Kolaborasi dengan Linda Christanty: Catatan #1

Minggu lalu saya dan Linda Christanty bersepakat melakukan kolaborasi dalam waktu antara enam bulan sampai satu tahun untuk penulisan novel. Linda yang menulis novel dan ia akan melibatkan saya untuk membicarakan rancangan novelnya, membaca draft tiap-tiap bab yang ia rampungkan, dan menjadi editor untuk keseluruhan naskahnya. Dan kami berencana membuat catatan berkala tentang perkembangan kolaborasi ini.

Sesungguhnya kerjasama macam ini adalah hal yang lazim dalam tulis-menulis. Ada penulis, ada editor. Mereka bisa berdiskusi untuk menemukan kemungkinan terbaik bagi karya yang sedang dikerjakan. Mereka bahkan bisa saling debat: tentang plot, tentang karakter, atau bahwa bagian ini perlu dibuang dan bagian itu perlu digarap lebih baik lagi, dan sebagainya. Yang jelas, penyuntingan oleh editor adalah ikhtiar penting untuk membuat sebuah karya menjadi lebih bagus. Seorang penulis yang sudah matang tahu akan hal ini, ia tidak menganggap tulisannya adalah ayat-ayat suci yang terlarang diutak-atik. Seorang editor juga tahu bahwa urusannya adalah bekerja sama dengan penulis untuk menghadirkan sebuah karya dalam kemungkinan terbaiknya.

Kerjasama kami akan sedikit melampaui urusan penulis-editor, sebab, sebagaimana sudah dinyatakan di atas, saya dan Linda sudah akan duduk bersama sejak tahap perancangan, dan seterusnya, sampai editing akhir dan novel siap diterbitkan.

Hari Sabtu, 18 Mei 2013, kami memulai program kami dengan mengidentifikasi, semampu kami, aspek-aspek apa saja yang membuat karya para penulis seperti Kafka, James Joyce, Hemingway, Faulkner, Garcia Marquez, Tolstoy, Albert Camus, dll. menjadi karya-karya yang abadi dalam pembicaraan di kalangan para kritikus dan pembaca sastra. Kami membicarakan antara lain konteks sosial-politik saat karya-karya itu diterbitkan, juga situasi umum kesusastraan pada waktu-waktu mereka berkarya, kemudian apa yang membuat karya mereka mencuat. Kira-kira seperti yang dilakukan sebuah klub sepakbola untuk mengintip kekuatan klub lain sebelum mereka bertanding. Dan, sebagaimana kesepakatan kami sejak awal, urusan intip-mengintip ini lebih banyak akan menjadi urusan saya. Urusan Linda adalah menulis novelnya.

Dalam pertemuan pertama, pembicaraan kami fokuskan pada novel One Hundred Years of Solitude karya Gabriel Garcia Marquez. Novel itu mencengangkan pembaca AS ketika pertama kali diterbitkan oleh penerbit Argentina tahun 1967, juga menakutkan karena situasi perang dingin dan Marquez berada di sayap komunis. Setelah kejayaan Hemingway, Faulkner, Dos Passos, selanjutnya pembaca hanya disuguhi karya-karya yang, menurut pengamatan sejumlah kritikus, lembam dan tak bertenaga. Situasi itu membuat kritikus sastra Leslie Fiedler menyatakan, “Novel sudah mati.”

Di tengah situasi lembam ini, Garcia Marquez membuat hentakan spektakuler dengan novel Solitude, sebuah dongeng panjang dan berliku-liku tentang keluarga Buendia di Macondo. “Ini karya besar dan kompleks yang mencakup setiap aspek kehidupan manusia, dan dituturkan dalam struktur dan kecakapan yang setara dengan Herman Melville, James Joyce, Marcel Proust, William Faulkner, atau Vladimir Nabokov di puncak kehebatan mereka,” kata penulis Gene H. Bell-Villada.

Solitude, matahari terang yang menyingkirkan musim dingin di dunia sastra pada waktu itu, dituturkan dalam prosa yang jernih dan mudah dipahami, dengan ketakjuban murni pada segala keajaiban, dan dengan selera humor yang cerdas untuk menyampaikan kegagalan sebuah bangsa di masa lalu. Ia memukau pengamat dan memberi kegembiraan kepada para pembaca jelata. Ia seperti sejarah Amerika Latin versi Garcia Marquez.

Begitulah, kemarin kami memulai urusan kami dengan membuat pengamatan lebih dulu.

Kami membicarakan Solitude, sebuah novel besar yang menggarap tema politik, terutama karena daya tarik craftmanship-nya. Ia menuturkan perang saudara, pemogokan buruh, represi militer, dan pelbagai gejolak lainnya, dan Garcia Marquez menyampaikannya dalam kepiawaian seorang pendongeng ulung, seorang penulis dengan kemahiran teknik dan kejernihan bertutur, dan seorang jenius dalam berhumor. Sebagai penulis, Garcia Marquez sangat memahami watak kekuasaan di Amerika Latin, mengenali ceruk terdalamnya, dan karena itu ia begitu fasih bermain-main dengan bahan yang digarapnya. Ia bisa dengan enak menceritakan infiltrasi kaum konservatif di Macondo, kediktatoran revolusioner Arcadio yang gegap gempita, manuver licik dan retorika populis seorang tiran buta huruf, sampai cinta palsu seorang pelacur keji yang kemudian menjadi nenek. Ia mengaduk segala kemungkinan dan ketidakmungkinan, kekacauan sosial-politik, tragedi, dan menyajikan pelbagai perangai komikal dalam kesungguhan yang inosens—ia mengubah obsesi-obsesi naif menjadi sesuatu yang nyata dalam keseharian orang-orang Macondo.

Dalam novel ini Garcia Marquez menunjukkan penguasaan teknik menulis yang begitu lengkap dan ia menerapkannya dengan keluwesan seorang maestro. Jadi, ia patut kami pelajari secara sungguh-sungguh. Apa yang kami lakukan ini tidak lain adalah untuk menegaskan sebuah pengakuan: Kita belajar dari para maestro sebelum kita—melalui karya-karya mereka. Pada kesempatan selanjutnya, sambil membuat langkah maju untuk program kami, kami akan mempelajari karya para penulis lain.

Salam.
A.S. Laksana
NB: Kami terbuka terhadap masukan dari teman-teman. Karena itu merasalah ringan untuk menyampaikan pendapat atau usulan kepada kami berkenaan program kolaborasi ini.

Cerita yang Menghantam Kepala

*) Kolom Ruang Putih, Jawa Pos Minggu, 5 Mei 2013.

Untuk memperingati hari buku, tanggal 23 April 2013, The Guardian, Inggris, menurunkan sebuah artikel berisi kutipan sepuluh penulis tentang alasan mereka membaca buku. Kutipan kesepuluh dari Franz Kafka dan ia benar-benar mengganggu saya: “Jika buku yang kita baca tidak membangunkan kita dengan hantaman di kepala, untuk apa kita membaca? … Sebuah buku semestinya menjadi kapak bagi laut beku di dalam diri kita.”

Saya sendiri meyakini hal yang hampir serupa bahwa sebuah buku atau sebuah tulisan yang baik akan memiliki kekuatan untuk menghajar kita, atau mengguncang pemikiran kita. Kita perlu memperbanyak bacaan-bacaan seperti itu karena pada saat terguncang itulah kita menikmati momen kreatif. Tulisan-tulisan demikian akan membuat kita sejenak terperangah, namun apa yang disampaikannya mungkin akan melekat sangat lama dalam benak, dan ia membuat kita berpikir. Jika Anda penulis, tulisan yang baik akan memberi Anda rasa penasaran, “Kok bisa ia menulis seperti itu?” Itu rasa penasaran yang baik dan Anda perlu memilikinya, demi kebaikan Anda sendiri.

Efek terguncang semacam itu saya dapati ketika membaca cerpen “Efek Jera” Linda Christanty yang dimuat pekan lalu di harian ini. Saya suka membacanya dan ini kesukaan seorang pembaca saja, yang merindukan tema beragam dalam fiksi kita.

Sebagai pembaca, saya pembenci cerita buruk, dan saya membuat pernyataan terbuka tentang itu. Menurut saya cerita yang buruk lebih mengerikan ketimbang lepra, karena ia menularkan keburukannya. Kita belajar menulis pada orang-orang yang sudah menulis lebih dulu dari kita, antara lain dengan membaca karya-karya mereka. Dalam situasi sekarang, dengan ketiadaan media sastra yang berwibawa saat ini, khalayak akhirnya menentukan sendiri media mana yang dianggap sebagai barometer sastra Indonesia. Misalnya, secara diam-diam orang menganggap bahwa seorang penulis adalah sastrawan jika karyanya bisa tembus koran Kompas.

Itu pandangan yang tidak punya dasar. Kompas adalah harian umum dengan tiras besar, saya bayangkan seperti lelaki tua kaya dan berperut buncit, dan ia bukan koran sastra. Menjadikannya sebagai barometer karya sastra adalah penalaran yang keliru. Mungkin benar bahwa tingkat persaingan untuk dimuat di Kompas cukup tinggi dibandingkan di media lain, tetapi apakah Kompas menerapkan kriteria kesastraan untuk menentukan cerpen yang layak muat di koran itu? Tidak. Sebagai harian umum ia lebih berkepentingan menyiarkan berita-berita aktual ketimbang memikirkan sastra. Saya bahkan merasa bahwa ia memperlakukan cerpen sebagai berita, setidaknya jika saran dari redaktur koran itu bisa dijadikan pegangan. Begini bunyinya: “Amati tema yang sering diperhatikan media koran, terutama yang berelasi dengan peristiwa-peristiwa aktual.”

Aktualitas adalah kriteria utama pemberitaan. Ia tidak relevan diterapkan sebagai kriteria fiksi, dan menyesatkan karena kriteria itu muncul dari koran yang diposisikan oleh khalayak, secara tidak kritis, sebagai barometer karya fiksi Indonesia. Efek sebagai barometer ini diperbesar oleh penerbitan buku kumpulan cerita pilihan Kompas setiap tahun.

Akibat buruk dari penerapan harfiah prinsip aktualitas itu bisa kita lihat dari merajalelanya cerita-cerita yang menjalankan fungsi sebagai komentar sosial. Atau cerita-cerita yang menunjukkan keprihatinan terhadap kondisi negara—itu keprihatinan yang bersifat massal dan cenderung melahirkan karya-karya dangkal. Pengarang dengan keprihatinan yang bersifat massal semacam itu seringkali tidak mampu mengembangkan kepekaan artistiknya terhadap detail dan situasi individu.

Variasi dari keprihatinan massal tersebut adalah banyak bermunculannya cerita-cerita tentang orang susah, penderitaan hidup, kaum yang didepak oleh orang-orang kaya, dan lain-lain yang semacam itu. Itu tentunya juga dimaksudkan sebagai kritik sosial. Akibatnya, apa yang oleh publik dipahami sebagai karya sastra sesungguhnya adalah sebuah dunia yang sendu, sebuah melodrama, atau dunia yang selalu senja dan murung. Pengarang-pengarang yang sendu sering memiliki hasrat obsesif untuk puitis atau tampak falsafi, demi menyampaikan formula klise ini: sudah jatuh tertimpa tangga. Atau dalam kasus cerpen-cerpen “sastra koran” kita: sudah sendu tertimpa tangga.

Sebagai pembaca saya mengharapkan sesuatu yang lain. Misalnya, kenapa tidak ada cerita kita dengan karakter utama seorang presiden, atau seorang bekas menteri agama, atau seorang kepala kantor bea cukai? Apakah kebanyakan penulis kita tidak memiliki kecakapan untuk menangani karakter dengan profesi-profesi lebih tinggi dari pemulung, atau tukang becak, atau pelacur, atau sarjana pengangguran?

Di tengah perasaan jemu itulah saya menemukan “Efek Jera” Linda Christanty. Penulisnya pintar mengolah bahan, dan memberi saya rasa penasaran: apakah yang disampaikannya itu fakta? Atau setidaknya ia berangkat dari kenyataan yang kurang lebih seperti itu? Lantas siapa orang-orang yang ia jadikan model untuk tiap-tiap karakter dalam ceritanya?

Saya tahu itu rasa penasaran yang konyol. Fiksi adalah fiksi. Ia bisa memungut bahannya dari realitas, tetapi ia tetaplah realitas fiksional, yang sama sekali lain dari kenyataan yang kita jalani sehari-hari. Celakanya, meski menyadari itu, saya tetap tergoda untuk bertanya-tanya, siapa orang-orang itu? Dan apakah kejadiannya benar-benar begitu? Alangkah sialnya kita jika kejadian sesungguhnya benar-benar seperti itu. Kita dijadikan ajang main-main oleh tangan-tangan yang tak terlihat yang bermaksud membuat negara ini selalu rusuh. Kita dijadikan kelinci percobaan oleh sebuah kekuatan yang kehadirannya seperti hantu.

Catatan lain tentang cerpen itu, ia mengisi ruang kosong yang selama ini tak banyak dipikirkan oleh para penulis kita. Linda menuliskan tema politik hari ini dan menyodorkan kepada pembaca sebuah dunia rekaan yang terasa nyata. Ia penulis yang peka terhadap detail, dan ia tahu bagaimana menggunakan kekuatan detail untuk menggarap penokohan yang meyakinkan. Anabel, narator dalam cerita, bahkan memberi perhatian pada rambut seseorang yang rontok di lantai marmer restoran. Ana agen rahasia, dan ia terbiasa memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin saja bisa menggagalkan operasinya. Begitulah, Linda melakukan riset dan kemudian mengajak kita bermain-main dengan karyanya.

Itu cerita yang bagi saya memberi kesegaran. Sejauh ini fiksi-fiksi politik kita seolah mandek pada peristiwa 1965. Sejumlah penulis sudah menggarap tema itu. Saya membacanya pertama kali pada cerpen-cerpen Umar Kayam, kemudian Ronggeng Dukuh Paruk dan Kubah Ahmad Tohari, kemudian beberapa novel lagi, sampai yang terakhir Amba Laksmi Pamuntjak dan Pulang Leila S. Chudori. Sejak Kayam sampai karya paling akhir yang mengangkat tema 1965, kita disodori cerita-cerita tentang orang-orang yang disengsarakan oleh negara padahal “tidak benar-benar komunis” atau "belum komunis". Mereka mendapatkan perlakukan sangat buruk oleh pemerintah tanpa diadili apa kesalahan mereka.

Tentu saja orang-orang macam itu memang menarik dijadikan bahan cerita. Nasib buruk orang-orang inosens selalu bisa menyeret empati dan membangkitkan rasa iba. Namun, dengan mengekalkan cara pandang semacam itu, para pengarang kita sepertinya lupa mempertimbangkan pesan implisit bahwa dengan demikian orang-orang yang secara sadar memilih komunisme sebagai alat perjuangan layak diperlakukan seburuk itu.

Maka, dengan ingatan kepada ucapan Kafka, saya pikir cerpen Linda telah menjalankan perannya secara bagus untuk menghantam kepala saya. Tulisan ini adalah ucapan terima kasih saya sebagai pembaca.[*]

Efek Jera

Cerpen ini sebelumnya dimuat di Jawa Pos Minggu, 28 April 2013. Saya menyukainya dan kemudian meminta izin kepada Linda Christanty untuk memuat ulang di blog Ruang Berbagi ini. Salam. ASL




Oleh Linda Christanty

KECELAKAAN mobil di Montana membuat Ruth harus cuti beberapa waktu. Mobilnya menabrak pohon. Ia mengalami kebutaan wajah, tak dapat membedakan wajah-wajah orang secara detail.  Ia membutuhkan pertolongan dokter syaraf untuk memperbaiki fungsi otaknya. Lobus oksipital-nya membengkak. Menurut dokter, kerusakan ini sudah terjadi sejak lama dan Ruth tidak menyadarinya. Saya teringat ia pernah menembak orang di klab, yang disangkanya bekas pacar. Kalau benar tindakan tersebut akibat kebutaan, banyak sekali hal fatal yang sudah terjadi dan kami luput. Kebutaan wajah dapat mengakhiri karier Ruth.

Sebenarnya ia juga sedikit bermasalah dengan lobus frontal, karena tidak mampu mengendalikan perilaku seksualnya. Ia binal dan punya banyak kekasih. Hubungannya dengan para lelaki ini berhenti begitu salah seorang dari mereka mati.  Efek jera datang dari Razak.  Ketika kami masih tinggal bersama di satu apartemen di Kuala Lumpur, ia selalu berteriak keras-keras saat bercinta dengan Razak, wartawan Malaysia yang kelak tercabik oleh ledakan bom di Afghanistan. Teriakan saat bercinta orang-orang yang saya kenal tidak pernah sekeras Ruth. Dua teman seasrama saya dulu berteriak-teriak juga saat bercinta, tapi dalam batas kewajaran film-film biru. Teriakan Ruth seperti lenguh objek penyiksaan di penjara-penjara rahasia.

Setelah Razak menjadi serpihan daging mentah, Ruth tidak lagi menyukai laki-laki.  Dalam seminggu, ia telah memiliki kekasih baru, perempuan. Ia mengganti objek kelaminnya supaya tidak membayangkan serpih daging berserak di tempat tidur atau  di meja atau di lantai atau di sofa atau di dudukan kloset saat ia bercinta.

Ruth membantu saya masuk ke Indonesia pada 1983. Ketika itu ia mengepalai sebuah lembaga riset di Jakarta.  Persahabatan saya dengan Ruth cukup panjang. Pada 2008, ia mengenalkan saya pada lelaki cebol, botak, berkulit hitam, dan berhidung pesek di satu pesta komunitas budaya. “Dia orang penting. Kamu harus mengenalnya,” bisik Ruth di telinga saya, seraya tersenyum ke arah si cebol yang tengah menghampiri kami. Tak berapa lama, ia berbisik lagi, “Tapi itunya lumayan, gemuk meski jauh lebih pendek dari punya laki-laki Kaukasia. Ada yang lebih tinggi dan langsing dibanding dia di sini, tapi itunya kurus seukuran lidi, tidak terasa apa-apa, lepas terus. ”

Saya terbahak, tepat di saat si cebol tiba di hadapan kami, lalu Ruth memperkenalkan saya dengan nada suara yang manis, “Annabel Carson, peneliti konflik-konflik di Asia Tenggara.” Lelaki kurcaci ini bernama Bakar. Suaranya cempreng. Ia benar-benar cebol, sehingga saya terpaksa agak membungkuk untuk menggenggam tangannya yang kecil, mirip ibu guru menjabat tangan murid baru di taman kanak-kanak. Telapak tangannya terasa lengket, pertanda ia menderita hiperhidrosis, produksi keringat berlebih. Atau lebih serius lagi, ia mengidap diabetes. Ruth mengerdipkan mata. Saya tertegun. Dalam Bahasa Inggris, “bakar” berarti “burn”.  Kata itu bagai anak panah yang tengah menembus ke masa silam saya yang tergelap. Rupanya, kata kerja dapat menjadi sebuah nama di Indonesia.

Ruth kelak menjelaskan bahwa “bakar” yang menjadi nama orang Indonesia berasal dari nama orang Arab, tidak berkaitan dengan pertemuan api dan bensin yang menghanguskan gedung atau orang atau kampung. Beberapa kali saya bertemu dengan Bakar setelah itu. Kami melakukan kontak seksual sekali, kemudian tidak lagi.

Saya sangat terganggu dengan cucuran keringat Bakar. Mengapa cucuran keringat  itu  tidak jatuh ke pelimbahan saja, seperti peribahasa dalam Bahasa Indonesia tentang air cucuran atap. Saya seolah terbekap jas hujan yang basah waktu ia menimpuk (atau menumpuk? Bahasa Indonesia saya masih agak kacau) tubuh saya yang satu setengah kali lebar tubuhnya dan 30 sentimeter lebih panjang dengan tubuhnya yang ringan dan kurcaci itu.  Saya tidak menyukai permainannya. Teknik Bakar mirip tingkah kucing lapar mengais-ngais makanan sisa di tong sampah, mementingkan diri-sendiri dan tidak berseni. Untuk tampak perkasa, rupanya Bakar merasa harus menunjukkan dirinya seekor kucing. Mungkin ia bermaksud memukau dan menampilkan diri sebagai harimau jantan, tetapi tubuh kurcacinya menjadikan ia lebih mirip seekor kucing di mata saya.

Jangan-jangan Napoleon Bonaparte, si cebol paling ternama dalam sejarah, juga menerapkan teknik ini. Dan Bakar barangkali punya ambisi untuk dicatat sejarah, mengikuti jejak Napoleon. Saya pernah membaca sebuah artikel berjudul “Lelaki Bertubuh Pendek yang Mengguncang Dunia.” Ada tiga orang: Napoleon Bonaparte, Adolf Hitler, dan Kim Jong-Il. Suatu hari jumlah ini akan jadi empat, dengan nama Bakar.

Beberapa kali setelah itu Bakar mencoba memancing-mancing saya dan juga menyanjung-nyanjung saya sebagai salah satu yang paling memuaskan dalam hidupnya. Ia benar-benar tidak mampu menyembunyikan hasrat untuk mengulangi atraksi kucingnya setiap kali kami bertemu, tetapi saya menanggapi pancingannya dengan sikap biasa-biasa saja, seolah-olah saya tidak paham. Jika kami bertemu dalam acara-acara yang kami hadiri, sedapat mungkin saya menghindari pembicaraan berdua dengannya. Saya tahu ia berupaya mencari kesempatan untuk bicara berdua dengan saya.

Mungkin akhirnya ia menyadari bahwa saya selalu menghindar. Di satu pesta koktail meriah, di rumah duta besar Australia, ia menanyakan secara terus terang keengganan saya untuk mengulangi lagi dengannya, “Apakah saya tidak menarik secara fisik, atau bagaimana?” Suaranya terdengar khawatir bahwa ia gagal memuaskan. Saya menggeleng cepat, lalu berkata, “Bukan itu. Saya tidak suka seks.” Ia mendesak, “Sama sekali?” Tangannya menyikut paha saya dan bukan lengan saya, karena ia cebol. Saya diam saja, seolah-olah senggolan itu tak penah ada.

Penolakan Putri Salju membuat orang kerdil harus menghibur diri. Ia kemudian menuduh saya biseksual dan lebih cenderung ‘bi’. Saya pikir ia sedang melancarkan provokasi, tetapi itu jauh lebih baik daripada mendengarkan sanjungannya, karena itu saya tidak menolak dan juga tidak membenarkan apa yang ia katakan. Senyum adalah reaksi paling tepat untuk menghadapi provokasi semacam ini.

Di hadapan kami, sekelompok laki-laki hitam bertelanjang dada, menggenggam tombak, dan mengenakan rok serat kayu baru saja menyelesaikan tarian perang.  Orang-orang ini diterbangkan langsung dari Papua, bersama dengan batang-batang kayu untuk mereka ukir, disponsori sebuah perusahaan tambang emas dan uranium dari Phoenix, Arizona. Mereka dan benda-benda dari kayu yang dipajang di ruang tamu ini berkategori “barang asli” untuk pameran.  Duta besar kemudian berpidato tentang pelestarian seni ukir dari sebuah suku kecil yang populasinya 1.200 jiwa. Ia menunjuk ke patung ular, burung, buaya, ikan, kadal....

Di luar aksi kucing dan tong sampah, Bakar lumayan berguna. Ia mengenalkan saya pada orang-orangnya dan salah satu dari mereka bekerja untuk saya sampai sekarang. Sebenarnya saya mencoba mempekerjakan dua orang dari kelompok Bakar. Sengaja saya pilih dua lelaki peranakan Tionghoa, bukan orang-orang Jawa. Saya memanfaatkan rasa tidak terikat mereka terhadap Indonesia, yang bukan negeri asal nenek moyang mereka.

Saya menganggap semua imigran di seluruh dunia ini sama. Mereka tidak punya kesetiaan. Salah seorang ternyata bereaksi di luar dugaan. Ia sangat nasionalis. “Indonesia memang punya beberapa masalah,” katanya. “Tapi kami harus membangun Indonesia.... Di sini kami lahir, di sini kami mati. Kami harus optimistis.”  Tidak mungkin saya mengajak antek Sukarno dari Fukien bekerja sama. Saya menyukai keramahannya, saya menyukai mata sipitnya yang menatap saya sungguh-sungguh ketika ia menyampaikan kesetiaan kepada negeri kelahirannya, namun saya tak punya urusan apakah Indonesia akan terbangun sesuai cita-citanya, atau menjadi negara seperti Somalia: miskin, sarang bajak laut, tanpa harapan. 

Lelaki kedua bersikap santun berlebihan, sehingga saya merasa diberhalakan. Dugaan standarnya, orang seperti ini pasti punya masalah kejiwaan berat. Saya menyelidiki latar belakang keluarganya. Tiga adik perempuannya mengidap skizofrenia. Ayahnya meninggalkan ibunya untuk menimpuk (atau menumpuk?) tubuh perempuan lain. Selama setahun ibunya menginap di rumah sakit jiwa. Ia dan tiga adiknya kemudian diurus oleh sebuah panti asuhan. Ia sering dipukuli ayah dan ibunya yang tertekan oleh kehadiran satu sama lain, sebelum mereka akhirnya berpisah. Ia dikucilkan dalam pergaulan di sekolah. Ia suka berbohong dan mengemukakan sesuatu secara berlebihan untuk menunjukkan dirinya hebat dan perlu dihargai, sampai dewasa. Saya membutuhkan orang-orang seperti ini. Kalau ia mati, kami masih mempunyai segudang yang lain.

Suatu hari agen lain bercerita pada saya bahwa di suatu acara, lelaki ini berpidato dan berbohong. Ia menyatakan pernah mendirikan sebuah lembaga bantuan hukum di hadapan pendiri lembaga itu sendiri! Saya terbahak-bahak, sampai keluar air mata.  Untuk uji nyali, ia lulus dengan nilai 100. “Dia menguntungkan kita untuk sejumlah pekerjaan, An, tapi akan menyulitkan kita di kemudian hari,” kata agen ini, meminta saya berhati-hati. Saya tahu di mana batasnya dan sekarang ia masih menguntungkan. Sikap tebal muka Henry justru amat membantu. Keinginannya untuk terkenal mendorongnya lebih tebal muka lagi.

Banyak lagi laporan orang tentang kebohongan-kebohongan Henry. Ketika kebohongannya terbongkar, ia bersikap tenang, seolah ia memang dilahirkan untuk berbohong. Orang-orang sakit jiwa selalu tangguh dan bisa diandalkan, sebelum dimusnahkan, seperti anjing atau sapi gila.

Di tengah persiapan untuk Henry, Mark mengabari saya rencananya menyelenggarakan konferensi tentang Mindanao dan Aceh di Berlin. Ruth menyarankan saya mendukungnya, “Kita memerlukan orang baru di Berlin, An.” Saya dan Mark bertemu di Jakarta empat tahun lalu. Ia datang ke lembaga penelitian Ruth untuk mencari data tentang terorisme. Dari bentuk wajahnya yang persegi, saya langsung tahu ia orang Jerman.


PADA akhir 2008, saya ditemani oleh Henry untuk menggarap Borneo, tetapi pekerjaan kami di sana gagal. Orang-orang di pulau itu tak ada yang bisa dihasut lagi untuk saling bunuh. Tentang hal ini, Collison sudah pernah memperingatkan agar untuk beberapa waktu saya tidak bermain-main di Borneo.  “Jakarta mengarahkan matanya ke sana saat ini dan orang-orang Borneo sendiri sedang sangat waspada terhadap kabar mencurigakan, sehalus apa pun itu,” katanya. Collison sudah pensiun sekarang dan kemudian menulis beberapa novel. Agen lain juga memperingatkan saya untuk bermain di tempat lain dulu, sebelum masuk lagi ke sana.

Saya memiliki pertimbangan yang berbeda dan ada Henry yang selalu siap mengerjakan apa yang sudah kami rencanakan. Sebenarnya saya ingin melihat bagaimana ia bekerja di lapangan dan apa yang bisa ia lakukan saat menghadapi situasi sulit sebagaimana diperkirakan oleh agen-agen yang mengkhawatirkan pekerjaan kami. Dalam kasus ini, ia bisa diandalkan. Di samping itu, Bakar dan orang-orangnya tidak berlepas tangan untuk membantu membebaskan Henry dari tuduhan menghasut.

Pekerjaan yang gagal di Borneo mempertemukan saya dengan Karina Ramli, seorang antropolog. Kami berjumpa di Palangkaraya. Tubuhnya kurus kering. Rambutnya rontok di lantai marmer restoran. Barangkali ia mengidap kurang gizi. Karina tengah meneliti manusia abadi. Saya tertawa sampai sakit perut mendengar kisahnya. “Semacam highlander? Itu hanya ada dalam film,” seru saya. Karina tidak mendesak saya untuk mempercayainya. Ia ikut tertawa saat saya tertawa. Namun, saya merasa ia seorang yang selalu berjarak dengan siapa pun. Ia punya kewaspadaan tinggi, yang seharusnya dimiliki orang-orang seperti kami. Butuh waktu lama untuk mendekati pribadi seperti Karina. Risiko gagal sangat tinggi. Ia bahkan tidak tertarik pada pertemanan.

Nama Karina Ramli, saya catat dalam folder di komputer. Barangkali ia akan berguna suatu saat. Kebanyakan antropolog bekerja untuk kami.

Setelah Borneo, Henry akhirnya mengepalai kantor cabang dari lembaga yang dulu didirikan Ruth. Posisi barunya membuat ia lebih menghamba dan, di sisi lain, ia menjadi lebih leluasa bergerak dan mengumpulkan informasi yang diperlukan demi keberhasilan pekerjaan kami. Saya tidak memungkiri bahwa ia memiliki kepentingannya sendiri, ia ingin dianggap penting, tetapi penghambaannya membuat Henry selalu mengikatkan diri pada kedekatannya dengan saya. Memang saya harus berhati-hati menerima setiap informasi yang ia sampaikan, karena ia memiliki kebiasaan berbohong dan membesar-besarkan segala sesuatu. Namun sampai sekarang, ia tetap berguna untuk serangkaian pekerjaan setelah kami gagal menyalakan api di Borneo.

Di Sampang, Jawa Timur, kami memanfaatkan masalah keluarga dan membelokkannya jadi pertentangan dua aliran. Orang-orang merusak tempat ibadah. Di Banten, kami mengeluarkan biaya penghasutan paling murah dibanding operasi mana pun di seluruh dunia: sebuah pesan pendek di telepon seluler. Kami mengadu para pengikut Ahmad dari Asia Selatan dan pengikut Muhammad dari Timur Tengah. Ayah saya pasti senang sekali menyaksikan pesta-pesta ini, andaikata ia masih hidup.


PADA 1992, ketika Ruth menembak orang di satu klab di Berlin, saya berada di sana. Di tahun itu, umur Mark baru 16 tahun. Apartemen keluarganya tak jauh dari hotel tempat saya dan Ruth menginap, tapi saya bertemu Mark 12 tahun kemudian. Beda usia kami 21 tahun. Mark pernah berujar, “Seandainya kita bertemu sejak dulu, An....” Itu pengandaian yang buruk. Pertemuan yang lebih awal akan membuat saya seperti pedofil. Pertemuan 12 tahun kemudian membuat saya seperti tante girang, sama buruknya. Dalam Bahasa Indonesia, tante girang julukan untuk perempuan matang dan kaya yang suka mencari kesenangan pada lelaki yang miskin dan jauh lebih muda. Saya tidak berpacaran dengan Mark. Kami memutuskan tidak. Ia mudah tersinggung. Percik-percik api dalam rumah sendiri tidak dibutuhkan ketika kau harus mengobarkan api yang melahap ratusan atau ribuan atau jutaan rumah.

Sebelum ke klab, siang harinya saya dan Ruth bertemu dengan Jurgen Mayer di lobi hotel, lalu berjalan ke kantornya. Ketika kami melewati sebagian tubuh Sungai Spree, yang melintasi kawasan itu, Jurgen menceritakan hal yang sama dengan apa yang diceritakan beberapa teman Jerman saya berulang kali. Mayat Rosa Luxemburg ditemukan di situ. “Komunis tengik, biar saja mampus,” teriak Ruth, seraya mengembuskan asap rokok dari mulutnya. Saya mengisap rokok saya dalam-dalam, memikirkan air panas yang tidak mengalir tadi pagi.  Kami lupa melaporkannya ke pihak hotel. Ruth buru-buru menyeret saya ke lobi menemui Jurgen.

Tiga pembenci komunis dan penjaga benteng antikomunis berjalan riang. Udara musim semi terasa segar. Jurgen, lelaki tampan, tinggi, langsing. Namun, bau ketiaknya keras sekali. Saya sengaja berjalan agak jauh di belakangnya. Penciuman saya terlalu tajam. Namun, sepoi angin kadang membawa aroma apak-kecut itu melintas-lintas di lubang hidung. Ruth berjalan di sebelah Jurgen. Kami tengah merancang buku panduan “50 Cara untuk Menghapus Gagasan Komunisme dalam Seni”. Buku panduan ini diterbitkan untuk agen-agen kami di seluruh dunia, yang bekerja sebagai direktur-direktur rumah budaya. Saya masih ingat salah satu butirnya: menjadikan lukisan abstrak sebagai wabah di dunia.

“Makin tidak jelas lukisan itu, makin baik. Biarkan hanya pelukisnya yang tahu apa arti lukisannya. Orang-orang lain hanya akan melihat lukisan itu sebagai  garis dan bidang warna-warni. Kita jauhkan pelukis dari khalayaknya. Komunikasi seniman dan khalayak itu celah bagi komunisme.” Jurgen menekan kalimat terakhir dengan melambatkan pengucapannya . Ia jenius.

Bagaimana dengan musik? “Musik atau komponis yang kita beri penghargaan dan tempat untuk konser adalah yang paling tidak dapat dinikmati umum karyanya. Semakin sedikit peminat musiknya, semakin kita hargai. Para musisi tolol ini akan mengorbankan diri untuk menulis musik yang tak dipahami sampai mereka kurus kering kurang makan, karena merasa karya mereka istimewa dan keistimewaan itu membuat mereka tak dapat hidup dengan musik mereka sendiri. Tambahkan juga bahwa musik kontemporer tidak memerlukan tambahan kata-kata atau lirik, semata-mata mengandalkan bunyi. Makin tidak beraturan komposisi itu, makin kontemporer ia. Padahal kita sedang menjauhkan mereka dari khalayaknya. Sebab inti dari komunisme adalah komunikasi dan interaksi si seniman dengan khalayak. Kita hilangkan itu.” Jurgen luar biasa. 

Pembicaraan tentang kesusastraan akan berlanjut besok. Sofa di kantor Jurgen begitu empuk. Kami memutuskan minum bir untuk merayakan “50 Cara” tersebut. Orang Jerman peminum berat. Gelas-gelas bir mereka sebesar teko. Saya tidak terlalu suka bir, terasa tak enak saat bersendawa.

Di klab, peluru Ruth menembus tulang rusuk lelaki itu. Ia melihatnya sebagai Carpio, lelaki yang ia benci di Roma. “Entah bagaimana,” bisiknya, sebelum diinterogasi polisi. Saya sempat melihat lelaki itu merangkul seorang perempuan, lalu mereka berciuman. Ruth di sebelah saya, meneguk martini.  Tiba-tiba ia membuka tasnya, lalu menembak. Sangat cepat.  Lelaki tersebut dilarikan ke rumah sakit, dan selamat.

Ruth dipindahtugaskan ke Eslandia pasca peristiwa Berlin. Tak banyak cerita menariknya di negara ini, selain tentang rasa dingin. Menurut ibu saya, Eslandia adalah tempat terakhir ayah saya bertugas sebelum pensiun. Ayah pernah mengirim pesan lisan untuk para jenderal Indonesia agar membunuh komunis dan menghancurkan partai komunis pada 20 Oktober 1965, sebagai cara untuk mengalihkan perhatian para jenderal ini dari perbatasan Borneo yang menjadi sengketa Indonesia dan Malaysia di masa tersebut. Inggris mendukung Malaysia. Ayah menyatakan hal ini dalam sebuah wawancara dengan sebuah suratkabar Inggris, menjelang kematiannya. Ayah juga selalu membakar gedung kedutaannya sendiri untuk mengesankan pelakunya adalah separatis atau pengacau setempat. Ibu tidak pernah menikah dengan Ayah; ia menikahi seorang perwira angkatan udara asal  Montana. Lelaki itu memberi saya nama keluarga, Carson. Ayah Ruth dan George Carson saling mengenal. Saya tidak pernah bertemu ayah kandung saya sekali pun.

Sejak Eslandia, Ruth jera membawa senjata untuk mabuk di klab. “Siapa tahu ada yang mirip lagi dengan beberapa bekas pacar saya.” Ia bergurau. Ketika memikirkannya sekarang, saya khawatir ia telah mengalami kebutaan wajah waktu itu. Apa sebabnya? Barangkali, kecelakaan lain atau serangkaian kecelakaan. Dalam operasi, hal-hal keras kadang terjadi. Pada 1997, ia kembali lagi ke Indonesia. Kami pun bergabung kembali. Namun, kecelakaan di Montana akan mengawali sejumlah perubahan.[*]

Tulisan yang berkaitan: Cerita yang Menghantam Kepala

Bagaimana Menjadi Host TV

Umberto Eco

Beberapa waktu lalu, saya menikmati pengalaman menarik di Kepulauan Svalbard, ketika Akademi Ilmu Pengetahuan setempat mengundang saya untuk tinggal di sana beberapa tahun dan mempelajari negara Bonga, masyarakat yang hidup di antara Terra Incognita dan Tanah yang Diberkati.

Kegiatan orang-orang Bonga kurang lebih sama dengan kita, tetapi mereka memiliki hasrat aneh untuk selalu eksplisit dan deklaratif. Mereka tidak memiliki kecakapan implisit, sehingga apa-apa harus dinyatakan.

Misalnya, jika kita bicara, jelas kita menggunakan kata-kata; tetapi kita merasa tidak perlu menjelaskan hal itu. Orang Bonga, sebaliknya, dalam berbicara kepada Bonga lainnya, akan mulai dengan mengatakan: “Perhatikan, sekarang saya berbicara dan saya akan menggunakan beberapa kata.” Kita membangun rumah dan kemudian (kecuali orang Jepang) menuliskan nama jalan, nomor, dan nama penghuni rumah. Orang Bonga menulis "rumah" pada setiap rumah, dan "pintu" di samping pintu. Jika Anda membunyikan bel, orang Bonga akan membuka pintu dan mengatakan, “Saya sedang membuka pintu," dan kemudian memperkenalkan dirinya. Jika ia mengundang anda makan malam, ia akan menunjukkan kursi untuk anda sambil mengucapkan: “Ini meja, dan ini kursi!” Lalu, dengan nada penuh kemenangan, ia mengumumkan, “Dan ini pembantu! Inilah Rosina. Ia akan menanyakan apa yang anda inginkan dan akan menyuguhi anda hidangan favorit Anda!" Persis prosedur di restoran.

Sangat aneh mengamati orang-orang Bonga ketika mereka pergi ke gedung teater. Saat lampu dipadamkan, seorang aktor muncul dan berkata, “Ini layar!” Kemudian layar tersibak dan aktor-aktor lain masuk untuk memainkan, katakanlah, lakon Hamlet atau Le Malade imaginaire. Namun masing-masing aktor diperkenalkan terlebih dulu kepada penonton, mula-mula nama mereka, kemudian nama tokoh yang mereka mainkan. Ketika seorang aktor selesai bicara, ia mengumumkan: "Sekarang, saatnya diam!” Beberapa detik berlalu, lalu aktor berikutnya mulai bicara. Pada akhir babak pertama, salah seorang aktor akan berdiri di bawah sorot lampu untuk memberi tahu semua orang bahwa "Sekarang kita jeda dulu.”

Yang paling mengesankan bagi saya adalah drama musikal mereka. Sama seperti pertunjukan musikal kita, yang terdiri atas percakapan, lagu-lagu, duet, dan tari-tarian. Namun di negara kita saya terbiasa dengan pertunjukan yang diawali dengan dua komedian membawakan banyolan, lalu salah satu mulai menyanyi, lalu keduanya keluar dari panggung saat gadis-gadis penari muncul, memberi perasaan lega pada penonton. Akhirnya, tarian usai, dan para aktor muncul lagi. Dalam teater Bonga, mula-mula dua aktor mengumumkan bahwa sekarang komedi akan dimulai, kemudian mereka akan bilang sekarang kami menyanyi duet, sambil memberi tahu bahwa ini akan lucu, dan terakhir seorang pemain akan mengumumkan, “Sekarang tari-tarian!” Hal yang mencengangkan saya, di saat jeda, bukanlah munculnya iklan-iklan di layar—kita juga melakukan hal yang sama—tetapi, setelah mengumumkan jeda, orang itu akan menambahkan secara takzim, “Dan sekarang, iklan!”

Lama saya bertanya-tanya apa yang menyebabkan orang-orang Bonga ini begitu obsesif melakukan klarifikasi. Mungkin, saya bilang pada diri sendiri, mereka agak dungu. Jika orang tidak mengatakan “Saya akan pergi sekarang” maka mereka tidak tahu bahwa orang tersebut mengucapkan selamat tinggal. Sampai batas tertentu, pasti itulah alasannya. Tapi ada alasan lain. Orang-orang Bonga adalah para pemuja pertunjukan, karena itu mereka harus mengubah segala sesuatu--bahkan hal-hal implisit—menjadi pertunjukan.

Selama berada di antara mereka, saya juga punya kesempatan untuk merekonstruksi sejarah tepuk tangan. Pada zaman kuno, orang Bonga bertepuk tangan karena dua alasan: karena mereka senang pada pertunjukan yang baik, atau karena mereka memberi penghormatan kepada orang yang berjasa besar. Lamanya tepuk tangan menunjukkan tingkat penghormatan dan kecintaan mereka. Sekali lagi, di masa lalu, para impresario yang cerdik, demi meyakinkan penonton akan kehebatan produksi mereka, menyewa sejumlah bajingan yang dibayar untuk bertepuk tangan sekalipun tak ada yang perlu ditepuktangani. Ketika acara televisi mulai disiarkan di Bonga, produser membujuk kerabat pengisi acara untuk datang ke studio dan, dengan menggunakan lampu berkedip (yang tak terlihat oleh pemirsa di rumah), mereka diingatkan kapan harus bertepuk tangan. Trik ini segera ketahuan, namun, jika di negara kita tepuk tangan macam ini sudah dicemooh, di Bonga tidak. Para penonton di rumah justru ingin bergabung dengan mereka yang bertepuk tangan, dan segerombolan warga Bonga datang atas kehendak mereka sendiri ke studio TV di negara itu, siap membayar untuk mendapatkan hak istimewa bertepuk tangan. Beberapa dari mereka terdaftar di kelas tepuk tangan khusus. Dan karena saat ini semuanya terbuka, maka si pembawa acara sendiri yang mengatakan, dengan suara keras di saat yang tepat, “Dan sekarang mari kita dengarkan tepuk tangan yang meriah.” Namun penonton di studio kemudian bertepuk tangan tanpa diminta oleh pembawa acara. Pembawa acara itu hanya perlu menanyakan kepada salah seorang di tengah kerumunan, apa pekerjaannya, dan ketika orang itu menjawab, “Saya menjaga kamar gas dari gonggongan anjing,” kata-katanya akan disambut dengan tepuk tangan gemilang. (Hal ini lazim juga di Barat, seperti ketika Bob Hope muncul dan, sebelum ia membuka mulut, tepuk tangan riuh sudah terdengar. Atau pembawa acara akan mengatakan, “Kami di sini, pemirsa, seperti biasa tiap Kamis,” dan orang-orang tidak hanya bertepuk tangan, tetapi tertawa ngakak.)

Tepuk tangan menjadi sangat diperlukan sehingga dalam tayangan iklan, ketika si penjaja mengatakan, "Beli tablet pelangsing PIP," tepuk tangan akan terdengar gemuruh. Para penonton tahu betul bahwa tak ada seorang pun di studio bersama si penjaja itu, namun tepuk tangan diperlukan, jika tidak program akan tampak tidak alami, dan penonton akan beralih saluran. Orang-orang Bonga berharap televisi menunjukkan kepada mereka kehidupan nyata, apa adanya, tanpa kepura-puraan. Tepuk tangan yang berasal dari penonton (yang seperti kita), bukan dari aktor (yang pura-pura), itu satu-satunya jaminan bahwa televisi adalah jendela terbuka untuk melongok dunia. Orang-orang Bonga kini sedang mempersiapkan program yang dibuat sepenuhnya oleh aktor-aktor yang bertepuk tangan, judulnya TeleTruth. Agar selalu bisa merasakan kehidupan nyata, orang-orang Bonga sekarang bertepuk tangan sepanjang waktu, bahkan ketika mereka tidak menonton TV. Mereka bertepuk tangan saat pemakaman, bukan karena mereka senang atau karena ingin menyenangkan orang yang meninggal, tetapi agar tidak merasa seperti bayang-bayang di antara bayang-bayang lainnya, untuk memastikan mereka masih hidup dan nyata, seperti gambar yang mereka lihat di layar mungil. Suatu hari saya mengunjungi rumah orang Bonga, seseorang menyambut saya dan berkata, “Nenek baru saja ditabrak truk!” Yang lain semua melompat berdiri dan tepuk tangan mereka begitu riuh.

Saya tidak bisa mengatakan bahwa orang Bonga lebih rendah dari kita. Justru salah satu dari mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka berencana menaklukkan dunia. Dan ide ini tidak sepenuhnya Platonis, saya menyadari itu saat pulang. Malam itu saya menyalakan TV dan melihat pembawa acara memperkenalkan gadis-gadis yang mendampinginya, kemudian mengumumkan bahwa ia akan melakukan monolog lucu, dan diakhiri dengan: “Dan sekarang balet kami!” Seorang pria terhormat, yang sedang membahas masalah politik dengan pria terhormat lainnya, pada titik tertentu memutuskan untuk membuat pengumuman, “Dan sekarang, kita break dulu untuk yang satu ini.” Beberapa penghibur bahkan memperkenalkan penonton mereka. Yang lainnya, juru kamera yang membuat film mereka. Semua orang bertepuk tangan.

Karena merasa tertekan, saya keluar dan pergi ke restoran yang terkenal dengan nouvelle cuisine-nya. Pelayan tiba, membawakan untuk saya tiga daun selada. Dan ia mengatakan, “Ini macédoine de laitue lombarde kami, dihiasi dengan rughetta dari Piedmont, dirajang halus dan ditaburi garam laut, direndam dalam cuka bikinan sendiri, diurapi dengan perasan pertama minyak zaitun dari Umbria.”

1987

(Diterjemahkan oleh A.S. Laksana dari “How to Be a TV Host” dalam buku How to Travel with a Salmon and Other Essays, Umberto Eco}

World Book Night: Alasan Sepuluh Penulis untuk Membaca Buku

Untuk merayakan hari buku, berikut ini kami sajikan sepuluh kutipan dari para penulis tentang kenapa mereka membaca buku.

• “Buku yang bagus akan memberimu banyak pengalaman, dan sedikit saja kelelahan di saat akhir. Kau menjalani beberapa kehidupan saat membaca.”
William Styron

• “Dalam peradaban tertinggi, buku tetaplah puncak kegembiraan. Orang yang tahu seberapa besar kepuasan yang didapatkannya dari buku-buku, akan memiliki sumberdaya untuk menghadapi malapetaka."
Ralph Waldo Emerson

• “Ada beberapa tindakan yang lebih jahat ketimbang membakar buku. Salah satunya adalah tidak membacanya.”
Joseph Brodsky

• “Memiliki kebiasaan membaca adalah membangun sendiri tempat berlindung dari hampir seluruh penderitaan hidup.”
W. Somerset Maugham

• “Setiap orang yang tahu cara membaca memiliki kekuatan untuk memperbesar dirinya, melipatgandakan jalan bagi keberadaannya, dan membuat kehidupannya utuh, signifikan, dan menarik."
Aldous Huxley

• “Membaca buku tak ubahnya dengan tindakan menulis ulang buku itu bagi diri sendiri. Kau mengusung ke dalam sebuah novel, apa pun novel yang kaubaca, semua pengalaman hidupmu. Kau mengusung sejarahmu dan kau membacanya dalam konteksmu sendiri.”
Angela Carter

• “Yang terkasih sepanjang waktu, kawan paling kokoh bagi jiwa—BUKU.”
Emily Dickinson

• “Kita tidak memerlukan daftar benar dan salah, tabel tentang apa yang boleh dan yang terlarang: kita membutuhkan buku-buku, waktu, dan kesunyian. Perintah dan larangan akan segera dilupakan, tetapi cerita akan bertahan selamanya.”
Philip Pullman

• “Membaca adalah satu-satunya cara di mana kita bisa tergelincir, tanpa sadar, dan sering tak berdaya, ke dalam kulit orang lain, suara orang lain, jiwa orang lain."
Joyce Carol Oates

• “Saya pikir kita hanya perlu membaca jenis-jenis buku yang sanggup melukai atau menusuk kita. Jika buku yang kita baca tidak membangunkan kita dengan hantaman di kepala, untuk apa kita membaca? Bukankah dengan demikian kita akan bahagia, manakala kau menulis? Demi Tuhan, kita akan sangat bahagia jika tidak punya buku, dan jenis buku yang membuat kita bahagia adalah yang kita tulis sendiri jika diperlukan. Tapi kita memerlukan buku-buku yang mempengaruhi kita seperti bencana, yang memberi kita kesedihan mendalam, seperti kematian seseorang yang kita cintai melebihi cinta kita pada diri sendiri, seperti dicampakkan ke dalam hutan jauh dari siapa pun, seperti tindakan bunuh diri. Sebuah buku semestinya menjadi kapak bagi laut beku di dalam diri kita. Itulah keyakinan saya.”
Franz Kafka

Ini adalah beberapa kutipan favorit kami tentang suka dan duka membaca. Sila menambahkan sendiri. [*]

(Diterjemahkan oleh A.S. Laksana dari artikel The Guardian "World Book Night: Ten writers' reasons for reading", untuk memperingati Hari Buku, tanggal 23 April 2013)

Murjangkung dan Bisikan A.S. Laksana

Oleh: Benny Arnas


Tulisan ini adalah resensi Benny Arnas atas kumpulan cerpen "Murjangkung, Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu", dimuat di Jawa Pos, Minggu, 31 Maret 2013. Saya memuat ulang resensi tersebut di blog ini atas izin penulisnya. Salam. ASL ***


BAGAIMANA cerpen yang baik itu?

Banyak sekali jawaban untuk pertanyaan ini. Sejumlah buku tentang cerpen yang ditulis cerpenis yang cukup dikenal khalayak sastra, menyebutkan bahwa karakter tokoh yang kuat, deskripsi yang detail, dan ending yang mengejutkan, adalah tiga hal yang sangat memengaruhi kualitas cerpen. Jawaban itu sangat klise tapi paling banyak ditemukan di buku-buku jurus menulis cerpen.  Namun, Murjangkung, Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu, buku yang berisi dua puluh cerpen karya A.S. Laksana ini  sepertinya tak sependapat (apabila tak ingin dikatakan “menyangkal”) dengan para penulis buku sakti menulis cerpen itu.

Tokoh-tokoh dalam Murjangkung dihadir-kembangkan dalam porsi yang seimbang dengan unsur cerpen lainnya: deskripsi, plot, dan ending. Lazimnya cerpen, tokoh di dalamnya, kerap menjajah unsur-unsur yang lain: tokoh menjadi sangat kuat karena mendominasi pergerakan cerita, apalagi tokoh yang secara sadar diposisikan penulis sebagai penyampai buah pikirannya. Tokoh-tokoh dalam Murjangkung dibiarkan berkelindan dalam cerita dengan deskripsi dan dialog yang sewajarnya, seperti dalam kutipan pendek ini:

Tuan Murjangkung, raksasa berkulit bayi yang memimpin pendaratan, membeli dari sang pangeran tanah enam ribu meter persegi di  tepi timur sungai. ("Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut", hlm. 10). Narasi dalam cerpen  pembuka yang bercerita tentang asal mula Lapangan Banteng ini dibiarkan berdiri sendiri apa adanya. Tidak ada penjelasan mengapa Murjangkung berkulit bayi, mengapa ia membeli tanah seluas enam ribu meter persegi, atau bahkan mengapa namanya harus Murjangkung. Dan ini poinnya: pembaca memang dibuat merasa tak perlu menanyakannya karena narasi ini dibangun untuk mengenalkan tokoh, bukan mendeskripsikannya, apalagi menulis biografi fiksinya.

Atau pada dialog berikut:

“Kau tahu apa soal itu?” hardik Suhartini.

“Tentu saja aku tak tahu apa-apa,” kata Pramono. “Begitu kan, Yah? Aku tak tahu sama sekali, ‘kan?”


("Seto Menulis Peri, Pelangi, dan Para Putri", hlm. 52)

Saya dapat membayangkan, dialog ini akan dideskripsikan lebih panjang oleh pengarang lain, mungkin termasuk saya, menjadi begini:

“Kau tahu apa soal itu?” hardik Suhartini dengan mata mendelik.

“Tentu saja aku tak tahu apa-apa,” kata Pramono sembari mengulum senyum. “Begitu kan, Yah? Aku tak tahu sama sekali, ‘kan?” Ia mengerling pada ayahnya sebelum berlalu.


Cerpen-cerpen dalam Mujangkung tak berpretensi untuk genit dan kaya aksesori. Murjangkung tidak berniat menjadi film dalam teks. Murjangkung ingin mengatakan bahwa: teks fiksi sebaiknya membuka kran imajinasi para pembaca untuk memiliki dunia dan atmosfer cerita yang khas, sesuai dengan warna yang ia hadirkan dalam kanvas pembacaannya yang murni. Murjangkung (hanya) menawarkan tema, konflik, dan tokoh-tokoh sebagai gerbang imajinasi dalam kerangka yang sumir, termasuk dialog-dialog yang dibangunnya.

Dalam kumpulan ini, cerpen yang paling membuat saya berbahagia membacanya adalah "Dongeng Cinta yang Dungu". Cerpen yang bercerita tentang ruh Fira yang hidup dalam tubuh bosnya Si Belatung dan ruh Si Belatung yang hidup dalam tubuh Fira. Cerpen ini menegaskan posisinya yang bukan hanya kumpulan cerita pendek, melainkan buku menulis cerita pendek dengan jurus-jurus yang lebur dalam setiap cerpennya. Tentu saja pendapat saya ini pun jadi klise apabila tak saya imbuhkan: Murjangkung tak mengajari Anda untuk bertanggungjawab dengan segala hal dan merk yang melekat pada tokohnya, Murjangkung pun tak berniat menjelas-jelaskan seolah Anda sedang nonton film (karena ini teks!), dan ini yang bagi saya manis sekali: ending setiap cerita tak mesti merupakan mata rantai yang hilang lalu baru ditemukan pada pengujung, karena sebagai karya fiksi, Murjangkung memiliki hak prerogatif untuk bercerita dan mengakhirinya.

Anda bisa saja mendapati ending yang sepertinya membuat cerita tak padu, gumpil, atau ngawur. Namun yang lebih penting dari itu adalah, bagaimana genuine-frame dari sebuah cerita justru menyuguhkan pembaca beragam sensasi: tokoh-tokoh, dialog, deskripsi, dan ending yang kadang komikal, sporadis, kromatis, atau impresi lainnya. Beragam sensasi itu tak harus dipertanyakan karena memang Murjangkung berhasil menampikannya sesuai dengan dunia bacaan yang penuh dengan kemungkinan.

Jadi, bagaimana cerpen yang baik itu?

A.S.  Laksana tidak menjawabnya. Ia hanya membisiki saya: Hidup bukan cerita pendek—pun sebaliknya, jadi tak ada sebab-akibat yang harus diakhiri, apalagi ditutup dengan hamdalah yang menandakan kisah selesai. Bisikan itu selalu berhasil menabuh gendang telinga ketika saya sedang membaca Murjangkung-nya. Saya pikir, sebaiknya Anda juga mendengar bisikannya. Siapa tahu, justru ia membisiki hal yang berbeda dari apa yang saya dapatkan. (*)

BENNY ARNAS
lebih banyak menulis cerpen, tinggal di Lubuklinggau.

Menulis Semacam Puisi

*) Kolom Ruang Putih, Jawa Pos Minggu, 10 Maret 2013
 
Ketika pertarungan Anas-SBY sedang mulai menghangat, saya mendapatkan sebuah pertanyaan melalui email tentang kasus tersebut. “Menurut Anda, siapa yang akan menang dalam Bharatayudha Anas vs. SBY, Kang?” tulis si pengirim email.

Saya sedang ingin mengingat saat-saat terbaik yang pernah saya alami. Ketika politik memberi kita hari-hari buruk dan membuat kita limbung di tengah suara bising orang-orang yang meracau, maka saya pikir saya perlu menyirami otak saya dengan ingatan-ingatan baik di pagi hari. Saya perlu membaca buku-buku yang bisa memberi saya kegembiraan.

Tetapi ia menanyakan sesuatu kepada saya dan saya perlu menjawabnya. Sebenarnya saya ingin menjawab saja bahwa saya tidak menaruh perhatian pada keduanya. Dan menurut saya itu bukan Bharatayudha sama sekali. Bharatayudha adalah perang saudara antara Pandawa dan Kurawa, yang satu mewakili kebajikan yang satu angkara. Pertarungan antara SBY dan Anas rasa-rasanya tidak seperti itu. Keduanya hanya bertarung untuk membela marwah dan kepentingan masing-masing, dan pertarungan semacam itu biasanya hanya akan melahirkan kompromi-kompromi.

Namun, saya tidak menjawab seperti itu. Saya hanya membalasnya dengan ringkas, mengutip omongan Jorge Luis Borges, penulis Argentina, ketika ia ditanya tentang Perang Malvinas, “Itu pertarungan antara dua orang tua botak memperebutkan sisir.” Lalu saya tambahkan bahwa bagaimanapun Anas adalah pengagum SBY. Di tahun 2009 ia menulis buku berjudul Bukan Sekadar Presiden-Daya Gugah SBY sebagai Seorang Pemimpin. Itu judul yang menyiratkan bahwa Anda akan menjumpai berbagai puja-puji dari awal hingga akhir.

”.... Hingga tinta emas sejarah bangsa ini mencatat bahwa SBY adalah orang yang teguh dalam pendirian. Ia membuka mata semua rakyat bahwa pemberantasan korupsi yang dikampanyekan bukan omong kosong, bukan tebang pilih,” tulisnya tentang kasus Aulia Pohan, besan Presiden, yang harus menjalani hukuman karena divonis korupsi.

Apakah Anas bersungguh-sungguh tentang itu atau ia hanya ingin menjilat majikan dengan bukunya, itu bukan urusan kita. Dan apakah cakar-cakaran antara keduanya saat ini ada gunanya bagi kita, saya tidak yakin. Cara pemerintahan SBY menangani masalah masih sama saja. Ketika ada kasus besar tak mungkin bisa dihentikan gulirannya, kita akan disuguhi pelbagai kasus untuk membuat pikiran kita kelelahan oleh luapan informasi. Anda tak akan bisa menggunakan akal secara baik jika pikiran selalu kelelahan.

Jadi, sekarang, saya hanya ingin menaruh perhatian pada hal-hal yang baik, misalnya membaca buku-buku yang saya sukai, atau sekadar mengingat kejadian-kejadian yang menyenangkan bersama kawan-kawan. Ini tindakan untuk menyelamatkan pikiran agar tidak sempoyongan dihajar oleh informasi-informasi racun.

Pertanyaan tentang Bharatayudha Anas vs SBY agak mengganggu ketenteraman pagi hari saya . Saat itu saya sedang mengingat-ingat pengalaman dengan empat kawan saya, Joko Pinurbo, Hanna Fransisca, Agus R. Sarjono, dan Mardi Luhung. Kami makan siang berlima di sebuah rumah makan seafood di tepi pantai Tanjung Pinang, Bintan. Joko Pinurbo dan saya bersepakat memesan gonggong, sebuah menu yang terdengar puitis. Tentu saja kami tidak memesan salak anjing. Gonggong adalah siput laut yang konon hanya ada di daerah Batam, Bintan, dan Bangka. Hanna dan Agus Sarjono memesan berbagai menu laut. Mardi Luhung, penyair Gresik, tampak berpikir sangat keras saat membaca daftar menu, seperti mencari kata-kata untuk puisinya. Kami agak khawatir bahwa pencariannya itu akan memerlukan waktu seminggu. Akhirnya, setelah didesak, ia membuat keputusan sepele: nasi goreng.

“Kalau Afrizal ada, ia pasti memesan segelas lautan dan sepiring hutan yang terbakar,” kelakar Jokpin. “Mungkin ia bermigrasi dulu dari meja depan ke meja belakang.”

Saya menambahkan bahwa para penyair yang sering rindu kampung halaman pasti akan memesan semangkuk sunyi, sepiring nyanyian bunda, dengan lalapan seruling gembala—seolah-olah itu adalah kacang panjang.

Sambil menunggu pesanan dihidangkan, kami membicarakan apa saja. Kebanyakan tentang puisi. Waktu itu Jokpin baru saja memberi ceramah tentang penulisan puisi di depan anak-anak sekolah. Saya dan Mardi Luhung mengisi ceramah tentang penulisan cerpen. Karena Mardi Luhung guru yang baik dan ia sangat fasih menghadapi anak-anak SMP, urusan saya menjadi lebih ringan. Ia yang lebih banyak beraksi di depan anak-anak SMP itu.

Belakangan ini saya agak sering membaca puisi-puisi dan pembicaraan di restoran tepi laut itu menyeruak begitu saja dalam benak saya. Itu pembicaraan yang menyenangkan dan saya ingat pernyataan Jokpin bahwa puisi-puisi yang tampaknya liar dan gelap sebetulnya sangatlah formulaik. “Dengan mudah bisa ketahuan rumusnya,” katanya. Saya tidak tahu apakah ia guyon atau sungguh-sungguh, tetapi Jokpin menyampaikannya dengan paras muka serius. Ia memang selalu tampak serius.

“Misalkan kita membuat kalimat sederhana ‘Ia memesan es kelapa muda dan semangkuk soto’. Untuk menjadikannya puisi kita bisa mengganti soto dengan prahara, atau air mata, atau  kecemasan, dan sebagainya,” katanya.

Saya mendengarkannya, sembari menyusun di dalam benak sebuah kalimat “Ia memesan es kelapa muda dan semangkuk air mata.” Rasa-rasanya ia benar. Mengganti “soto” dengan “air mata” sudah menjadikan kalimat itu terasa seperti selarik puisi.

Setelah percakapan itu, saya merasa akan sanggup menulis dua puluh puisi setiap hari, apes-apesnya tujuh belas. Bukankah formulanya sudah ada dalam genggaman? Rupanya bukan hanya sayur lodeh yang ada resepnya, puisi pun ada.

Dengan menggantungkan diri pada resep menulis puisi itu, pada malam harinya di kamar penginapan, saya membuat sebuah bait sebagai berikut:
Saya Mencuci Rembulan

Saya mencuci rembulan malam itu/Ia menaburkan bunga ke jantung hati di piring keramiknya./Sebuah isyarat tiba-tiba jatuh di piring keramik itu./Ia menjerit./Dan ia ingat salak anjing yang mencekam tengkuknya./Ada bau kenangan terbakar dan ia tak bisa menebak siapa/yang bakal datang nanti dinihari./Mungkin kabut. Mungkin ular yang menghilang dalam kabut.

Yang saya lakukan sebenarnya adalah membuat beberapa kalimat sederhana di bawah ini:

1. Saya mencuci baju malam itu.
2. Ia menaburkan garam ke nasi di piring keramiknya.
3. Seekor cecak tiba-tiba jatuh di piring keramik itu. Ia menjerit.
4. Dan ia ingat sesuatu yang mencekam tengkuknya.
5. Ada bau sampah terbakar.
6. Ia tak bisa menebak siapa yang bakal datang nanti dinihari.
7. Mungkin tetangganya. Mungkin mahasiwa yang indekos di rumah tetangganya.

Setelah itu saya mengganti "baju" dengan "rembulan", "garam" dengan "bunga", "nasi" dengan "jantung hati", dan lain-lain. Maka kalimat-kalimat sederhana itu menjadi seperti sebait puisi. Tentu saja itu bukan puisi, hanya rangkaian kalimat yang terasa seperti puisi. Kadang saya hanya membutuhkan percobaan-percobaan yang konyol semacam ini. Setidaknya, saya perlu memiliki cara untuk lepas dari racun informasi dan pernyataan-pernyataan yang tak pernah bisa dipegang  Saya lebih menyukai puisi ketimbang memberi perhatian pada Anas vs SBY.***

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design