Menggambar Sulak

Ini tulisan Hawe Setiawan yang dimuat di Republika Minggu, 15 Agustus 2004. Mohon dimaklumi kalau isinya melulu yang baik-baik tentang aku; lha teman baik kan mestinya begitu. Untuk mengetahui sebaik apa si Hawe menulis tentang aku, silakan dibaca sendiri tulisan di bawah ini.


Cukup banyak penulis Indonesia yang dicatat dalam buku Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia susunan Korrie Layun Rampan (Grasindo, 2000). Salah seorang di antaranya adalah AS Laksana yang suka dipanggil Sulak. Keterangan mengenai dirinya terdapat di halaman 164 buku setebal 782 halaman itu.

Di halaman berikutnya dimuat dua buah cerpen karya Sulak, Seekor Ular di Dalam Kepala serta Buldoser dan Ayah. Disebutkan pula buku-buku yang memuat karya Sulak, yakni kumpulan kolom Podium serta kumpulan cerpen Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan, Cerpen Pilihan Kompas 1997 dan Derabat, Cerpen Pilihan Kompas 1999.

Hari berganti, dan data dalam buku Korrie tentu mesti direvisi. Terpaut pada Sulak, perkembangan penting yang kiranya layak dicatat adalah terbitnya buku Bidadari yang Mengembara (Kata Kita, 2004). Buku ini menghimpun dua belas cerpen karangan Sulak, termasuk dua cerpen yang dicatat Korrie dengan judul yang kini sedikit direvisi, Seekor Ular Dalam Kepala dan Buldoser.

Judul buku itu sendiri diambil dari judul salah satu cerpen yang terdapat di dalamnya. Bidadari yang Mengembara belum lama ini diluncurkan di Teater Utan Kayu (TUK), Jakarta, berbarengan dengan peluncuran buku sejenis dari penerbit yang sama karangan Kurnia Efendi.

Penerbit Kata Kita yang dirintis dan dikelola oleh penyair Sitok Srengenge baru mengawali perjalanannya. Tepatnya, penerbit tersebut berdiri pada tahun ini. Sebagaimana kumpulan cerpen Kuda Terbang Maria Pinto karangan Linda Christanti (Kata Kita, 2004), Bidadari yang Mengembara ikut menandai kemunculan penerbit-penerbit baru di Indonesia belakangan ini.

Sulak lahir di Semarang, 25 Desember 1968. Ia pernah kuliah di Jurusan Komunikasi, Fisipol UGM. Ia ikut merintis dan mengelola Tabloid Detik yang diberangus oleh rezim Suharto pada 1994. Pernah pula ia bekerja pada PT Ekapraya Film. Belakangan ia mendirikan dan memimpin Yayasan Akubaca yang antara lain menerbitkan sejumlah buku terjemahan dari karya sastra dunia.

Sewaktu korannya masih hidup, hampir saban minggu Sulak menulis kolom di koran yang dikelolanya. Nama rubriknya, Podium. Ketika korannya dilarang terbit, kolom-kolomnya kemudian dibukukan dengan judul Podium, dan dikasih pengantar oleh sesama korban pemberangusan: penyair Goenawan Mohamad.

Sebelum terbit Bidadari yang Mengembara, Sulak pernah mengumumkan novelnya yang berjudul Medan Perang. Prosa itu diterbitkan sebagai cerita bersambung dalam Koran Tempo. Bersama pelukis Muid Mularnoidin, ia pernah pula membuat sebuah buku komik yang isinya berkaitan dengan Kasus Bank Bali beberapa tahun lalu yang menghebohkan itu. Sewaktu menerbitkan komik itu, Sulak diwawancarai oleh stasiun televisi SCTV.

Belakangan ini beberapa kali saya berkunjung ke rumahnya di Ciputat. Saya lihat Sulak sedang menggubah lagu dan merekam suaranya sendiri dengan perangkat komputer. Dalam kunjungan selanjutnya, saya menyaksikan Sulak sedang mencoba membikin gambar untuk film animasi buat anak-anak dengan perangkat komputer. Kesan saya, pengarang yang satu ini minatnya beragam dan suka melakukan berbagai percobaan.

Kecenderungan seperti itu sedikit banyak juga terasa dalam Bidadari yang Mengembara. Seluruh cerpen yang terdapat di dalamnya pernah diumumkan dulu dalam halaman sastra koran-koran ibukota, antara tahun 1990-an dan 2000-an. Sekiranya tiap-tiap cerpen dalam buku ini dibubuhi dengan titimangsa kemunculannya, akan kian terlihat bahwa cara dia mengelola bahan-bahan perkisahan cenderung terus berkembang.

Beberapa cerpen di antaranya disertai catatan kaki. Berdasarkan catatan kaki itu saya menduga bahwa cukup banyak yang dibaca, ditonton, didengar, diingat dan dirasakan oleh Sulak sewaktu dia menulis prosa. Ingatan akan puisi, endapan dari film, kesan yang dipungut dari jalan, sisa-sisa legenda, hingga percikan kitab suci, tampaknya merupakan bahan prosa yang cukup kaya baginya.

Semua itu diramu jadi satu dengan sejenis kelihaian mendongeng. Ia juga piawai mengolah rasa humor. Ia juga ahli menangkap ironi. Sewaktu Slamet Rahardjo membacakan cerpen Sulak, Menggambar Ayah, sambil duduk, sedang tangannya memeragakan dialog antartokoh cerita, beberapa kali penonton tergelak.

Mohon dicatat, Sulak tidak menulis cerita humor. Ia tidak melucu. Bahkan saya menduga, ketimbang melucu, dia lebih cenderung banyak merenung. Topik ceritanya sendiri cenderung suram semisal tentang anak yang kehilangan ayahnya atau tentang ibu yang lehernya dikerat. Yang terang, Sulak cukup jeli menangkap segi-segi yang terasa lucu sekaligus ironis dari hidup kita.

Daya khayal Sulak cenderung liar. Adakalanya kisah-kisah yang dituturkannya seperti meneruskan keliaran dongeng purba. Ketika saya membacanya, seringkali saya menemukan hal-ihwal yang tidak terduga. Tapi, saya kira, dia tidak mengada-ada. Sebaliknya, dia tampaknya selalu berupaya mengolah seni prosa dengan mencobakan berbagai kemungkinannya. Bukan hanya Korrie, melainkan juga pembaca sastra selebihnya, yang kiranya layak mencatat perkembangan kreativitas Sulak. Moga-moga Sulak sendiri akan terus mengajak para pembacanya untuk mengembara ke pedalaman hutan prosa.

Hawe Setiawan

Mari Menulis Buruk

Perangkap yang menyiksa penulis adalah writer’s block, mandek, macet. Banyak orang sudah menuliskan pengalamannya dan menceritakan apa saja yang mereka lakukan untuk mengatasi kemandekan. Banyak nasihat yang bisa anda peroleh dari para penulis yang setiap hari sesungguhnya selalu berupaya mengatasi kemandekan.

Saya memahami kemandekan dalam dua kategori. Pertama, kemandekan dalam pengertian betul-betul tidak tahu harus menulis apa. Kedua, kemandekan dalam karya yang dihasilkan. Seseorang mungkin melahirkan banyak karya dan tetap menulis, namun hanya begitu-begitu saja yang lahir dari dia, dan mungkin malah merosot kualitasnya.

Kemandekan jenis pertama bisa diatasi dengan menulis cepat. Jadi, menulislah secepat-cepatnya. Ini bukan anjuran untuk menulis secara tergesa-gesa atau menulis secara ngawur. Meskipun saya sendiri juga sering menulis ngawur sebagai cara untuk menemukan berbagai kemungkinan. Pada draft awal tulisan saya, saya pasti menulis buruk: melompat-lompat, alurnya mungkin kacau, kalimat-kalimatnya sama sekali tidak indah, dan paragraf demi paragraf bisa tidak saling bersambungan.

Saya pikir sesuatu yang kacau pun tetap lebih baik ketimbang tidak ada sama sekali. Lebih baik saya menghasilkan draft tulisan yang buruk ketimbang hanya merenungi kertas kososng selama berjam-jam. Saya terbiasa membuat draft pertama dengan tulisan tangan, baru kemudian saya salin di komputer. Ini memudahkan saya karena saya bisa bekerja di mana saja asal ada kertas dan pena.

Dengan draft yang buruk, saya memiliki kesempatan berikutnya untuk membuatnya menjadi lebih baik. Akan tetapi jika kertas saya tetap kosong, saya hanya memiliki kesempatan berikutnya untuk bengong lagi.

Sampai sekarang saya tetap menyarankan kepada para peserta kursus di Jakarta School: menulislah secara buruk! Saya percaya bahwa semua orang ingin menghasilkan tulisan yang bagus. Paling tidak, sebagus karya-karya para penulis yang mereka sukai. Itu jika mereka punya penulis idola, sebab ada juga satu dua yang ingin melahirkan karya yang orisinil, sehingga mereka tidak mau membaca.

Orang-orang jenis terakhir ini takut bahwa membaca akan mempengaruhi karya mereka dan itu artinya tidak lagi orisinil. Ini pandangan yang aneh sekali dan mengingkari naluri dasar manusia—selain menyalahi prinsip pergaulan secara umum. Saya akan membicarakannya lebih panjang nanti.

Kita kembali ke topik pembicaraan tentang menulis buruk. Saya ingin sekali anda menghasilkan karya sebaik mungkin. Dan anda pun ingin menulis sebaik-baiknya. Karena itu saya menganjurkan kepada anda untuk menulis buruk.

Menulis buruk akan membuat anda terhindar dari ketegangan yang tidak perlu, membuat anda terbebas dari beban-beban yang menyumpal di benak anda. Beban untuk meraih kesempurnaan bisa membuat anda tersendat-sendat dan tidak menulis apa-apa. Rileks saja. Menulislah seperti anda bicara. Menulislah cepat. Menulislah secara buruk, itu akan mengusir rasa takut salah dan membuat anda lebih enteng menggerakkan pena atau menekan tuts mesin tulis anda.

Anda tahu, segala yang buruk, tahi sapi misalnya, tetap bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih baik. Sampah bisa diolah, kotoran bisa dijadikan pupuk. Karena melihat boneka bebek yang terbakar di tempat sampah, George Lucas, sang empu yang melahirkan Star Wars, tiba-tiba menemukan salah satu karakter makhluk angkasa luar yang sudah lama dipikirkannya. Dari tulisan yang buruk anda bisa mendapatkan inspirasi yang menarik.

Draft yang buruk, ketika ia ada, jauh lebih baik dibandingkan dengan draft yang sempurna tetapi tidak pernah ada, karena anda terus-menerus gagal menuliskan draft yang seperti itu. Karena itu jangan takut menulis buruk; dari sana anda akan mendapatkan tulisan yang baik. Menulislah secara cepat. Jika untuk menulis buruk pun anda membutuhkan waktu lama, kasihanilah diri anda.

Itu tadi salah satu strategi untuk mengatasi kebuntuan jenis pertama. Nanti kita akan bicara tentang kemandekan jenis kedua, yakni ketika karya-karya kita hanya seperti itu-itu saja.***

Yang Standar dan Tidak Standar

Sudah berabad-abad tidak menulis di blog ini. Apa kabarku sendiri? Semuanya baik-baik. Itu jawaban standar saja untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa standar yang telah terjadi selama aku meninggalkan blog ini. Peristiwa-peristiwa standar itu di antaranya ini:

Rudy Gunawan, si juragan Gagas Media, memintaku menovelkan skenario film Cinta Silver. Di saat yang hampir bersamaan, tabloid Opini memintaku menulis kolom tiap minggu. Semuanya kusetujui. Aku setuju menulis kolom setiap minggu dan sampai sekarang sudah empat kali kolomku nongol di tabloid tersebut. Aku setuju juga menulis Cinta Silver dan Rudy ngakak membayangkan aku menulis novel itu. Aku tidak ngakak. Kugarap novel berdasar skenario itu dan kepalaku mumet sekali. Mau digarap seperti apa?

“Kalau skenario itu jelek, novelnya akan kubikin lebih jelek dari skenario itu,” kataku pada Rudy.

“Terserah,” jawabnya.

Sekarang sudah selesai. Oh, leganya.

Oh, ada satu yang tidak standar, ding: nenekku meninggal beberapa minggu lalu. Tentu saja itu bukan peristiwa biasa-biasa saja, sebab biasanya dia hidup. Rasanya sedih sekali dan kocar-kacir sebentar.

Pikiranku disusupi kenangan tentang siaran wayang kulit RRI Semarang yang biasa kami dengar berdua. Dia menyukai Ki Narto Sabdho dan, karena terpengaruh oleh dia, aku juga menyukai Ki Narto Sabdho. Pernah nenek ini mengajakku nonton wayang orang Ngesthi Pandowo, dulu dekat gedung bioskop GRIS, dan aku memang ingin sekali nonton wayang orang. Itu kali pertama; setelah itu aku tak suka sebab di situ Ki Narto Sabdho tidak jadi dalang, tetapi jadi punakawan. Aku sudah lupa apakah ia jadi Gareng atau Bagong atau Semar, yang jelas tidak mungkin dia jadi Petruk.

Nenek ini pernah juga jari-jarinya dikerat-kerat tikus ketika ia tertidur di kursi dan baru tahu ketika terbangun malam-malam. Waktu itu rumahku, letaknya di sebelah barat sungai Banjir Kanal Barat, sering kebanjiran. Air coklat masuk ke rumah beberapa senti di atas mata kaki. Suatu malam, ketika hujan sangat deras dan untuk yang keseribu kalinya rumahku kebanjiran lagi, aku duduk-duduk saja di ruang tamu bersama nenekku, mendengarkan Ki Narto Sabdho. Kakiku nangkring di kursi tamu. Kaki nenek nangkring di kursi pojok ruangan, agak jauh dari kursiku.

Nenekku mendengarkan wayang sambil makan dan ia biasa makan dengan tangan, tanpa sendok. Dan karena saat itu banjir, ia mungkin agak malas membawa piring ke dapur; malas pula cuci tangan. Nah, ketika ia tertidur di kursi, diam-diam seekor tikus mendekati tangannya dan mengerat-ngerat jarinya. Dari kursiku, aku melihat tikus tersebut beraksi. Ini pertunjukkan langka dan menggelikan, dan kubiarkan saja tikus itu mengerat jari nenekku. Lagi pula aku juga malas turun dari kursiku.

“Kok jariku rasanya perih, ya?” katanya ketika ia terbangun.

“Tadi dimakan tikus,” kataku sambil ketawa.

Sampai ketemu lagi, Nek. Terima kasih untuk malam-malam menyenangkan yang telah kita jalani.***

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design