Menulis Akrab

Teman-teman,

Sejak lama saya percaya bahwa segala sesuatu pasti ada rahasianya, termasuk menulis. Ketika anda produktif dan tulisan anda konsisten bagus, akan ada orang-orang yang menanyakan, “Apa rahasia menulis bagus seperti anda?”

Itu juga pertanyaan saya kepada orang-orang yang menulis bagus, kebanyakan hanya pertanyaan dalam hati. Sekali pertanyaan semacam itu saya sampaikan--kepada Pramoedya Ananta Toer, dalam perjumpaan pertama kami. Seingat saya, itu satu-satunya perjumpaan kami. “Ya menulis saja,” jawabnya.

Menulis saja mbahmu, batin saya. Kalau sekadar “ya menulis saja” saya tidak akan menanyakan kepada sampean, Mbah. Saya masih ngotot mencoba menanyakan maksudnya, dan ia hanya mengulang dengan suara yang lebih meninggi.

Upaya menemukan "rahasia" ini membuat saya gemar membeli buku-buku teknik menulis. Yang pertama saya beli adalah buku teknik mengarang karya Mochtar Lubis, ketika saya lulus SD. Saya berpikir akan langsung pandai mengarang begitu selesai membaca buku tersebut. Harapan saya meleset, tetapi itu buku yang sangat bermanfaat. Setidaknya saya tahu istilah-istilah plot, penokohan, kilas balik, narasi, dan sebagainya. Dan bagian kedua buku itu memperkenalkan saya pada cerpen Anton Chekov, nukilan Alberto Moravia, juga cerpen dan nukilan karya penulis-penulis ternama lainnya.

Gagal belajar? Tidak. Keberhasilan saya hanya tertunda lima tahun. Pada kelas dua SMA, cerpen pertama saya dimuat di sebuah koran minggu di Semarang. Setelah itu saya terus menguber buku-buku teknik menulis. Seperti ada keinginan yang tak pernah lenyap dari pikiran saya untuk mendapatkan buku teknik menulis yang begitu selesai dibaca, saat itu juga saya langsung mahir.

Setelah pergulatan bertahun-tahun dengan buku-buku teknik, masalah selanjutnya adalah bagaimana cara menyampaikan. Bahasa seperti apa yang harus digunakan untuk menulis sastra? Pelajaran SMP memberi tahu bahwa bahasa sastra berbeda dari bahasa sehari-hari.

Saya tidak tahu pergulatan itu akan sampai ke ujung yang seperti apa. Sekarang, saya hanya menulis seperti saya bicara kepada kawan terdekat. Saya pikir, ketika anda menulis seperti sedang berbicara kepada kawan terdekat, pembaca anda akan merasa dekat dengan anda. Anda akan menjadi kawan dekat bagi pembaca anda. Dan anda bisa bicara tanpa pretensi untuk mendapatkan pujian dari kawan anda. Yang anda lakukan hanyalah menciptakan sebuah percakapan yang akrab dan menyenangkan. Anda akan menjadi kawan baik yang selalu ditunggu kedatangannya oleh kawan anda.

Begitupun ketika anda menulis fiksi. Saya hanya melakukannya seperti menceritakan kejadian yang dialami oleh orang yang sangat saya kenal, dan menyampaikannya kepada kawan karib saya, seolah-olah kami sedang berhadap-hadapan dengannya. Anda tahu, ketika bercakap-cakap dengan teman baik, anda tidak bermaksud untuk memukau teman anda dengan atraksi-atraksi bahasa yang merepotkan. Anda hanya ingin percakapan berlangsung sehangat mungkin dan semenarik mungkin.

Bahkan di depan kawan terbaik anda pun, anda harus menjadi pencerita yang menarik. Sebab cerita yang menarik akan menjadikan perkawanan anda semakin menyenangkan dan kedatangan anda diharapkan.

Kalaupun suatu saat ada gagasan-gagasan yang absurd di benak saya, itu juga akan saya sampaikan kepada kawan terdekat dalam cara yang membuat percakapan berlangsung enak. Ketika anda menyampaikan cerita kepada kawan dekat anda, buatlah ia asyik masyuk mendengarkan cerita anda. Buatlah ia seolah-olah hadir di dalam cerita yang anda tuturkan. Artinya, anda harus bisa membuat perhatiannya benar-benar terpusat pada cerita anda.

Salam saya,
A.S. Laksana

N.B. Tentang bagaimana gaya anda menyampaikan cerita, anda memiliki cara bicara anda sendiri. Anda bisa mempelajari cara orang-orang lain bercerita—ini sangat anda perlukan untuk meningkatkan kecakapan teknis anda. Dalam hal membikin orang asyik masyuk, saya belajar dari ilmu lain. Saya belajar dari Milton Erickson, sang hipnotis.

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design