"Bagaimana Cara Mengembangkan Novel?"


Jadi begini. Ada telepon masuk suatu sore dan saya terima dan rupanya ia penelepon yang efisien. “Saya mau tanya bagaimana cara mengembangkan karangan dalam bentuk novel,” katanya. Namanya tidak ada dalam daftar kontak ponsel saya.

“Kau ini siapa?” tanya saya.

Ia menyebutkan nama dan tempat tinggalnya—jauh dari tempat tinggal saya—dan kembali mengulang pertanyaan tentang bagaimana mengembangkan karangan.

“Maksudmu apa yang harus dikembangkan?”

“Novel,” katanya. “Saya sudah menulis cerpen dan artikel, tetapi tidak tahu cara mengembangkan cerita untuk novel.”

"Kau tahu untuk menjelaskan ini akan butuh waktu lama?"

"Karena itu saya tanya ke anda."

“Kau pernah belajar menulis?”

“Pernah, dari tahun 2005 saya mulai menulis.”

“Sekarang 2012, berarti sudah 7 tahun kau belajar menulis dan tidak tahu cara mengembangkan cerita. Jadi apa yang kaupelajari?”

“Hehehe...”

“Jangan hehehe.... Ini masalah serius. Tujuh tahun kau belajar dan tetap tidak bisa mengembangkan cerita. Karena itu, kutaksir untuk menjawab pertanyaanmu sampai kau paham, aku membutuhkan waktu tiga tahun bicara lewat telepon."

"Hehehe..."

"Dengan siapa kau belajar?”

“Penulis.”

“Tentu saja. Kau tidak belajar menulis pada tukang odong-odong. Maksudku, siapa dia?”

“Dosen saya.”

“Ia penulis?”

“Bisa ya, bisa tidak....”

Nah, mulai mengembangkan teka-teki dia. Saya mulai jengkel.

“Kalau tujuh tahun tetap seperti ini,” kata saya, “berarti cara belajarmu keliru. Atau kau mempelajari pengetahuan yang keliru. Dalam dua tahun, jika caramu benar dan yang kaupelajari benar, mestinya kau sudah mahir.”

“Hehehe... Kalau karangan anda apa saja?” ia menikung tajam.

“Bisa kaucari lewat Google.”

“Saya lebih mantap mengetahuinya langsung dari anda.”

“Kau mau belajar menulis, lalu nanya bukuku apa saja, lalu kusuruh kau mencari di Google, dan kau membantah tugas yang kuberikan.”

“Saya lebih suka tahu langsung dari anda.”

“Oke, goodbye!”

Saya mematikan telepon seluler, namun itu bukan akhir komunikasi kami. Sebentar kemudian sebuah pesan singkat masuk--dari dia--berisi pelajaran penting buat saya:  “jawaban secara langsung lebih tepat. tx.”

3 comments:

Anonymous said...

hahaha!

cuma murid o'on yang membantah semua jawaban guru bijak. sang guru sampai ngedumel, "ampiunnnnnn!"

Irfanhidayat

berrybudiman said...

Saya mencoba merenungi pelajaran apa yang diperolah A.S. Laksana dari 'penelepon efisien' itu. Pesannya yang mengatakan bahwa lebih baik mendengar langsung bagi saya terkesan lebih sebagai "test" terselubung yang dilancarkannya.

Sangat mungkin bahwa pelajaran yang didapat adalah tentang kesiapan seorang penulis untuk menghadapi situasi saat itu juga. Kita tahu, penulis punya banyak waktu untuk memikirkan tulisannya sebelum dibaca orang lain, sehingga mereka terkesan tak terlalu efektif di kondisi yang mendadak. Maka, ketika mereka ditembak dengan pertanyaan tentang kepenulisan, atau diseret untuk menuliskan sesuatu yang—bagi mereka belum dipelajari—kondisional, mereka gelabakan.

Kenapa saya bisa berkesimpulan begini, jujur saja, saya adalah tipe penulis yang seperti ini. Ya, saya harus "memiliki" kemampuan menulis itu, sebenar-benar mampu supaya saya bisa menjadi seorang penulis yang juga sebenar-benar penulis, baik dari karya, pun sebagai pribadi.

Moti Peacemaker said...

saya hanya bisa menerka.....dan masih terus berfikir.....serta semoga benar...
menulis memberi "ilmu laduni" untuk perbaikan penulisannya sendiiri

Post a Comment

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design