenapa kau selalu membantahku?” katanya.

“Aku tidak membantahmu. Aku hanya bilang tunggu sebentar.”

“Jangan bebal, Dhani. Lekaslah ke kolam dan basuh kepalamu.”

Paras wajahnya berubah sedih. Aku tidak tega melihatnya bersedih. Ia bidadari yang baik dan sayapnya besar sekali dan aku sangat menyayanginya. Maka kukatakan sekali lagi, “Baiklah!” dan aku menuju ke kolam.

Di depan sana, seorang lelaki sangat tua sedang duduk di sebuah ayunan; jenggotnya panjang sekali dan umurnya mungkin seribu lebih. Mungkin ia Tuhan yang sedang beristirahat setelah melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Aku berbelok menjauhi kolam dan mendekati lelaki itu dan menanyakan kepadanya apakah ia Tuhan. Ia terus bermain ayunan dan tidak memedulikanku. Mungkin ia bukan Tuhan.

Di sebelah sana lagi, aku melihat lelaki tua yang lain sedang duduk di bangku semen di bawah pohon; ia sedikit lebih tua ketimbang lelaki bukan Tuhan yang mendiamkanku. Kutaksir ia sudah ada sebelum Masehi. Aku mendekati lelaki di bangku semen itu dan semakin menjauhi kolam.

Dari samping kanan ia memancarkan kewibawaan seorang pencipta. Dari samping kiri ia tampak sedikit congkak dan seperti sudah duduk di bangku semen itu sejak hari pertama dunia diciptakan. Lalu aku memberanikan diri memandanginya dari depan, hanya sebentar, dan kemudian membalikkan tubuh membelakanginya. Pelan-pelan kubungkukkan badanku sampai mukaku berada di sela-sela kedua lututku. Dilihat dari depan dengan cara terbalik seperti itu, ia tampak lembut dan penyayang seperti seorang gembala yang sabar menunggui kembalinya para domba.

Pengujianku selesai. Kusampaikan kepadanya bahwa lelaki di ayunan sana itu mencoba menampilkan dirinya sebagai Tuhan, tetapi aku tidak percaya sebab di dunia ini hanya ada satu Tuhan. Maka, dengan penuh kerendahan hati aku mengajaknya bercakap-cakap. “Kami yakin padukalah orangnya,” kataku. “Lelaki tua di ayunan itu hanya seorang jompo yang sedang menyamar, tetapi padukalah kiranya yang pernah dua atau tiga kali menurunkan mukjizat ikan-ikan di rumah kami dan sekarang kami senang sekali bertemu dengan paduka dan kami ingin mendengarkan sesuatu dari mulut paduka.

“Maka, kami mohon paduka sudi menyampaikan kepada diri kami apa yang perlu disampaikan kepada orang-orang agar mereka terhindar dari iblis yang suka mengencingi kepala mereka.”

Orang tua itu tidak bergerak dan tidak menyampaikan apa-apa. Tetapi aku tahu ia Tuhan karena aku bisa mendengar perintahnya meskipun ia tidak membuka mulut. Ia memintaku memejamkan mata dan aku menuruti permintaanya. Dengan mata terpejam aku menerima tiga perintah darinya, sebagai pelengkap atas sepuluh perintah yang sudah pernah disampaikannya kepada orang zaman dulu.

Pada malam hari aku meneruskannya kepada seorang jurutulis kuil yang setia mendampingiku dan rajin mencatat ucapan-ucapanku. Ia juga orang yang tekun mengumpulkan semua cerita dan lagu yang pernah kukarang dan ia menyusun cerita ini dengan izinku. Kusampaikan kepadanya tiga perintah yang kuterima dan ia menjadi pengikutku yang pertama. Sekarang, kemana pun ia pergi, ia selalu memakai topi demi menghindarkan kepalanya dari air kencing iblis, dan ia selalu menghormati polisi karena Tuhan memerintahkan begitu, dan ia tidak pernah mencekik ibunya sendiri, baik di saat tidur maupun terjaga. []

*) Dimuat di Jawa Pos, Minggu, 9 November 2014

Tentang situs KitaPKS dan Edisinews dan Ikhtiar Mempertahankan Dusta


Tabulasi “real count” versi PKS memberi kita pelajaran berharga, yakni bahwa anda akan repot sekali memberi alasan pembenar pada dusta. Jika anda berupaya keras melakukannya, maka yang anda lakukan tidak lebih adalah ikhtiar yang akan mempermalukan dan mencincang diri sendiri.

Ketika PKS mengumumkan kemenangan Prabowo-Hatta Rajasa, pada malam hari tanggal 9 Juli 2014,  dan menyodorkan tabulasi yang mereka sebut sebagai hasil “real count” partai tersebut, keesokan harinya saya melakukan pencarian dengan Google dan menemukan tabulasi tersebut di kaskus.co.id. Ada daftar 33 propinsi di sana beserta perbandingan perolehan suara antara Prabowo-Hatta Rajasa dan Jokowi-JK. Dalam tabulasi itu, Prabowo-Hatta Rajasa menang dengan meraih 52% suara. PKS menyatakan bahwa itu adalah data yang mereka kumpulkan dari para relawan mereka di seluruh TPS di Indonesia.

Mencermati angka-angka dalam tabel itu, samar-samar saya ingat bahwa sepertinya saya sudah pernah mendapati tabel yang sama beberapa hari sebelum pemilu. Pelacakan melalui Google mempertemukan saya dengan situs Edisinews.com yang memuat berita berjudul Prabowo-Hatta Menang Pilpres Versi Pendukungnya. Tertera tanggal 5 Juli 2014 di bawah judul berita, yang dalam kelaziman jurnalistik berarti berita itu diunggah pada tanggal tersebut, atau empat hari sebelum hari pencoblosan. Berita itu menyertakan tabel dengan urutan dan perbandingan perolehan suara yang sama persis dengan yang ada di tabel “real count” versi PKS tanggal 9 Juli 2014.

Fakta seperti ini membuat saya berkesimpulan bahwa PKS telah mendustai publik. Di mata saya, PKS adalah partai politik yang makin lama makin mengecewakan. PKS mengesankan diri sebagai partai yang jujur dan bersih, tetapi perangai para elite partai tersebut dan kasus korupsi yang melibatkan mereka adalah fakta yang membikin kita muak. Dengan perangai seperti itu PKS hanya akan membuat orang berpikir bahwa partai Islam pun, yang mengaku diri jujur dan bersih, tak lebih dari kendaraan politik yang dijalankan dengan akhlak buruk. Partai ini selalu menunjukkan hasrat berlebihan untuk selalu nebeng di gerbong kekuasaan dan tak sungkan berdusta dan mereka tetap mengesankan diri sebagai representasi Islam.

Demi mengabarkan yang sebenarnya tentang dusta "real count" PKS, saya menulis di Facebook, tanggal 11 Juli, seperti berikut:
Saya ingin mengulangi pernyataan saya: Sesungguhnya saya tidak suka pada semua partai politik, tetapi pada PKS saya benar-benar benci. Kenapa PKS selalu tampak menyebalkan, manipulatif, dan suka membikin masalah?
Untuk mendukung klaim kemenangan Prabowo-Uban, PKS mengeluarkan apa yang ia sebut "real count" berupa tabulasi yang memenangkan pasangan No 1 itu dengan perolehan 52%. Hasil "real count" ini diumumkan tanggal 9 Juli, untuk menangkis hasil quick count yang memenangkan Jokowi-JK. 
Tabulasi yang sama, dengan rincian angka yang sama persis, sebenarnya sudah pernah dimunculkan tanggal 5 Juli, atau empat hari sebelum hari pencoblosan, dan dinyatakan oleh PKS sebagai prediksi. Dalam gambar ini sengaja saya jajarkan tabel prediksi dan tabel "real count". Memang tak bisa menampilkan daftarnya secara utuh, tetapi kau bisa menemukannya sendiri melalui google. Tanggal sengaja saya beri lingkaran merah.
Jadi, PKS, maumu ini sebenarnya apa? Yang terang saja, tho.
Gambar di bawah ini saya sertakan dalam status tersebut.


Pada hari yang sama, siang pukul 14.35, harian Republika menurunkan berita berdasarkan status tersebut di situs online-nya. Judul beritanya: Real Count PKS Dipertanyakan.

Urusan manipulasi “real count” oleh PKS ini menjadi makin ramai dibicarakan di media sosial Facebook dan Twitter. Rupanya pengelola situs Edisinews.com ingin menghilangkan jejak dengan cara menghapuskan berita tanggal 5 Juli dari situsnya. “Buka saja cache-nya,” kata saya ketika seseorang menyampaikan bahwa ia tidak bisa lagi menemukan berita tersebut.

Satu hal lain yang dilupakan oleh pengelola Edisinews: mereka lupa pernah membuat kicauan di twitter, tanggal 5 Juli 2914, seperti ini:


Reaksi Kalap PKS

Tahap berikutnya, orang-orang PKS mulai melancarkan serangan. Beberapa teman memberi tahu saya bahwa situs kitapks.com (Kita PKS) menurunkan tulisan berjudul Ini Dia Orang yang Memfitnah PKS Buat Real Count Rekayasa. (Jika tulisan itu dihapus juga, ingatlah bahwa Google menyediakan cache yang bisa diakses.) Tulisan tersebut diakhiri dengan paragraf yang tampaknya berhasrat memutar balikkan fakta dan melemparkan tuduhan (mungkin ini strategi yang dipelajari PKS jika mereka dalam situasi tak bisa apa-apa lagi). Saya kutipkan paragraf itu apa adanya: “Sepertinya, As Laksana tahu siapa yang memposting data tersebut pada edisinews dan mengapa tanggal publish edisinews berubah dari tanggal 10 juli ke 5 juli, termasuk mengapa screenshots tersebut ada di kaskus.co.id. Karena As laksana yang pertama kali membedah hal tersebut dan mempostingnya di laman maya.”

Paragraf itu ngawur, screenshot berita Edisinews tanggal 5 Juli itu saya buat sendiri setelah selesai membaca berita tersebut dan ia tidak pernah dimuat di Kaskus.co.id. Sebagaimana saya sebutkan di atas, berita tersebut sudah dihapus dari situs yang memuatnya, namun kita tetap bisa mengaksesnya dengan mengklik Google’s cache.

Saat saya membuka cache tersebut, untuk kepentingan tulisan ini, di bagian atas halaman kita bisa membaca keterangan: “This is Google's cache of http://edisinews.com/m/berita-prabowohatta-menang-pilpres-versi-pendukungnya.html. It is a snapshot of the page as it appeared on 6 Jul 2014 01:08:09 GMT. The current page could have changed in the meantime.” (Ini adalah google’s cache dari http://edisinews.com/m/berita-prabowohatta-menang-pilpres-versi-pendukungnya.html. Ia merupakan snapshot dari halaman tersebut pada tanggal 6 Juli 2014 pukul 01:08:09 GMT. Halaman itu bisa jadi sekarang telah diubah.)

Sebenarnya saya tidak tahu siapa pengelola Edisinews.com, namun berkat paragraf penutup yang ngawur itu saya justru terdorong ingin tahu siapa sebenarnya rpemilik situs tersebut. Maka saya cari di situs “whois” dan ketemulah nama pemilik domain Edisinews.com itu, yakni Mahmud F. Rakasima. Saya kenal orang ini. Ia teman saya di Tabloid DeTIK dan sudah lama sekali kami tidak saling bertemu dan sekarang ia menjadi wakil sekjen Gerindra. Sebelum di Gerindra Mahmud pernah di Litbang PPP. Di samping melompat-lompat dari partai satu ke partai lain, Mahmud Rakasima juga bekerja di BNP2TKI sebagai Kepala Bidang Media dan Komunikasi Publik. Ia punya akun di Kompasiana dengan status “account suspended”

Bersama Syahganda ia pernah menerbitkan tabloid Daulat Rakyat.

Syahganda adalah salah satu pendiri akun @triomacan2000, yang namanya sering berganti-ganti. Nama-nama lain di belakang akun twitter itu adalah Raden Nuh dan Abdullah Rasyid.

Dalam kampanye pilpres saat ini, Mahmud, Syahganda, Raden Nuh, Abdullah Rasyid bekerja untuk Prabowo dan rajin menggencarkan kampanye hitam untuk menyerang Jokowi. Satu nama lainnya adalah Muchlis Hasyim Jahja, mantan wartawan Media Indonesia, yang disebut-sebut mendanai tabloid Obor Rakyat dan menjalankan bisnis media yang didanai oleh Muhammad Riza Chalid. Tentang Muchlis Hasyim, Obor Rakyat, dan Riza Chalid, harian Media Indonesia pernah membuat laporan menarik berjudul Pengusaha Minyak di Balik Obor Rakyat.

Itulah sedikit catatan tentang “real count” manipulatif yang diumumkan oleh PKS dan ikhtiar kalap mereka dalam membenarkan dusta yang mereka lakukan. Dan demi mempertahankan dusta itu orang-orang partai yang mencitrakan dirinya Islami itu tanpa sungkan menuding orang lain sebagai penyebar fitnah, meskipun mereka tahu betul seperti apa yang sebenarnya. Sejujurnya, saya benci PKS karena partai ini menyebabkan orang berpikir bahwa politisi Islam adalah orang-orang yang suka berdusta, suka nebeng kekuasaan, dan tak bisa dipercaya.

Catatan tambahan: Jika PKS Pyongyang mau menggunakan tulisan ini sebagai bahan berita, saya mempersilakannya dengan senang hati. [*]

'Quick Qount' dan Hal-Hal Jenaka Lainnya

Kolom Ruang Putih, Jawa Pos, Minggu 13 Juli 2014

Saya merasa tenang sejenak setelah pencoblosan usai dan bersantai-santai memantau hasil hitung cepat di website RRI dan media-media besar yang menayangkannya. Saya tidak menonton televisi. Saya memilih RRI karena lembaga ini disebut-sebut sebagai yang paling akurat hasil hitung cepatnya dalam pemilu legislatif April lalu. Namun karena tidak ingin hanya menyandarkan diri dari satu sumber, saya mengikuti juga hasil-hasil hitung cepat yang ditayangkan oleh media-media lain.

Di situs-situs yang saya lihat, semua hasil hitung cepat menampilkan kemenangan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla, dengan persentase yang kurang lebih sama, yang jika dipakai angka bulat adalah 52% berbanding 48%. Di Jakarta, para pendukung Jokowi yang merasa lega segera turun ke jalan, meluapkan kegembiraan mereka di bundaran HI. Saya melihat foto-foto mereka di jejaring sosial.

Namun yang memenangi pemilihan versi hitung cepat rupanya tidak hanya pasangan Jokowi-JK, kubu Prabowo-Hatta Rajasa pun merayakan kemenangan. Seorang teman menelepon saya dan menceritakan bahwa di TV One Pak Prabowo melakukan sujud syukur. Lembaga-lembaga survei yang bekerja sama dengan TV One, ada empat jumlahnya, semua menampilkan hasil hitung cepat yang memenangkan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa.

Selanjutnya mulai muncul hal-hal yang jenaka. Para penonton yang kritis dan jeli menemukan bahwa persentase salah satu lembaga yang ditampilkan oleh TV One melebihi seratus persen. Ada yang berkelakar, “Yang satu persen itu adalah para pemilih dari Planet Mars.”

Mungkin saking terburu-burunya ingin segera mengabarkan perkembangan situasi, situs inilah.com menulis berita berjudul Kubu Jokowi Pantau Quick Qount di NasDem dan PDIP. Sampai saya menyelesaikan tulisan ini, judul di situs tersebut masih tetap menggunakan “Quick Qount” dan bukan “Quick Count”.

Politisi PKS Fahri Hamzah menyambut kemenangan Prabowo-Hatta Rajasa itu dengan menampilkan foto hasil hitung cepat dari lembaga IRC dalam kicauannya di twitter. Di foto itu kita bisa melihat perolehan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa adalah 52,30% dan Jokowi-JK 46,80%. Jika dijumlahkan, kita hanya mendapatkan 99,10%, atau kurang 0,90% dari yang seharusnya 100%.

Itu keteledoran yang memalukan oleh lembaga-lembaga survei, yang semestinya sangat akrab dengan angka-angka dan persentase, dan semua orang tahu bahwa tidak mungkin ada jumlah total yang melebihi seratus persen atau kurang dari seratus persen. Saya tidak akan mempercayai lembaga yang teledor semacam itu. Namun Pak Prabowo tampaknya mempercayai hasil Quick Count lembaga-lembaga yang teledor itu dan menjadikannya alasan untuk bersujud syukur dan menyatakan kemenangan.

Demi memantapkan klaim kemenangan tersebut, pada malam harinya PKS mengeluarkan hitung-hitungan yang ia sebut “real count”, lengkap dengan tabulasi rinci yang konon sudah mencakup perhitungan suara di seluruh TPS di Indonesia. Saya salut pada PKS yang sanggup bekerja cepat. Menurut saya, jika pemilihan presiden diserahkan penyelenggaraannya kepada partai ini, tentu kita tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mengetahui hasil sesungguhnya. Pada hari yang sama setelah pencoblosan, kita sudah akan tahu siapa presiden kita.

Oh, tunggu dulu! Bukan pada hari yang sama dengan hari pencoblosan. Bahkan empat hari sebelum hari pencoblosan kita sudah akan tahu siapa presiden kita yang akan menggantikan Pak SBY. Tabulasi nasional yang dinyatakan oleh PKS sebagai “real count”, yang dikeluarkan pada malam hari tanggal 9 Juli, rupa-rupanya sama persis angka-angkanya dengan tabulasi nasional yang mereka keluarkan pada tanggal 5 Juli. Saat mereka mengeluarkannya pada tanggal 5 Juli, mereka menyebutnya prediksi. Saat mereka mengeluarkannya lagi pada tanggal 9 Juli, mereka menyebutnya sebagai “real count”.

Tabulasi prediksi itu sekarang sudah dihilangkan dari halaman situs tempat saya menemukannya pertama kali, tetapi saya sudah menyimpannya dan menjadikannya gambar. Mesin pencari Google juga tetap menyimpan file tabulasi tersebut dan anda masih bisa membukanya melalui cache (tembolok) mesin pencari tersebut. Kita patut bersyukur bahwa Google memiliki tembolok yang baik untuk menyimpan setiap file yang pernah diunggah di internet, sehingga orang-orang yang teledor tidak bisa seenaknya bertindak ngawur dan kemudian menghapusnya esok hari ketika diprotes orang.

Hari berikutnya lagi, seorang bekas direktur eksekutif INES, salah satu lembaga survei yang mendukung Prabowo, menyatakan bahwa ia tidak yakin lembaga di mana ia pernah bekerja itu benar-benar melakukan survei.

Saya berpikir bahwa biang keladi keruwetan quick count (atau quick qount menurut inilah.com) adalah TV One. Televisi nasional ini sengaja bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang kredibilitasnya rendah dan menyiarkan informasi hitung cepat yang meracuni publik. Para pengelola televisi ini perlu tahu bahwa mereka telah keliru menggandeng rekan kerja sama, dan akibatnya mereka menyampaikan informasi yang bisa mengganggu ketenteraman hidup bertetangga.

Saya tidak akan terlalu peduli sekiranya TV One hanya keliru menginformasikan bahwa jambul nusantara Syahrini sekarang berwarna hijau, padahal sebetulnya mungkin berwarna ungu. Saya tidak akan berharap televisi ini meminta maaf ketika mereka menyiarkan berita dan mencantumkan bahwa tempat kejadiannya di “London, Jerman”. Di internet kita bisa menjumpai anak-anak muda menjadikan kekeliruan semacam itu sebagai bahan olok-olok dan lucu-lucuan.

Namun informasi beracun tentang hasil Quick Count oleh lembaga-lembaga teledor itu, bagaimanapun, tidaklah seremeh kekeliruan mengabarkan apa warna jambul seorang artis. Informasi yang keliru dari lembaga-lembaga tidak kredibel inilah yang menjadi dasar bagi Pak Prabowo untuk menyatakan kemenangan dirinya dan ia segera menyambutnya dengan sujud syukur. Kekeliruan oleh TV One ini juga mendorong PKS melakukan manipulasi “real count”.

Karena kekeliruannya berpotensi membahayakan dan mendorong pihak-pihak lain melakukan manipulasi, saya berpendapat bahwa TV One semestinya berani meminta maaf kepada publik dan mengakui kekeliruannya telah bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang tidak kredibel.

Apa alasan TV One memilih bekerja sama dengan lembaga-lembaga itu dan menayangkan hasil Quick Count mereka tanpa memedulikan validitas metodologi mereka? Bahkan TV One mungkin tidak peduli apakah mereka benar-benar melakukan survei atau tidak. Sebagai warga negara, saya kecewa. Sebagai konsumen, saya menggunakan hak pribadi saya untuk menuntut TV One meminta maaf secara terbuka kepada publik karena telah menyiarkan hasil-hasil Quick Count dari lembaga-lembaga yang serampangan dalam bekerja. [*]

Stok Kampanye Hitam tak Ada Habisnya


Saya menemukan iklan ini di status facebook Killerpreneur. Itu nama akun Mahar Prastowo (ia juga menyebut diri sebagai Mahar Writerpreneur). Kalau belum muak dengan fitnah dan provokasi, sila anda tengok wall facebook orang ini. Di statusnya yang sangat menghasut, yang saya jadikan gambar ini, ia menyebut iklan tersebut sebagai "Iklan Resmi yang dirilis Tim Pemenangan Nomer 2."

Saya mengutuk keras jika iklan itu memang dibikin oleh pendukung Jokowi-JK. Dan saya juga mengutuk keras jika iklan itu sengaja dimunculkan sendiri oleh pihak pendukung Prabowo-Hatta Rajasa--demi memberi kesan buruk terhadap tim Jokowi.

Status facebook Killerpreneur itu lengkapnya seperti ini:
Iklan Resmi yang dirilis Tim Pemenangan Nomer 2 . Mengherankan bahwa KOMPAS Group dan GOOGLE INDONESIA menerima IKLAN seperti ini. Saya khawatir kalau kemudian ada persangkaaan bahwa gambar sadis insinuasi ini justru dianggap sudah cukup untuk menunjukkan pilpres ini persaingan kelompok nasionalis religius dengan (seperti) kelompok yang tahun 1960an teriak: GANYANG SANTRI! GANYANG MASYUMI! GANYANG BANSER! dan tahun ini teriak: GANYANG TVONE! tapi nggak jadi, soalnya kalau TVOne (adiknya ANTV) diganyang nggak bisa nonton Piala Dunia Hahaha... dan kemudian orang bilang bahwa BAHAYA LATEN sudah TIDAK ADA, karena sekarang SUDAH JELAS dan TERANG2AN ... 
Pertanyaan tentang iklan itu:

1. Bagaimana Mahar Prastowo bisa tahu itu iklan resmi Tim Pemenangan No 2?
2. Tim pemenangan yang beralamat di mana? Ada banyak sekali tim pemenangan Jokowi.
3. Apa bukti valid bahwa iklan ini dibuat oleh tim Jokowi?

Kita bisa saja menduga bahwa iklan ini dibikin sendiri dan dimuatkan ke iklan-iklan online oleh Mahar Prastowo dan timnya. Sekarang, mudah sekali bagi kita untuk memasang iklan di Google atau media-media online. Tapi abaikan saja kampanye hitam tersebut. Ia masih sama tujuannya dengan segala kampanye hitam sebelumnya. Dan topik yang diangkat pun masih seputar agama, sama dengan topik-topik kampanye hitam sebelumnya.

Yah, anda tahu, kekuatan utama Jokowi-JK adalah dukungan dari para relawannya, maka saya yakin barisan pendukung inilah yang sekarang sedang dihajar dengan kampanye hitam. [*]

Ziarah kepada Gus Dur

- Kolom Ruang Putih, Jawa Pos, 6 Juli 2014  

Gus Dur yang saya kagumi dan selalu saya cintai,

Maafkan saya jika mengganggu ketenteraman Anda, Gus. Saya kangen kepada Anda dan menulis surat ini seolah-olah Anda masih bisa membaca koran, masih bisa menerima e-mail, atau di tempat Anda di surga sana ada kotak pos.

Tiga hari lagi kami, rakyat yang Anda cintai dan mencintai Anda, akan memilih presiden baru untuk memimpin pemerintahan negara ini lima tahun ke depan. Situasinya sangat riuh. Di media-media sosial, kami seperti dua anak kampung saling meledek atau, lebih parah lagi, saling memaki. Tapi itu hanya terjadi di media sosial dan di media-media massa; secara umum situasi sehari-hari kami baik-baik saja. Memang ada beberapa kerusuhan kecil yang tidak menyenangkan, dalam keadaan panas orang bisa mudah terpancing, tetapi secara umum situasinya relatif damai.

Kabar baik lainnya, banyak orang mengerahkan kemampuan kreatif mereka untuk mengungkapkan dukungan kepada kandidat yang mereka percayai. Ada yang jelek, ada yang bagus, namun saya yakin semuanya muncul dari hati yang terpanggil dan rasa tanggung jawab terhadap masa depan negeri ini.

Gus Dur, pada situasi seperti ini, saya ingin sekali mendengarkan suara Anda. Kami ingin mendengarkan suara yang selalu bisa menenteramkan kami. Anda selalu tahu apa yang harus disampaikan dalam situasi riuh seperti ini dan bagaimana cara menyampaikannya.

Anda sudah membuktikan hal itu berkali-kali, baik saat memimpin NU maupun saat mengawal gerakan perlawanan menumbangkan Orde Baru. Sebagai anak muda yang mengagumi pemikiran dan sepak terjang Anda, saya malahan yang sebentar-sebentar merasa khawatir terhadap situasi sulit yang seringkali harus Anda hadapi.

Saya pernah merasa sangat cemas saat mengikuti Muktamar NU di Krapyak, 1989, saya masih kuliah waktu itu, dan muktamar diselenggarakan dalam situasi Anda sedang digempur kritik oleh para Kiai sepuh. Ketika perwakilan NU dari berbagai cabang menyampaikan kritik kepada Anda di arena muktamar, saya gemetar. Saya khawatir anda tidak bakalan terpilih lagi. Tetapi saat itu saya menyaksikan sendiri bahwa anda selalu tahu bagaimana cara menempatkan diri di dalam situasi yang sangat menekan sekalipun. Anda menanggapi semua kritik dengan tenang dan begitu meyakinkan. Akhirnya muktamar di Krapyak secara aklamasi memilih Anda untuk kembali memimpin PBNU. Saya senang sekali.

Situasi yang sangat genting juga terjadi dalam muktamar NU lima tahun kemudian di Cipasung, Tasikmalaya, tahun 1994. Saat itu Pak Harto sedang berbulan madu dengan kelompok politisi dan militer Islam, dan Anda di posisi yang berseberangan. Abu Hasan digunakan untuk mendongkel anda dari kepemimpinan NU. Saya juga ikut ke Cipasung, dihantui oleh kabar bahwa tentara mengirimkan sniper untuk menghabisi anda. Dan jawaban anda waktu itu membuat saya tenteram: “Tolong tanyakan kepadanya, apa agamanya. Kalau dia menjawab Islam, tolong tanyakan, nyawa ini milik siapa?”

Gus Dur, saya selalu mencintai Anda karena, di mata saya, anda adalah orang yang di masa Pak Harto selalu berjuang, hampir sendirian, untuk meredam gejala-gejala ekstrem dan sangat gigih menjaga kerukunan hidup antar-umat beragama. Saya senang ketika anda menjadi presiden. Saya juga ingin menyampaikan kepada Anda: bapak saya juga pengagum Anda. Ketika anda diturunkan dari kursi kepresidenan, bapak saya menelepon saya dan mengatakan akan berangkat ke Jakarta bersama rombongan demonstran dari Semarang untuk membela Anda. Saya bilang, "Tidak usah, Pak. Gus Dur baik-baik saja, kok, dan beliau meminta kita tetap tenang saja.”

Gus Dur, saya berziarah kepada anda hari ini karena sekarang orang-orang memanfaatkan anda untuk mendukung Prabowo dalam pemilihan presiden. Ada petikan ucapan singkat, yang Anda sampaikan tahun 2009, yang saat ini dijadikan alat kampanye seolah-olah Anda mendukung Prabowo. “Kalau pemimpin yang paling ikhlas itu Prabowo,” kata Anda.

Semoga Anda bersungguh-sungguh dengan ucapan itu, semoga Anda tidak sedang mengajak kami guyon ketika menyampaikannya menjelang pemilu lima tahun lalu. Namun, tidak apa-apa juga kalaupun Anda berniat guyon; saya selalu senang dengan guyon-guyon Anda. Saya senang dengan cara anda menempatkan diri dan menyampaikan pendapat tentang apa saja. Saya belajar banyak dari cara anda melihat persoalan. Sepertinya tak ada yang terlalu rumit.

Saya juga ingin seperti itu: menganggap bahwa situasi hari ini biasa-biasa saja dan bahkan lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Saya rasa itu cara berpikir yang lebih sehat.

Setelah Anda digunakan sebagai alat kampanye, beberapa hari lalu muncul jurnalis dari Amerika Serikat, Allan Nairn, membuka cerita pertemuan dirinya dengan Prabowo dan menceritakan wawancaranya dengan mantan Panglima Kostrad itu di tahun 2001. Di dalam tulisannya, Allan mengutip omongan Prabowo yang menyampaikan komentar sengit tentang Anda: “Bahkan militer pun tunduk kepada presiden buta. Bayangkan! Coba lihat dia, bikin malu saja.”

Allan berterus-terang bahwa ia melanggar prinsip jurnalisme untuk merahasiakan pernyataan-pernyataan off the record. Dan ia melakukan itu karena ada kepentingan lebih besar bahwa kami, rakyat Indonesia, perlu tahu informasi yang ia miliki. Maka ia menuliskan pertemuannya dengan Prabowo. Ia jurnalis dengan reputasi baik, Gus, dan ia berani mempertanggungjawabkan apa yang sudah disampaikannya.

Di luar semua keriuhan itu, Gus, saya pribadi sejak awal menolak pencalonan Prabowo. Saya bukan politisi, dan bukan orang yang memiliki kepentingan politik ketika menyuarakan pendirian saya. Sampai hari ini Prabowo tetap menyandang status sebagai pelaku penculikan. Dinyatakan atau tidak, saya yakin alasan pemecatannya adalah karena kasus penculikan ini. Ia sendiri dalam wawancara dengan media pada waktu itu mengakuinya. Pak Soemitro Djojohadikusumo mengakui bahwa anaknya melakukan hal itu karena perintah atasan. Selama tidak ada kemajuan secara hukum untuk kasus tersebut, apa boleh buat, ia tetap pelaku penculikan. Dan saya menolak pelaku penculikan menjadi calon presiden. Itu hak saya sebagai warga negara untuk memberinya sanksi sosial atas apa yang telah ia lakukan di masa lalu.

Posisi menolak itu membuat saya selalu mengikuti perkembangan dari hari ke hari menuju hari pemilihan. Memang pemilihan presiden kali ini diwarnai dengan gencarnya kampanye hitam, informasi yang dipelintir, dan pelbagai fitnah. Rasanya agak mual bahwa kampanye hitam menjadi strategi yang sangat efektif untuk menjatuhkan kandidat lain. Yang jauh lebih menyedihkan, bahkan tabloid penyebar fitnah bernama Obor Rakyat diproduksi oleh orang-orang yang bekerja di istana kepresidenan.

Kami sempat bingung dan kewalahan dijejali dengan pelbagai bentuk kampanye hitam. Saya tahu bawa tujuan fitnah disebar-sebarkan, selain untuk memisahkan publik dari kandidat yang dipilihnya, juga untuk membuat publik kewalahan atau overload. Kondisi overload ini membuat pikiran kami kelelahan dan kebingungan. Saya juga sempat seperti itu, Gus. Saya marah suatu hari, menangis pada tengah malam bulan Ramadhan. Sedih sekali membayangkan kenapa bisa terjadi seperti ini. Pada saat menangis itulah saya teringat Anda. Karena itu saya tulis surat ini. Saya pikir hanya Anda yang selalu bisa dengan enteng menanggapi situasi macam ini.

Berhari-hari saya memikirkan apa yang akan saya sampaikan sekiranya saya bisa bercakap-cakap dengan Anda. Sekarang saya sudah merasa jauh lebih tenteram. Saya ingin merasa rileks saja dengan semua ini, ingin menghadapi apa yang tengah berlangsung dengan perasaan girang, dengan sikap enteng: ini hanya fase yang harus kami lalui untuk menjadi lebih dewasa dalam berpolitik. Dan begitulah yang terjadi. Saya senang sekali jika Anda bisa menyaksikan bagaimana pemilihan presiden ini membuat banyak orang merasa ikut bertanggung jawab untuk memerangi kampanye hitam. Mereka melakukan tindakan-tindakan kreatif untuk menangkalnya.

Gus Dur yang saya cintai, tiga hari lagi kami memilih. Enam belas tahun lalu, Anda mengawal rakyat menumbangkan kekuasaan Pak Harto melalui gerakan people's power. Kami ingin mempertahankan kemenangan itu dan kami mohon Anda merestui apa yang kami lakukan. Salam dari orang yang selalu mencintaimu, A.S. Laksana [*]

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design